Mentari baru saja muncul, menyibak kabut tipis di sungai Cerbung. Masyarakat sudah mulai beraktivitas, melakukan pekerjaannya masing-masing. Para nelayan sudah mulai menambatkan perahunya di pelabuhan ikan, menurunkan ikan hasil tangkapannya. Para petani sudah berduyun melintasi pematang sawah. Para pemilik tambak sudah menebar pakan untuk memberi makanan kepada ikan-ikan bandeng peliharaannya. Begitu juga para pedagang yang sudah berangkat ke pasar untuk berjualan dengan berbagai dagangan bawaannya.
Namun pagi itu, di tempat pembangunan Jembatan Cerbung, orang-orang ramai berkerumun. Orang-orang pada geger di tepi sungai. Di Sungai Cerbung, di tempat yang akan dibangun jembatan tersebut ada tiga orang laki-laki yang bergeletakan mengalami luka parah.
"Ada apa ...?!" salah seorang warga yang melintas bertanya kepada orang-orang yang sudah berkerumun di jembatan itu.
"Ada orang jatuh ke sungai." jawab salah seorang yang ikut berkerumun.
"Terus ..., gimana orangnya ...?!" tanya orang yang baru datang tersebut.
"Itu ..., sedang ditolong." jawab yang lain.
"Kok bisa tercebur ke sungai ...?" tanya orang itu lagi.
"Katanya orang-orang, mereka mau menyeberang melintasi bambu itu, dan bambunya patah. Makanya mereka tercebur ke sungai." sahut yang lainnya.
"Kasihan .... Pasti mereka luka parah." kata orang yang lain lagi.
Sementara itu, di bawah, di sungai tempat jembatan itu akan dibangun, orang-orang sudah pada turun ke dasar sungai, untuk menolong tiga orang laki-laki yang tergeletak tak berdaya. Warga yang turun untuk menolong cukup banyak. Umumnya laki-laki, meski juga ada wanita yang ikut turun ke sungai. Tiga orang laki-laki yang akan ditolong itu, mereka adalah laki-laki yang semalam akan memperkosa Cik Lan. Ya, tiga orang laki-laki yang mengejar Cik Lan, yang ikut menginjak bambu itu mengakibatkan bambunya patah dan orang-orang yang melintas di atasnya berjatuhan ke sungai.
"Lukanya parah ...!" teriak salah seorang yang sudah akan menolong orang-orang yang terjatuh ke sungai tersebut.
"Hah ...?! Bagaimana kondisinya ...?!" tanya yang lain, yang sudah berdiri di pinggir sungai.
"Yang ini patah kaki ...!" yang melihat dan mencermati korban lainnya berteriak mengabarkan, kalau laki-laki yang akan ia tolong ternyata mengalami patah kaki.
"Walah ..., ngangkatnya bagaimana itu nanti?" yang lain bertanya kebingungan untuk mengangkat korban.
"Digotong pakai bambu ...." sahut yang lain.
"Berarti dibuatkan angkong bambu dahulu ...?" tanya yang lain.
"Pakai sarung saja, nanti dimasuki bambu untuk dipikul. Jadi tidak perlu membuat angkong dari bambu." sahut orang lain yang juga memberikan usulan.
"Oh, ya .... Bisa ..., itu lebih praktis." jawab yang lain lagi.
"Tapi pakai sarungnya siapa?" tanya yang tadi usul membuat angkong bambu.
"Lha itu .... Pinjam para warga yang pakai sarung itu ...." sahut yang usul sambil menunjuk para warga yang mengenakan sarung dan ikut menonton di situ.
"Ya, setuju ...!" sahut orang-orang yang lain.
Akhirnya, orang-orang yang berada di bawah, di sungai itu, langsung membantu tiga orang laki-laki yang mengalami luka-luka di sungai tersebut. Ada yang membuka sarung, ada yang membantu mengangkat korban itu masuk ke dalam sarung. Ada pula yang memasukkan potongan bambu ke sarung. Lantas beberapa orang mengangkat bambu untuk digotong. Sedangkan orang-orang yang tidak ikut menggotong, beramai-ramai ikut memberi aba-aba para penggotong yang menaiki tebing sungai. Tentu orang-orang yang berada di atas sungai langsung membantu mengangkat bambu yang ada sarungnya dan berisi para laki-laki yang terjatuh ke sungai itu, yang digotong dari bawah dan menyeretnya ke atas.
Akhirnya, tiga orang laki-laki yang terjatuh ke sungai dan mengalami luka-luka cukup parah tersebut sudah bisa dinaikkan ke atas. Sudah digeletakkan di pinggir jalan.
