Setelah kematian Lurah Pasar, kematian Kapolsek serta Camat Gombrang yang terjadi secara beruntun, diyakini oleh para pedagang kalau kematian mereka adalah hukuman dari malaikat pencabut nyawa kepada orang-orang dolim. Maka kini para pedagang pasar Gombrang menjadi berani untuk masuk ke pasar yang dibatasi oleh pita kuning dari pihak berwajib. Para pedagang ini akan membersihkan puing-puing bekas kebakaran. Setidaknya mereka akan menata kembali pasar yang sudah hangus tersebut.
Menyaksikan para pedagang yang masuk ke pasar yang terbakar, para petugas pasar, anak buah lurah pasar sudah tidak berani menghalangi. Tentu karena niat dari para pedagang ini sudah bulat dan nekat. Jika para pegawai kantor pasar ini berani menghalangi, pasti para pedagang akan melawan. Akhirnya para pegawai atau petugas pasar membiarkan saja para pedagang masuk ke area pasar. Toh tujuan mereka juga baik, yaitu membersihkan puing-puing sisa kebakaran. Jika memang itu niatnya baik, mengapa harus dilarang.
Maka hari itu, suasana bekas pasar Gombrang yang terbakar menjadi riuh ramai. Penuh orang yang umumnya para pedagang. Laki-laki, perempuan, tua muda, semua bergotong royong membersihkan puing-puing. Mereka akan menata kembali pasar yang sudah menjadi arang. Namun semangat dan niatan mereka tidak pernah patah arang. Maka wajar jika dihalang-halangi, mereka tetap menerjang.
"Ayo semua puing di tumpuk ke tengah, kita hanguskan sekalian." kata salah seorang pedagang yang cukup disegani oleh pedagang-pedagang yang lain. Ya, laki-laki itu bertubuh tegap tinggi besar. Sangat pantas untuk menjadi pemimpin.
"Dibakar?" tanya orang yang lain, tentu agak ragu-ragu.
"Iya .... Sisa-sisa puing kita hanguskan sekalian, agar bersih, tidak ada arang. Nanti kalau sudah jadi abu semua, lebih mudah dalam membersihkan." kata laki-laki yang memimpin.
"Apa nanti tidak bahaya kalau dibakar lagi?" tanya salah seorang yang ikut membersihkan.
"Makanya puing-puing itu kita tumpuk di tengah, dibakar sedikit demi sedikit. Jangan ditumpuk terlalu tinggi. Kalau kebanyakan nanti apinya jadi besar, tapi kalau dibakar sedikit demi sedikit apinya tidak membesar dan tidak bahaya." jelas orang yang lain, yang tentu paham ketakutan teman-temannya. Karena mereka masih trauma dengan api yang melalap seluruh Pasar Gombrang.
"Siap ...!" sahut laki-laki yang sudah mulai membakar puing-puing sisa kebakaran tersebut.
Api mulai menyala membakar arang dan puing sisa-sisa kebakaran Pasar Gombrang. Pasti sangat mudah terbakar. Sedikit terbakar, lantas ditambah puing yang lain. Habis terbakar, ditambah lagi dengan sisa-sisa yang lain. Terus dan terus, silih berganti orang yang mengusung sisa-sisa kebakaran.
"Yang ini dibakar apa tidak?!" tanya salah satu pedagang yang membawa potongan kayu masih agak besar.
"Ya, bakar saja. Itu sudah tidak bisa dipakai lagi." sahut yang lain yang tentunya menyuruh membakar kayu yang dibawa orang itu.
Sampai siang hari, para pedagang itu membersihkan puing. Belum selesai. Masih ada banyak puing yang ditumpuk, mengantri untuk dibakar. Bahkan masih ada yang masih harus dibongkar dari tempat warung semula, karena memang belum terbakar semua. Masih ada kayu dan tiang yang belum hancur. Seperti halnya warung Koh Lim, yang baru terbakar separo.
"Capai .... Bagaimana ini? Kita selesaikan hari ini apa dilanjutkan besok?" kata salah seorang yang sudah kelelahan.
"Istirahat dahulu .... Kemari, minuman dan jajanan ada di sini." sahut yang lain sambil menunjukkan jajanan dan minuman.
"Bapak-bapak .... Ini ada kiriman masakan dari ibu-ibu untuk makan siang!" tiba-tiba saja ada tiga wanita datang menggendong dunak berisi nasi, serta membawa panci besar berisi sayur sop.
