Saat Sandy telah berada di depan kost-an Tania, Sandy sengaja mematikan kuda besi tuanya.
“Aduuh, pake mogok lagi,” gerutu Sandy sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
Dia berakting dengan sempurna berharap sang guru cantik menghampirinya.
Sandy berpura-pura memeriksa kondisi sepeda motor tuanya, “Kebiasaan nich, mogok gak pada tempatnya,” gerutu Sandy lagi sambil melirik Tania yang sudah tak berada di balkon kamarnya.
Sandy terus menggerutu tak jelas hingga Tania menghampirinya.
“Ada apa?” tanya Tania penasaran.
Sandy terpesona melihat gadis cantik yang mengenakan piyama berwarna merah dengan rambut yang di ikat asal menampilkan aura kecantikan natural yang terpancar dari paras wanita kota keturunan Indo Belanda.
“Eh, Buk Tania,” ujar Sandy pura-pura kaget dengan kehadiran Tania, padahal inilah yang di harapkannya.
“Kamu,t adi yang nolongin saya?” tanya Tania kaget mendapati Sandy berada di depan kost-annya.
“Iya, Buk,” jawab Sandy tersenyum memasang wajah seramah dan setampan mungkin.
“Ada apa?” Tania mengulangi pertanyaannya yang belum dijawab oleh Sandy.
“Gak tahu nih, Buk. Biasa motor butut suka ngadat tidak pada tempatnya,” jawab Sandy.
“Oh, trus gimana dong?” tanya Tania lagi.
“Biasanya kalau mati mendadak seperti ini, aku tunggu mesinnya dingin dulu, Buk,” ujar Sandy melancarkan perangkapnya.
“Oh, gitu.Ya udah, kita tunggu di sana aja, dari pada nunggu di sini, kan capek berdiri,” ajak Tania sambil menunjuk ke arah bangku panjang yang terdapat di depan kostnya.
“Yes,” teriak Sandy di dalam hati, misinya kali ini berhasil.
Sandy sengaja melancarkan misinya untuk dapat mendekati guru PPL yang cantik ini, dia benar-benar tertantang untuk mendapatkan hati sang guru.
Mereka melangkah menuju teras rumah kost Tania, rumah bertingkat dua dengan kamar yang berjajar di setiap sisinya. Kamar Tania terdapat di lantai dua, dan memiliki balkon yang menghadap ke pemandangan sawah nan indah.
“Kamu kelas berapa?” tanya Tania mulai tertarik untuk mengenal sang siswa tampan yang sudah membantunya tadi siang.
“Saya kelas 11 IPA 1, Buk,” jawab Sandy.
“Itu kelas unggul, kan? Berarti kamu anak pintar dong!” puji Tania.
“Biasa aja, Buk. Mungkin lagi beruntung aja bisa masuk kelas unggul.” Sandy merendahkan dirinya.
“Kamu bisa aja,” ucap Tania.
“Ibuk dari mana sich?” tanya Sandy mencoba mengorek asal kota sang guru PPL yang saat ini menjadi sasarannya.
“Saya dari kota A,” jawab Tania.
“Oh.” Sandy hanya bisa ber-oh-ria menanggapi jawaban sang guru.
Mereka pun asyik mengobrol menghabiskan waktu petang dengan tawa dan canda, petang berganti malam, terang berganti gelap. Mereka masih asyik mengobrol hingga nurul datang menghampiri mereka.
“Loe di sini, Tan? Dari tadi gue nyariin loe,”gerutu Nurul kesal sedari tadi mencari sahabatnya di setiap kamar kost tapi tidak menemukan sang sahabat, hingga akhirnya ada yang memberitahukan keberadaan Tania bersama Sandy di teras rumah kost.
Tania berdiri menghampiri sahabatnya, “Loe ngapain cari gue?” tanya Tania pada sahabatnya dengan berbisik.
Tania merasa malu memperlihatkan gaya bicaranya dengan Nurul yang super blak-blakkan di depan Sandy, secara Sandy adalah siswa mereka. Mereka harus menjaga kewibawaan mereka di depan siswa mereka walaupun mereka masih mahasiswa PPL.
“Ya wajar dong, gue nyariin loe, sejak gue bangun tidur, gue nggak nemuin batang hidung loe di mana pun,” jawab Nurul memberi alasan.
“Oh.” Hanya satu kata itu yang lolos dari bibir seksi Tania.
“Tan, gue lapar. Kita cari makan yuk!” ajak Nurul sambil mengelus lembut perutnya, menunjukkan bahwa saat ini cacing-cacing di perutnya sudah berdemo ria meminta makan.
“Ya udah, kita cari makan keluar, yuk!” ajak Tania pada sahabatnya.
