Televisi sengaja dimatikan. Mereka berlima kini telah berkumpul di ruang tengah rumah Cindy. Pandangan mereka pun fokus kepada Cindy yang sedang berdiri sembari menempelkan empat buah foto di papan tulis dalam keadaan terbalik. Setelah itu, ia menunjukkan foto pertama untuk memulai penjelasannya.
"Jadi, selama beberapa hari ini gue udah riset banyak hal tentang Kak Anita. Kalian tau kakak sepupu gue, kan? Kak Farah. Dia pernah satu circle sama Kak Anita sebelum Kak Anita masuk ke gengnya Bang Gery. Nah, dia sumber dari semua riset gue."
Cindy mempercayakan Farah bukan karena itu saja, tapi juga karena dari kelas sepuluh, Farah selalu satu kelas dengan Anita. Sehingga Farah pasti tahu apa saja yang terjadi pada Anita di sekolah.
Tangan Cindy menunjuk pada foto formal seorang laki-laki yang memakai seragam SMA Adhigana. Ia mendapatkannya dari sosial media laki-laki tersebut.
"Tersangka utama Bang Arjuno, mantan Kak Anita sebelum Kak Anita pacaran dengan bang Angga, yang entah kenapa mulai nempel terus sama Kak Anita setelah Kak Anita putus dengan Bang Angga," jelas Cindy dalam satu helaan napas. Seketika ia tersadar. "Eh, belibet banget gak sih gue? Kalian ngerti kan?"
Mereka berempat mengangguk.
"Ngerti kok. Lanjut."
Cindy pun melanjutkan penjelasannya. "Nah! Kak Farah bilang ke gue kalau ternyata mereka diam-diam udah balikan dari dua bulan yang lalu."
"Terus kenapa dia bisa jadi tersangka utama?" Tanya Zaferino yang masih belum nyambung.
Cindy tersenyum. "Pertanyaan bagus! Kenapa Bang Arjuno bisa jadi tersangka utama? Karena Kak Farah bilang kalau Bang Arjuno sama sekali gak datang waktu Kak Anita dimakamkan. Ditambah lagi, Bang Arjuno juga gak masuk sekolah selama satu minggu setelah kematian Kak Anita. Aneh banget gak sih?"
Alis Zaferino langsung mengerut bingung. "Kalau menurut gue sih gak aneh-aneh banget ya. Mana tau Bang Arjuno masih belum bisa nerima kenyataan atau kondisinya tiba-tiba drop karena harus kehilangan orang yang dia sayang. Terlalu cepat menyimpulkan bisa jadi permulaan yang gak baik untuk kita."
"Iya sih. Tapi gue ngerasa, mau sesedih apapun, harusnya dia datang dong ke pemakaman Kak Anita karena itu terakhir kalinya dia bisa ngeliat Kak Anita," balas Cindy mencoba memberikan penjelasan dari sudut pandang yang berbeda.
Fathan pun ikut memberikan pendapatnya. "Hm ... kita sama-sama gak tau alasannya apa. Tapi gue lebih setuju sama Zape. Bisa aja dia lagi dalam kondisi yang gak memungkinkan untuk datang ke pemakaman Kak Anita. Makanya dia lebih milih gak dateng. Perasaan orang tuh beda-beda, Cin. Mungkin lo kuat untuk itu, tapi untuk Bang Arjuno kita kan gak tau."
Diserang dua orang, Cindy jadi terdiam. Penjelasan mereka terdengar masuk akal. Apakah hanya pemikirannya saja yang terlalu jauh hingga merasa curiga tentang hal tersebut?
"Kalau gue lebih setuju ke Cindy sih," kata Dafin yang langsung disambut senyuman lebar oleh Cindy. Akhirnya ada juga orang yang mendukungnya. "Agak aneh kalau Bang Arjuno gak datang ke pemakaman Kak Anita, walaupun emang mungkin bisa aja dia punya alasan yang kayak kalian bilang. Tapi bagi gue, itu juga gak bisa jadi alasan yang kuat."
