Kematian Cik Lan sangat membawa duka bagi keluarga Babah Ho. Terutama istri Babah Ho, ibunya Cik Lan. Ia sangat terpukul. Belum ada sebulan menantunya, yaitu suaminya Cik Lan meninggal, kemudian cucunya, Melian hilang diculik orang, kini anaknya juga meninggal secara tragis. Sungguh tidak bisa dipercaya, mengapa duka itu datang bertubi-tubi.
Malam itu, menurut kepercayaan leluhur Babah Ho, untuk menyempurnakan doa-doa mengiringi persiapan penguburan Cik Lan, keluarga Babah Ho menyelenggarakan upacara maisong. Maisong merupakan kepercayaan orang-orang keturunan Cina yang masih mengikuti adat leluhurnya, yaitu upacara malam pemberangkatan jenazah.
Istilah Mai Song diambil dari dialek Cina Hokkian, yang makna harafiah setiap suku katanya terdiri dari kata "mai'' yang artinya "pintu", dan "song" yang artinya adalah "duka". Dengan demikian maisong dapat diartikan sebagai "pintu duka". Makna sebenarnya adalah upacara membuka pintu bagi orang yang meninggal untuk menuju nirwana atau surga. Namun menurut penurturan orang-orang keturunan yang tinggal di Lasem, kata maisong ini diistilahkan sebagai "upacara malam pemberangkatan jenazah". Ya, diartikan upacara malam pemberangkatan jenazah, karena malam itu adalah malam terakhir untuk memberikan doa, sebelum esok pagi jenazah akan dimakamkan ataupun dikremasi.
Pelaksanaan upacara maisong dimulai setelah matahari terbenam atau hari berganti malam. Secara garis besar dimulai dengan cara melakukan pembakaran dupa yang jumlahnya ada delapan batang hio, bertujuan untuk membubungkan asap ke angkasa. Konon menurut keyakinan bau harum asap yang mengepul ke angkasa ini akan membuka jalan bagi arwah yang meninggal untuk menuju nirwana.
Selanjutnya, setelah membakar dupa, anggota keluarga dan para tamu pelayat melakukan pembacaan doa-doa dan penghormatan bersama di depan jenazah dengan membungkukkan badan ke arah jenazah sebanyak tiga kali.
Seperti niat Juminem dan suaminya, yang akan mengembalikan bayi kepada keluarganya, maka malam itu Jamil bersama Juminem yang menggendong bayi perempuan cantik itu datang ke rumah Babah Ho, yang tidak jauh dari Pasar Lasem. Tentu dengan rasa takut, Jamil bersama istrinya melangkah ke rumah besar yang sudah ramai penuh sesak oleh para pelayat yang sedang mendoakan arwah yang besok akan dikubur. Kebanyakan para pelayat itu orang-orang keturunan Tionghoa. Pasti mereka itu saudaranya Babah Ho.
"Permisi ...." kata Jamil dan Juminem yang berjalan sambil membungkuk-bungkuk, melewati sela-sela orang yang pada duduk di kursi pelayat itu.
Niatan Jamil dan Juminem langsung menemui Babah Ho dan Istrinya. Tapi tentu saat berada di situ mereka bingung, mana orang yang namanya Babah Ho?
"Orangnya yang mana, Kang?" tanya Juminem kepada suaminya, yang tentu sambil menyembunyikan wajah bayi yang digendongnya.
"Saya juga belum tahu .... Pokoknya kita maju saja, terus masuk ke bagian dalam rumah itu." sahut suaminya.
"Iya, Kang ...." sahut Juminem yang terus berjalan dan masih saja membungkuk-bungkuk diantara para tamu yang dilaluinya.
Namun tiba-tiba, Jamil berhenti sejenak, lantas ia tanya kepada salah seorang tamu laki-laki yang ada di dekatnya, "Maaf, Pak .... Kalau yang namanya Babah Ho, itu yang mana ya ...?" tanya Jamil.
"Sampean masuk saja .... Orangnya ada di dalam, di dekat peti mati. Mereka sedang mendoakan Cik Lan." jawab orang yang ditanyai Jamil.
"O, ya .... Terima kasih." Jamil berterimakasih dan langsung melangkah menuju dalam rumah.
