Sebulan kemudian tiba saatnya pelaksanaan pernikahan, karena acara pernikahan itu pertama kalinya di adakan dalam keluarga pak Salman maka acara di laksanakan secara besar-besaran, seluruh keluarga besar di undang, tak ketinggalan para pejabat terkenal di desa sampai kotapun turut menghadiri pesta.
Sepanjang berlangsungnya pesta Ditha hanya diam dan menurut saja, beberapa hari dari sebelum dan sampai hari itu dia persis seperti boneka mainan yang bodoh tak punya kuasa apapun.
Warga desa pun di undang tanpa kecuali keluarga pak Sudarmono, ada sepasang mata yang memandang ke arah Ditha tanpa berkedip dengan hati yang kecewa.
'Harusnya aku yang berada di samping mu Tha.' bathinya.
Bu Laila menyenggol lengan Aryo, memberi tanda bahwa ia jangan bersikap seperti itu, Aryo sadar kemudian menunduk kan pandangannya sambil menghela nafas.
Seperti biasanya perjodohan kedua pengantin tampak dingin tanpa ekspresi, sesekali orang tua mereka mengingatkan agar mereka tersenyum.
Ya.. merekapun tersenyum tapi tampak bukan senyuman bahagia.
Di sudut ruang pesta ada lagi sepasang mata yang memandang tak suka, dia adalah kekasih dari Lando, tatapan sinis dan kecewa terhadap kedua keluarga yang berada di pelaminan.
Saat akan melangkahkan kaki kepelaminan dan ingin menyalami pengantin iapun mendapat peringatan dari orang tua Lando.
"Hendak kemana kau Afi?"
"Aku ingin mengucapkan selamat pada mempelai tante..om.."
"Jangan membuat acaraku berantakan Afi!!"
"Iya om." jawabnya sambil menunduk, dalam hatinya ia ta akan membuat onar karena Lando berjanji tak akan meninggalkan nya walaupun sudah menikah.
Sambil berjalan ke arah mempelai, ia memasang wajah manis nya, spontan memeluk mempelai pria dan berbisik.
"Aku tunggu malam nanti sayang."
"Hhmmmh." sahut Lando tersenyum.
Setelah melepaskan pelukannya dia berjalan ke arah Ditha.
"Haaai...Selamat yaaa, perkenalkan aku Afi kekasih Lando.."ucapnya sambil memeluk Ditha dan kemudian berbisik. "Kau tahu peranmu dalam hidup Lando kan? Jangan coba-coba membuat Lando jatuh ke pelukan mu ya!!"
"He eehm...kau tenang saja, pun sama dengan mu, pastikan Lando tidak mengganggu hidupku, kami sudah membuat perjanjian. " bisik Ditha menegaskan.
" Oh begitu, baguslah!" sahut Afi tersenyum senang, kemudian ia berjalan ke arah pak Salman dan bu Silma.
"Selamat om...nte...."
"Ya terimakasih, siapa kamu?"
"Aku Afi om...anak pak Harlan dan bu Ira.."
Mendengar nama itu pak Salman terkejut.
"Af....Afi?"
"Iya om.."jawab Afi sinis.
"Ada apa pah?"
"Ah..oh..tak apa-apa, kenalkan dia Afi anak salah satu relasiku mah."
"Oh ya Afi apa kabar orang tuamu, sudah kembali dari Berlin? lanjut pak Salman menghilangkan keterkejutan nya.
"Belum om, mungkin segera karena mereka juga mendengar kabar pernikahan Lando." ujar Afi menatap tajam pada pak Salman.
Ada apakah gerangan???
"Oh..oh iya kabari om kalau mereka datang ya, om ingin membicarakan sesuatu."
"Baik om, aku atur nanti."
"Oke..terimakasih."
"Afi langsung pamit om."
"Iya, hati-hati dijalan ya."
"Hhmm..."sahut Afi pendek.
Afi pun pergi meninggalkan pesta dengan senyuman liciknya.
' Kau akan jatuh om Salman, kau ingkar akan janjimu.' bathin Afi.
Aryopun melihat keberadaan Afi dalam acara itu, ia mengenal siapa Afi hanya saja dia tak tahu persis hubungan Afi dengan keluarga pak Salman.
'Ada bahaya mengincar mereka. Aku harus terus memantau hidup Ditha, akan ku pastikan Ditha tidak dalam masalah, karena nyawanya bisa saja terancam'. bathin Aryo sambil memperhatikan Afi yang berlalu meninggalkan pesta.
Di luar acara setelah agak jauh Afi mengendarai mobilnya sejenak berhenti dia di perbatasan desa, karena sedari tadi gawainya tak berhenti bergetar, ia lihat siapa yang menelponnya, ternyata dari nomor yang tidak ia kenal.
"Ya Halo?"
"Halo ini Afi? ya benar, dengan siapa ini?"
"Ini om Salman Fi, maaf om minta nomor kontak mu dari om Rinto, kau dimana?"
"Masih di sekitar perbatasan desa om."
"Afi, apa kau ada waktu, bila tak terburu-buru om ingin bicara."