Cindy pun berusaha meyakinkan Zaferino dan Fathan. "Gini deh. Bayangin aja kalau gue yang meninggal, kalian pasti bakal datang kan ke pemakaman gue? Sesulit apapun rasanya, pasti datang kan?"
"Ya ... iya sih. Tapi kayaknya gak nyambung kalau disamain dengan keadaan Kak Anita, Cin," kata Zaferino masih tak setuju.
"Harusnya sama dong. Apalagi Bang Arjuno statusnya pacar Kak Anita. Masa iya lo gak datang ke pemakaman pacar sendiri? Bahkan... Bang Angga pun datang. Iya kan, San?"
Semua mata kini mengarah pada Sania yang sedari tadi hanya memilih diam.
"Iya. Bang Angga datang," jawab Sania.
"Tuh."
"Ya udah, oke. Terus kalau emang dia yang ngedorong Kak Anita, apa alasannya?"
"Konflik percintaan lah. Apa lagi?"
"Konflik percintaan kan banyak."
"Gue denger dari Kak Farah, dulu alasan mereka putus itu karena Bang Arjuno terlalu posesif."
"Kalau emang Bang Arjuno posesif, kenapa Kak Anita masih mau balikan?" Zaferino kembali menyerang Cindy dengan pertanyaan yang menyudutkan.
Tapi Cindy tak mudah menyerah. Ia akan terus menjawabnya. "Mungkin karena waktu itu Kak Anita gak punya siapa-siapa lagi. Dia dijauhin sama semua temen-temennya tanpa alasan yang jelas. Dan kayaknya cuma Bang Arjuno yang masih mau dekat dengan Kak Anita."
Keadaan sempat hening beberapa detik hingga pada akhirnya Zaferino mengangguk.
"Yah, okelah. Lanjutin dulu deh. Nanti baru kita diskusi lagi."
Cindy pun segera menunjukkan foto kedua. Di dalam foto tersebut terdapat seorang laki-laki yang sedang duduk di atas motor dengan memakai kacamata hitam, badan yang dibalut jaket kulit, celana lepis, dan sepatu boot. Lagi-lagi Cindy mendapatkan foto tersebut dari sosial medianya.
"Tersangka kedua, Bang Gery. Kayak yang kita semua tau, Bang Gery itu ketua gengnya Kak Anita. Bersumber dari Kak Farah, katanya Bang Gery pernah kelihatan nampar Kak Anita di halaman belakang sekolah. Kejadiannya sekitar tiga bulan yang lalu sih. Alasannya gak tau karena apa. Tapi orang terdekat mereka ada yang bocorin kalau mereka tuh ternyata punya bisnis ilegal."
"Bisnis ilegal? Apaan?" Tanya Zaferino refleks mengernyitkan dahinya karena baru mendengar hal ini untuk pertama kalinya.
"Prostitusi."
Mereka semua tampak terkejut ketika mendengar jawaban dari Cindy barusan.
"Serius lo?"
"Serius! Tapi gak berjalan lancar karena Kak Anita sering hilang-hilangan. Hubungan Bang Gery sama Kak Anita jadi agak kacau karena itu. Ditambah lagi kalian semua tau kan kalau Bang Gery orangnya emang temperamen dan kasar banget? Inget gak waktu dia pernah berantem sama guru? Dari situ aja kita bisa tau kalau tabiatnya jelek parah."
"Terus kenapa bukan Bang Gery yang lo jadiin tersangka utama?" Tanya Zaferino.
"Iya, menurut gue Bang Gery lebih cocok," sahut Fathan.
"Kalau emang bener alasannya kayak gitu, iya sih. Bang Gery lebih pas untuk dijadiin tersangka utama," ujar Dafin ikut-ikutan.
"Alasan gue gak jadiin Bang Gery tersangka utama adalah feeling gue lebih kuat ke Bang Arjuno. Karena dari perawakannya kan mereka berdua beda banget nih. Nah yang gue liat hari itu, lebih cocok ke Bang Arjuno."
