Sinar bulan purnama sangat sempurna untuk menerangi Jembatan Cerbung yang sedang dibangun. Meski tidak seterang seperti siang hari, namun cahaya bulan purnama itu sangat terang untuk menunjukkan jalan serta tempat yang bisa dilalui orang. Terlihat jelas tiang-tiang bambu yang terpasang, yang akan digunakan sebagai penyangga pembangunan jembatan. Demikian juga batang-batang bambu yang ditata membujur di atas sungai, sebagai bantuan bagi para pekerja untuk melintas menyeberangi sungai dalam mengusung atau mengangkat barang-barang.
"Tolooong ...!!! Tolooong ...!!! Tolooong ...!!!" teriak Cik Lan.
Cik Lan yang baru saja terlepas dari dekapan dan cengkeraman para lelaki yang ingin memperkosanya, melarikan diri sebisa-bisanya. Namun karena bingung dan ketakutan, maka saat berlari ia hanya ingin menyelamatkan diri. Cik Lan hanya berlari sambil berteriak minta tolong. Hingga ia tidak memperhatikan arah larinya. Yang seharusnya kalau mau pulang mestinya lari ke arah barat, yaitu ke arah Lasem, namun Cik Lan justru berlari ke arah sebaliknya, yaitu menuju arah jembatan yang sedang di bangun.
"Tolooong ...!!! Tolooong ...!!! Tolooong ...!!!"
Kembali Cik Lan berteriak kencang. Namun di tengah malam yang sepi, dan di daerah itu tidak ada rumah penduduk maupun orang yang ada di sekitar tempat itu, maka sia-sia saja ia berteriak keras karena tidak ada orang yang mendengar.
Sementara itu di semak belukar, laki-laki tanpa celana yang ditendang kemaluanya oleh Cik Lan, sudah mulai bisa bicara. Sudah bisa menjawab pertanyaan temannya. Tentu masih menggenggam memegangi barangnya yang masih terasa sakit.
Salah satu temannya mengambilkan celana yang tergeletak di tanah. Lantas membantu memakaikan celana itu. Tentu agar temannya cepat selesai, dan bisa segera mengejar wanita yang sudah melarikan diri.
Laki-laki besar itu tampak kesulitan untuk bangun. Bahkan beberapa kali terjelungup jatuh saat mengenakan celana. Tentu karena tergesa dan disuruh cepat-cepat oleh temannya. Mereka akan mengejar perempuan yang sudah melarikan diri.
"Mana perempuan tadi ...?! Kurang ajar ...!!" tanya laki-laki yang baru saja terjengkang ditendang oleh wanitayang akan diperkosanya.
"Itu .... Perempuan itu lari ke sana ...!" jawab temannya sambil menunjuk ke arah Cik Lan yang sudah berlari.
"Awas ....! Nanti kalau ketangkap akan aku perkosa berkali-kali ...!!" kata laki-laki yang terjatuh tadi, tentu dengan penuh rasa dendam karena sudah ditendang ***********.
"Gentian aku dulu, ah .... Masak aku tidak kebagian ...." sahut laki-laki yang satunya.
"Aku juga pengin ...! Putih mempur .... Mulus banget .... Klihatannya empuk itu, bro ...! Pasti enak ...!" sahut yang satu lagi.
"Ya udah ..., ayo cepat kejar ...!" sahut laki-laki besar yang tentu sangat ingin melampiaskan dendamnya tersebut.
Tiga orang laki-laki yang sudah sangat bernafsu itu langsung mengejar perempuan yang sudah terlebih dahulu berlari. Tentu para laki-laki itu sangat bernafsu untuk menangkap perempuan yang akan dijadikan pelampiasan nafsu bejatnya. Mereka cepat-cepat ingin segera memperkosa wanita itu.
"Tolooong ...!!! Tolooong ...!!! Tolooong ...!!!" Cik Lan berteriak-teriak minta tolong.
Namun sia-sia. Meski berteriak kencang, tidak ada orang yang datang. Tiga orang laki-laki yang mengejarnya sudah semakin dekat. Dan di depan, Cik Lan bingung karena sudah tidak ada jalan. Jalannya sudah habis, buntu di tepi sungai. Yang ia lihat hanya jembatan yang sedang dibangun, jembatan yang masih berupa bambu-bambu yang digunakan sebagai penyangga rangka jembatan. Tentu Cik Lan kebingungan, akan berlari ke mana, karena yang ada di depannya hanya ada sungai dengan aliran air yang sangat deras.
