Kisah hilangnya Melian belum terungkap. Polisi belum menemukan. Bahkan kabar berita keberadaan atau tanda-tanda di mana para penculik itu juga belum ada. Kesedihan belum selesai, namun tiba-tiba di Kampung Kragan di Lasem, kembali heboh oleh hilangnya seorang bocah laki-laki. Anak TK yang hilang tidak pulang. Menurut cerita yang tersebar, bocah cilik laki-laki itu katanya pulang dari sekolah taman kanak-kanak, seperti biasa pulang sendiri tanpa dijemput oleh orang tuanya. Maklum, orang tua di desa sibuk kerja di ladang, tidak mengurusi anak-anaknya. Maka wajar kalau anak sekolah pulang sendirian.
Namun ternyata, setelah orang tuanya pulang dari ladang di siang hari, di rumah tidak kedapatan anaknya. Bahkan pakaian maupun tas juga tidak ada di rumah. Tentu si emak bertanya pada tetangga-tetangganya. Juga kepada teman-teman sekolahnya. Namun jawab para tetangga maupun teman-temannya tidak ada yang tahu. Bahkan anak itu sampai sore hari tidak pulang. Sang emak mulai gelisah. Khawatir dengan anaknya. Ia mulai ribut bertanya ke sana kemari. Para warga langsung mengatakan kalau anak itu pasti diculik. Tentu sang emak langsung menangis sejadi-jadinya, bingung tidak karuan, takut anaknya jadi korban penculikan.
Sore hari selepas mahrib, di rumah, suaminya yang tahu istrinya menangis, laki-laki setengah baya itu pun langsung ikut kebingungan. Dan tentu langsung menjerit minta tolong.
"Tolooong ...!!! Tolooong ...!!! Tolooong ...!!!" teriakan sang laki-laki setengah baya itu, yang tentu memecah kesunyian kampung.
Mendengar teriakan orang minta tolong, masyarakat kampung yang guyub rukun itu langsung berlarian menuju tempat sumber suara. Laki perempuan, tua muda, bahkan juga anak-anak, semua merespon dengan cepat, ingin tahu apa yang terjadi.
"Ada apa ...?!"
"Kenapa ...?!"
"Apa yang terjadi ...?!"
Para tetangga yang berdatangan itu bertanya, ingin tahu apa yang terjadi.
"Anak saya diculik .... Hu ..., hu ..., hu ...." wanita itu menangis dan mengatakan kalau anaknya diculik. Demikian juga dengan suaminya, yang bingung karena anaknya hilang.
Para tetangga pun yakin jika anak kecil yang masih sekolah di TK itu sudah diculik orang.
"Ada culik ...?!"
"Culik ...??!!"
"Iya ..., ada culik ...."
"Waduh ....!!??"
"Blaik ...."
"Berarti kampung kita sudah tidak aman ...?!"
"Terus kita harus bagaimana ...?!"
"Kita harus selalu mengawasi anak-anak kita."
"Kita adakan ronda .... Gantian menjaga keamanan kampung ...."
"Ya .... Nanti kalau ketemu penculik itu, akan saya bakar hidup-hidup ...."
"Ya ..., biar kapok ...!"
Masyarakat pun menjadi resah, khawatir dan takut. Jangan-jangan anaknya nanti juga ikut menjadi korban culik. Teror culik itu pun mulai menghantui warga Kampung Kragan di Lasem.
Di Pasar Lasem, berita penculikan itu semakin ramai dibicarakan. Tidak hanya Melian saja yang dibicarakan, tetapi juga anak laki-laki murid taman kanak-kanak dari Kampung Kragan. Kantor Polsek Lasem ramai oleh orang-orang yang menyampaikan kesaksian tentang penculikan. Demikian juga masyarakat yang meminta kepada petugas untuk mengamankan wilayahnya.
Namun faktanya, polisi tidak pernah menyelidiki apa yang disampaikan oleh masyarakat, kalau anak-anak yang diculik itu akan dijadikan tumbal pembangunan jembatan. Desakan masyarakat yang meminta polisi untuk menangkap pemborong dan para mandor proyek, tidak dilakukan. Katanya wilayah Cerbung masuk ranah hukum kepolisian Tuban. Sudah diluar provinsi, bukan wilayah Jawa Tengah, melainkan sudah masuk wilayah hukum Jawa Timur. Maka kepolisian Lasem tidak punya wewenang untuk melakukan penyelidikan di luar wilayahnya.