Walaupun Cindy lupa-lupa ingat, tapi ia yakin sekali kalau dilihat dari bentuk tubuh, laki-laki tersebut bukanlah Gery. Karena tubuh Gery itu besar dan tingginya juga menjulang.
"Oh iya juga. Bang Gery lebih berotot ya."
"Ya udah, lanjut dulu deh."
Cindy pun membuka foto ketiga.
"Nah, tersangka ketiga adalah Bang Kevin."
Mereka semua tampak bingung saat melihat foto seseorang yang sangat-sangat tidak mungkin terlibat dalam hal ini.
"Kok?"
"Gue gak pernah liat Bang Kevin deket sama Kak Anita. Apalagi reputasi Bang Kevin selama ini selalu baik. Dia juga mantan ketua osis lho, kalau lo lupa," ujar Zaferino lagi-lagi menunjukkan ketidakpercayaannya.
Cindy menarik napasnya sejenak. Ia tahu bahwa Zaferino orangnya memang sulit untuk diajak kerja sama. Kalau menurutnya tidak masuk akal, maka tanpa basa-basi ia akan menolak mentah-mentah. Atau menyerangnya seperti sekarang.
"Gue tadinya juga mempertanyakan hal yang sama. Kenapa bisa Bang Kevin ikut jadi tersangka? Tapi setelah dengar dari Kak Farah, ternyata Bang Kevin pernah minta Kak Anita jadi pacarnya. Itulah kenapa gue yakin banget dia bisa masuk ke dalam jajaran tersangka ini," jelas Cindy.
"Yang bener lo?" Tanya Fathan semakin terkejut. Pasalnya ia cukup dekat dengan Kevin. Tapi tak pernah sekalipun ia mendengar Kevin membahas tentang Anita.
"Iya, Bang Kevin sempat nembak Kak Anita setelah Kak Anita putus dari bang Arjuno. Kaget kan? Tapi yang lebih ngagetin lagi apa coba? Kak Anita nolak. Lebih milih nerima Bang Angga waktu itu."
Cindy dan Sania saling bertatapan sejenak lalu mereka langsung mengalihkannya ke arah lain.
"Kak Farah juga bilang kalau Bang Kevin galau banget karena itu. Sering ngejar-ngejar Kak Anita juga, sampe neror di semua sosial medianya. Sering dateng tiba-tiba ke rumah Kak Anita. Semacam obsesi gitu deh sama Kak Anita. Walaupun itu cuma berlangsung selama satu bulan doang," lanjut Cindy.
"Masa iya?" Rasanya Fathan masih sulit untuk percaya.
"Biasanya orang yang keliatan baik kek gini yang ternyata pelakunya," kata Dafin sambil menyenderkan punggungnya ke sofa di belakangnya. Sejujurnya ia agak pegal sedari tadi karena harus mendongak untuk menatap Cindy.
"Yah, masuk akal sih," kata Zaferino setelah terdiam lama. "Lanjut. Siapa tersangka terakhir?"
Cindy kembali menatap Sania sejenak. Ia ragu untuk menunjukkan foto keempat. Namun ia langsung meyakinkan dirinya dan mulai membalikkan foto tersebut.
"Bang Angga?" Sania langsung menatap tajam ke arah Cindy.
"Sebelumnya gue minta maaf banget, San. Tapi gue terpaksa masukin Bang Angga sebagai tersangka," kata Cindy seketika merasa tak enak.
"Apa alasannya?" Tanya Sania yang jelas sekali terlihat tidak suka.
"Kak Farah bilang di hari kejadian, waktu pulang sekolah, Bang Angga tiba-tiba datang ke kelas untuk nemuin Kak Anita," jawab Cindy yang membuat mereka semua terdiam. Baik Zaferino, Fathan, dan Dafin tak ada yang mau berkomentar. Mereka juga bingung harus melakukan apa demi menyelamatkan keadaan yang tegang saat ini.
"Tapi bukan berarti bang Angga pelakunya kan?"
"Gak tau juga, San. Ini makanya kita harus selidikin bareng-bareng."
Hening. Sania terdiam cukup lama sebelum akhirnya ia memutuskan untuk berdiri.