Ya, ternyata saat yang laki-laki pada bersih-bersih di bekas tempat kebakaran, beberapa ibu berinisiatif untuk memasak. Ada yang masak sayur, ada yang menanak nasi, ada juga yang menggoreng tahu tempe. Bahkan ada yang membuat sambal. Semua berpartisipasi. Walau hanya sekadar sayur sop apa adanya, tapi kalau dimakan bersama oleh orang banyak, pasti rasanya nikmat.
"Di taruh di mana ini makanannya?" tanya wanita yang menggendong dunak nasi tersebut.
"Di sini saja .... Biar nanti pada ngumpul di sini." jawab laki-laki yang pantas menjadi pemimpin itu.
"Ya .... Makanan taruh di sini semua." kata perempuan yang membawa makanan.
"Bapak-bapak ..., mari kemari .... Kita makan dahulu. Ini ada kiriman dari ibu-ibu ...!" kata laki-laki bertubuh tegap besar itu.
"Ya ...."
"Siap ...."
"Ayo, kita makan dahulu!"
"Asyik ...."
Orang-orang yang bekerja bakti membersihkan puing sisa kebakaran tersebut, langsung pada menyerbu makan siang yang sudah disiapkan oleh ibu-ibu. Yang masak juga para istri mereka. Tetapi mereka senang, karena lahan berjualan mereka, pasti sebentar lagi bisa dipakai untuk berjualan kembali.
"Enak ...."
"Sayur sopnya segar."
"Sambalnya enak .... Pedas tapi tidak terasa panas."
"Siapa ini yang bikin sambal?"
"Waah, besok mesti di buatkan lagi ini ...."
Mereka makan sambil berbincang dan bersendau gurau. Itulah yang menambah kenikmatan dalam acara makan bersama. Apalagi setelah separo hari mereka bekerja bakti. Rasa lelah dan capai itu terbayar oleh nikmatnya makan siang bersama. Tentu mereka senang walau beberapa hari yang lalu seluruh dagangannya dilalap si jago merah.
Namun, belum selesai mereka menikmati hidangan makan siang secara prasmanan, tiba-tiba ada dua mobil, yang satu dengan plat merah, sedangkan yang satu lagi mobil sedan bagus, datang dan berhenti di depan pasar. Tentu itu membuat orang-orang yang riuh menyantap makan jadi terdiam. Tentu ada tanda tanya dengan kedatangan mobil plat merah tersebut. Kemudian dari dalam mobil yang pertama keluar tiga orang laki-laki yang mengenakan pakaian dinas kepemerintahan. Mereka pasti orang pemerintah, pejabat kabupaten. Sedangkan dari mobil yang satu lagi keluar dua orang, laki-laki dan perempuan, dengan pakaian ala orang kaya. Sangat perlente dan keren. Sopirnya tidak keluar.
Selanjutnya orang-orang dengan pakaian seragam pemerintah itu masuk ke area bekas pasar yang terbakar tersebut, diikuti oleh dua orang laki-perempuan yang perlente itu. Mereka tidak menyapa maupun menanyai orang-orang yang ada di situ. Padahal sangat banyak orang yang sedang makan bersama. Tetapi orang-orang itu seakan menganggap tempat itu tidak ada manusianya. Setidaknya, orang-orang itu tidak mau tahu dengan orang-orang yang sedang kerja bakti membersihkan puing. Bahkan laki-laki yang perlente itu masih mengenakan kaca mata hitam, biar tidak terlihat matanya. Mereka benar-benar tidak tahu unggah-ungguh, tidak kenal sopan santun. Ada orang sebegitu banyak yang sedang kerja bakti tidak dianggap sama sekali. Sungguh keterlaluan.
"Mereka itu siapa, sih? Kok sombong sekali ...!" gumam salah seorang yang tidak senang melihat orang-orang pemerintah yang datang itu.
"Itu pasti orang kabupaten. Paling tidak pejabat." sahut yang lain mengira-ira.
"Dari mana kamu tahu kalau dia pejabat?" tanya temannya.
"Kesombongannya .... Biasanya orang kalau jadi pejabat itu sombong." jawab orang tadi.
"Lha kalau laki-laki yang pakai kaca mata hitam itu?" tanya orang tadi.
"Apa mungkin dia itu bos yang mau beli lahan pasar ini, ya?!" duga yang lain lagi.
"Wah ..., kalau begitu percuma kita kerja bakti membersihkan puing-puing ...." kata temannya.
"Siapa yang bilang kalau pasar ini mau di jual?!" tiba-tiba laki-laki gagah besar itu berteriak pada teman-temannya.
