Kasus mobil plat merah yang menabrak pohon besar di depan Pasar Gombrang, mengakibatkan tiga orang pejabat terluka parah yang dirawat ke rumah sakit. Terdengar berita bahwa salah satu dari pejabat yang mengalami kecelakaan itu adalah Sekretaris Daerah yang ditugaskan oleh Bupati untuk meninjau kondisi Pasar Gombrang. Sedangkan dua orang yang juga mengenakan pakaian seragam dinas adalah asisten dan sopirnya. Pasti ini bukan orang sembarangan. Makanya polisi langsung mengusut kasus yang mengakibatkan mobil dinas tersebut menabrak pohon di depan Pasar Gombrang.
Malam harinya, setelah kejadian mobil dinas menabrak pohon, ada mobil polisi, kijang bukaan belakang di tengahnya ada dua kursi yang berbalikan saling tolak belakang, datang ke Kampung Gombrang. Orang kampung menyebut dengan istilah mobil kancil. Duduk di depan ada dua polisi, yang satu menyetir. Sedangkan di belakang ada lima orang polisi yang duduk saling membelakangi. Dua orang menghadap ke kanan mobil, dan yang tiga orang menghadap ke kiri mobil. Mereka mencari Subkan, laki-laki gagah tinggi besar, yang kemarin siang memimpin kerja bakti bersih-bersih di bekas kebakaran Pasar Gombrang.
Mobil kancil berisi tujuh oarang polisi itu berhenti tepat di depan rumah Subkan. Lima orang polisi yang duduk di kursi belakang lengkap dengan senjata, langsung terjun dan berlari ke rumah Subkan.
"Mana Subkan ...?!"
"Subkan keluar ...!!"
"Subkan menyerah ...!!"
Begitu teriak polisi yang bersenjata lengkap tepat di depan pintu rumah Subkan. Akan menangkap Subkan.
Subkan yang tahu kalau dirinya akan ditangkap, dia pasrah. Tidak melawan. Subkan mengangkat dua tangannya, menyerahkan diri.
Salah seorang polisi langsung menubruk Subkan, membanting dan menjatuhkannya ke lantai rumah yang masih berupa plesteran pasir semen. Tangannya ditekuk ke belakang. Lantas polisi itu memborgol tangan Subkan. Subkan diseret dibawa ke mobil kancil. Lantas sirene meraung, membawa Subkan pergi meninggalkan rumahnya.
Istri Subkan menangis sejadi-jadinya. Meraung-raung keras. Menangisi suaminya yang dibawa polisi. Demikian juga anak-anaknya, ikut menangis karena takut kehilangan ayahnya.
Para tetangga berdatangan. Tentu merasa kasihan dengan istri Subkan. Tidak hanya kasihan atau iba, tetapi juga jengkel dengan sikap polisi yang arogan tersebut. Semua menduga, pasti ini ada kaitannya dengan peristiwa tadi siang. Peristiwa pejabat yang menabrak pohon besar di depan pasar, karena ketakutan akan dikeroyok orang se pasar. Dan yang bisa disebut jadi pemimpin waktu adalah Subkan, karena tubuhnya yang gagah dan tinggi besar.
Ibu-ibu masuk ke rumah Subkan, menenangkan istri dan anak-anaknya yang menangis. Bahkan istrinya meronta minta tolong agar suaminya dilepaskan. Para ibu yang ada di situ, membujuk istri Subkan agar tenang. Nanti suaminya pasti dilepaskan.
Di luar rumah, kaum laki-laki ramai membicarakan Subkan. Tentu mereka juga merasa kasihan dengan Subkan. Apa salah Subkan? Mengapa Subkan ditangkap? Ada kasus apa? Yang jelas mereka tidak setuju dengan cara polisi yang menangkap Subkan semena-mena. Subkan bukan penjahat. Subkan bukan pencuri. Tetapi polisi-polisi itu melakukan penangkapan terhadap Subkan seolah menangkap seorang penjahat.
Tak pelak, maka para tetangga Subkan, yang kebanyakan juga orang-orang yang berjualan di Pasar Gombrang, memberontak dengan cara kasar yang dilakukan polisi. Mereka pun mulai berencana untuk melakukan demonstrasi. Ya, demo menuntut dilepaskannya Subkan. Demo untuk menggunakan kembali Pasar Gombrang sebagai tempat berjualan.
Maka malam itu, orang-orang pedagang pasar langsung pada dihubungi. Diberi tahu jika besok diajak bersama-sama untuk berdemo. Malam itu, orang-orang mulai menyiapkan rancangan demo. Ada yang membuat spanduk dengan tulisan "Lepaskan Subkan", ada juga yang membuat tulisan "Biarkan Kami Berjualan", ada juga yang menulis "Pasar Gombrang Milik Rakyat". Berbagai macam tulisan. Yah, mereka malam itu sudah bersiap untuk demo.
