Aku Mencintaimu

“Ya udah, kalau gitu kalian duluan aja balik ke kost. Aku sama Sandy baliknya ntar sore aja,” ujar Tania setelah terjadi keheningan sesaat di antara mereka.

“Loe yakin, Tan?”tanya Nurul memastikan.

“Iya, gak apa-apa,” ucap Tania.

Eko dan teman-teman lainya pun keluar dari rumah, mereka menaiki sepeda motor mereka masing-masing. Lalu mereka pun berlalu meninggalkan rumah Sandy.

Setelah kepergian teman-temannya, Tania dan Sandy kembali masuk ke dalam rumah. Ibu Sandy tengah berbaring di kasur yang di tempati Tania dan Nurul tadi malam.

Ibu Sandy memang sudah tidak kuat berdiri lama-lama maupun duduk lama-lama, karena selama ini dia memang sering sakit-sakitan. Sejak kepergian ayah Sandy, ibu Sandy menopang hidup anak-anaknya. Hari-harinya diisi dengan bekerja dan bekerja sehingga dia lupa untuk menjaga kesehatan.

“Tania, sini!” panggil ibu Sandy.

Tania menoleh bingung ke arah Sandy, pria itu mengangguk pelan agar Tania mendekati ibunya.

“Iya, Mak,” ucap Tania saat dia telah berada di dekat ibu Sandy.

“Tania dari Padang?” tanya ibu Sandy memulai pembicaraan.

“Iya, Mak.” Tania memandang ke arah Sandy yang ikut duduk di depannya.

“Sandy memiliki impian untuk kuliah di kota Padang, amak harap Tania bisa membimbing dia untuk mencapai impiannya,” pinta ibu Sandy pada Tania.

“Jika ada kemauannya, apa pun rintangannya pasti ada jalannya, Mak.” Tania tersenyum ramah.

“Dia ini anak baik, walaupun sesekali dia suka nakal.” Ibu Sandy kini menatap ke arah Sandy yang masih menatap ke arah Tania.

Tania hanya tersenyum mendengar ucapan dari ibu Sandy.

“Tania, Sandy banyak cerita tentang kamu, ibu harap Tania tidak kecewa berteman dengan dia!” pinta ibu Sandy dengan tatapan penuh harap.

Tania masih tersenyum, dia mulai bingung menanggapi setiap perkataan yang keluar dari mulut ibu Sandy.

“Apa sebenarnya yang diinginkan ibu Sandy, setiap perkataannya mengandung arti yang sulit aku pahami,” gumam Tania di dalam hati.

“San, sambil menunggu sore hari, pergilah ke kebun, ambilkan buah alpukat, cabe dan bawang buat Tania. Agar Tania bisa memberikannya pada orang tuanya.” Ibu Sandy memberi titah pada putranya.

“Baik, Mak,” ucap Sandy.

“Hati-hati, ya!” ujar ibu Sandy.

“Yuk!” ajak Sandy pada Tania yang masih diam.

Sandy berdiri, lalu dia mengambil sebuah keranjang dari dapur. Tania mengikuti langkah Sandy dari belakang. Mereka melewati pematang sawah dan jalanan setapak yang di kelilingnya terdapat kebun bawang, kentang dan tanaman lainnya.

Sepanjang perjalanan, Tania menikmati keindahan desa nan damai. Hamparan perkebunan nan luas.

“Kebun kamu masih jauh?” gerutu Tania yang merasa sudah lelah berjalan.

Tania tertinggal jauh karena dia tak dapat mengiringi langkah Sandy yang lebar.

Sandy menghentikan langkahnya, dia menoleh ke belakang. Sandy pun menyilangkan tangan di dadanya sambil menunggu Tania sampai di tempatnya saat ini.

Dia tersenyum melihat Tania yang susah payah melangkah, perjalan mereka saat ini mulai menanjak membuat Tania tak dapat mengatur nafasnya karena kelelahan.

“Kenapa, udah nggak kuat?” tanya Sandy tersenyum lucu melihat Tania yang sudah kelelahan.

“Masih jauh, ya?” Tania terduduk lemas di samping Sandy berdiri setelah susah payah dia melangkah.

“Lumayan, kalau kamu capek kita istirahat dulu.” Sandy menarik tangan Tania.

“Katanya mau istirahat, terus kenapa nyuruh aku berdiri?” gerutu Tania.

Sandy hanya tersenyum melihat Tania yang menggerutu layaknya anak kecil yang tidak dibelikan permen oleh ibunya.

“Kalau mau istirahat, kita harus cari tempat yang bagus,” ujar Sandy.

Sandy duduk di sebuah batang pohon yang terbaring di puncak perbukitan. Tania pun mengikuti apa yang dilakukan Sandy.