"Yang mana, Kang ...?" Juminem bertanya, ingin tahu petunjuk orang tadi.
"Di dalam rumah .... Dekat peti mati." jawab Jamil, sambil menuntun tangan istrinya, menuju ruang dalam.
Di ruang dalam, tempat di mana peti jenazah diletakkan. Terlihat ada meja kecil yang ada foto orang yang meninggal, yaitu fotonya Cik Lan. Di kanan kiri foto terdapat lilin besar empat buah. Semuanya menyala. Di meja itu pula terdapat delapan batang hio yang terus mengepulkan asapnya. Bau harum yang sangat menyengat, khas dupa terbakar.
Di samping peti jenazah juga terdapat tempat pembakaran kertas. Nantinya, sepanjang malam keluarga Babah Ho, saudara-saudara Cik Lan yang meninggal dunia tersebut, terus berjaga sambil membakar kertas. Konon katanya, membakar kertas dalam upacara maisong ini adalah untuk menjaga jenazah Cik Lan yang besok akan dikubur. Selain itu, diyakini bahwa api yang terus menyala dari pembakaran kertas tersebut mengandung makna bahwa semangat dari orang yang meninggal dunia tetap hidup selamanya di alam para arwah untuk mencapai nirwana.
Pujian doa-doa terus berkumandang. Nyanyian lara yang menyayat kalbu. Seakan keluarganya masih keberatan untuk ditinggalkan. Namun sebenarnya itu adalah kidung doa-doa untuk mengiringi arwah yang meninggal, agar sampai ke nirwana dengan tenang.
Juminem terlihat bingung. Pasti rasa takut dalam hatinya semakin membesar saat ia harus masuk ke rumah Babah Ho. Di situ, keluarga Babah Ho, saudara-saudaranya, yang ikut berdoa di dekat peti jenazah, semuanya pada pakai pakaian putih. Semua wajahnya terlihat sedih. Apalagi mendengar pujian doa-doa yang ia tidak tahu maksud dan artinya. Tempat itu seakan angker.
"Kang ..., aku takut ...." kata Juminem pada suaminya.
"Sudah, ndak papa .... Pegang tanganku ...." kata Jamil yang tetap melangkah masuk, mendekat ke peti jenazah.
"Iya, Kang ...." kata Juminem menurut suaminya.
Jamil dan Juminem masuk ke bagian dalam, lewat belakang orang-orang yang masih pada berdiri di depan peti jenazah. Namun tiba-tiba ....
"Ma ..., Ma .... Ma ..., Ma ...." bayi yang digendong Juminem mendongakkan kepalanya, tangannya menunjuk pada ibunya yang sudah terbujur di peti mati. Ia memanggil-panggil ibunya.
Juminem kaget ketakutan. Demikian juga Jamil yang tahu kalau bayi yang digendong istrinya sudah bisa dilihat orang. Sudah tidak tersembunyikan lagi.
Beruntung orang-orang yang ada di situ tidak begitu tahu persis siapa bayi yang digendong Juminem itu. Sehingga mereka tidak menggubris bocah kecil yang memanggil-panggil mamah-mamah itu. Mereka tetap bernyanyi memanjatkan pujian doa-doa.
Namun bagi Babah Ho dan istrinya, pasti tahu bayi itu, yaitu Melian.Maka begitu melihat ada perempuan desa menggendong bayi menuju ke arahnya itu, kakek nenek itu langsung menatap dan memastikan bocah yang digendong Juminem. Tangannya langsung ngacung menunjuk arah bayi itu, sambil mendongak.
"Mei Mei ...?!" Babah Ho sudah melangkahkan kakinya untuk memegang bayi dalam gendongan itu.
"Sampeyan apa Babah Ho ...?" tanya Jamil yang sudah berhadapan dengan laki-laki agak tua itu.
"Haiya ..., betul ..., betul ..., betul .... Owe papahnya Lan Lan .... Kakeknya Mei Mei .... Haiya ..., apa benal ini cucu owe .... Mei Mei ...." kata Babah Ho pada Jamil.
Istri Babah Ho sudah memegang bayi yang digendong Juminem. Meski diam, tidak bicara, wanita nenek dari bayi itu langsung meminta dari gendongan Juminem.
