"Tuan, percayalah padaku!" desak Aluna memaksa, Ia berjalan di belakang Alvin yang terus menjauhinya. Semakin Aluna memaksa, ia semakin curiga terhadap istrinya.
Alvin merasa geram tak menoleh sedikit pun kepada Aluna.
Mana ada suami yang membiarkan istrinya memberikan uang sebanyak itu kepada pria lain!" Batin Alvin.
Pria itu masih berpikiran yang sama tentang Aluna. Dia tahu selama ini Luna yang dikenal bukan wanita yang hobi belanja atau menghamburkan uang untuk bersenang senang, kecuali kalau ia sedang dimanfaatkan oleh Devan.
"Tunggu!" seru Aluna menghentikan langkah Alvin yang akan menaiki tangga, Alvin yang dipanggil menoleh sejenak.
"Dasar pria pelit! Apa kamu seperti itu kepada istrimu! Lihat tubuhku saja sekurus ini, apa kamu masih tidak percaya kalau aku membutuhkan uang itu! Apa kamu tidak punya belas kasihan kepadaku dengan memberiku satu kartu bank saja milikmu. Bukankah kekayaanmu melebihi seratus miliar. Memberikan satu kartu saja begitu berat untuk istrimu!" teriak Aluna begitu keras.
Dalam pikiran Aluna, Alvin pasti memiliki banyak kartu bank, apa salahnya memberikan satu kartu saja yang bernilai jutaan kepada istrinya, Aluna tidak mengetahui kalau Alvin memiliki harta melebihi apa yang ada dalam pikirannya. Bahkan Aluna tidak tahu kalau satu kartu bank milik Alvin bisa lebih dari puluhan miliar. Jelas Alvin meragukan Aluna yang tiba-tiba meminta hal itu secara mendadak seperti ini.
Pria itu tetap menghiraukan Aluna yang terus berteriak di belakangnya, ia kembali berjalan menaiki tangga. Pernikahan mereka baru saja seumur jagung, Alvin masih tidak percaya kalau istrinya sudah melupakan mantan pacarnya. Terlebih pernikahan yang mereka lakukan bukan atas dasar cinta.
Tiba-tiba Kepala pelayan dan sekretaris Helen berteriak memanggil Alvin.
"Tuan muda! Tunggu, Tuan!" seru kepala pelayan berteriak keras. Sementara Helen di sampingnya berjalan menghampiri Alvin.
Alvin yang merasa dipanggil menoleh ke arah mereka berdua.
"Tuan, Nenek Alma terkena serangan jantung!" seru kepala pelayan perempuan itu. Napasnya memburu karena habis berlari.
Pria yang sedang menaiki tangga itu, dengan cepat berbalik arah menuruni tangga begitu mendengar neneknya terkena serangan jantung mendadak.
"Cepat panggilkan dokter keluarga!" sahut Alvin setengah berlari menuju kamar neneknya. Aluna yang tidak tahu apa-apa mengikuti mereka semua yang sedang panik.
Sekarang Mereka semua telah sampai di kamar Nenek Alma yang mendadak mengalami serangan jantung. Aluna mengikuti Alvin masuk ke dalam kamar Nenek Alma.
"Tuan, dokter keluarga sedang pergi keluar. Ia paling bisa sampai sini tiga puluh menit lagi," ucap seorang pelayan yang merawat neneknya. Untuk sementara Nenek Alma sedang dilakukan pertolongan pertama oleh seorang perawat pribadi. Hanya saja Nenek Alma harus cepat ditangani seorang dokter agar nyawanya bisa tertolong.
"Kenapa di saat penting seperti ini dokter malah keluar, panggilkan dokter lainnya!" seru Alvin tidak tega melihat kondisi neneknya yang hampir kolaps.
"Dokter lainnya juga sama tuan paling cepat sampai disini tiga puluh menit lagi!" ucap seorang pelayan.
Napas Nenek Alma mulai tidak beraturan. Perawat masih memberikan pertolongan pertama dengan mendorong bagian tengah dada Nenek Alma agar mudah bernapas. Perawat memantau pergerakan nafas wanita tua itu.
"Tuan, kita tidak bisa membiarkan Nenek Alma seperti ini terus, alat medis di rumah tidak memadai. Kalau kelamaan saya tidak yakin berhasil menolongnya," ucap perawat sambil terus memberikan pertolongan pertama kepada Nenek Alma.
