Pukul 15.00 mereka telah siap akan berangkat ke danau kembar, estimasi wisata yang terdapat di kabupaten Solok.
Danau yang bergandengan, di bagian atas dan bawah. Sehingga danau ini juga disebut dengan danau atas dan danau bawah.
Mereka telah berkumpul di depan sekolah, Nurul telah bersiap berbonceng dengan Eko. Tania dengan Sandy. Rio berboncengan dengan Rahmat lalu Vicky dengan Rafi.
"Gimana sudah siap?" tanya Eko pada para siswanya.
"Siap,Pak!" seru mereka dengan senyuman.
Mereka sangat bersemangat dalam melakukan perjalanan ini.
"Kalau sudah siap, yuk kita berangkat!" ajak Eko memandu perjalanan.
Mereka berangkat dengan empat sepeda motor, perjalanan yang mereka tempuh bukanlah jalanan biasa, karena jalanan mendaki dan kecil menjadi pilihan mereka.
Di sepanjang jalan mereka menikmati hamparan sawah nan luas. Udara yang sejuk membuat mereka sangat menikmati perjalanan.
"Wow! Pemandangannya begitu indah," ujar Tania kagum.
"Begitulah daerah Solok, memang terkenal dengan pemandangan alam yang menyejukkan mata." Sandy menggubris ucapan Tania.
"Kamu sering ke sini?" tanya Tania pada Sandy.
"Sering sih nggak, tapi jalanan ini sudah tak asing buatku," jawab Sandy.
Sandy terus melajukan sepeda motor dengan kecepatan sedang, kini posisi mereka berada paling belakang.
Sandy meraih tangan Tania, lalu meletakkan tangan Tania di pinggangnya.
"Berpeganglah erat-erat, kalau tidak kamu bisa jatuh," titah Sandy pada Tania.
Tania tersenyum, laku melingkarkan tangannya di pinggang Sandy. Dia merasa sangat nyaman dengan berada di dekat Sandy.
Sandy tersenyum bahagia.
Setengah perjalanan baru mereka tempuh, tiba-tiba rintik hujan mulai membasahi mereka.
"Hujan!" pekik Tania merasa kedinginan.
Awalnya gerimis berganti dengan hujan deras, mereka buru-buru mencari tempat untuk berteduh.
Daerah yang saat ini mereka tempuh memang terkenal dengan curah hujan yang tinggi.
Desa Bukit Sileh terletak di bawah kaki gunung Talang. Hawa di sana sangatlah dingin. Dengan turunnya hujan membuat hawa dingin semakin menusuk tulang.
"Dingin?" tanya Sandy menatap Tania yang menyatukan kedua telapak tangannya.
"Iya," lirih Tania mengangguk.
"Sini!" Sandy membuka jaket di tubuhnya.
"Kamu?" tanya Tania.
"Aku sudah terbiasa hidup di daerah dingin, karena desaku juga terletak di bawah kaki gunung Talang," ujar Sandy.
"Kayaknya bakalan awet nih hujannya!" seru Vicky menatap langit yang masih gelap.
Mereka ikut menatap langit.
"Kita tunggu saja, takutnya jalan menuju ke sana licin jika terus kita tempuh," usul Rafi yang sangat mengenal daerah itu.
Mereka yang berteduh di sebuah pondok yang lusuh, di sana terdapat bangku-bangku panjang.
"Masih jauh ya?" tanya Eko pada para siswanya.
"Sekitar 5 kilometer lagi, Pak," jawab Sandy.
Tania dan Nurul mulai menggigil kedinginan. Meskipun Eko dan Sandy telah memberikan jaket mereka pada wanita yang mereka sukai.
Melihat hal itu, Sandy mendekatkan tubuhnya ke Tania.
"Masih dingin, ya?" tanya Sandy.
Dia menggenggam erat tangan Tania dan menyatukan kedua tangannya dengan tangan Tania.
Berharap Tania merasa hangat dengan apa yang dilakukannya.
Eko yang melihat Sandy ikut menirukan apa yang dilakukan oleh Sandy pada Nurul.
Mereka terlihat sangat melindungi dua wanita tersebut.
Rio dan teman-teman hanya bisa menyaksikan kemesraan dua pasang manusia yang tengah larut dalam rasa di antara mereka.
Rio mengeluarkan bungkus rokok miliknya. Dia meletakkan bungkus rokok miliknya di atas meja.
"Dingin-dingin seperti ini, hanya ini yang bisa membuat kita panas." Rio melirik ke arah Sandy.
Sandy hanya fokus pada Tania. Dia tak memperdulikan ocehan Rio.
Rio, Rahmat, Vicky dan Rafi meraih bungkus rokok tersebut. Lalu mereka pun menghisap rokok itu.
