Setelah diangkat dari sungai, dengan digelari kain sarung, tubuh Cik Lan digeletakkan di tanah yang datar. Beberapa perempuan langsung membantu merawat tubuh Cik Lan. Bahkan ada orang yang rumahnya dekat dengat tempat itu, langsung berlari pulang untuk mengambil kain jarik, handuk dan daster. Tentu untuk menyeka tubuh wanita yang tidak bisa apa-apa itu. Selanjutnya, tubuh Cik Lan sudah dibersihkan dan diganti pakaiannya.
"Bagaimana keadaannya ...?!" tanya salah seorang laki-laki yang tadi ikut mengangkat dari sungai. Celananya bagian bawah masih basah terkena air saat mencebur ke sungai.
"Kok tidak bergerak, ya ...." jawab wanita setengah tua, yang sudah merawat dan mengganti pakaian Cik Lan yang basah kuyup.
"Masak, sih ...?!" beberapa orang langsung saling memandang dan bingung khawatir.
"Coba kamu periksa." kata wanita itu menyuruh wanita di sebelahnya, yang juga ikut merawat Cik Lan.
Tentu wanita yang di suruh itu langsung memegang pergelangan tangan. Ia tidak yakin, lantas meraba bagian jantung. Tidak yakin lagi, selanjutnya meraba bagian leher. Semua bagian tubuh yang diraba memang tidak ada denyutnya. Tidak ada detak nadi maupun jantung.
"Walah, iya .... Tidak ada denyutnya ...." kata perempuan yang sudah memeriksa tubuh orang yang ditolongnya tersebut.
"Yang benar ...?!" perempuan yang satunya agak khawatir.
"Coba saya raba ...!" kata perempuan yang lain, yang juga ikut membantu menyalini pakaian. Lantas perempuan itu mencoba merasakan denyut aliran darah di leher. Ia juga tidak yakin, lantas mencoba merasakan detak jantung di dadanya.
"Benar ...! Sudah tidak ada detaknya. Ia sudah meninggal ...!"
"Haah ...??!! Meninggal ....??!!" yang lain berteriak kaget.
"Iya .... Ternyata sudah meninggal ...!!" yang lain juga ikut meyakinkan, dan tentu setelah tahu langsung berteriak, kalau wanita yang mereka tolong dari sungai itu sudah meninggal.
"Ada yang meninggal ...!!!!"
"Wanita yang jatuh dari jembatan sudah meninggal ...!!"
Orang-orang yang berada di tempat itu langsung pada berteriak, memberitahukan jika wanita yang jatuh ke sungai yang baru saja ditolong sudah meninggal.
Sontak, berita adanya seorang wanita yang meninggal di Sungai Cerbung menjadi ramai. Ada juga yang sudah lapor ke kepolisian. Orang-orang pun pada berdatangan ke Sungai Cerbung di tepi tempat pembangunan jembatan. Termasuk petugas kepolisian yang diberi laporan, mereka langsung datang ke tempat itu. Bahkan ada juga anggota TNI, mungkin dari koramil, yang juga ikut datang. Tempat kembali menjadi ramai dan penuh sesak oleh masyarakat yang berdesakan. Mereka semua ingin tahu, siapa yang meninggal.
Petugas kepolisian yang datang langsung memeriksa perempuan yang terjatuh ke sungai itu. Memastikan keadaannya.
"Sudah meninggal .... MD ...." kata polisi yang memeriksa wanita yang masih dibujurkan di pinggir sungai tersebut. Ia mengatakan MD, artinya korban meninggal dunia.
"Inalillahi wa inaillahi rojiun ...." serentak orang-orang yang ada di situ ikut menyebut inalillahi, sebagai kata-kata yang sudah biasa diucapkan oleh masyarakat situ jika mendengar ada berita orang meninggal.
"Kejadiannya kapan?" tanya petugas polisi itu.
"Tidak tahu .... Kami hanya mengangkat dari pinggir sungai di sana .... tertambat di bebatuan ...." sahut orang-orang yang menolong mengangkat korban meninggal tersebut.