"Lha itu .... Orang-orang yang datang itu ...! Pasti suami istri itu yang mau membeli, yang katanya mau dibual shoping center." jawab temannya.
"Apa kalian rela kalau pasar ini dijual kepada investor?!" kata sang pemimpin itu mulai menanyai teman-temannya secara keras.
"Tidak! Saya tidak rela kalau lahan pasar ini dijual ke investor. Nanti kita mau nyari rejeki bagaimana?" jawab salah satu dari mereka.
"Saya juga tidak mau!" kata yang lain.
"Saya juga tidak rela ...!!" yang lain pun ikut bersuara lantang.
Entah mendengar atau tidak, para pejabat dan dua orang laki-perempuan itu seolah tidak mau tahu orang-orang pasar pada berteriak. Padahal jaraknya cukup dekat. Tetapi seakan mereka cuek saja. Pasti mereka pura-pura dan tidak menganggap orang-orang yang sedang kesusahan itu.
Tanpa ada yang menyuruh, laki-laki yang sudah dianggap jadi pemimpin teman-temannya itu melangkah menghampiri lima orang yang berdiri mengamati lahan Pasar Gombrang yang terbakar.
"Maaf, Pak .... Bapak-bapak ini datang kemari mau apa?" tanya laki-laki tegap besar sang pemimpin kerja bakti. Tentu ia ingin tahu kedatangan orang-orang itu.
Tiga orang laki-laki dengan pakaian seragam pemerintah itu hanya menoleh sebentar. Mereka tidak menjawab. Sedangkan laki-laki perlente yang masih mengenakan kaca mata hitam itu menarik lengan yang perempuan, dia melangkah mundur. Mungkin takut saat ditanyai lelaki tegap besar yang terlihat kekar itu.
"Maaf, Pak .... Saya ingin tahu, bapak-bapak ini datang kemari mau apa?" sang pemimpin itu mengulangi pertanyaannya kembali.
Sama seperti semula. Tiga orang pemerintahan itu tidak menjawab, malah memandang dengan sinis pada laki-laki yang bertanya tersebut. Mereka terlalu sombong dengan pakaian seragam pegawainya. Bahkan seolah menganggap musuh kepada orang yang bertanya. Sedangkan lelaki yang bersama perempuan itu sudah melangkah mundur agak jauh, bahkan hampir mendekati mobilnya.
Laki-laki yang memimpin teman-temannya membersihkan puing itu menoleh ke teman-temannya yang masih berkumpul di tempat mereka makan, lantas katanya, "Saudara-saudara ..., rupanya lahan Pasar Gombrang ini betul akan dijual ...! Apa kalian rela ...?!" teriak laki-laki tegap besar itu kepada teman-temannya.
"Tidak ...!!!" jawab orang-orang yang ada di tempat itu serempak dengan suara yang lantang dan keras. Bahkan, orang-orang pada mulai mengambil potongan-potongan kayu sisa kebakaran yang masih berserakan. Mereka bangkit berdiri dengan memegang potongan kayu, berjalan menuju ke arah tiga orang pemerintahan itu. Seakan mereka mengancam dengan potongan-potongan kayu yang mereka bawa, mereka akan melawan tiga orang itu.
Ternyata, tiga orang pejabat dari pemerintahan itu takut dan lari terbirit-birit meninggalkan bekas lahan Pasar Grombyang, masuk ke dalam mobil plat merah itu. Sedangkan laki-laki dan perempuan yang terlihat perlente tadi, juga sudah meninggalkan tempat itu lebih duluan. Mereka ketakutan. Takut kalau dikeroyok orang-orang pasar.
Orang-orang yang beramai-ramai akan menghadapi para pejabat dari pemerintah itu langsung menuju ke mobil plat merah yang dinaiki oleh pejabat yang dikejar. Ternyata, orang pejabat yang sombong itu, ketika digeruduk banyak orang, mereka takut juga.
"Ayo ..., siapapun yang berani mengusik kami, hadapi kami ...!!!" teriak laki-laki gagah perkasa itu.
Para pejabat itu terbirit-birit. Mobil plat merah itu pun dilajukan kencang menghindari amukan masa. Namun karena sang sopir ketakutan, maka menyetirnya kurang konsentrasi. Sang sopir menginjak gas terlalu kencang, dan tidak mampu menguasai setir mobil. Akibatnya mobil itu menabrak pohon besar yang ada di seberang pasar. Bagian depan mobil hancur. Ketiga pegawai Pemda itu mengalami luka parah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 259 Episodes
Comments
🌺B0€ND@ €N0🌺
alhamdulillah..akhirnya up juga..
2022-06-11
2