Satu jam mereka berada di sana. Akhirnya hujan pun reda. Mereka langsung menaiki sepeda motor lalu kembali melanjutkan perjalanan mereka menuju Danau Kembar.
"Amazing!" pekik Tania saat berada di atas puncak danau bawah.
Dari puncak itu, mereka dapat menyaksikan dua danau yang bersebelahan.
Eko dan Nurul mencari tempat untuk bisa berduaan dengan Nurul, sedangkan Rio dan teman-temannya meninggalkan Tania dan Sandy berduaan.
Mereka tak ingin mengganggu kebersamaan mereka.
Kini tinggallah mereka berdua di taman puncak danau bawah.
"Kamu suka?" tanya Sandy menunjuk pemandangan yang sangat indah.
"Suka, aku suka banget." Tania memeluk tubuh Sandy.
Dia lepas kontrol, sehingga tak sadar melakukan hal itu.
Sandy tersenyum, dia bahagia.
"Aku yakin, aku pasti bisa meraih hatimu. Aku yakin kau akan menjadi milikku seutuhnya," gumam Sandy di dalam hati.
Setelah mereka lelah menikmati keindahan pemandangan alam yang ada di hadapan mereka, cacing-cacing di dalam perut mereka telah meronta untuk di isi.
"Sandy! Rio dan teman-teman mana?" tanya Eko menghampiri mereka.
"Di sana, Pak!" jawab Sandy sambil menunjuk ke arah sebuah pondok tempat mereka berkumpul.
"Kita makan, yuk!" ajak Eko.
"Boleh," ujar Sandy menanggapi.
Eko melangkah ke arah pondok tempat Rio dan teman-teman berada.
Sedangkan Tania dan Sandy melangkah menuju. sebuah cafe yang terdapat di puncak itu.
Tak berapa lama mereka duduk di sana, semua teman-teman merekapun ikut nimbrung di dalam cafe itu.
Seorang pelayan datang menghampiri menanyakan pesanan mereka.
"Maaf, Bang, Kak. Mau pesan apa, ya?" tanya pelayan wanita itu dengan ramah.
"Aku mau mie rebus aja, dingin-dingin begini enaknya yang panas-panas," celetuk Vicky.
"Aku ikut Vicky aja," ucap Nurul.
"Aku juga," sahut Tania.
Sandy menanyakan pesanan teman-teman yang lain.
"Tunggu sebentar, ya!" ujar sang pelayan wanita lalu meninggalkan mereka untuk membuatkan pesanan mereka.
Sambil menunggu, mereka pun asyik mengobrol, tanpa mereka sadari petang pun berganti malam.
Tak berapa lama menunggu, makanan mereka pun terhidang di atas meja.
Tak menunggu aba-aba, mereka langsung menyantap hidangan itu.
Asap panas dari makanan itu mengepul di mangkuk mereka. Pelan namun pasti mereka menghabiskan makanan mereka.
"Udah malam ternyata," lirih Eko sambil menatap Nurul.
"Udara malam di sini benar-benar sangat dingin, bagaimana kalau kita bermalam di rumahku?" tawar Sandy.
"Kebetulan, rumahku tak jauh dari sini," tambah Sandy.
Semua rombongan saling pandang.
"Ide bagus, kebetulan besok kita libur sekolah," ujar Eko menerima usulan dari Sandy.
"Ya udah, gak apa-apa!" seru Rio dan teman-temannya.
Tania dan Nurul masih diam, mereka sendiri tak tahu harus menjawab apa.
"Kalian tenang aja, di rumahku masih ada ibuku dan adik-adik," bujuk Sandy.
Akhirnya Tania dan Nurul mengangguk setuju.
Mereka pun keluar dari cafe melangkah menuju sepeda motor mereka yang terparkir.
Mereka kembali melanjutkan perjalanan.
Di malam dingin, dan pakaian yang sedikit basah membuat mereka semakin menggigil kedinginan.
Seakan mereka mulai tak sanggup untuk melanjutkan perjalanan mereka.
Sekitar 15 menit perjalanan, mereka sampai di sebuah gubuk kecil.
Sandy turun dari motornya. Dia melangkah menuju pintu gubuk itu yang sudah tertutup rapat.
"Assalamualaikum," ucap Sandy sambil mengetuk pintu rumah.
Berkali-kali Sandy mengetuk pintu namun tak ada jawaban, membuat Sandy panik seketika.
Bersambung...
Readers yang baik hati mohon dukungan nya dengan meninggalkan jejak...
Rate...
Like...
Komentar...
Hadiah...
dan
Vote...
Terima kasih🙏🙏🙏
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 26 Episodes
Comments
Nastio Iman
mantaaap
2022-01-04
0
syafridawati
bom like dan fav mampir
2022-01-02
0
Azfa Humaira
Kereeen
2022-01-02
0