Tamasya

"Halo, lagi ngapain, Buk?" tanya seorang pria dari seberang sana.

Dari suaranya Tania dapat mengenali siapa pria yang menelponnya.

"Ada apa?" tanya Tania datar.

"Nggak ada, cuma pengen nelpon aja," jawab Sandy santai.

"Maaf, saya sudah ngantuk!" ujar Tania lalu dia langsung memutuskan panggilan dari Sandy.

Sandy melihat layar ponselnya, dia semakin penasaran pada Tania dengan sikap jual mahal Tania.

Dia kembali menghubungi nomor Tania, berkali-kali panggilan itu tak di jawab oleh Tania.

Tania yang merasa terganggu dengan panggilan tersebut, dengan berat hati akhirnya dia mengangkat panggilan itu.

"Mau apa lagi?" tanya Tania dengan ketus.

"Buk, aku sudah bilang sama, Ibuk. Aku ingin dekat dengan, Ibuk." Sandy memelas.

”Untuk apa?" tanya Tania pada Sandy.

"Aku suka kamu!" jawab Sandy tegas membuat Tania langsung mengubah posisi berbaring menjadi duduk tegap.

"Kamu gila!" bentak Tania.

"Ya, gila karena kamu!" tukas Sandy.

Tania semakin kesal pada siswanya yang benar-benar aneh dan gila itu. Dia langsung memutuskan panggilan, lalu Tania mematikan ponselnya agar tak ada lagi yang berusaha menghubunginya.

Tania mencoba memejamkan matanya walau sulit untuk dilakukanya.

"Tan, loe udah tidur?" tanya Nurul.

"Belum, ada apa, Rul?" tanya Tania.

"Hp loe matiin, ya?" tanya Nurul lagi.

"Emangnya kenapa?" Tania malah tanya balik.

"Reyhan chat gue nanyain loe, dia telpon loe gak masuk-masuk," jawab Nurul.

"Ya ampun, gue nyalain deh hpnya." Tania pun kembali menyalakan ponselnya.

Tak berapa lama, ponsel Tania berdering, dia bersyukur karena panggilan masuk ke ponselnya dari Reyhan.

Tania langsung menekan tombol hijau untuk menjawab panggilan dari Reyhan.

"Sayang," lirih Reyhan dari seberang sana setelah panggilan tersambung.

"Iya, kamu lagi apa?" tanya Tania.

"Kenapa ponselnya mati?" Tanya Reyhan heran.

"Low bate, makanya aku matiin," jawab Tania berbohong.

Tania tak ingin memberitahukan masalah Sandy pada Reyhan, karena dia yakin Sandy tidak akan tenang membiarkan dirinya menjalani masa PPL di desa ini.

"Aku kangen," ujar Reyhan.

"Aku juga,"

"Sayang, besok sekolah mau ngadain tamasya ke pantai. Sebenarnya aku malas ikut sama anak-anak, tapi Eko mewajibkan semua mahasiswa PPL untuk ikut. Terpaksa deh ikut." Tania memberitahukan keberangkatan nya besok ke sebuah estimasi wisata yang terdapat di Pesisir Selatan.

"Kamu mau tamasya ke mana?" tanya Reyhan.

" Pantai Carocok, dan Puncak Mandeh," jawab Tania.

"Bagus dunk, ikut aja! Anggap aja anak-anak itu teman seangkatan kamu supaya kamu merasa nyaman.

"Iya," gumam Tania pelan.

"Ya udah, kamu istirahat, ya! Biar besok bisa fresh." Reyhan menasehati Tania.

"Siap komandan!" seru Tania.

Reyhan tersenyum lalu memutuskan panggilannya.

Setelah itu, Tania langsung tidur dengan nyenyak hingga pagi menyambut mentari nan cerah.

Cahayanya memberi kehangatan bagi semua makhluk di bumi. Cerahnya mentari mengiringi keceriaan para siswa dan siswi yang ikut melakukan perjalanan.

Mereka telah berkumpul di sekolah, 3 armada bus pariwisata telah terparkir di depan sekolah.

Sementara itu Tania dan Nurul masih di perjalanan.

"Apa kita nggak terlambat nih?" gerutu Nurul.

"Tenang aja, gue yakin mereka belum berangkat," ujar Tania santai.

Saat Tania dan Nurul memasuki gerbang sekolah, senyum Sandy mengembang di wajahnya.

Dia senang Tania sudah datang dan ikut juga dalam perjalanan ini.

Mereka memarkirkan sepeda motornya di parkiran, lalu melangkah menuju di mana teman-teman mahasiswa PPL berada.

