"Gita!" teriak beberapa siswi yang tak menyangka dia akan melakukan hal itu pada gurunya.
Meskipun Tania hanya guru PPL, tapi dia tak pantas menampar Tania.
Tania memegang pipinya yang terasa panas bekas telapak tangan Gita.
Dia menatap tajam ke arah sang siswi.
"Apa yang kamu lakukan?" bentak Tania penuh emosi.
"Aku? Aku hanya sekedar meluapkan rasa benci di hatiku," jawab Gita santai.
"Gita? Loe apa-apaan sih? Bisa sopan nggak sama guru?" bentak Refan sang ketua kelas.
"Sopan sama dia? Dia itu guru murahan yang nggak perlu kita hormati." Gita menatap jijik ke arah Tania.
"Cukup, Gita! Apa pun masalah loe dengan buk Tania kamu tak pantas melakukan hal itu!" Refan mulai kesal melihat tingkah Gita.
Tania bergeming di tempatnya.
"Guru yang pantas dihormati adalah guru yang mendidik dan membimbing siswa-siswinya dengan baik, bukan memacarinya," teriak Gita meluapkan amarah di dadanya.
Tania hanya diam, dia kembali mengingat apa yang telah dilakukannya bersama siswanya.
Tanpa disadarinya, buliran bening mulai jatuh membasahi pipi mulus miliknya.
Seorang siswi yang lain pun, berdiri melangkah menghampiri Gita, dia menarik tangan Gita membawa wanita gila itu keluar dari kelas.
Perlahan Tania mundur menuju kursi khusus untuk guru, dia terduduk lemas di kursi tersebut.
Semua memandangi Tania, berbagai terkaan muncul di benak mereka.
Ada yang berpikir negatif terhadap Tania, dan ada pula yang berpikir positif dan kini merasa kasihan pada Tania.
Refan berdiri menghampiri meja gurunya, dia menatap iba pada Tania.
"Buk, saya selaku ketua kelas. Saya minta maaf dengan apa yang telah terjadi di kelas ini. Saya harap ibuk tidak memasukkan semuanya ke dalam hati," pinta Refan pada Tania.
Tania mengangkat wajahnya, menatap ke arah Refan yang masih berdiri di hadapannya.
"Buk, kami mohon!" Kali ini Refan menyatukan kedua tangannya di depan dadanya memohon.
Tania menghapus air matanya yang sempat membasahi pipinya.
"Kamu, silakan duduk!" perintah Tania.
Tania kembali berdiri di tengah-tengah siswanya.
"Sebelumnya, ibuk minta maaf pada kalian atas kejadian ini." Tania mulai menguasai dirinya dan menguasai kelas.
"Ibuk tak menyangka teman kalian bisa melakukan hal nekad seperti ini, tapi satu hal yang harus kalian tahu, mungkin Gita marah pada saya karena kedekatan saya dengan salah satu siswa di sekolah ini," jelas Tania.
"Dan siswa itu merupakan pria yang di sukai Gita." Tania menghela napas panjang.
"Jujur saya memang dekat dengan siswa tersebut, tapi itu hanya sebatas kakak dan adik." Tania terus memberikan penjelasan yang masuk akal pada siswa dan siswinya.
Beberapa siswa mengangguk paham, mulai bersimpati pada Tania.
Tania juga menyampaikan alasan kedekatan dirinya dan Sandy dengan hati-hati agar para siswanya tak curiga dengan hubungan yang ada di antara mereka.
Setelah Tania panjang lebar bercerita dan memberi nasehat pada peserta didiknya, dia pun mengakhiri pelajaran dengan senyum dan berkata.
"Bagi saya, sikap Gita tidaklah salah. Dia hanya tengah diselimuti amarah yang tak sanggup di kontrolnya."
Tania keluar dari kelas meninggalkan berbagai asumsi di benak peserta didiknya.
Tania melangkah menuju toilet khusus guru, dia mencuci mukanya. Ingin rasanya dia menangis sejadi-jadinya tapi berusaha di tahannya.
Tania juga menyadari kesalahan yang telah dilakukannya.
"Mulai hari ini, aku akan menjauhiku, kamu tak pantas untukku. Dan aku harap kamu bisa melupakan apa yang telah terjadi di antara kita," gumam Tania di dalam hati.
Tania keluar dari toilet, lalu masuk ke ruangan khusus mahasiswa PPL. Dia beristirahat sejenak kebetulan jam mengajarnya sedang kosong.