Tentu Juminem tidak menolak. Ia langsung melepas ikatan kain penggendong dan memberikan bayi yang diminta neneknya tersebut.
Istri Babah Ho itu sangat bijaksana. Ia tidak mau ribut di depan para pelayat. Tidak mau ramai di depan mayat anaknya. Sambil membopong cucunya, wanitu itu menyeret Juminem masuk ke kamarnya. Tentu Juminem agak ketakutan. Pasti akan dituduh sebagai penculik bayi. Maka Juminem langsung menyeret tangan suaminya.
"Kang, aku takut ...." bisik Juminem pada suaminya.
Jamil langsung menuruti seretan istrinya. Ia menemani Juminem yang diajak masuk ke kamar oleh wanita pemilik rumah itu. Demikian juga Babah Ho, yang ikut masuk ke kamar.
Sesampai di kamar, istri Babah Ho langsung menanyai Juminem dan Jamil, "Kamu yang sudah menculik cucu saya, ya ...?!!" suara wanita itu ketus.
"Maaf, Nyah .... Saya tidak menculik ...." sahut Juminem.
"Maaf, Babah Ho .... Maaf, Nyah ..., kami tidak menculik anak ini ...." Jamil menegaskan kata-kata istrinya.
"Lha, kok ..., bisa kalian bawa ...?! Apalagi kalau bukan kamu culik ...!!" kata istri Babah Ho kembali, tentu dengan nada lebih menakutkan.
"Haiya, Mamah ..., kamu olang jangan culiga telus begitu .... tanya dulu baek-baek .... Haiya ..., tanya olang ini nemu cucu kita da mana meleka ini ...." kata Babah Ho menenangkan istrinya.
"Maaf, Babah Ho .... Maaf, Nyah .... Benar kami tidak menculik. Ada laki-laki gagah tinggi besar yang membawa bayi ini. Begitu ketemu kami, bayi ini diberikan pada istri saya, dia langsung lari naik bis .... Kami tidak bisa mengejarnya. Kami tidak tahu ini anak siapa .... Karena bingung, makanya saya bawa dahulu. Twerus kami cari tahu, bayi ini anaknya siapa .... Kata para tetangga dan teman-teman, yang anaknya di culik itu Cik Lan, cucunya Babah Ho .... Makanya saya antar kemari, siapa tahu benar. Saya juga tidak yakin ..., lha wong rumah saya jauh he ...." jelas Jamil yang tentu tidak mau dianggap sebagai penculik.
"Haiya .... Kamu olang sudah nemu cucu owe ...." kata Babah Ho lagi.
"Kalau saya menculik, anak ini tidak mungkin saya antar ke sini, Nyah ...." kata Juminem yang mulai berani menjawab.
"Iya betul .... Kalau kami culik, saya tidak mungkin kembalikan ke sini. Justru kami itu bingung bayi ini anaknya siapa. Sampai kami tidak kerja gara-gara mencari tahu orang tua bayi ini ...." tambah Jamil menjelaskan.
"Benar begitu ...?!" tanya perempuan pemilik rumah itu lagi, tentu ingin menegaskan.
"Betul, Nyah .... Sumpah ...!" tegas Jamil.
"Ya, sudah .... Kami mau mendoakan ibunya Me Me dulu. Sana, kalian duduk di kursi tamu para pelayat." kata wanita itu, yang tentu akan kembali ke tempat maisong.
Juminem dan Jamil pun keluar, dan langsung mencari kursi besi yang kosong, di halaman rumah Babah Ho. Duduk di bagian belakang yang dekat dengan jalan. Sedangkan Babah Ho dan istrinya yang sudah membopong cucunya, kembali ke tempat sembahyangan.
Namun, saat kembali berada di dekat peti jenazah, Melian, cucu yang digendongnya itu merosot. Turun dari gendongan. Neneknya tidak kuasa untuk menahan cucunya. Melian sudah terlepas dari pegangannya. Melian merangkak di sela-sela orang-orang yang memanjatkan doa, orang-orang yang mengelilingi peti mati Cik Lan. Melian merangkak menuju peti mati ibunya.