"Nanti kita akan di bagi menjadi tiga kelompok dalam mengiringi anak-anak, aku akan bagi kelompok kita."

"Tania, gue, dan Riska di Bis satu, Aldo, Fany, dan Nurul di bis dua, terus Bayu, Giska, dan Tasya di Bis tiga!" Eko menyampaikan beberapa hal yang akan mereka lakukan di lokasi, sebagaimana yang dipesankan oleh wakil kepala sekolah bidang kesiswaan kemarin pada Eko sebagai ketua mahasiswa PPL.

Setelah Eko memberikan arahan kepada teman-temannya. Siswa diminta berkumpul di lapangan untuk mendengarkan beberapa arahan dari guru pembimbing OSIS selaku orang yang akan bertanggung jawab dengan perjalanan ini.

Hanya menghabiskan waktu 20 menit pak Fauzi menutup pengarahan yang disampaikannya.

Para siswa pun di arahkan untuk menaiki bus pariwisata yang telah tersedia.

"Gak seru!" keluh Nurul pada Tania.

"Gak seru apanya?" tanya Tania pada Nurul.

"Gak seru, Tan. Kalau gue gak satu bis sama loe." Nurul memasang wajah cemberut.

"Dinikmati aja," ujar Tania tersenyum lucu melihat sikap sahabatnya.

"See you!" lirih Nurul melambaikan tangannya pada Tania saat dia melangkah menuju bis yang akan ditumpanginya.

Tania sudah duduk di bangku depan, dia memasang headset di telinganya lalu mendengarkan musik dari ponselnya.

"Saya boleh duduk di sini?" tanya Sandy yang menghampiri bangku kosong di samping Tania.

Tania yang menggunakan headset di telinganya tak dapat mendengarkan ucapan Sandy.

Tania menganggukkan kepalanya karena menikmati musik yang di dengarnya, sehingga Sandy mengira Tania mengizinkan dirinya duduk di sampingnya.

Dengan pe-de Sandy duduk di samping Tania.

Tania yang merasa seseorang duduk di sampingnya langsung menoleh ke arah samping.

Betapa kagetnya Tania mendapati Sandy telah duduk di sampingnya.

"Kamu?" lirih Tania menatap tak suka pada pria yang kini tersenyum menebar pesona di hadapannya.

"Bukankah tadi buk Tania sudah mengizinkan saya duduk di sini?" ujar Sandy menjawab ketidaksukaan Tania dengan keberadaan dirinya duduk di sampingnya.

Tania mengernyitkan dahinya, lalu membuka headset dari telinganya.

"Ya ampun, pantesan aja dia bingung liat gue duduk di sampingnya!" gumam Sandy di dalam hati sambil menepuk dahinya.

"Tadi saya udah minta izin sama buk Tania buat duduk di sini, dan saya lihat buk Tania menganggukkan kepala. Saya kira buk Tania mengizinkan saya duduk di samping, ibuk." Sandy memberi penjelasan agar Tania tak berpikir dirinya lancang.

Tania hanya diam, dia menoleh ke arah kaca, dia tak menghiraukan keberadaan Sandy.

Sandy hanya tersenyum, dia tak peduli dengan sikap cuek Tania, baginya saat ini yang terpenting dia bisa berada dekat dengan wanita yang diam-diam telah memasuki hatinya.

Sepanjang perjalanan Tania hanya menoleh keluar jendela, dia merasa jengah melihat Sandy yang tersenyum terus padanya.

Sedangkan Sandy terus menatap kecantikan dan keanggunan wajah wanita yang lebih tua darinya.

Ada rasa yang tersimpan di hatinya, rasa isengnya kini telah berubah menjadi sebuah kekaguman.

Dia tak pernah merasakan hal yang dirasakannya saat berada di dekat Tania pada mangsa-mangsanya sebelum ini.

"Walau usiamu beberapa tahun lebih tua dariku, aku merasakan kamulah cinta yang selama ini kucari," gumam Sandy di dalam hati.

Bersambung...

Readers yang baik hati mohon dukungan nya dengan meninggalkan jejak...

Rate...

Like...

Komentar...

Hadiah...

dan

Vote...

Terima kasih🙏🙏🙏

Terpopuler

Comments

~°•●Dee_K●•°~

~°•●Dee_K●•°~

Pelangi's Love Story hadir kk ghin!💕💕

2022-01-13

0

Nastio Iman

Nastio Iman

hevbat

2022-01-12

0

El_Tien

El_Tien

aku udah mampir

2022-01-04

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!