Peristiwa yang sangat mengejutkan. Tidak sekadar mengejutkan, tetapi juga aneh dan menakutkan. Jamil dan Juminem yang sedianya memang berniat menghantarkan Melian kepada kakek dan neneknya, pada malam itu kebetulan adalah malam maisong. Setelah diyakinkan bahwa dirinya tidak menculik bayi itu, akhirnya Babah Ho dan istrinya sudah tidak mempermasalahkan lagi. Maklum, malam itu semuanya sibuk dalam memanjatkan doa-doa maisong bagi Cik Lan, ibunya Melian.
Jamil dan Juminem pun tidak mempersoalkan hal itu. Yang penting baginya, bayi itu sudah dikembalikan kepada keluarganya. Mereka pun tidak urusan dengan ibunya bayi yang mati, atau bahkan kalau Jamil dan Juminem tahu jika ayah bayi itu juga sudah meninggal, mungkin mereka juga tidak urusan. Yang penting niatnya untuk mengembalikan bayi itu sudah selesai.
Maka, saat mereka berdua disuruh duduk di kursi besi yang ada di pelataran, bersama dengan para pelayat yang memberi penghormatan jenazah anaknya Babah Ho yang akan dikubur esok hari, Jamil dan Juminem tidak begitu perhatian. Bahkan bagi Jamil, karena merasa tidak kenal dengan para pelayat, ia pun tidak berkomunikasi dengan orang-orang yang ada di sekitarnya.
Karena kewajibannya untuk mengantar bayi yang pernah dibopong, digendong dan digudang, bahkan juga didekap saat tidur bersamanya, kini putus sudah cerita hari kemarin yang pernah membuatnya bahagia. Daripada berlama-lama di tempat yang asing baginya, toh Babah Ho maupun kerabatnya juga sudah tidak butuh dirinya lagi, maka Jamil memutuskan untuk mengajak istrinya pulang. Alasannya tentu karena rumahnya jauh dan harus melintas di jalan yang gelap dan sepi.
Meski Juminem menurut ajakan suaminya, namun hatinya sangat berat untuk meninggalkan tempat itu. Apalagi saat ia menyaksikan Melian, si bayi mungil yang cantik itu merambat di peti jenazah ibunya, hati Juminem seperti diiris-iris, bagai disayat sembilu. Sangat pedih dan menyakitkan. Juminem tidak tega menyaksikan itu semua. Dan tanpa terasa, air mata pun mengalir deras di pipinya.
"Sudah, Jum .... Tidak usah ditangisi ...." kata Jamil yang sudah berdiri dan menarik tangan istrinya.
"Saya kasihan, Kang ...." sahut Juminem yang akhirnya bangkit juga dari kursi besi itu, lantas menurut suaminya untuk membonceng sepeda motor butut yang suaranya bisa didengar oleh orang se kampung.
Namun, saat membuka pintu rumahnya, Juminem sangat tidak percaya. Matanya sudah dikedipkan berkali-kali, faktanya ia melihat Melian kecil itu duduk di lantai rumah yang hanya diratakan plester pasir semen tersebut. Bayi kecil itu berada di balik pintu, sambil tersenyum manis seakan menyambut kedatangan Juminem dan Jamil. Tentu Juminem menjerit kaget.
"Masyaallah ..., Jum .... Ini benar apa tidak ...?!" Jamil yang yang bergegas menghampiri istrinya yang menjerit, juga ikut kaget menyaksikan kenyataan itu.
"Kang ..., ini pertanda apa ...?!" bertanya demikian, tubuh Juminem langsung lemas, dan selanjutnya pingsan.
"Walah ..., Jum ...?! Jum ...?! Jum ...!!" Jamil jadi bingung saat melihat istrinya menggeletak di depan pintu.
Jamil menggotong istrinya yang pingsan itu, lantas menggeletakkannya di dipan tempat tidurnya. Tentu dengan kebingungan yang tidak karuan. Ingin menjerit tidak berani. Ingin berteriak minta tolong juga takut. Tentu khawatir kalau cerita itu sampai diketahui oleh tetangga-tetangganya. Ini adalah peristiwa aneh yang harus di rahasiakan. Sesuatu yang ajaib. Kejadian yang tidak masuk akal. Jamil khawatir kalau diketahui oleh para tetangga malah dikira ia menculik cucunya Babah Ho. Maka ia berusaha diam dan mengatasi masalahnya sendiri.
