Alvin begitu ketakutan sekaligus terkejut mendapati istrinya bisa mengendarai mobil lebih cepat dari dirinya. Berkali-kali Alvin dibuat tegang saat Aluna menyalip mobil di depannya. Jelas menyalip mobil saat suasana lalu lintas padat seperti ini bukan perkara mudah.
"Luna apa kamu sudah gila!" bentak Alvin ketika Aluna menambah kecepatan mobilnya lagi. Aluna yang sedang fokus menghiraukan ucapan Alvin kepadanya.
"Tuan, tolong hentikan Nona Luna. Ini diluar nalar, Lalu lintas sudah mulai padat lagi, kita tidak akan selamat, Tuan!" gerutu Helen ketakutan sambil terus berpegangan di kursi bagian belakang.
Perawat yang mengurus Nenek Alma memegang erat tubuh wanita tua itu agar tidak terguling. Hanya perawat yang mendukung Aluna dan memberitahu arah jalan yang harus ia lewati.
Lalu lintas di depan sudah mulai padat kembali, Aluna kembali menurunkan kecepatan mobilnya. "Tuan! Apa ada jalan lain menuju rumah sakit selain di depan?" tanya Aluna.
Alvin yang masih tercengang menghiraukan pertanyaan dari Aluna. Pria itu masih tidak percaya dengan kemampuan Aluna barusan dalam mengendarai mobil.
"Nona, saya mengetahui ada jalan lain menuju rumah sakit. Hanya saja jalan itu begitu sempit. Tepat di depan sebelah kanan ada gang yang sepertinya hanya bisa dilalui satu mobil" sahut perawat menyela pertanyaan Aluna kepada Alvin, Tuannya.
"Baiklah, apa gang itu yang kamu maksud?" ucap Aluna terus melajukan mobilnya mendekati belokan jalan yang diberitahukan perawat kepadanya. Perawat mengangguk mengiyakan.
Alvin yang masih duduk disebelah Aluna hanya bisa menepuk jidatnya karena kelakuan Aluna yang begitu nekat.
Mobil yang dikendarai Aluna sudah memasuki gang sempit menuju rumah sakit. Ternyata benar jalan itu hanya cukup di masuki satu mobil.
"Mustahil kamu bisa melaluinya, Nona Luna. Hentikan mobil ini!" ketus Helen semakin ketakutan.
Gang yang dilalui Aluna memang sangat sempit, Hanya bisa cukup satu mobil itupun harus secara hati-hati melewatinya mengingat banyak sekali lubang di jalanan yang masih belum beraspal itu.
"Lebih baik Anda berdoa, Nona. Daripada terus menggangguku dengan ocehan mu!" hardik Aluna masih fokus mengendarai.
Aluna memakai skill mengemudinya agar dapat melewati jalan sempit itu. Jalan yang begitu sempit dan hanya bisa dilalui satu mobil, diterobos Aluna dengan sangat cepat. Mobilnya dengan mulus melewati setiap belokan tanpa menyenggol atau membuat lecet mobil Alvin.
Seok ... seok ....
Mobil yang dikendarai Aluna melaju sangat cepat di jalan yang tidak mulus itu. Berkali-kali Aluna membunyikan klakson agar orang yang lewat meminggirkan tubuhnya.
Tin ... tin ... tin.
Helen berteriak sangat keras ketika mobil Aluna hampir saja menabrak anak kecil yang berjalan didepannya. "Nona, Anda tidak hanya bisa membuat kami celaka. Lihatlah gadis kecil itu sebentar lagi tertabrak mobil ini," ucap Helen marah. Ia masih memegang kursi yang sedang ia duduki. Mata Alvin membulat sempurna ketika sebentar lagi mobilnya menabrak anak kecil itu.
"Luna! Hentikan ...." teriak Alvin.
Ciiittt...
Hampir saja menabraknya, Aluna sudah mengerem mendadak mobilnya. Kemampuan Aluna sudah tidak bisa diragukan lagi.
Dengan gerakan cepat Aluna keluar dari dalam mobil kemudian memindahkan anak kecil itu agar segera minggir dari jalan yang akan dilaluinya.
"Adik kecil, jaga diri baik-baik," ucap Aluna seusai memindahkan anak kecil lalu masuk kembali kedalam mobilnya. Sementara Alvin masih tercengang melihat Aluna yang begitu tenang.
Luna? Aku baru tahu seperti ini dirimu! Batin Alvin.
Setelah kejadian itu, Aluna kembali melajukan lagi mobilnya. Ia tidak mau membuang banyak waktu.
Aluna kembali fokus mengemudi, "Pegang yang kencang! Karena aku akan menambah kecepatan lagi," serunya.