*******
Berita tentang teror culik yang terjadi di Kampung Kragan, terdengar juga sampai ke telinga Cik Lan. Maka berita penculikan itu menambah keyakinan Cik Lan, jika Melian sudah menjadi korban penculikan. Tidak hanya sebagai korban penculikan, tetapi juga cerita-cerita mistik tentang anak-anak yang akan dijadikan sesaji, tumbal pembangunan Jembatan Cerbung, jembatan penghubung perbatasan antara wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Kabar teror culik di daerah Lasem itu semakin menguatkan dugaan Cik Lan bahwa anaknya Melian memang akan dijadikan tumbal sesaji pembangunan Jembatan Cerbung. Maka diam-diam Cik Lan mulai menyelidiki kebenaran cerita orang, terutama yang pernah disampaikan oleh salah seorang pekerja kepada dirinya saat mendatangi Jembatan Cerbung.
Malam itu Jumat Kliwon. Kebetulan bulan sedang tanggal lima belas. Dari sore sesaat setelah matahari tenggelam, cahaya rembulan langsung memantul menerangi malam Jumat Kliwon. Konon menurut kepercayaan orang Jawa, malam Jumat Kliwon yang bertepatan dengan malam purnama adalah malam yang sangat dikeramatkan. Konon menurut cerita orang-orang, malam Jumat Kliwon yang bertepatan dengan malam bulan purnama, diyakini sebagai malam keluarnya para arwah, dedemit, genderuwo, serta makhluk-makhluk halus lainnya. Tentu banyak orang yang takut untuk keluar rumah, apalagi melintas di daerah yang gelap dan angker.
Namun bagi Cik Lan, rasa takut itu sirna, hilang. Tidak ada lagi yang ditakuti. Ia berjalan seorang diri di tengah kegelapan, menuju Jembatan Cerbung yang sedang dibangun. Bahkan jalannya Cik Lan tidak melewati jalan raya, ia meminggir, menelusup di sela-sela semak belukar. Tentu agar dirinya tidak diketahui oleh orang lain.
Cik Lan penasaran dengan omongan yang dikatakan oleh salah seorang pekerja bangunan jembatan, yang bilang kalau pada malam Jumat akan diadakan ritual sesaji untuk menyelamati pembangunan Jembatan Cerbung. Konon dikatakan oleh pekerja yang membisiki Cik Lan, kalau pada malam Jumat Kliwon ini, sang dukun akan melakukan acara tumbal sesaji, yang diyakini akan mengorbankan sepasang anak manusia.
Tentu Cik Lan sangat penasaran, ingin tahu apa yang akan dilakukan oleh sang dukun untuk acara selamatan tersebut. Yang pasti, Cik Lan ingin mencari keberadaan Melian, benarkah anaknya yang diculik itu akan dijadikan tumbal oleh sang dukun dalam memberi sesaji pada pembangunan jembatan itu. Maka dengan jalan mengendap-endap di antara semak belukar, Cik Lan mengamati orang-orang pekerja bangunan jembatan yang masih pada lembur, walaupun sudah tidak sebanyak kalau siang hari.
Dari balik batang pohon mahoni, mata Cik Lan mencari sosok orang yang berbeda dari para pekerja. Ya, Cik Lan mencari orang yang berprofesi sebagai dukun. Tentu pakaian yang dikenakan berbeda dengan para pekerja. Sosok dukun dalam benak Cik Lan adalah laki-laki yang sangar dengan pakaian serba hitam, memakai lain ikat kepala, dan biasanya tangannya memegang keris sebagai aji-aji andalannya.
Sudah sangat lama, sudah lebih dari tiga jam Cik Lan bersembunyi di balik batang pohon. Hingga lelah rasanya Cik Lan menunggu kehadiran orang yang disebut dukun. Namun orang yang diintip dan ditunggu kehadirannya itu tidak juga kunjung datang. Hingga satu persatu para pekerja mulai berhenti untuk beristirahat. Cik Lan tidak melihat ada dukun yang datang. Cik Lan tidak menyaksikan ada acara selamatan yang dilaksanakan. Cik Lan tidak melihat adanya pemberian sesaji di bangunan jembatan itu. Cik Lan tidak menemukan anaknya yang diculik yang katanya akan dijadikan tumbal oleh sang dukun.
Lemas sekujur tubuh Cik Lan, apa yang dia lakukan semalaman tidak mendapatkan hasil. Usaha pencarian Melian sia-sia belaka. Ia pun bergegas akan kembali pulang ke rumah.
"He ..., siapa itu ...!!!" tiba-tiba ada suara keras membentak Cik Lan yang baru saja akan meninggalkan tempat persembunyiannya.
