Nasi Goreng Ala Chef Sandy

Nurul mengguncang tubuh Tania, dia tak ingin ada yang melihat apa yang telah dilakukan oleh sahabat dan siswanya itu.

Tania terbangun, dia mengerjapkan matanya berusaha mengumpulkan nyawanya.

“Apa yang loe lakukan?” tanya Nurul kesal pada sahabatnya.

Tania bingung mendengar pertanyaan sahabatnya, Tania merasa ada beban berat yang menghimpit tubuhnya. Tania melihat tangan Sandy melingkar di pinggangnya.

“Ya ampun,” pekik Tania tertahan.

Dia menjauhkan tubuhnya dari tubuh kekar Sandy.

“Loe ngapain aja sih sama dia?” tanya Nurul mencurigai sahabatnya.

“Gue nggak ngapa-ngapain,” bantah Tania.

“Gue nggak sadar, kalau dia meluk gue.” Tania mencoba memberi alasan pada sahabatnya agar Nurul tak berpikiran yang aneh-aneh terhadap dirinya dan Sandy.

“Benarkah?” tanya Nurul mengintimidasi.

“Loe nggak percaya sama gue, Rul?” tanya Tania sendu.

“Ingat, Tania! Loe udah punya Reyhan.” Nurul memberi nasehat pada sahabatnya.

“I-iya,” lirih Tania menunduk.

Bayangan kejadian semalam pun kembali terlintas di benaknya.

Eko yang awalnya masih nyenyak dengan tidurnya, merasa terusik karena mendengar Tania dan Nurul berdebat.

“Ada apa?” tanya Eko penasaran.

Tania dan Nurul menoleh ke arah Eko yang bangun dari tidurnya sambil mengucek matanya.

“Mhm, nggak ada,” jawab Tania cengengesan.

Sandy dan yang lainnya juga ikut terbangun saat mendengar percakapan Tania, Nurul dan Eko.

“Udah pagi ternyata,” lirih Rio sambil mengedarkan pandanganya ke celah-celah rumah Sandy.

Cahaya mentari mulai menyelinap di setiap celah rumah Sandy.

“San, gue mau ke air, di mana?” tanya Vicky polos.

“Yuk, ikut gue!” ajak Sandy.

“Gue juga,” ucap Rio, Rafi dan Rahmat serentak.

Mereka keluar dari rumah Sandy melewati pintu belakang. Kini tinggallah Eko, Nurul dan Tania di dalam rumah.

Tak berapa lama, seorang wanita tua masuk lewat pintu belakang. Wanita tua itu bingung melihat keberadaan Tania, Nurul dan Eko di sana.

“Siapa kalian?” tanya wanita tua yang berpenampilan sederhana.

“Kami, temannya Sandy. Maaf, kalau boleh tau, ibuk siapa?” tanya Eko Ramah.

“Teman Sandy?” tanya wanita tua itu memastikan.

“Iya, Buk!” sahut Eko.

“Lalu, Sandynya mana?” tanya wanita tua itu tanpa menjawab pertanyaan dari Eko.

“Sandy nganter teman-teman pergi ke air, Buk.” Eko menjawab pertanyaan wanita tua itu, yang menurutnya adalah ibu Sandy.

“Oh, saya ibunya Sandy.” Wanita tua itu mulai memperkenalkan dirinya.

“Oh iya, Buk.” Eko, Nurul dan Tania menyalami wanita tua yang ada di hadapannya sebagai tanda hormat.

“Aku Eko, buk.” Eko memperkenalkan dirinya.

“Aku Nurul, Buk,” ucap Nurul ikut memperkenalkan diri.

“Aku Tania,” ucap Tania tak mau ketinggalan.

Wanita itu terpana saat melihat Tania, sorotan matanya berbeda saat menatap Eko dan Nurul.

“Kamu yang bernama Tania? Guru Sandy?” tanya ibu Sandy.

Tania menoleh ke arah Nurul dan Eko, dia mengangguk pelan. “Iya, Buk.”

“Sandy sering cerita tetang kamu, Nak.” Ibu Sandy mengelus lembut kepala Tania, seolah dia sangat mengenal Tania.

Tania hanya tersenyum.

“Mak udah pulang?” Tiba-tiba Sandy datang bersama teman-temannya.

“Iya, Ridho datang ke rumah kakakmu. Dia bilang kamu pulang,” jawab ibu Sandy.

“Oh gitu, gimana kabar kakak, Mak?”tanya Sandy.

“Masih pembukaan 2, kata bidan paling cepat lahirnya nanti siang,” jawab ibu Sandy.

“Oh gitu, semoga aja lancar sampe lahiran,” ucap Sandy.

“Aamiin,” ucap teman-teman Sandy.

“San, kamu udah masak nasi belum? Bikin nasi goreng aja buat sarapan,” ujar ibu Sandy memberi perintah pada putranya.

“Nggak usah, Mak. Kami nanti makan di jalan aja,” ujar Sandy menolak dengan halus.