"Tan," panggil Nurul heran melihat wajah sang sahabat yang tampak sendu.
Tania menoleh ke arah Nurul yang baru saja masuk ke ruangan tersebut.
Tania masih diam hingga Nurul duduk di sampingnya.
"Loe kenapa?" tanya Nurul semakin penasaran.
"Nggak apa-apa, Rul," jawab Tania enggan menceritakan apa yang terjadi.
Sejak Nurul jadian dengan Eko, hubungan Tania dan Nurul mulai berjarak karena Nurul mulai sibuk berduaan dengan kekasihnya.
"Maafin gue, ya. Akhir-akhir ini gue nggak punya waktu buat kita berdua." Nurul merasa bersalah atas sikapnya selama ini.
"Rul, itu nggak jadi masalah buat gue. Gue bisa ngerti kok." Tania memamerkan senyumannya.
Nurul yang sudah mengenal sahabatnya itu, dia yakin Tania tengah menyimpan masalah yang disembunyikannya.
Untuk saat ini, Nurul memilih untuk diam dan tak lagi mempertanyakan masalah Tania.
****
Pulang sekolah, Tania melangkah menuju parkiran beriringan dengan Nurul.
"Buk Tania!" panggil Sandy Yaang sedari tadi mencarinya.
Sehari ini Tania berusaha menghindari Sandy. Dia tak ingin berjumpa dengan pria yang telah membuat dirinya tenggelam dalam banyak masalah.
Tania menarik tangan Nurul untuk mempercepat langkahnya, Tania menaiki scoopy merah miliknya, diikuti oleh Nurul yang bingung melihat sikap sang sahabat.
"Buk!" Sandy masih berteriak.
Namun, Tania tak memperdulikan panggilan dari Sandy.
"Apa sebenarnya yang terjadi?" tanya Sandy di dalam hati.
Sandy pun melangkah kecewa, dia ikut bergabung dengan teman-temannya yang sedang berkumpul di kedai yang ada di depan sekolah.
"Bro, kalian tahu nggak tadi di kelas gue ada kejadian yang tak terduga," celetuk seorang siswa saat Sandy baru saja bergabung dengan mereka.
"Kejadian apa?" tanya siswa lainnya.
"Si Gita nampar guru PPL, itu lho yang punya scoopy merah," jawab sang siswa yang mengawali topik pembicaraan tadi.
"Serius? Berani banget tuh si Gita. Terus guru PPL nya gimana?" tanya siswa lainnya.
"Awalnya buk Tania diam, mungkin dia syock dengan perlakuan Gita. Tapi lama-lama dia kembali ceria," ujar siswa tersebut.
Sandy diam mendengarkan pembicaraan mereka, teman Sandy yang bercerita tak menyadari keberadaan Sandy di sana.
"Kali ini, kamu sudah kelewatan!" pekik Sandy di dalam hati geram mendengar apa yang baru saja dilakukan oleh Gita.
Sandy melangkah menuju parkiran mengambil sepeda motor butut miliknya. Lalu dia meninggalkan sekolah dengan emosi yang tak bisa diluapkannya.
Sandy semakin kesal dengan sikap Gita, dia teringat kejadian beberapa hari yang lalu.
Flash back on.
Sore hari setelah Sandy selesai latihan futsal, dia melangkah menuju ruang ganti mengambil pakaiannya yang masih tertinggal di lokernya.
Saat dia melangkahkan kakinya di koridor sekolah, dia merasa ada seseorang yang mengikutinya.
Sandy menghentikan langkahnya lalu membalikkan badannya, dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling mencari sesuatu yang mencurigakan.
Namun, dia tak menemukan apa pun. Dia kembali melanjutkan langkahnya.
Sandy masuk ke dalam ruang ganti, baru saja dia menutup pintu, tiba-tiba seseorang mengunci pintu ruang ganti dari luar.
"OMG," batin Sandy.
Bersambung...
Readers yang baik hati mohon dukungan nya dengan meninggalkan jejak...
Rate...
Like...
Komentar...
Hadiah...
dan
Vote...
Terima kasih🙏🙏🙏
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 26 Episodes
Comments
я𝓮𝒾𝓷A↠ͣ ⷦ ͣ𝓭𝓲𝓪𝓷✿
sing sabar tania, tarik nafas hembuskan..🤣🤣🤣🤣
2022-01-14
0
Hum@yRa Nasution
hebat
2022-01-12
0
Irma Kirana
next kak 🥰
2022-01-12
0