"Ma ..., Ma .... Ma ..., Ma ...." bayi kecil itu sudah memegangi peti mati ibunya, sambil memanggil-panggil.
Tentu kejadian itu membuat kaget orang-orang yang mengelilingi peti mati. Ya, karena Melian anak Cik Lan yang dikabarkan hilang diculik orang, kini berada di pinggir peti mati ibunya, sambil memanggil ibunya yang sudah terbujur tidak bernyawa.
Spontan salah seorang perempuan yangikut berdoa, saudara Cik Lan, ia tahu dan langsung mengangkat Melian sambil berteriak, "Me Me ...!! Melian ...!!!"
Orang-orang di sekelilingnya langsung kaget. Mereka pada terbelalak, memandangi bayi yang dijunjung oleh perempuan itu.
"Melian ...?!"
"Anaknya Cik Lan ...?!"
"Hah ...?!"
"Anak itu pulang ...?!"
Tuntu pujian doa-doa itu agak terganggu, karena munculnya Melian yang dikabarkan diculik itu. Demikian juga para pelayat yang ada di pelataran, yang duduk di kursi besi. Begitu tahu anak Cik Lan berada di peti mati, mereka langsung pada berdiri ingin menyaksikan. Mereka juga heran dan bingung.
Perempuan saudara Cik Lan itu membopong Melian. Lantas mengarahkan bayi itu ke peti mati, untuk memperlihatkan ke ibunya.
"Ma ..., Ma .... Ma ..., Ma ...." lagi-lagi, Melian memanggil-panggil ibunya.
"Iya ..., itu Mamah Me Me .... Doakan Mamah tenang di alam sana, ya ...." kata perempuan yang membopong Melian itu.
"Ma ..., Ma .... Ma ..., Ma ...." Melian memanggil-panggil ibunya, sambil menunjukkan tangan ke arah ibunya.
"Iya .... kita doakan, ya ...." kata perempuan yang membopong Melian itu.
Orang-orang yang menyaksikan hal itu, tentu keheranan dan bingung. Tentu juga kasihan. Bayi itu kembali setelah ibunya mati, saat ada upacara maisong, pertanda ibunya akan pulang ke alam baka. Dan kini, Melian menjadi anak yatim piatu. Tidak punya ayah dan ibu.
Upacara maisong dilanjutkan kembali, setelah terhenti sejenak karena kemunculan Melian. Hingga malam. Bahkan keluarga dan saudara-saudara Cik Lan, terus membakar kertas untuk menjaga jenazah untuk menuju pintu alam nirwana.
*******
Bagi Jamil dan Juminem, yang tidak tahu tata cara maisong, maka setelah niat mengembalikan bayi itu selesai, setelah ia duduk sejenak di kursi antara para pelayat, mereka berdua pun segera bergegas pulang. Maklum rumahnya cukup jauh di pedesaan yang kalau malam jalannya gelap dan sepi. Jamil memboncengkan Juminem, istrinya, mengendarai motor pelan-pelan. Tentu dengan pikirannya masing-masing. Namun sebenarnya, pikiran suami istri itu sama, yaitu seandainya ia punya anak yang cantik seperti Melian itu.
Tanpa terasa, Jamil sudah membelokkan motor bututnya ke halaman rumah. Dan berhenti di depan pintu rumahnya.
"Sudah ..., turun ...." kata Jamil pada istrinya.
"Iya, Kang ...." sahut Juminem.
"Ini kuncinya .... Tolong pintunya dibuka." kata Jamil lagi, sambil memberikan kunci rumah.
Juminem pun membuka pintu.
"Kang ....??!!!" Juminem menjerit kaget.
"Ada apa ...?!" Jamil berteriak ingin tahu apa yang terjadi.
"Lihat, Kang ...!!!" Juminem yang masih berdiri di tengah pintu yang baru saja dibukanya.
"Hah ...???!!!" Jamil yang langsung menghampiri istrinya, juga kaget saat sampai di depan pintu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 259 Episodes
Comments
NUNIK SUPRIYANTI
meme .....kasihan kau nak....sini ku gendong
2022-09-23
2
Ai Emy Ningrum
ada apa ya..sampe kagets saya jg 😱
2022-09-23
2