Cik Lan benar-benar sudah tidak kuat lagi menerima teror yang terus menerus datang mengancam dirinya. Mulai dari terbunuhnya suaminya saat berdemo, kemudian pintu yang digedor-gedor tanpa ada orang, surat ancaman yang dilempar dengan batu, serta ular besar yang dimasukkan ke dalam kamar. Semuanya membuat Cik Lan ketakutan dan khawatir. Jangan-jangan nanti ancaman-ancaman itu bisa menjadi kenyataan. Apalagi jika memikirkan anak kecilnya, Melian. Cik Lan tambah khawatir dengan nasib Melian yang masih bayi.
Setelah mendapat nasihat dari saudara-saudaranya, setelah menerima saran dari orang tuanya, akhirnya Cik Lan berpindah dari Kampung Gombrang. Ia ikut saudaranya yang tinggal di pinggiran kota kecil, tempat asal usul orang tuanya tinggal, yaitu daerah Lasem, perbatasan antara Jawa Tengah dan Jawa Timur. Rumahnya yang ada di dekat Pasar Gombrang dijual. Lantas ia belikan rumah kecil dekat dengan orang tuanya.
Hari itu, Cik Lan pindahan dari Kampung Gombrang menuju Lasem. Ia menumpang sebuah truk yang mengangkut barang-barangnya. Tidak ada tetangga yang ikut mengantar, karena tempatnya yang jauh. Tetapi saat Cik Lan berpamitan, orang satu gang di tempat tinggal Cik Lan, keluar semua untuk melepas kepergiannya. Tentu banyak yang merasa kehilangan. Terutama para ibu yang sering ngobrol bareng bersama Cik Lan. Apalagi anak-anak kecil yang sering bermain bersama Melian. Maka lambaian tangan yang cukup lama dari semua tetangganya seakan memberatkan kepergian truk yang membawa Cik Lan meninggalkan Kampung Gombrang.
Sebenarnya, ada sebuah rahasia yang disembunyikan oleh Cik Lan saat anak bayinya, Melian, terbakar di Pasar Gombrang. Kala itu, Melian yang terselamatkan dari kebakaran besar Pasar Gombrang, bayi itu terbungkus selembar kain dagangan miliknya. Memang semua orang mengira kain yang membungkus tubuh bayi mungil itulah yang menjadi penyelamat Melian. Sehingga waktu itu, orang-orang pasar pada berebut minta kain yang membungkus Melian. Walau hanya dapat secuil. Karena semua pada minta, dan Koh Liem akhirnya memotong-potong kain menjadi bagian kecil-kecil. Dan tiap bagian kecil potongan kain itu sudah habis dibagikan kepada orang-orang yang meminta. Ya, apa lagi kalau bukan untuk jimat. Karena dianggap kain itu yang mnyelamatkan Melian, maka sudah sewajarnya kalau teman-teman pedagang atau para tetangga Cik Lan, menggunakan sobekan kain itu untuk jimat keselamatan. Ini fakta.
Namun Cik Lan diam, ketika semua orang mengatakan kalau Melian sudah diselamatkan oleh kain sakti yang membungkusnya. Bahkan juga tidak berkomentar saat orang-orang bilang kalau roh gaib dari Gunung Kawi, di mana dahulu kala, kakek neneknya Koh Liem sering meminta rezeki melalui pemujaan di Gunung Kawi. Biar saja orang-orang bicara seperti itu. Ada hal yang Cik Lan tidak mau sampaikan kepada teman seperjuangan di Pasar Gombrang, atau para tetangga yang selalu menolong Cik Lan saat kesusahan.
Cik Lan yang kala itu menerima anaknya yang diselamatkan dari amukan si jago merah yang meluluh lantakkan Pasar Gombrang, ia membawa lari pulang Melian. Tentu dalam keheranan dengan anaknya yang tidak mempan dibakar api itu, Cik Lan penasaran. Sebenarnya ada keajaiban apa yang melindungi anaknya hingga tidak mempan dijilat api? Dalam rasa penasaran itu, sambil ingin membersihkan tubuh Melian yang tentu kotor terkena debu, Cik Lan secara perlahan membuka kain pembungkus. Gulungan kain yang lumayan banyak, membungkus tubuh Melian, seperti layaknya bayi habis mandi yang dibalut kain jarit atau dibedong. Tentu Cik Lan cukup lama untuk membukanya. Tapi ia juga sadar, tentu bedongan Melian ini menggunakan kain dalam jumlah banyak agar tidak terkena panas dari kobaran api.
Tapi, lagi-lagi Cik Lan heran, siapa sebenarnya yang membedong Melian? Siapa yang membungkus anaknya secara rapi seperti ini?
Padahal Cik Lan ingat betul kala sebelum terjadi kebakaran, Melian waktu itu tidak dibedong. Melian tidak dibalut dengan kain. Bahkan ia masih berusaha merangkak dan tertawa kecil kepada ibunya yang masih menata kain-kain dagangannya. Melian hanya berada di atas dipan sambil bermain.