"Kayaknya gue harus pulang deh. Sorry, Cin. Kita bahas ini lain kali aja." Sania langsung mengambil tasnya yang berada di atas sofa lalu mulai berjalan keluar dari rumah Cindy.
Cindy menatap nanar kepergian Sania. Seketika ia merasa dilema apakah ini tindakan yang benar atau tidak. Tapi seharusnya Sania bisa cukup dewasa untuk diajak kerja sama.
"Hm... gimana ya?" Suara Zaferino akhirnya memecahkan keheningan.
"Sebenarnya Bang Angga itu tersangka utamanya. Tapi gue sengaja taruh dia paling terakhir karena gue tau Sania bakal kayak gini," kata Cindy sambil merubah posisinya menjadi duduk karena tiba-tiba saja ia merasa lemas.
"Kenapa Bang Angga bisa jadi tersangka utama, Cin?" tanya Fathan bingung.
"Karena laki-laki yang gue liat waktu itu, bener-bener persis kayak Bang Angga. Gue berharap banget Bang Angga bukan pelakunya, tapi ..." Cindy menunduk. Ia sama sekali tak ada niat untuk menyakiti Sania. Tapi bukan berarti ia harus diam saja tentang hal ini.
"Iya, gue ngerti kok maksud lo." Dafin pun mendekat pada Cindy dan merangkul bahunya.
"Gue rasa untuk sekarang kita selidikin Bang Arjuno, Bang Gery, sama Bang Kevin aja dulu. Nanti kalau ternyata mereka bertiga bukan pelakunya, baru deh kita selidikin Bang Angga," ujar Zaferino setelah berpikir cukup lama untuk memberikan usul terbaik bagi mereka semua.
"Oke."
"Kita harus mulai darimana?" Tanya Cindy seketika bingung. Walaupun ini semua terjadi karena keinginannya, tapi ia sama sekali tak punya ide untuk bertindak lebih jauh lagi.
"Bang Arjuno kayaknya lo aja yang handle, Cin."
"Kenapa Cindy?" Protes Dafin langsung pada Zaferino.
"Ya biar Cindy bisa pura-pura deketin Bang Arjuno terus buat dia percaya untuk cerita semuanya tentang Kak Anita."
Berbeda dengan Dafin, Cindy menyetujui perintah Zaferino.
"Oke. Gue siap kok."
Dafin tampak cemberut. Ia tak rela Cindy dekat-dekat dengan Arjuno.
"Lo lumayan kenal sama Bang Gery kan, Pin?" Kali ini Zaferino bertanya pada Dafin.
"Kenal apaan. Tiap ketemu gue, dia minta duit mulu," kata Dafin dengan raut wajah kesal. Kabar Dafin 'si anak sultan' memang sudah tersebar luas di sekolah. Itulah mengapa orang-orang brengsek seperti Gery suka mengincarnya untuk memoroti uangnya dengan alasan demi keamanan.
"Ya tapi setimpal lah dengan lo yang gak pernah dipalak sama abang kelas selain dia," sahut Fathan sambil tertawa meledek.
"Nah iya. Pokoknya gue percayain Bang Gery ke lo," kata Zaferino yang tak bisa dibantah.
Cindy menepuk bahu Dafin untuk memberikannya semangat.
Dafin pun mau tak mau mengangguk. "Ya udah, ntar gue cari cara deh."
"Nah lo, lo bagiannya bang Kevin karena kalian sama-sama mantan osis kan," kata Zaferino pada Fathan.
Tanpa protes, Fathan langsung menyetujuinya. "Oke."
"Tapi untuk sekarang kita biarin Cindy aja dulu yang kerja. Kalau ternyata Bang Arjuno bukan pelakunya, baru deh lanjut ke Bang Gery. Karena takutnya kalau kita selidikin mereka bareng-bareng, bakal nimbulin kecurigaan," jelas Zaferino yang entah sejak kapan posisinya berubah menjadi ketua tim. "Setuju kan?"
"Setuju!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 55 Episodes
Comments
Reksa Nanta
belajar pungli sejak dini
2025-03-18
0