Setelah 2 jam perjalanan, Tania merasa kepalanya sangat pusing dan mual.
Tania berusaha menahan rasa sakitnya. Sandy menyadari kegelisahan Tania, dia yang masih memandang wajah Tania, melihat keringat dingin mengucur di pelipis Tania. Paras nan menawan itu kini tampak pucat.
"Buk, ada apa?" tanya Sandy khawatir.
Tania menoleh ke arah Sandi, lalu dia pun pingsan tak sadarkan diri di pelukan Sandy.
"Pak Eko, tolong!" teriak Sandy memanggil guru PPL yang juga berada di bus yang sama.
Eko yang duduk di bagian belakang, langsung berdiri menghampiri Sandy, Eko kaget melihat Tania yang pingsan di pelukan siswanya.o
"Pak, tolong minta kotak P3K di depan," pinta Sandy.
Eko langsung melangkah ke bagian depan, dan kembali membawa kotak P3K di tangannya.
"Tania kenapa?" tanya Eko penasaran.
"Aku juga gak tahu, Pak. Tiba-tiba dia pingsan begitu aja." Sandy memberi penjelasan sambil mengoleskan minyak kayu putih ke hidung Tania.
"Buk, buk Tania!" Sandy terus mencoba membangunkan Tania.
Dia juga tak lupa mengoleskan minyak kayu putih di leher dan dahi Tania, dia menggenggam erat tangan Tania terus berusaha membangunkan Tania.
Setelah beberapa menit, usaha Sandy berhasil membangunkan Tania.
Tania kaget saat mendapati dirinya ada di dalam pelukan Sandy, dia hendak menjauh dari Sandy, tapi tenaganya belum terkumpul untuk melakukan hal itu.
"A-apa yang terjadi?" lirih Tania pelan.
"Buk Tania pingsan. Ibuk kurang sehat?" tanya Sandy perhatian.
Tania memegang kepalanya yang masih terasa pusing.
"Mungkin maag aku kambuh, tadi pagi belum sempat sarapan karena buru-buru ke sekolah," lirih Tania.
"Buk Tanya belum makan?" Sandy pun membuka tas selempang miliknya.
Sandy mengeluarkan sepotong roti dari sana.
"Makanlah roti ini, dan aku juga ada susu kotak. Buk Tania makan ini dulu." Sandy menyodorkan roti dan sekotak susu yang sempat di belinya sebelum berangkat tadi.
"Ng-nggak usah, a--" Tania mencoba menolak tapi Sandy langsung menyuapi roti tersebut ke mulut Tania.
Mau tak mau Tania membuka mulutnya dan mengunyah roti yang sudah ada di dalam mulutnya.
Tania menatap wajah tampan yang tulus membantunya. Tania teringat dengan kejadian semalam.
Dia bangkit, dan menjauhkan tubuhnya dari Sandy.
"Maaf, sudah merepotkan," lirih Tania pelan.
"Saya senang membantu, Buk Tania," ujar Sandy dengan senyumannya.
Seketika suasana menjadi canggung di antara mereka.
Pada pukul 12 siang, bus memasuki kawasan Pantai Carocok. Hamparan lautan luas menyambut kehadiran mereka.
Semua rombongan turun dari bus.
"Wow! Indah banget!"
"Keren abis!"
"Kita yang tinggal di gunung ketemu pantai jadi histeris gini, ya? Norak! Hahaha!"
Berbagai ungkapan terlontar dari mulut beberapa siswa.
"Buk Tania, udah mendingan?" tanya Sandy sebelum Tania turun dari mobil.
"Udah," jawab Tania mengambil tasnya lalu turun dari mobil diikuti oleh Sandy dari belakang.
Setelah semua rombongan turun dari mobil, pak Fauzi selaku pembimbing OSIS memberi aba-aba pada para siswa untuk berkumpul di bawah pohon nan rindang di pinggir pantai.
Di sana, mahasiswa PPL membantu guru-guru pembimbing yang lain untuk membagikan nasi bungkus pada para siswa.
Mereka pun menikmati makan siang bersama di bawah pohon Rindang sambil menikmati terpaan angin laut yang menyejukkan.
Tania berusaha menghindari Sandy, dia memilih untuk selalu berada di samping Nurul agar Sandy tak bisa mendekatinya.
Setelah semua selesai menikmati bekal siang mereka, pak Fauzi berdiri di tengah-tengah rombongan dengan memegang pengeras suara.
"Assalamualaikum," ucap pak Fauzi.