"Kalau melihat jenazahnya, sepertinya tadi malam ini ...." sahut petugas yang lain.
"Siapa korbannya ...?" tanya seorang tentara yang berdiri dekat korban.
"Belum tahu, Ndan .... Tidak ada identitas." sahut polisi yang sudah memeriksa.
"Ada yang tahu wanita yang menjadi korban ini siapa?" tanya petugas yang lain kepada para warga yang berada di situ.
Orang-orang pada saling pandang. Mereka tidak ada yang tahu wanita korban meninggal yang jatuh dari jembatan tersebut.
"Mungkin bukan orang Tuban ...." salah seorang nyeletuk, mencoba beralasan.
"Bisa jadi ...." kata salah seorang petugas kepolisian.
"Kita bawa ke rumah sakit ...." kata petugas polisi yang paling tinggi pangkatnya.
"Siap, Ndan ...." sahut yang lain.
Namun belum sempat tubuh wanita yang menjadi korban jatuh ke sungai itu diangkat ke mobil kancil milik polisi, tiba-tiba ada seorang wanita yang baru datang ikut menengok jenazah. Wanita itu baru pulang dari pasar, terlihat dari keranjang belanja yang digendongnya.
"Lhoh ..., ini Cik Lan ...!!! Ya ampun .... Kenapa ini ...?!!" wanita yang menggendong kerang belanja itu kaget saat mengetahui wanita yang tergeletak tak bernyawa tersebut, yang tidak lain adalah Cik Lan.
"Ibu tahu orang ini?" tanya petugas polisi.
"Kenal banget .... Ini Cik Lan ..., anaknya Babah Ho pedagang sembako di Pasar Lasem, setiap hari saya belanja di sana .... Kemarin bayinya hilang diculik orang." kata wanita itu yang tahu persis dengan Cik Lan.
"Dia orang mana?" tanya petugas itu lagi.
"Orang Lasem .... Anaknya Babah Ho ...." jawab wanita itu lagi.
"Ibu yakin betul bahwa ini Cik Lan anaknya Babah Ho orang Lasem ...?" tanya petugas itu meyakinkan kata-kata wanita yang mengatakan kenal korban itu.
"Sumpah, Pak Polisi .... Saya tahu ...." tegas perempuan itu.
"Berarti harus diberitahukan ke Sektor Lasem .... Biar nanti sekalian dibuatkan berita acara di Lasem." kata petugas kepolisian itu kepada anak buahnya.
"Siap, Ndan ...." sahut anak buahnya.
"Kalau begitu Babah Ho harus segera di kabari .... Kasihan ..., kemarin baru saja menantunya meninggal, terus cucunya diculik orang, sekarang anaknya juga meninggal .... Oalah ..., apes betul keluarga Babah Ho ...." kata perempuan itu yang tahu persis dengan keluarga Babah Ho.
Petugas dari kepolisian Tuban yang didampingi oleh dua orang tentara, langsung melakukan komunikasi menggunakan HT. Mereka mengabarkan ada korban meninggal dunia, seorang perempuan yang tercebur di Sungai Cerbung. Korban diyakini oleh warga sebagai penduduk Lasem. Ia juga menyampaikan agar kepolisian sektor Lasem untuk segera datang ke lokasi TKP. Tentu alat komunikasi tersebut langsung menyebarkan berita di kepolisian-kepolisian, tidak hanya wilayah Tuban, tetapi juga sampai di wilayah kerja kepolisian Lasem.
Terbukti, tidak begitu lama dari arah barat muncul mobil polisi dengan bagian belakang yang terbuka dan ada kursi panjang menghadap berbalikan. Mobil kancil polisi jaman kuno. Di bagian depan duduk sopir dan satu polisi lain. Sedangkan di bagian kursi bak belakang ada empat orang polisi.
Mobil polisi itu berhenti di sebelah barat pinggir tempat pembangunan jembatan. Lantas enam orang polisi yang turun dari mobil kancil itu melintas di konstruksi jembatan yang belum jadi. Ya, tentu karena jenazah korban itu berada di sisi timur, dan jembatan belum bisa dilintasi.
