Kini Gavin, Kenzie, serta kedua orangtuanya sudah berada dirumah. Padahal Gavin sempat mengatakan kepada kedua orangtuanya, bahwasanya dia dan Kenzie ingin tinggal berdua. Tapi sayangnya, Gavin tidak mendapatkan izin.
Kata mama nya "Gavin tetap tinggal dirumah sama Kenzie. Mama gak yakin sama kamu, takutnya malah KDRT sama Kenzie."
Padahal Gavin ingin kebebasan, kalo begitu ceritanya dia mana bebas melakukan apa yang dia mau. Yang ada malah dimarahi nyonya besar.
"Turunin koper Kenzie, bawa masuk kedalam!" Perintah Lara kearah Gavin.
Siempunya hanya diam, menuruti ucapannya.
"Ma, Kenzie tidur dimana?"
"Ayo Mama antar."
Lara dan Kenzie menaiki tangga satu persatu, berdiri didepan pintu kamar paling pojok dilantai atas.
"Kenzie ti–"
"Eh, ma. Kok Kenzie malah tidur disana? kamar Gavin pintu warna hitam." Sela Gavin, menarik lengan Kenzie.
"Masa suami istri tidur terpisah, gimana sih ma."
Lara hanya bisa mengeleng kepala, mendengar ucapan putranya.
"Terserah kamu, asal Kenzie mau."
"Pasti mau, iya kan yang?"
Gavin menatap wajah cantik itu, dengan senyuman manis terukir indah dibibirnya.
"Tapi–"
"Gak ada tapi-tapian, tenang aja kamar Gavin bersih kok."
Tanpa menunggu persetujuan dari siempunya, Gavin langsung menarik Kenzie masuk kedalam kamar mengunci pintu dari dalam.
"Kok dikunci?"
"Biar istri Gavin yang cantik jelita ini, tidak kabur."
Gavin tertawa terbahak-bahak, layaknya set*n dimata Kenzie. Gak ada yang lucu malah ketawa, kan aneh.
Kenzie hanya mengangkat bahunya acuh, menyelusuri kamar dengan maniknya. Kamar Gavin luas, rapi, bersih sesuai ucapan pemilik kamar. Kenzie rasa akan nyaman ditempat ini, hanya saja orang yang tidur dengannya yang tidak aman.
"Vin," panggil Kenzie ragu.
"Apa?"
"Gue boleh susun baju kewalk closet gak?"
"Silahkan."
Kenzie menganggukan kepalanya, mendorong kopernya masuk kedalam walk closet. Tepat pintu terbuka, Kenzie sedikit tercengang. Ternyata pria yang satu itu rapi, penampilannya saja yang selalu berantakan kesekolah. Entah apa kegunaannya.
"Hidup gue bakalan gimana yah kedepannya? Gue pusing mikirin itu."
gumam Kenzie, sembari sibuk merapikan pakaiannya.
"Ken."
Sontak Kenzie tersentak, menoleh kearah Gavin yang berdiri menjulang tinggi didepan pintu walk closet.
"Ambilin baju ganti gue dong."
"Malas."
"Dosa nolak suami."
"Dosa juga maksa istri."
"Ck, hitung-hitung belajar jadi istri yang baik."
"Ngatain diri sendiri."
"Cepatan, gue mau mandi."
Kali ini Kenzie mengalah, bangkit dari tempatnya melangkah kearah lemari pakaian Gavin. Dengan asal meraih kaos dan celana pendek, melemparnya asal kearah siempunya.
"Jahat banget jadi istri, lembut dikit napa jadi cewek."
Kenzie hanya diam, hendak kembali merapikan pakaiannya. Sebelum suara bariton Gavin menghentikan pergerakannya.
"Pakaian dalam mana?"
"Ambil sendiri, emang Lo pikir gue pembantu apa?"
"Berbuat baik jangan nangung."
"Mulai dari tadi Lo cuman ngomong, hitungan detik Lo jalan kesini seimbang sama ucapan yang keluar dari mulut Lo."
"Pelit."
Gavin menatapnya tajam, sembari melangkah masuk kedalam.
"Ratu iblis."
"Set*n."
Mereka sama-sama mengalihkan tatapannya kearah yang lain, sibuk dengan urusan masing-masing.
Pria yang satu ini ternyata melebihi wanita, tukang ngambek, manja, ngeselin lagi.
Selesai Gavin mandi, kini giliran Kenzie. Sedari tadi pikiran Gavin berkeliaran kemana-kemana, membayangkan apa yang seharusnya dilakukan pasangan suami-istri.
Apalagi ini malam pertama mereka, Gavin panas dingin memikirkan itu. Mana tubuh Kenzie cantik, sesuai dengan wajahnya.
"Gue tidur dimana?"
Sontak Gavin tersentak, menoleh kearah Kenzie yang kini berdiri disamping ranjang.
"Gue gak mau tidur sama Lo. Takutnya kuman."
"Kuman-kuman gini juga udah yang punya. Mana Sah lagi."