Pagi itu, Pasar Gombrang sudah ramai orang. Tentu orang-orang sudah mendengar, jika hari itu akan ada demo. Tidak hanya para pedagang yang ramai di bekas kebakaran Pasar Gombrang, tetapi juga ada masyarakat umum yang ikut berdemo. Bahkan ada juga remaja dan anak-anak yang ikut berdemo. Ya, mereka mulai berteriak-teriak untuk menarik perhatian orang-orang yang lewat di jalan depan Pasar Gombrang.
Ada orang yang membawa pengeras suara. Sengaja menyewa pengeras suara untuk meneriakkan suara mereka agar bisa didengar orang banyak. Terutama biar didengar oleh para pejabat yang telinganya tuli.
"Para pejabat yang semena-mena ...! Kami mohon lepaskan saudara kami, Subkan ...!!!" teriak orang yang bicara melalui pengeras suara itu.
"Ya ...!! Lepaskan Subkan ...!!!" seluruh orang yang ada di pasar itu membalas teriakan pengeras suara.
"Kembalikan Pasar Gombrang ...!!!" orang yang memegang mic kembali berteriak di pengeras suara.
"Ya ...!! Kembalikan Pasar Gombrang ...!!!" sahut yang lain dengan teriak yang keras.
"Pasar Gombrang milik rakyat ...!!!" teriak di pengeras suara lagi.
"Ya ...!! Pasar Gombrang milik rakyat ...!!!" sahut yang ikut demo.
"Beri kami tempat untuk berjualan ...!!!" teriak di pengeras suara lagi.
"Ya ...!! Beri kami tempat untuk berjualan ...!!!" teriak dari para pendemo yang menirukan orang yang berteriak di pengeras suara.
"Jangan jual Pasar Gombrang kepada investor ...!!!" kembali pengeras suara berkumandang.
Begitu mendengar kata-kata jangan jual kepada investor, orang-orang itu langsung ribut. Tentu tidak setuju kalau Pasar Gombrang akan dijual kepada Investor. Maka mereka saling menghujat investor. Dan tentu emosi para pendemo ini mulai meningkat.
"Tangkap investor ...!!"
"Seret investor ...!!"
"Kita adili di sini investor itu ...!!"
Suara mereka langsung bergemuruh, ingin menangkap dan mengadili investor yang dianggap akan membeli Pasar Gombrang untuk diubah menjadi supermall. Emosi itu meluap-luap, hingga para pendemo ini sudah berada di jalan raya. Tentu lalu lintas menjadi macet.
"Saudara-saudara ...! Demo kita belum berakhir. Hari ini kita akan menyuarakan aspirasi kita di gedung Pemda. Kita akan menghadapi Bupati. Apa saudara-saudara setuju ...?!!!" ada orang yang bicara melalui pengeras suara.
"Setujuuuu ...!!!" teriak para pendemo menjawab ajakan orang yang bicara melalui pengeras suara tersebut.
"Kita akan berjalan bersama ...!! Kita akan long march menuju gedung Pemda ...!! Kita temui Pak Bupati ...!!!" kata-kata dari pengeras suara itu kembali menggetarkan dada orang-orang yang demo.
"Setujuuuu ...!!!" teriak para pendemo, lagi-lagi menjawab ajakan orang yang bicara melalui pengeras suara tersebut.
"Ayo ..., kita jalan ...!!!" teriak pengeras suara memberi aba-aba.
Maka orang-orang yang berdemo di depan Pasar Gombrang itu mulai berjalan bersama menuju gedung Pemda. Mereka akan menemui Bupati. Mereka akan menuntut pelepasan Subkan, dan akan meminta kembali pasar milik mereka, yaitu Pasar Gombrang. Mereka berduyun-duyun, berjalan memenuhi jalan raya, sambil meneriakkan tuntutan-tuntutan mereka. Lalu lintas pun menjadi macet.
"Koh Liem ada di mana?" tanya Cik Lan yang menggendong anaknya pada orang yang ikut berdemo, menanyakan keberadaan suaminya.
"Sudah ada di depan, Cik ...." sahut orang yang ditanyai.
"Tolong sampaikan pada Koh Liem, saya tidak ikut demo ke gedung Pemda. Saya mau ajak Melian pulang. Kasihan Melian kepanasan." kata Cik Lan menyampaikan pesan untuk suaminya.
"Iya, Cik .... Nanti akan saya sampaikan ke Koh Liem." jawab orang itu.
Sejak pagi memang Koh Liem dan Cik Lan ikut berdemo di pasar. Bahkan Cik Lan sambil menggendong Melian, anaknya yang masih balita, masih berumur satu tahun itu. Namun kalau disuruh jalan kaki ke gedung Pemda yang jaraknya ada sekitar lima kilo, tentu Cik Lan merasa kasihan pada bayinya. Biarlah suaminya saja yang ikut berdemo, menyampaikan aspirasi para pedagang Pasar Gombrang. Cik Lan pun menggendong Melian pulang ke rumah.