Namun. setelah suaminya berlari menerobos api, menyelamatkan anaknya, ternyata Melian sudah dibedong. Tidak urusan siapa yang membedong. Yang penting anaknya selamat. Begitu pikir Cik Lan. Tetapi yang membuat heran lagi bagi Cik Lan adalah saat akan membersihkan tubuh anaknya. Setelah Melian diletakkan di atas dipan, kemudian dilepas dari bedongan, dibuka pakaiannya, dan akan di bersihkan menggunakan washlap, ternyata di lengan Melian yang masih kecil itu terdapat gelang giok dengan warna hijau tua.
Cik Lan kaget. Tentu ia bingung, dari mana gelang itu berasal. Selama ini ia belum pernah membelikan gelang kepada anaknya. Bahkan ia ingat betul belum pernah memakaikan gelang apapun kepada Melian. Pasti Cik Lan heran, siapa yang memberikan gelang itu kepada anaknya.
Cik Lan mengamati gelang yang melingkar di lengan kanan anaknya.
"Ini benar-benar giok .... Asli ...." gumam Cik Lan sambil memegangi gelang yang ada di lengan anaknya. Giok yang sangat tua, dengan warna hijau khas merata.
"Ah, kok ada ukiran naga? Indah sekali gelang ini. Ukirannya sangat sempurna dan indah." gumam Cik Lan lagi yang terkesima dengan gelang giok yang dikenakan oleh anaknya. Gelang itu sangat pas di tangan anaknya.
"Ah, siapapun yang memberi gelang ini pada Melian, saya bersyukur anak saya terselamatkan dari bahaya." begitu kata Cik Lan yang selanjutnya membersihkan tubuh anaknya. Tentu Melian tersenyum dan riang saat dirawat oleh ibunya.
Setelah selesai membersihkan tubuh dan mengganti pakaian kepada anaknya, Cik Lan berniat ingin melepas gelang giok dengan ukiran naga itu dari tangan anaknya. Cik Lan sangat kurang nyaman dengan gelang itu, karena ada ukiran berbentuk naga di gelang itu. Jika dilihat, lama kelamaan seakan naga itu mau menerkam, mau memangsa orang yang memandangnya. Makanya Cik Lan ingin melepas dan menyimpannya saja.
Namun, berkali-kali Cik Lan berusaha melepas, gelang giok dengan ukiran naga itu tidak bisa dilepas. Tidak mau ditarik dari tangan anaknya. Bahkan seolah, jika gelang itu ditarik keluar, ada kekuatan yang membalas menarik ke dalam. Itu terjadi berkali-kali. Tentu Cik Lan menjadi ragu-ragu untuk melepas kembali. Padahal maksud Cik Lan ingin menghindari pertanyaan orang-orang tentang gelang giok yang dikenakan anaknya itu. Namun seolah ada kekuatan yang mempertahankan agar gelang itu terus berada di lengan Melian.
Akhirnya, Cik Lan pasrah. Ia tidak berusaha melepas lagi gelang anaknya. Ia membiarkan gelang giok itu melingkar di lengan anaknya.
Apa yang dipikirkan Cik Lan benar. Suaminya, Koh Liem menanyakan gelang yang dikenakan anaknya tersebut. Cik Lan menceritakan kepada suaminya. Tetapi rupa-rupanya Koh Liem tidak percaya dengan semua penuturan istrinya. Hingga akhirnya, Koh Liem berusaha melepas gelang anaknya tersebut. Tetapi setiap kali Koh Liem ingin melepas gelang yang melingkar di lengan anaknya itu, ia justru terpental dan jatuh. Begitu terjadi berkali-kali.
Gagal tidak bisa melepas gelang yang melingkar di lengan Melian, Koh Liem justru marah-marah kepada istrinya. Cik Lan dimarahi habis-habisan. Bahkan istrinya dituduh yang macam-macam.
Kala itu, Cik Lan hanya bisa menangis. Hingga akhirnya, suaminya yang ikut-ikutan demo malah tertembak dan meninggal.
Dan kini, setelah ia berpindah ke pinggiran kota kecil di Lasem, daerah yang berbatasan dengan Tuban di Jawa Timur, tinggal bersama orang tuanya, Cik Lan tetap merahasiakan gelang giok yang dikenakan Melian.
Sempat mamanya bertanya tentang gelang giok yang dipakai Melian, Cik Lan hanya menjawab singkat, gelang itu pemberian ayahnya. Begitu juga saat ditanya papanya. Jawabannya pun sama.
Ini hanya rahasia bagi dirinya. Tak seorang pun boleh tahu asal-usul gelang giok tersebut. Termasuk Melian, jika kelak anak itu sudah besar dan bertanya, Cik Lan sudah siap, gelang itu pemberian papahnya.
Namun sebenarnya, Cik Lan sendiri tidak tahu dari mana asal gelang giok berukir naga tersebut. Walau Cik Lan merahasiakan, tetapi ia sendiri tidak tahu rahasia yang sebenarnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 259 Episodes
Comments
🌺B0€ND@ €N0🌺
mungkin gelang giok itu semacam jimat keselamatan utk putrinya cik Lan....
2022-06-20
3
🌺B0€ND@ €N0🌺
jadi terharu...
pengin mewekk
😢😢😢😢
2022-06-20
2