"Jangan kepedean, gue tidur dimana?"
"Disini seranjang sama gue."
Gavin menepuk ranjang disebelahnya,
sembari tersenyum mengoda kearah Kenzie. Tapi sayangnya, di mata Kenzie berbeda.
"Tau gak?"
"Apa?"
"Lo kayak om-om mesum."
Kenzie tertawa terbahak-bahak, melihat perubahan wajah Gavin.
"Ratu iblis, sana cari tempat tidur. Gue gak mau tidur sama Lo."
Kenzie hanya mengangkat bahunya acuh, melangkah kearah sofa. Untung sofa nya luas, cukup menampung tubuhnya.
Pukul 23:00, kamar terasa sepi. Sedari tadi Gavin tidak bisa tidur, hanya memikirkan Kenzie yang tidur diatas sofa. Mana dingin, selimut juga tidak ada.
Terpaksa Gavin bangkit dari tempatnya, melangkah pelan-pelan kearah sofa. Terlihat wajah cantik itu tertidur nyenyak, sesekali meringkuk kedinginan.
"Keras kepala."
Dengan entengnya Gavin mengangkat tubuh gadisnya, memindahkannya ke atas ranjang.
"Untung cantik."
Gavin tertawa kecil, ikut berbaring di atas ranjang tepat disamping Kenzie. Menyelimuti tubuhnya dengan tubuh Kenzie, perlahan memeluknya.
"Enak juga punya bini."
Gavin tersenyum smirk menatap wajah cantik itu, sembari menyelipkan helaan rambut yang menutupi wajah cantik gadisnya. Mengamati setiap inci wajah cantik itu dengan saksama, sampai satu titik yang mengalihkan perhatiannya.
Itu terlihat mengoda, Gavin penasaran ingin mencicipi. Perlahan Gavin memajukan wajahnya, mengecup bibir pink itu.
"Maaf."
1 kata yang keluar dari mulutnya, tapi sayangnya Gavin malah melanjutkan aksinya, kembali mencium bibir mungil itu dan sedikit mengulum nya.
"Manis."
Gavin tersenyum tipis, sembari menghapus salivanya dibibir Kenzie. Gadis yang satu ini terlihat mengoda, pria normal seperti nya, hanya bisa sebatas memandangnya saja.
"Hari ini Lo selamat."
Kata terakhir yang keluar dari mulutnya, perlahan memejamkan matanya.
__________
Tubuh kecil itu merasa sesak, dan berat. Terasa ada sesuatu yang menimpa tubuhnya. Saking penasarannya Kenzie membuka matanya, sontak terbuka lebar bahkan hampir keluar dari tempatnya.
"GAVIN!" Teriak Kenzie mengema seisi ruangan, mendorong tubuh kekar itu menjauh dari tubuhnya.
"Mesum!"
Kenzie melempar bantal kearah Gavin, memukul tubuh kekar itu secara bruntal.
"Sakit woi, masih pagi udah kesurupan."
"Lo yang kesurupan, siapa nyuruh lo meluk-meluk gue. Gavin mesum."
"Cuman peluk doang kok Ken, Lo juga malah tidur dimalam pertama. Padahal yang gue tonton, orang-orang gak cuman tidur."
Sontak Kenzie menghentikan aksinya, mengeser tubuhnya kearah Gavin.
"Ulangi!"
"Semalam itu malam pertama, harusnya kita ngelakuin itu."
"Oh, gue lupa."
Gavin mendongakan kepalanya keatas, menatap wajah cantik itu. Kenapa tiba-tiba suara itu berubah, ada yang aneh. pikirannya.
Tidak mungkin juga Kenzie mau melakukan itu, kalo Gavin mah asal dia mau saja.
"Jadi semalam pertama Vin?"
Kenzie mengelus wajah tampan itu, membuat siempunya merinding sendiri. Bahkan Gavin memejamkan matanya, merasakan sapuan jemari lentik itu diwajahnya.
Tapi sayangnya semua hanya khayalan semata, tiba-tiba telinganya ditarik, diputar dengan sekuat tenaga.
"Semalam, kenapa gak kasih tau gue kalo malam pertama. Ha?"
"Sakit Ken."
"Sakit yah, kasihan banget sih suami gue."
"Lepasin dong Ken, nanti telinga gue putus."
"Biarin!"
Gavin bungkam, dengan menahan sakit ditelinganya. Mungkin ini karma yang semalam, padahal apa salahnya. Orang mereka berdua suami istri. Sah-sah saja melakukan hal itu, bahkan lebih dari itu.
"Jangan-jangan main sama gue."
Kenzie melepaskan jeweran nya, dan beranjak dari tempatnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 92 Episodes
Comments
A.0122
ini mah istri yg galak bkn suami justru suaminya konyol
2022-03-31
2
Suky Anjalina
masih nyimak
2022-03-22
1
IG: @author_ryby
ceritanya bagus dan ngalir! ini ga diikutin kontes ymyb kah kak?
2022-01-13
11