Cik Lan tengok kanan tengok kiri. Mencari jalan yang bisa digunakan untuk menyelamatkan diri. Sementara tiga orang laki-laki itu sudah mendekat ke dirinya. Ia bingung. Ketakutan.
"Hehehe .... Mau ke mana kamu ...?!" kata laki-laki yang berdiri di dekatnya.
"Hahaha .... Kutangkap sekarang, kamu .... Hayo ..., layani aku ...!!!" bentak laki-laki yang barusan ditendang *********** oleh Cik Lan.
"Tolooong ...!!! Tolooong ...!!! Tolooong ...!!!" kembali Cik Lan berteriak-teriak minta tolong. Di ujung penghabisan jalan, sebagai tempat penentuan nasib.
"Huahahaha .... Tertangkap sekarang ...!" kata laki-laki yang paling depan, yang sudah memegang tangan wanita yang dikejarnya.
"Tolooong ...!!! Tolooong ...!!! Tolooong ...!!!" Cik Lan berteriak-teriak, meronta-ronta menarik tangannya. Cik Lan berusaha melepaskan genggaman tangan laki-laki kasar tersebut. Bahkan kakinya juga menendang laki-laki itu. Dan saat Cik Lan meronta menendangi laki-laki itu, tentu laki-laki itu kesakitan. Lantas laki-laki itu melepas genggaman tangannya yang memegangi wanita yang diburunya. Kesempatan itu dimanfaatkan oleh Cik Lan untuk berlari.
Cik Lan kembali berusaha menyelamatkan diri. Namun tidak mungkin untuk berbalik ke jalan arah ke barat, karena sudah dihadang oleh laki-laki yang akan memperkosanya. Maka Cik Lan nekad berlari melintasi jembatan yang baru di bangun itu. Cik Lan berlari melalui dua batang bambu yang membentang di atas sungai, yang digunakan oleh para pekerja untuk menyeberang. Tentu harus waspada dan hati-hati untuk melintasi batang bambu sebrangan darurat itu.
Tiga orang laki-laki itu tidak berhenti mengejar Cik Lan. Meski wanita itu sudah berlari melintasi bambu yang dijadikan lintasan darurat, dua batang bambu yang digandeng dan diikat dengan tali, yang tentu tidak begitu kuat untuk dilintasi beban yang terlalu berat, namun tiga orang laki-laki itu tidak urusan. Mereka juga melintasi bambu yang terbentang di atas sungai.
Akibatnya, bambu yang dilintasi empat orang tersebut patah. Cik Lan kaget dan terpelanting dari bambu yang diinjaknya.
"Byuuur .....!" Terdengar suara deburan air. Cik Lan terjatuh dan tercebur ke dalam sungai.
Demikian juga tiga orang laki-laki yang ikut menginjak bambu tersebut. Karena bambunya patah, dan orang-orang itu tidak siap serta tidak ada barang untuk pegangan, maka mereka bertiga juga terjatuh ke sungai.
"Wadaooouh ....!"
"Tolooong ...!"
"Aduh ..., sakiiit ....!!"
Tiga orang laki-laki yang tercebur ke sungai itu menjerit kesakitan. Mereka mengaduh merasakan badannya yang menghantam batang-batang bambu serta batu-batu yang ada di dasar sungai. Bahkan batang-batang bambu yang akan digunakan sebagai penyangga konstruksi juga ikut patah dan menghantam mereka. Pasti banyak luka pada tubuhnya.
Sungai itu lumayan dalam. Sungai yang besar. Airnya sangat banyak dan mengalir deras. Di malam hari, meski sinar bulan purnama sangat terang, tetap juga tidak sanggup menerangi dasar sungai yang dalam tersebut. Tidak sanggup menyinari seberapa banyak luka yang ada pada tubuh orang-orang yang berjatuhan tersebut. Bahkan mungkin juga aliran air pada sungai itu sudah berubah menjadi merah karena banyaknya darah yang keluar dari tubuh orang-orang yang berjatuhan.
Berbeda dengan para lelaki yang mengaduh kesakitan. Cik Lan tidak terdengar suaranya sama sekali. Diam tidak mengaduh maupun mengeluh. Namun tubuh wanita yang jatuh ke sungai itu seakan tidak berdaya sama sekali. Tubuh Cik Lan bahkan terseret aliran air, terbawa arus sungai. Hingga akhirnya tubuh yang tak berdaya itu terdampar di tepi sungai, tertambat di bebatuan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 259 Episodes
Comments
NUNIK SUPRIYANTI
duh serem banget ....bikin tahan nafas bacanya.....
2022-09-01
1