“Oh iya, Buk. Kalau gitu saya boleh ikut?” tanya Sandy dengan percaya diri.
Nurul menatap kesal ke arah Sandy.
“Ya udah, yuk. Coba deh nyalain motornya dulu, mana tahu udah bisa nyala.” Tania melangkah mendekati tempat sepeda motor Sandy yang terparkir tak jauh dari posisi mereka saat ini.
Sandy terus berusaha berakting untuk menyalakan sepeda motor bututnya.
“Syukurlah, udah nyala!” seru Tania senang.
“Kalau gitu, aku ganti baju dulu,” ujar Tania lagi hendak berlalu menuju kamar kostnya.
Tiba-tiba, sebuah tangan kekar menarik tangannya. Menatap dengan tatapan yang sulit di artikan, Tania menghentikan langkahnya membalas tatapan si pemilik tangan kekar itu.
“A-ada apa?” tanya Tania gugup, mendapat tatapan tak biasa dari siswanya.
“Mhm, gak apa-apa, Buk.” Sandy memasang wajah santai membuat Tania menautkan kedua alisnya heran dengan sikap siswanya ini.
“Aneh,” gumam tania di dalam hati.
Tania melangkah menuju kamarnya untuk mengganti pakaiannya. Nurul menunggu Tania bersama Sandy, dia merasa ada yang aneh pada siswanya itu. Nurul hanya diam, dia tak ingin banyak bicara dengan Sandy.
Sedangkan Sandy degan santainya duduk di sepeda motor bututnya menunggu Tania, tak berapa lama Tania keluar dari kamar dengan kaos longgar yang dipadupadankan dengan celana jeans, yang membuat dia terlihat lebih muda seperti siswa SMA.
“Amazing,” gumam Sandy saat melihat penampilan Tania yang tampil bagaikan gadis ABG yang masih berusia 17 tahun.
Nurul menangkap gelagat Sandy yang terpesona dengan penampilan sahabatnya.
"Yuk!" ajak Tania lalu dia mengambil Scoopy merahnya dan mengendarai motornya.
"Loe mau makan apa, Rul?" tanya Tania pada sahabatnya.
"Enakkan makan apa, ya?" Nurul malah balik tanya pada Tania.
"Mau makan di mana, Buk?" tanya Sandy berteriak berusaha mensejajarkan laju sepeda motornya dengan Tania.
"Belum tau," jawab Tania.
"Gimana makan sate Madura aja? Di sini sate Madura terkenal enak lho," ujar Sandy memberi usul.
"Gimana, Rul?" tanya Tania pada Nurul yang duduk berbonceng di belakang Tania.
"Terserah," jawab Nurul bingung harus jawab apa.
"Ya udah! Kita makan sate Madura aja!" seru Tania yang di jawab anggukkan oleh Sandy.
Sandy pun melajukan sepeda motornya di depan motor Tania, dia menuntun arah menuju tempat penjual sate Madura yang di maksudnya tadi.
Tak berapa lama merekapun sampai di tempat, Sandy memarkirkan sepeda motornya di depan tenda pedagang sate Madura.
Begitu juga dengan Tania, dia ikut memarkirkan Scoopy merahnya di samping sepeda motor butut milik Sandy.
"Yuk!" ajak Sandy.
Tania dan Nurul mengangguk lalu mengikuti langkah Sandy yang masuk ke dalam tenda pedagang sate.
"Eh, nak Sandy," sapa sang pedagang sate.
"Hai, Mbok! Pesan 3 porsi ya, Mbok!" seru Sandy sambil tersenyum ramah.
"Bentar ya, Nak Sandy!" seru sang pedagang.
Sandy duduk di kursi yang kosong yang diikuti oleh Tania dan Nurul.
"Kamu biasa ya makan di sini?" tanya Tania pada Sandy sekedar berbasa-basi sambil menunggu hidangan mereka tersedia.
"Mhm, iya. Habisnya sate Madura di sini enak banget, apalagi si mboknya ramah." Sandy menoleh ke arah mbok penjual sate yang membawakan pesanan mereka.
"Nak Sandy memang biasa seperti itu, Non. Dia suka gombal," oceh si mbok berlalu.
"Hahaha." Mereka tertawa melihat keakraban Sandy dengan pedagang sate tersebut.
Bersambung...
Readers yang baik hati mohon dukungan nya dengan meninggalkan jejak...
Rate...
Like...
Komentar...
Hadiah...
dan
Vote...
Terima kasih🙏🙏🙏
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 26 Episodes
Comments
Nastio Iman
like
2022-01-12
0
Siti Halimah
lanjut kaka
2022-01-02
0
Azfa Humaira
like
2022-01-02
0