Para pendemo yang mengadakan long march sudah sampai di depan gedung Pemda. Namun pintu gerbang Pemda sudah ditutup. Di depan pintu gerbang, polisi sudah berbaris menghadang para pendemo. Para pendemo terus meneriakkan tuntutan-tuntutannya, yaitu melepaskan Subkan, mengijinkan para pedagang untuk berjualan lagi, dan tidak akan menjual Pasar Gombrang kepada investor. Berkali-kali tuntutan itu diteriakkan.
Para pendemo mulai mendekat ke pintu gerbang Pemda. Mereka sudah mulai mendorong polisi yang bertugas di depan pintu gerbang tersebut. Maka terjadilah saling dorong antara pendemo dengan polisi.
"Lepaskan Subkan ...!!!" seluruh orang yang berdemo di depan gedung Pemda itu berteriak keras.
"Lepaskan Subkan ...!!! Kembalikan Pasar Gombrang kepada kami ...!!! Beri kami tempat untuk berjualan ...!!! Pasar Gombrang milik rakyat ...!!! Jangan jual Pasar Gombrang kepada investor ...!!!" suara orang melalui pengeras suara menyampaikan tuntutan-tuntutannya.
Tentu suara itu langsung disambut oleh para pendemo yang lain.
"Ya ...!! Kembalikan Pasar Gombrang ...!!!" sahut yang lain dengan teriak yang keras.
"Ya ...!! Pasar Gombrang milik rakyat ...!!!" sahut yang ikut demo.
"Ya ...!! Beri kami tempat untuk berjualan ...!!!" teriak dari para pendemo yang semakin kuat.
Demo semakin ramai. Orang-orang yang ikut berdemo semakin banyak. Tidak hanya pedagang pasar Gombrang, tetapi kini juga ada pelajar dan mahasiswa yang ikut menimbrung berdemo. Tentu suasana menjadi tak terkendali. Dorong mendorong semakin kuat. Petugas polisi yang menutupi pintu gerbang pun mulai terdesak. Mereka dipepetkan pada pintu gerbang, dan terus didesak oleh para pendemo. Selanjutnya beberapa orang mulai mendobrak pintu gerbang. Awalnya hanya dua orang. Namun dalam beberapa saat sudah bertambah banyak. Pintu gerbang Pemda yang dikunci itu sudah didorong dan digoyang-goyang. Akhirnya, pintu besar yang terbuat dari besi itu roboh.
Para pendemo berhamburan masuk ke gedung Pemda. Dari dalam datang sepasukan polisi, kembali menghadang para pendemo. Mereka mengenakan pelindung lengkap. Memakai helem, memegang tameng serta membawa tongkat pemukul. Beberapa orang yang sudah berlari masuk terkena pukulan para polisi itu. Berkali-kali para petugas itu memukuli setiap pendemo yang memaksa menerobos barisan polisi.
Tetapipara pendemo tidak gentar. Para mahasiswa yang sudah tersulut emosinya justru membalas menyerang polisi dengan melemparkan batu ke arah para penghadang. Setiap kali polisi mundur, para pendemo langsung maju. Begitu seterusnya, hingga para pendemo ini bisa masuk ke pendopo gedung. Sedikit lagi mereka akan merebut pintu masuk ke ruangan, yang tentu dijaga ketat oleh para polisi berlapis-lapis.
"Dor ...! Dor ...! Dor ...!"
Namun tiba-tiba, terdengar suara tembakan. Ada pendemo yang roboh bersimbah darah. Demonstrasi menjadi berantakan.
"Ada tembakan ...!!!"
"Ada yang tertembak ...!!!"
"Ada korban ...!!!"
Orang-orang berteriak. Temannya ada yang tertembak. Beberapa orang berlari untuk berlindung. Yang lain ada yang menolong temannya yang tertembak, lantas dibawa lari, dimasukkan mobil untuk dibawa ke rumah sakit. Tiga orang tertembak. Mereka dilarikan ke rumah sakit. Salah satu yang tertembak adalah Koh Liem. Akhirnya demo menjadi bubar. Orang-orang lari kalang kabut karena takut ditembak oleh para petugas.
Koh Liem meninggal tertembak saat demo membela hak rakyat. Koh Liem meninggal saat mempertahankan hak-haknya akan dirampas oleh pejabat yang lalim, pejabat yang semena-mena. Demo menuntut hak penggunaan Pasar Gombrang, menjadi demo berdarah yang sangat menyakiti hati rakyat.
Wartawan memotret pendemo yang tertembak. Beberapa wartawan sudah meliput. Pasti ini akan menjadi berita besar di medianya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 259 Episodes
Comments
🌺B0€ND@ €N0🌺
seperti kata orang2 tua dari dulu
hukum di negeri ini....
tumpul keatas runcing kebawah...
😢😢😢😢😢😢
2022-06-12
5