Cik Lan kaget dan ketakutan. Ia langsung berjongkok, kembali menyembunyikan dirinya.
Namun sia-sia. Tiga orang laki-laki dengan tubuh kekar sudah menemukan keberadaannya. Salah seorang yang bertubuh paling besar sudah menangkap dan memegangi tangan Cik Lan yang halus mulus dan lembut. Tangan kasar laki-laki besar itu memegang kuat tangan Cik Lan yang tentu tidak kuasa untuk melepaskannya.
Cik Lan Meronta, ingin melepaskan diri dari laki-laki itu.
"Hahaha .... Ada perempuan cantik ..., man ...." laki-laki yang sudah memegang tangan Cik Lan itu tertawa kegirangan, seolah menemukan sesuatu yang menyenangkan hatinya.
"Waaah .... Cocok, bro ..... Ayo kita sikat bareng-bareng ...!" sahut laki-laki yang lainnya.
"Hehehe .... Aku ikut, man ...." sahut yang satu lagi, dan tangannya sudah ikut memegang tubuh Cik Lan.
"Wuaah .... Mulus, bro .... Aku suka wanita yang seperti ini ...." sahut laki-laki yang satunya, dan tentu tangannya sudah mulai kurang ajar. Laki-laki itu sudah mulai menyentuh bagian-bagian tubuh Cik Lan.
"Tolooong ...!!!" Cik Lan menjerit keras meminta tolong. Ia sadar kalau dirinya pasti akan diperkosa oleh tiga orang laki-laki itu.
Begitu mendengar Cik Lan menjerit minta tolong, salah satu laki-laki itu langsung membungkam mulut Cik Lan. Tentu para laki-laki itu tidak ingin ada orang yang tahu. Mereka bertiga akan memperkosa wanita yang sudah dipegangnya. Tiga laki-laki itu ada yang menindih, memegangi tangan, membekap dan menutup mulut Cik Lan.
Salah satu laki-laki itu sudah mulai tergiur untuk segera memperkosa wanita yang meronta-ronta itu. Ia mulai melepas celananya, tentu dengan wajah bernafsu.
Sementara dua laki-laki yang lain, memegangi wanita yang akan diperkosa itu. Tentu karena Cik Lan meronta-ronta melawan para pemerkosanya itu. Tangan Cik Lan terus bergerak ingin melepaskan diri. Demikian juga kakinya yang terus menendang-tendang, berusaha untuk melawan.
Laki-laki yang bertubuh besar dan sudah melepas celananya itu sudah bersiap untuk memperkosa Cik Lan. Matanya membelalak memandangi bagian bawah perut Cik Lan, dan mulutnya menyeringai penuh nafsu. Laki-laki itu langsung menubruk tubuh Cik Lan yang telentang dipegangi oleh dua orang laki-laki lain yang juga tentu penuh nafsu ingin segera menikmati tubuh wanita cantik mulus itu.
Dengan sisa-sisa kekuatan terakhirnya, saat laki-laki yang sudah telanjang itu akan memperkosa dirinya, Cik Lan menendangkan kakinya sekuat tenaga. Secara kebetulan tendangan kaki perempuan yang sudah sangat menderita itu tepat mengenai barang yang menggantung diantara paha laki-laki itu.
"Wadaou ....!!!" laki-laki itu menjerit kesakitan, langsung gelangsaran tanpa daya.
"Ada apa ...?!!" temannya bertanya kebingungan.
Yang ditanyai tidak bisa apa-apa. Tidak menjawab. Hanya meringis kesakitan. Tentu dua laki-laki yang semula memegangi tangan dan mendekap perempuan yang akan diperkosa itu, berlari menuju temannya yang gelangsaran meraung kesakitan.
Kesempatan itu, digunakan oleh Cik Lan untuk bangun dan berlari dari tempat itu.
"Tolooong ....!!! Tolooong ....!!! Tolooong ....!!!" Cik Lan berlari sambil berteriak minta tolong.
Tiga laki-laki yang akan memperkosa Cik Lan, begitu tahu kalau perempuan itu berlari, maka mereka langsung mengejar. Mereka tidak ingin kehilangan mangsanya. Apalagi nafsu mereka sedang menjadi dan belum tersalurkan, maka mereka memburu wanita yang akan dijadikan sasaran pelampiasan nafsu tersebut.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 259 Episodes
Comments
Ai Emy Ningrum
🙀😱 lari terus ci jgn sampe ketangkep ama tu bromocorah 🏃🏻♀️🏃🏻♀️🏃🏻♀️🏃🏻♀️
2022-08-31
3