"Belum tau om, Afi lelah mau mencari penginapan dulu."ujar Afi berbohong karena sebenarnya ia sudah janjian dengan Lando.
"Kau menginap saja dulu di villa punya om, Afi."
"Dimana villanya om biar Afi langsung kesana" jawab Afi tersenyum, Buaya tua terjebak pikirnya.
"Oh dari perbatasan itu lurus saja kurang lebih 300 meter lagi ada persimpangan jalan, kau ambil arah kanan, setelah itu kamu lihat di kiri jalan ada gapura Villa Flamboyan Permai, masuk saja, om akan beritahu penjaga dan pelayan untuk menerimamu."
"Hhmmmm...baik om, Afi langsung kesana."
"Oke kau istirahat saja dulu, malam nanti om susul ke sana."
"Ya om," telpon pun terputus dan Afi tersenyum culas.
"Hhmmm...antara Lando dan om Salman, siapa yaa? ah tangkap keduanya saja, lumayan mereka tak tahu bisnis papah lagi bangkrut, aku hisap saja darah kedua keluarga tajir melintir itu!! Hahaha...." ucapnya sendirian dalam mobil dan melanjutkan perjalanan menuju villa.
Setibanya di villa Afi pun di sambut penjaga dan pelayan di sana kemudian di antarkan ke salah satu kamar untuk beristirahat.
Didalam kamar Afi langsung tiduran sambil memegang gawainya untuk menelpon saudara kembarnya.
" Halo Fi! Ada apa? Bagaimana pesta pernikahan Lando? kamu tidak meninggalkan dia sendirian kan?"
"Heeeii tenang dulu, pacar bersama kita aman dari sentuhan istrinya hahaha...."
"Lantas kenapa kau menelpon?"
"Aku ada rencanaa malam ini dengan om Salman, tapi tadi aku juga janjian dengan Lando, bisa kau temui Lando? senang kan dirimu hehehe...."
"Ah beres lah itu, janjian di mana? "
"Villa milik Lando yang di perbatasan kota, kau langsung saja kesana, tunggu dia di sana."
"Okee, aku berangkat."
"Ingat bawa pengaman, jangan sampai hamil!!"
"Ah beres itu, aku juga tak mau hamil anak bajingan itu!"
"Hahaha kau ini, ingat usahakan kau bisa dapat uang dari Lando ya! Di tunggu papah uangnya."
"Bereees, aku tutup dulu."
"Oke." tut
Kembali ke pesta, setelah lumayan lama berada di dalam pesta pak Sudarmono dan keluarga pun pamit, naik ke pelaminan dan menyalami pak Rinto dan isterinya, lanjut ke mempelai.
"Selamat berbahagia Ditha." ucap pak Sudarmono.
"Selamat ya Ditha, selamat..." ucap Aryo pada Ditha dan tanpa menyebut nama Lando.
Lando merasa perna melihat Aryo, tapi entah dimana, ia menggeleng tau mau pusing memikirkan nya.
"Selamat Tha." ucap bu Laila sambil memeluk Ditha dengan erat. " Kau tetap menantu pilihan ku." bisik bu Laila.
"Do'akan Ditha ya bu." ucap Ditha sambil menahan sesak di dada nya.
Bu Laila merasakan pelukan ketakutan dari Ditha, mengurai pelukan ny dan menatap mata Ditha yang mulai berkaca-kaca.
Sambil memegang kedua pipi Ditha sambil memaksakan senyumannya.
Ditha pun tersenyum paham maksud bu Laila.
Keluarga pak Sudarmono lanjut menyalami pak Salman dan bu Silma kemudian berpamitan pulang.
Di dalam mobil Aryo menyetir dengan pelan mobilnya, bu Laila paham suasana hati anaknya.
"Ikhlaskan Yo, kalau memang jodohmu pasti kau dapatkan walaupun terlambat." ucap bu Silma sambil menepuk bahu anaknya dari kursi belakang.
"Ada apa toh ini? " tanya pak Sudarmono.
"Ya itu yah, Aryo suka Ditha."
"Kenapa gak bilang, kalau ayah tahu ayah lamar sebelum di nikahkan pak Salman, kasihan anak itu jadi korban keegoisan keluarga pak Derajat."
"Percuma yah, contohnya Afifah, sudah menikah dengan cucu pak Derajat tapi harus menerima dimadu dengan cucu ponakan pak Derajat yang lain, terima gak terima pernikahan antar sepupu tetap di laksanakan dan Afifah tak mendapat apa-apa dari pernikahannya."
"Ah iya aku lupa hal itu, tapi untuk Ditha kan berbeda bu, dia anak perempuan gak mungkin bersuami dua." ujar pak Sudarmono teringat pernikahan sepupunya dengan anggota keluarga pak Derajat.
Aryo hanya diam saja mendengar percakapan ayah bundanya dalam kepalanya berputar-putar memikirkan cara agar bisa memantau hidup Ditha dari jarak dekat.
Nb
mohon krisannya yaaaah
terimakasiiih.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 50 Episodes
Comments