“Nggak bisa, kalian harus makan dulu di sini. Kalau nggak makan, mak nggak izinkan kalian berangkat!” ancam Mak pada Sandy dan teman-teman.

“Di rumah ini, kita punya beras, cabe, bawang yang nggak harus beli. Hanya ini yang bisa kami kasih,” ujar Ibu Sandy ngomel-ngomel.

“Iya, Mak. Aku masak nasi dulu, ya!” ucap Sandy mengalah.

Sandy pun melangkah ke dapur.

“Sandy, sambil nungguin kamu masak nasi. Bikin teh dulu, ya!” perintah ibu Sandy lagi.

“Iya, Mak,” jawab Sandy.

“Aku tolongin, ya.” Tania pun mengikuti Sandy ke dapur.

Walaupun Tania nggak terlalu bisa memasak, paling tidak dia bisa membantu apa saja untuk meringankan pekerjaan Sandy.

“Aku ikut,” ujar Nurul nggak mau hanya berdiam diri dengan segerombolan pria di dalam rumah Sandy.

Sambil menunggu nasi masak, Tania dan Nurul membantu Sandy menyiapkan bahan-bahan untuk membuat nasi goreng.

Segala bahan-bahan masak di rumah Sandy tinggal petik, seperti cabe atau bawang di belakang rumah Sandy terhampar kebun cabe dan bawang.

“Kebun ini punya kamu?” tanya Tania pada Sandy saat memetik cabe.

“Ayahku hanya meninggalkan beberapa tumpuk tanah perkebunan untuk kami olah, dari tanah perkebunan inilah kami bisa melanjutkan hidup kami.” Sandy bercerita panjang lebar tentang kehidupan masa kecilnya sebelum dia pindah ke desa tempat dia bersekolah saat ini.

“Aku rasa sudah cukup,” ucap Sandy lalu membawa cabe dan bawang yang dipetik itu ke dapur.

Nurul baru saja membuatkan teh untuk teman-temannya. Setelah 30 menit,Sandy menyelesaikan pekerjaannya memasak nasi goreng seperti perintah ibunya.

“Dari aromanya, aku bisa ngebayangin nasi gorengnya pasti lezat,” puji Tania.

“Masa sich?” Sandy tersenyum malu.

Di rumahnya, Sandy telah terbiasa memasak. Ibunya yang sudah tua, tak sanggup lagi melakukan hal itu. Jika Sandy tak di rumah, maka Aril adik Sandylah yang akan melakukan tugas itu.

Tania dan Nurul menghidang sarapan sederhana yang dengan susah payah dimasak oleh Sandy.

“Yuk, makan!” ajak Sandy mempersilakan teman-temannya untuk mencicipi masakannya.

Eko dan yang lainnya pun mulai menikmati masakan Sandy yang terasa begitu lezat.

“Loe jago juga masak, San.” Vicky memuji masakan Sandy.

“Biasa aja kali,” ujar Sandy.

“Beruntung nih wanita yang bakal jadi istri loe nanti,” sindir Rahmat sambil melirik ke arah Tania.

Wajah Tania berubah merah merona seketika saat mendengar ucapan Rahmat.

“Apaan sich, sekolah aja belum selesai. Mana ada yang mau sama gue?” Sandy merendahkan diri.

“Hahaha,” mereka tertawa.

Setelah selesai menikmati sarapan mendadak yang disiapkan oleh chef Sandy, mereka mengobrol sejenak bersama ibu Sandy.

Ibu Sandy banyak menceritakan kehidupan mereka setelah kepergian ayah Sandy. Ibunya bercerita, ayah Sandy meninggal saat meletusnya gunung Talang pada tahun 2005. Mereka juga terpaksa tinggal di rumah kecil itu karena rumah mereka yang telah dibangun dengan susah payah oleh ayah Sandy tertimbun oleh lahar letusan gunung Talang saat itu.

Sandy hanya diam saat ibunya mengenang masa-masa sulit yang harus dilewatinya, saat itu Tania melihat genangan air mata di pelupuk mata Sandy. Tania ikut sedih mendengarkannya.

“Kami izin pamit, Mak,” ujar Eko berpamitan setelah ibu Sandy selesai bercerita.

“Oh iya, tapi bisakah Sandy pulang nanti sore saja?” pinta ibu Sandy pada Eko dan teman-temannya.

Mereka pun saling berpandangan, tak ada yang bisa menjawab permintaan ibu Sandy.

Bersambung...

Readers yang baik hati mohon dukungan nya dengan meninggalkan jejak...

Rate...

Like...

Komentar...

Hadiah...

dan

Vote...

Terima kasih🙏🙏🙏

Terpopuler

Comments

Hum@yRa Nasution

Hum@yRa Nasution

lezatnya martabak

2022-01-12

1

Nastio Iman

Nastio Iman

cuakeeeppp

2022-01-04

1

Azfa Humaira

Azfa Humaira

nasgor

2022-01-02

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!