"Langsung dibawa ke rumah sakit ...!" teriak orang yang menolong dari bawah.
"Nunggu mobilnya Pak Mandor datang ...!" jawab orang yang di atas.
Tentu orang-orang yang menyaksikan langsung mengerubungi tiga orang yang tergeletak merintih kesakitan tersebut. Mereka ingin tahu, seperti apa lukanya. Namun yang jelas, orang-orang yang mengerubungi itu ingin tahu siapa orang yang tercebur ke sungai tersebut.
"Siapa yang terjatuh ke sungai?" tanya salah seorang ibu yang tentu ingin tahu orang yang celaka itu.
"Tidak tahu .... Saya tidak kenal ...." jawab orang yang sudah mengamati wajahnya.
"Ditanyai ...! Orang mana mereka itu .... Siapa namanya .... Rumahnya mana .... Biar nanti keluarganya di kasih tahu." kata orang-orang yang ada di situ.
"Ya, kita tanyai nama dan alamatnya ...!" sahut yang lain.
"Mas ..., siapa namamu? Rumahmu di mana?" tanya perempuan yang dekat dengan orang yang sudah tergeletak itu.
"Aduh .... Aduh ...." orang itu tidak menjawab, hanya mampu mengaduh kesakitan.
"Oalah .... Orang-orang ini kesakitan banget. Tidak sanggup menjawab ...." kata yang menanyai itu.
"Ya jelas benar kalau dia kesakitan .... Yang satu ini kakinya patah, yang ini sekujur tubuhnya luka-luka berlumur darah. Lhah, yang ini tidak ada lukanya, tapi setengah pingsan. Dia lemas tidak berdaya." kata orang yang sudah mengamati, bahkan menyentuh dan memeriksa para lelaki yang lemas tergeletak tersebut.
Kebetulan, para pekerja bangunan sudah mulai berdatangan. Pak Mandor juga sudah datang dengan naik mobil pick up. Begitu melihat masyarakat berkerumun di tempat pembangunan jembatan tersebut, tentu mereka kaget dan bingung.
"Ada apa ini ...?" tanya Pak Mandor yang baru datang.
"Ada orang jatuh tercebur ke sungai ...." jawab salah seorang yang ikut menyaksikan.
"Hah ...?! Mana orangnya ...?!" tanya Pak Mandor.
"Itu ...! Yang dikerubungi orang itu ...!" sahut yang menjawab sambil menunjukkan tempat orang yang sudah digeletakkan di pinggir jalan.
Pak Mandor langsung menuju ke tempat kerumunan. Ia ingin tahu orang yang jatuh tercebur sungai.
"Ada Pak Mandor .... Pak Mandor datang ...." kata salah seorang pekerja yang sudah ikut mengerumuni orang-orang yang bergeletakan.
"Pak Mandor ..., ada yang jatuh ke sungai ...." kata pekerja yang lain, yang juga sudah ikut berkerumun.
"Kapan kejadiannya?!" tanya Pak Mandor.
"Tidak tahu, Pak .... Kami datang sudah dibantu warga diangkat ke jalan." jawab pekerja yang sudah datang duluan.
"Siapa orang yang jatuh ke sungai? Pekerja atau warga sini ...?!" tanya Pak Mandor.
"Tiga orang, Pak ...." kata pekerja itu lagi.
"Lha iya ..., siapa namanya ...?!" tanya Pak Mandor lagi.
"Bonjot ..., Minyun ..., sama satu orang lagi saya tidak kenal. Tidak ikut kerja di sini." sahut pekerja yang tahu persis bahwa orang-orang yang jatuh ke sungai itu adalah pekerja bangunan di jembatan itu.
"Waduh ...!! Parah apa tidak ...?!" tanya Pak Mandor.
"Parah, Pak .... Sebaiknya dibawa ke rumah sakit dahulu ...." jawab pekerja yang lain yang sudah semakin banyak berdatangan mengerubung temannya yang terluka karena jatuh ke sungai tersebut.
"Bonjot kakinya patah .... Minyun luka parah, sekujur tubuhnya keluar darah, kepalanya juga mengeluarkan darah. Orang yang satu lagi kelihatannya tidak terluka, tetapi malah tidak berdaya, setengah pingsan. Mungkin luka dalam, Pak Mandor ...." kata pekerja yang sudah melihat keadaan temannya.
"Ya sudah, kalau begitu cepat kita bawa ke rumah sakit, biar segera mendapatkan perawatan. Ayo, cepat naikkan ke bak mobil." kata Pak Mandor menyuruh anak buahnya.