“Minum,” ujar Sandy menyodorkan sebuah botol air minum pada Tania.

Tania mengambil botol tersebut, lalu dia menenggak air dari botol tersebut.

“Wow, pemandangan dari sini indah banget!” seru Tania kagum menyaksikan keindahan pemandangan dusun dan perkebunan penduduk dari puncak perbukitan tempat mereka berada.

“Kalau kamu istirahat tempat tadi, hanya semak-semak yang dapat kamu lihat,” ujar Sandy sambil tersenyum menatap kagum pada gadis yang ada di hadapannya.

“Iya juga, ya,” celetuk Tania polos.

Tania menatap ke depan, menikmati pemandangan dan udara yang sangat sejuk. Sementara itu Sandy masih menatap kagum pada gadis itu.

“Entah rasa apa yang kini ku miliki untukmu, aku hanya ingin selalu ada di dekatmu. Mungkin inilah yang dinamakan dengan cinta. Aku sudah jatuh cinta padamu,” gumam Sandy di dalam hati.

Setelah beristirahat, mereka pun kembali melanjutkan perjalanan. Kali ini Sandy memegang tangan Tania, mereka melangkah beriringan hingga tempat tujuan mereka.

“Bagaimana, kamu suka?” tanya Sandy saat mereka beristirahat sejenak setelah memetik cabe dan bawang dari kebun Sandy.

Tania menoleh ke arah Sandy. “Aku suka,” lirihnya pelan.

Saat ini hati Tania tengah berperang dengan logikanya. Hatinya mulai jatuh dalam cinta yang dalam di lautan hati Sandy. Namun, di sisi lain, Tania tak bisa melepaskan Reyhan karena di hatinya juga terukir jelas nama pemuda yang sedang memperjuangkan cinta mereka.

Tania mulai bimbang dengan rasa yang menyelimuti hatinya. Dia merasa bahagia saat berada di samping Sandy, dia juga masih merindukan kasih sayang dari Reyhan.

Tania membuka ponselnya, dia hendak mengirimi kabar pada sang kekasih. Namun, di tempat dia berada saat ini tak ada signal sedikitpun.

Dia menatap wallpaper dirinya dan Reyhan yang terpajang di layar ponselnya. Seketika keceriaan Tania hilang begitu saja.

“Ada apa?” tanya Sandy heran.

Tania langsung mematikan ponselnya.

“Nggak apa-apa, kita balik!" pinta Tania.

Tania melangkah mendahului Sandy, pikirannya kini tengah kacau akibat rasa yang tumbuh di hatinya pada sang pemuda empat tahun lebih muda darinya.

Sandy mempercepat langkahnya mengiringi langkah Tania.

“Aauuw!” pekik Tania saat dia menginjak sebuah batu.

Dia kehilangan keseimbangan, Tania yang hampir jatuh meraih ujung baju Sandy sehingga Sandy ikut terjatuh karena dia ikut kehilangan keseimbangan. Mereka berguling di lereng bukit dalam posisi saling berpelukkan.

Pandangan mata mereka kembali saling mengunci setelah mereka berada di tanah yang datar. Lagi dan lagi mereka terbuai dalam tatapan cinta yang menghanyutkan. Sandy kembali mengecup bi-b*r seksi milik Tania.

Tania memejamkan matanya, dia membiarkan pria tampan itu mencium bibirnya yang selama ini tak pernah diberikannya pada Reyhan sang kekasihnya.

Sekian menit bi-b*r mereka bertaut, Tania tersadar dari buaian kenikmatan sensasi yang baru saja dirasakannya.

Tania langsung mendorong tubuh kekar Sandy yang sedari tadi menghimpit tubuhnya. Sandy terjatuh di samping Tania. Dia membaringkan tubuhnya, Tania merasa malu dengan apa yang baru saja dilakukannya bersama Sandy.

Dia mencoba untuk bangkit dari posisinya yang masih berbaring. Namun, tangan kekar Sandy langsung menarik Tania membuat dia tak bisa bergerak. Dia menolehkan wajahnya pada Sandy.

“Aku mencintaimu,” ucap Sandy.

Bersambung...

Readers yang baik hati mohon dukungan nya dengan meninggalkan jejak...

Rate...

Like...

Komentar...

Hadiah...

dan

Vote...

Terima kasih🙏🙏🙏

Terpopuler

Comments

Hum@yRa Nasution

Hum@yRa Nasution

good

2022-01-12

0

GeGe Fani@🦩⃝ᶠ͢ᵌ™

GeGe Fani@🦩⃝ᶠ͢ᵌ™

makasih done kk

2022-01-12

0

Irma Kirana

Irma Kirana

baru mampir lagi kak☺️

2022-01-05

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!