Melian yang baru bisa merangkak, ia mengikuti tubuh Juminem yang terbujur di dipan.
"Ma ..., Ma ...." itu kata-kata Melian yang keluar dari mulutnya, tentu sambil tersenyum kelihatan senang.
Jamil yang melihat bayi kecil mungil itu tidak tega. Ia langsung mengangkat si kecil cantik itu, seperti kebiasaannya kalau pulang dari kerja, tubuh mungil itu dijunjung ke atas sambil ditimang. Pasti Melian tertawa kegirangan.
Lantas Jamil meletakkan bayi itu di sisi Juminem yang masih pingsan. Lantas Jamil membuat minuman hangat dari termos, untuk diberikan kepada istrinya, agar Juminem lekas siuman.
"Jum ..., ayo ini diminum .... Jum ..., sadar, Jum ...." kata Jamil sambil mengambil minum hangat itu dengan sendok, lantas diteteskan di bibir istrinya yang dibuka sedikit.
Beberapa tetes air minum hangat itu bisa masuk ke mulut Juminem. Tentu Jamil sambil memencet-pencet bagian telapak kaki istrinya, seakan dipijat biar cepat siuman.
"Ma ..., Ma .... Ma ..., Ma ...." Melian yang berada di sebelah Juminem, tentu ikut sibuk menggelut tubuh Juminem. Mungkin ia juga ikut-ikutan memijat agar perempuan yang dipanggil mama itu sadar dan bisa menggendong dirinya.
Dan akhirnya, Juminem pun sadar.
"Kang ...." Juminem memanggil suaminya, bingung.
"Sadar, Jum .... Tidak usah bingung .... Tenangkan pikiranmu ...." kata Jamil menenangkan istrinya.
"Saya tadi pingsan ya, Kang ...?" tanya Juminem.
"Ma ..., Ma ...." Melian sudah memegangi lengan Juminem.
"Iih ..., kamu ini .... Bayi aneh ...." kata Juminem yang langsung duduk di tempat tidur, sambil menyahut Melian dan memangkunya.
"Ini, teh hangatnya di minum dahulu .... Biar tenagamu kumpul ...." kata Jamil yang memegang gelas minuman hangat itu dan meminumkan kepada istrinya.
"Iya, Kang .... Terima kasih." sahut Juminem yang langsung meneguk gelas berisi teh hangat yang dipegang suaminya dan ditempelkan di bibirnya.
"Ma ..., Ma .... Ma ..., Ma ...." Melian yang dipangku Juminem, ikut-ikutan memegang gelas.
"Kamu mau minum ...?" tanya Juminem yang kini sudah memegang gelas sendiri, sudah tidak dibantu suaminya.
Juminem pun menempelkan gelas itu kepada bayi cantik yang dipangkunya.
"Hati-hati, Jum .... Tehnya masih terlalu hangat untuk bayi.
"Namamu Melian, ya ....?" tanya Juminem pada bayi itu, sambil mencandai Melian. Tentu Juminem tahu nama bayi itu tadi saat menyerahkan kepada neneknya.
"Ma ..., Ma .... Ma ..., Ma ...." Melian balas memegang pipi Juminem, seakan bayi itu sudah bisa mengajak komunikasi orang yang memangkunya.
"Kang ..., aku kok takut, ya ...." kata Juminem pada suaminya, yang tentu karena merasa sangat aneh menerima keadaan bayi itu.
"Sudah .... Tidak usah terlalu dipikirkan. Mungkin itu karunia Yang Maha Kuasa ...." sahut suaminya yang sambil memasukkan motor dan menutup pintu rumahnya.
"Tapi, Kang ...." kembali Juminem ragu-ragu.
"Sudahlah, Jum .... Dulu kamu selalu bilang pengin punya anak ..., pengin menimang anak ..., pengin ngeloni anak .... Sekarang ada bayi di rumah, kamu malah bingung ...." kata Jamil yang sudah duduk di dipan tempat tidur sambil mengelus-elus punggung Melian.