"Siap, Pak Mandor ...." jawab para pekerja, yang langsung menaikkan tiga orang tanpa daya dan hanya bisa merintih kesakitan itu ke bak belakang mobil pick up yang dikendarai oleh Pak Mandor.
"Greeeeng .... Din ..., din ...." mobil pick up yang mengangkut tiga orang yang terluka itu langsung melaju ke arah Kota Tuban. Menuju rumah sakit. Di bak belakang, selain tiga orang yang terluka parah itu ada dua orang pekerja yang menjaga. Sedangkan Pak Mandor menyetir mobilnya, yang ditemani oleh seorang pekerja lagi yang duduk di sebelah kiri Pak Mandor. Mobil itu melaju dengan kencang. Beberapa pekerja ada yang mengikuti dengan naik sepeda motor, berboncengan dengan teman-temannya.
Orang-orang yang menyaksikan kejadian itu, melepas pandang menyaksikan mobil Pak Mandor yang melaju kencang. Lantas, satu persatu masyarakat yang berkerumun tadi meninggalkan tempat bangunan jembatan. Tentu untuk meneruskan aktivitasnya kembali. Ada yang melanjutkan kerja di sawah, di ladang, maupun ke tempat-tempat lain sesuai dengan kerjanya masing-masing. Terutama kaum wanita, yang pasti akan segera masuk dapur untuk menyiapkan masakan buat keluarganya. Tentu mereka akan menceritakan apa yang baru saja mereka lihat, kejadian para pekerja yang jatuh di bawah jembatan. Pasti nanti dalam ceritanya akan dibumbui dengan cara masing-masing.
Hingga akhirnya, tinggal beberapa orang saja yang masih ada di tempat pembangunan jembatan itu. Pasti masih mengobrol membicarakan para korban yang jatuh ke sungai itu. Berbagai spekulasi mulai bermunculan. Namun yang jelas, orang-orang yang jatuh tersebut disebabkan karena bambu yang diinjak patah. Pastinya sambil menunjuk-tunjuk bambu yang patah, serta posisi tempat jatuhnya orang-orang tadi. Mereka masih mencoba mengamati tempat kejadian perkara yang dianggap misterius itu.
"Lhoh .... Itu apa ...?!"
Tiba-tiba salah seorang dari warga yang masih berada di pembangunan jembatan itu menunjuk sesuatu, ke arah utara agak jauh dari jembatan.
"Mana ...?!" tanya yang lain.
"Itu ...!!" jawab orang yang melihat, sambil kembali menunjuk ke arah yang dilihat.
"Kok seperti orang ...?! Jangan-jangan itu juga korban yang jatuh ...?!" jawab yang lain, setelah ikut mengamati barang yang ditunjuk oleh temannya tersebut.
"Iya .... Sepertinya orang tergeletak ...." sahut yang lain lagi.
"Coba kita lihat .... Ayo kita mendekat ...." yang lain mengajak mendekat ke sosok yang dilihatnya.
Akhirnya sekitar lima orang turun kembali ke sungai, mendekati apa yang dilihatnya. Sebagian masih berada di atas jalan, menunggu temannya yang meyakinkan penglihatannya.
"Lhah ...!! Manusia ...!! Wanita ...!! Ada korban lagi ...!! Wanita yang jatuh, sudah terbawa arus sampai sini ...!!" teriak orang-orang yang mendatangi tempat itu.
"Apa ...?! Ada korban lagi ...?!" tanya orang-orang yang masih pada berdiri di pinggir jalan.
"Ya, betul ...!!! Wanita cantik ...!! Sudah tidak berdaya ...!!!"
"Ayo, tolong bantu untuk mengangkat ke atas ....!!!" orang yang di sungai berteriak minta bantuan.
"Ada korban lagi ...!!! Wanita ...!!!" orang-orang pun langsung berteriak.
Teriakan itu seakan menggema ke seluruh kampung. Spontan, orang-orang yang tadi sudah berbalik meninggalkan tempat kejadian, mereka langsung berdatangan lagi untuk kembali menyaksikan peristiwa yang terjadi. Ya, ada wanita yang juga terjatuh ke dasar sungai, tetapi sudah terbawa arus ke tempat yang agak jauh dari tempat pembangunan jembatan. Wanita itu tidak lain adalah Cik Lan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 259 Episodes
Comments
Ai Emy Ningrum
moga2 cik Lan selamat 😇🙏🏻
2022-09-01
3