Pria yang duduk disebelahnya tak berhenti menggelengkan kepalanya melihat secara langsung skill mengemudi yang dimiliki istrinya.
Sekarang mobilnya sudah berhasil melewati jalan . Sebentar lagi Aluna telah sampai di rumah sakit berkat arahan dari perawat yang duduk di kursi belakang. Alvin mengecek jam di tangannya, Melihat waktu yang telah dilewati Aluna untuk sampai ke rumah sakit.
Ciiittt.
Lima menit kemudian, mobil Aluna telah sampai di rumah sakit. Aluna berhasil mengendarainya hanya memerlukan waktu 15 menit. Lebih cepat dari perkiraan Alvin yang akan sampai 40 menit.
Melihat kedatangan mobil Alvin, Pihak rumah sakit langsung bergegas berlari menghampiri. Dengan gerakan cepat petugas membawa Nenek Alma yang sudah kolaps ke dalam rumah sakit dan segera ditangani langsung dokter jantung yang telah dihubungi sebelumnya.
Alvin menarik paksa Aluna agar keluar dari kursi kemudi. "Keluar!" ketus Alvin dingin. Pria itu menatap tajam Aluna.
Tangannya tanpa sengaja masih menuntun wanita itu kedalam rumah sakit bersamanya.
"Darimana kamu belajar mengendarai mobil seperti itu?" tanya Alvin memojokkan Aluna di mobil.
Aluna tersenyum memperlihatkan giginya di depan Alvin. "Tentu saja dari seseorang!"
Pria itu menatap tajam Aluna, Kalau bukan sedang berada di rumah sakit, sudah jelas Alvin akan mencecar banyak pertanyaan kepada Aluna. "Ikut aku!" serunya sambil terus memegang tangan Aluna masuk ke dalam rumah sakit.
Alvin tidak tahu kalau Helen menatap tidak suka ke arahnya.
"Lepaskan tangan aku, Tuan!" seru Aluna melepaskan tangan Alvin. Ia tampak risih dengan kelakuan Alvin kepadanya.
Mereka bertiga sudah sampai di depan ruang IGD, Tempat Nenek Alma sedang diberikan tindakan. Alvin yang masih menyimpan banyak pertanyaan kepada Luna, segera ditepisnya mengingat ia lebih khawatir dengan keadaan neneknya.
Aluna duduk bersebelahan dengan Helen, Ia yang merasa berhasil membawa mobil itu dengan cepat, Ingin sekali meminta kartu bank yang dijanjikan Alvin kepadanya. Sayangnya melihat wajah khawatir Alvin, membuatnya urung memintanya.
Sebaiknya aku memintanya lain waktu saja. Batin Aluna.
Lima belas menit berlalu di lalui mereka dengan sama-sama diam. Akhirnya pintu IGD terbuka, Alvin segera menghampiri dokter yang baru keluar dari dalam.
"Tuan, Anda datang tepat pada waktunya. Pasien berhasil kami tolong," ucap Dokter kepada Alvin.
Alvin menarik nafas lega, ia tak bisa membayangkan bagaimana jadinya kalau neneknya sampai tidak selamat. Pria itu menatap Aluna yang masih duduk bersebelahan dengan Helen. Baru pertama kalinya Luna yang ia kenal dapat diandalkan.
Ternyata Luna benar-benar bisa diandalkan. Batin Alvin tersenyum tipis kearah Luna.
Aluna yang mendengar kabar Nenek Alma sudah selamat, begitu senang. Ia mendekati Alvin hendak menagih janji.
"Tuan, bukankah Anda telah berjanji akan memberikan satu kartu bank milik Anda." Aluna berdiri mendekati Alvin, Pria dengan tinggi 180 Cm itu.
Alvin menatap lekat wanita yang telah dinikahinya itu. Untuk pertama kalinya Aluna mendapati senyum dari bibir Alvin.
"Baiklah sesuai janjiku, aku akan memberikan kartu ini kepadamu, Luna!" ucap Alvin sembari menyodorkan kartu bank dari dompetnya.
Aluna meraih kartu bank itu begitu kegirangan. Sebentar lagi misinya akan terselesaikan. Aluna tidak tahu kalau Helen dari tadi tidak suka melihatnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 293 Episodes
Comments
ka intan
lanjutkan
2022-07-06
2
DNK • SLOTH SINN
next thor
2022-07-03
1
Lee
orang sakit jantung dibawa ke RS dengan kecepatan tinggi...
woooow apa jantung nya ga copot????🤭🤭
syukurlah ini adalah karangan author 😁😁😁
semangat Thor
2022-06-25
1