"Tapi, Kang .... Ini aneh .... Iki ora sakbaeno, Kang ...." Juminem mencoba berargumentasi.
"Iya .... Tapi biarlah malam ini berlalu dahulu .... Yang lain kita pikir besok .... Ini sudah malam, Jum ...." kata Jamil berusaha menenangkan istrinya.
"Iya, Kang .... Tapi benar tadi kita sudah membawa Melian dan menyerahkan kepada engkongnya, kan ...?!" kata Juminem lagi yang tentu masih penasaran.
"Lhoh, kan tadi kita berdua yang diajak ke kamarnya Babah Ho menyerahkan bayi ini ...." sahut Jamil yang jelas masih ingat saat memberikan bayi itu, bahkan ia juga ingat waktu dituduh menculik Melian.
"Lha iya .... Kok bisa bayi ini berada di rumah kita lagi ...?! Siapa yang mengantar kemari ...?! Padahal pintu rumah kita juga terkunci .... Terus masuknya dari mana, kok tahu-tahu Melian sudah berada di dalam rumah?" kata Juminem menanyakan keanehan itu pada suaminya.
"Juminem ..., anggaplah itu mukjizat dari Yang Maha Kuasa .... Bagi Allah, apa saja itu mungkin, Jum .... Hanya dengan kun fayakun, semua bisa terjadi ...." jelas Jamil yang berusaha untuk menyadarkan istrinya, bahwa kekuasaan Allah itu tidak terbatas. Tentu tujuan Jamil agar istrinya tidak takut lagi dengan peristiwa yang sedang mereka alami malam itu. Padahal, Jamil sendiri sebenarnya juga heran dan takut. Bayi yang dipangku oleh istrinya itu pastilah bukan bayi sembarangan.
Dengan penjelasan suaminya seperti itu, Juminem perlahan mulai bisa tersenyum. Tentu merasa senang karena bayi cantik yang sudah dirawat beberapa hari itu kembali ke pangkuannya. Namun demikian, keanehan yang terjadi pada bayi itu tetap masih menjadi tanda tanya dalam hati Juminem. Pasti juga di hati Jamil. Juminem ingat persis saat suaminya menyeret tangannya mengajak pulang dari rumah Babah Ho, ia memandangi Melian yang waktu itu merambat di peti jenazah ibunya. Juminem sangat kasihan pada Melian, karena tidak ada yang menggendong Melian. Semua orang hanya sibuk mendoakan ibunya, sementara bayinya seakan tidak terurus.
Itulah yang menyebabkan Juminem kala itu seakan tidak rela meninggalkan Melian. Dalam hati Juminem, ingin rasanya membopong kembali bayi itu dan mengajaknya pulang. Ternyata, apa yang dibatin Juminem menjadi keajaiban yang benar-benar tidak masuk akal manusia. Keinginannya untuk membopong Melian kini benar-benar terkabul. Bayi aneh itu sudah sampai rumah lebih dahulu, tanpa diketahui siapa yang membawanya.
"Jum ..., besok pagi kita antar lagi Melian ke rumah Babah Ho ...." kata Jamil.
"Lho ..., Kang .... Jangan ...." sahut Juminem yang tentu tidak ingin dipisahkan lagi dengan Melian.
"Saya khawatir Jum ..., nanti kita dituduh menculik lagi. Pokoknya kita serahkan lagi kepada keluarganya. Kalau Melian ini memang bayi ajaib yang ingin hidup bersama kita, pasti besok akan pulang lagi ke rumah kita .... He ..., he ..., he ...." tentu Jamil juga berharap bisa memiliki Melian.
"Iya, Kang .... Saya setuju. Mudah-mudahan saja besok Melian kembali ke rumah kita lagi seperti sekarang ya, Kang .... He ..., he ..., he ...." Juminem juga tertawa dengan harapan bahagia.
"Ma ..., Ma .... Ma ..., Ma ...." Melian juga ikut tersenyum senang, walau entah apa maksudnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 259 Episodes
Comments
NUNIK SUPRIYANTI
weeealah bayi pinter ..di ater arwah ibunya apanya Thor....
2022-09-28
1