"Waalaikumsalam," jawab semua rombongan dengan serentak.
"Setelah ini kita akan menaiki boat menuju pulau Penyu. Di sana kita akan mengadakan beberapa kegiatan, lalu kita akan mengumumkan juara-juara beberapa kompetisi yang telah kita laksanakan." pak Fauzi memberi arahan beberapa kegiatan yang akan mereka lakukan di sana.
Beberapa boat sudah terparkir di pinggir pantai.
"Silahkan naik ke atas *boa*t, satu boat isinya hanya 12 orang tak boleh lebih!" perintah pak Fauzi.
"Yuk, Tan!" Nurul menarik tangan Tania agar mereka menaiki boat yang sama.
Tania dan Nurul menaiki boot yang masih kosong lalu diikuti oleh beberapa siswa termasuk Sandy.
"Tan, loe ngerasa nggak sich? Siswa yang bantuin kita dorong scoopy loe waktu bocor ban kayak ngikutin loe gitu deh," ujar Nurul merasa nggak nyaman melihat Sandy mengejar-ngejar sahabatnya.
"Cuekin aja, Rul! Gue males bahas dia," balas Tania cuek.
"Aku boleh duduk di sini?" tanya Sandy pada temannya yang berada tepat di belakang Tania, membuat Nurul kaget.
"Hah!" Yang di omongin ada di boat ini, Tan." Nurul berbisik di telinga Tania membuat Tania langsung menoleh ke arah Sandy.
"Makanya, jangan bahas dia lagi! Cuekin aja!" celetuk Tania.
Sandy memang sengaja mengikuti Tania, kali ini dia benar-benar ingin mendapatkan hati Tania, meskipun Tania sudah memiliki kekasih.
Di sepanjang perjalanan di atas boot Nurul asik ber-selfi ria. Begitu juga dengan Tania. Dia tak memperdulikan Sandy yang memperhatikan nya sambil tersenyum lucu.
Saat Tania berdiri di atas boat hendak berpose untuk mengabadikan suasana perjalanan mereka, tiba-tiba boat sedikit oleng karena ombak.
"Tania!" teriak Nurul saat melihat temannya hampir terjatuh.
Sandy yang dari awal memperhatikan Tania dengan cekatan meraih tangan Tania, hingga Tania dapat terselamatkan.
Sandy menarik tangan Tania, hingga Tania jatuh ke dalam pelukan Sandy, mereka saling menatap.
Deg deg deg
Detak jantung mereka berpacu dengan cepat. Sekian detik mereka saling beradu pandangan, mereka tenggelam dengan rasa yang berbeda menyelimuti hati mereka.
Nurul menarik tangan Tania.
"Loe hati-hati dunk, Tan." Nurul sengaja melakukan hal itu, karena dia melihat ada gelagat yang aneh di antara keduanya.
Tania kembali duduk di kursinya bersama Nurul, sedangkan Sandy hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
*****
Mereka sampai di pulau Penyu setelah menempuh perjalanan laut sekitar 40 menit, mereka pun turun dari boat yang mereka tumpangi.
Guru pembimbing memberi kebebasan pada siswa untuk bermain sejenak di pulau tersebut sambil menunggu lain yang masih belum sampai di pulau.
Pulau penyu merupakan estimasi wisata laut yang indah di Pesisir Selatan. Pulau ini telah banyak di huni oleh para pedagang yang mencari nafkah dari kunjungan wisatawan ke pulau ini.
"Tan, gue kebelet nih. temani gue ke toilet yuk!' ajak Nurul saat melihat papan berbentuk panah menunjukkan lokasi toilet.
Tania pun menemani Nurul untuk menyelesaikan hajatnya. Sambil menunggu sahabatnya, Tania membuka ponselnya.
Tiba-tiba sebuah tangan kekar menutup mata Tania lalu mengajaknya pergi ke tempat yang tersembunyi.
Tania ingin berteriak, tapi mulutnya di bekap oleh tangan kekar itu.
Bersambung...
Readers yang baik hati mohon dukungan nya dengan meninggalkan jejak...
Rate...
Like...
Komentar...
Hadiah...
dan
Vote...
Terima kasih🙏🙏🙏
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 26 Episodes
Comments
ayuna
cus tab. favorit....
hai kk
salam kenal dari Chyntia (rollercoaster kehidupan)
singgah yuk....😊😊
2022-01-17
0
Nastio Iman
dag dig dug
2022-01-12
0
Azfa Humaira
jantung ku berdebar
2022-01-02
0