Setelah sampai di tempat tergeletaknya jenazah korban, salah seorang petugas kepolisian dari Lasem tersebut langsung mengamati korban.
"Benar, ini Cik Lan ..., Ndan ...." kata polisi dari Lasem yang sudah mengamati wajah korban.
"Hah ...?! Cik Lan ...?!" kata polisi yang mungkin adalah komandannya.
"Siap .... Betul, Ndan ...." tegas polisi yang memeriksa.
"Komandan kenal korban ini?" tanya polisi yang dari Tuban.
"Kenal. Kami kenal baik dengan orang tuanya .... Apakah sudah ada laporan kasusnya?" tanya petugas yang dari Lasem.
"Belum ada .... Kemungkinan mau menyeberang terus terjatuh." sahut petugas kepolisian yang dari Tuban.
"Tadi juga ada tiga orang korban yang lain, Pak ...!" tiba-tiba ada warga, seorang laki-laki masih agak muda yang nyeletuk kalau sebelumnya sudah ada korban.
"Hah ...?! Ada korban yang lain ...?!" tanya petugas polisi.
"Betul ...!!" orang-orang yang ada di situ langsung berteriak membenarkan kalau memang ada korban yang lain.
"Tadi ada tiga orang laki-laki ...!" sahut yang lain.
"Terus ..., sekarang di mana?" tanya petugas kepolisian.
"Sudah dibawa ke rumah sakit oleh Pak Mandor." jawab salah seorang pekerja proyek.
"Mereka luka parah, Pak ...!" kata pekerja yang satu lagi.
"Bagaimana ini, Ndan ...?" tanya pimpinan polisi yang dari Lasem.
"Korban yang perempuan ini kan jelas sudah meninggal .... Dan dia warga Lasem, apa tidak sebaiknya langsung dibawa ke rumah sakit di Lasem? Setidaknya orang tuanya lebih mudah untuk menangani. Sedangkan yang masih hidup, karena sudah dibawa ke rumah sakit, nanti kami akan meminta keterangannya di sana. Bagaimana, Ndan?" kata pemimpin polisi yang dari Tuban tersebut.
"Oke, siap ..., Ndan." jawab komandan yang dari Lasem. Lantas lanjutnya, "Tolong angkat Cik Lan ke mobil, kita bawa ke Lasem, dan segera beritahu Babah Ho ...." kata pimpinan itu kepada anak buahnya.
"Siap, Ndan .... Laksanakan ...." sahut anak buahnya.
Selanjutnya, para polisi itu meminta bantuan para warga untuk bersama-sama mengangkat jenazah Cik Lan, menyeberangi konstruksi jembatan yang belum jadi, dari sebelah timur sungai menuju ke barat jembatan. Beberapa warga dan pekerja, termasuk tentara dari koramil yang menyaksikan langsung mengambil bambu untuk membuat lintasan darurat, kemudian di atasnya diberi papan-papan agar mudah untuk dilalui orang-orang yang menggotong jenazah Cik Lan.
"Awas ..., hati-hati ...." kata komandan polisi yang memberi aba-aba.
"Awas ...!!"
"Satu ...!! Dua ...!! Tiga ...!!" orang-orang yang mengangkat secara spontan memberi aba-aba.
"Awas ..., awas ..., awas ...!!" teriak yang menyaksikan.
Perlahan, tetapi terus berjalan. Dan akhirnya, sampai di seberang sungai. Mereka sanggup menggotong melintasi konstruksi jembatan yang belum jadi tersebut, hingga akhirnya tubuh Cik Lan yang sudah dibalut dengan kain jarik tersebut sudah digeletakkan pada kursi panjang yang ada bak belakang mobil kancil polisi tersebut.
Petugas polisi dari Lasem sudah naik ke mobil. Polisi yang menyetir sudah menyalakan mesin mobilnya. Lantas, mobil itu berputar dan membalik. Melaju meninggalkan Jembatan Cerbung, menuju Lasem.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 259 Episodes
Comments
Ai Emy Ningrum
RIP ci 😔😌
2022-09-04
3