Sekretaris Helen berdiri bersebelahan dengan Aluna yang tampak kebingungan.
"Kalau begitu kita harus bawa nenek ke rumah sakit," usul Aluna tidak tega melihat wajah pucat Nenek Alma.
"Tapi, Nona. Sekarang jalanan sudah sangat macet kemungkinan bisa sampai satu jam kita bisa sampai sana!" seru kepala pelayan.
Helen yang berada di sebelahnya memberi usul. "Jangan! Sebaiknya kita menunggu dokter, lagi pula ia sedang dalam perjalanan. Kalau kita menuju rumah sakit, bisa-bisa nyawa Nenek Alma tidak bisa tertolong karena terlalu lama di jalan," ucapnya.
Aluna mendekati Alvin. "Aku yang akan mengantarkan Nenek Alma sampai ke rumah sakit. Aku bisa pastikan kalau aku yang mengendarai mobil menuju rumah sakit tidak akan memakan waktu lebih dari dua puluh menit. Aku berjanji bisa melewatinya," ucapnya begitu yakin.
Gadis itu merasa tidak tega melihat kondisi Nenek Alma. Ia sangat yakin kalau kemampuan dirinya yang biasa mengendarai mobil balap bisa mengantar Nenek Alma lebih cepat dari perkiraan.
"Jangan membuat omong kosong di saat genting seperti ini. Dari sudut mana pun aku tidak percaya kalau kamu bisa mengantarkan nenek ke rumah sakit secepat itu," sembur Alvin meragukan Aluna.
"Nona, Anda jangan terlalu banyak mengkhayal. Mengendarai mobil pun Anda tak pernah. Bagaimana Anda bisa mengantar nenek dengan cepat," cibir Helen menggelengkan kepala.
"Aku setuju dengan usul Helen, sebaiknya kita menunggu dokter keluarga yang sedang dalam perjalanan," sahut Alvin memberi keputusan.
Aluna yang nampak tidak tega mendekati nenek Alma. "Nenek bertahanlah" ucapnya di telinga wanita tua itu.
Nenek Alma yang hampir kolaps masih sempat melihat Aluna, sebenarnya wanita tua itu tidak terlalu menyukai Luna yang dikenalnya karena perilaku keluarganya yang sombong.
Aluna membantu mendorong dada Nenek Alma bergantian dengan perawat yang mulai kelelahan. Aluna pernah sekali memberikan pertolongan pertama kepada orang yang terkena serangan jantung di dunia nyata.
Perawat kembali mendatangi Alvin yang sedang panik. "Tuan! Kita harus mengambil tindakan cepat. Mulut Nenek Alma sudah mulai keunguan. Kita harus cepat menolongnya sekarang!"
Alvin yang tampak panik bertambah panik saat Kepala pelayan mengabarinya kalau Dokter keluarga sedang terjebak macet di jalan.
"Tuan sepertinya dokter bisa lebih lama lagi di jalan! Apa yang harus kita lakukan?" tanya seorang pelayan ikut terbawa panik.
Semua orang yang berada di rumah itu semuanya panik. Sayangnya dokter keluarga yang biasanya selalu standby di rumah mendadak pergi karena ada urusan keluarga. Alvin tidak bisa berpikir jernih kala itu.
"Tuan, sebaiknya kita cepat bawa Nenek ke rumah sakit dari pada kita terus diam di sini!" usul Aluna kepada Alvin. Gadis itu masih terus memberikan pertolongan pertama kepada Nenek Alma.
Alvin yang mudah terpengaruh menyetujui apa yang disarankan Aluna. "Baiklah kita bawa nenek Alma ke rumah sakit. Cepat kita bawa nenek ke dalam mobil." Alvin memberi perintah kepada semua pelayan.
Semua penghuni rumah terlihat genting mempersiapkan kendaraan. Aluna yang mengerti cara memberi pertolongan pertama kepada nenek Alma ikut dibawa Alvin ke rumah sakit.
"Kamu ikut aku ke rumah sakit," seru Alvin kepada Aluna, bersama seorang perawat Aluna menemani nenek Alma ke rumah sakit.
Dengan gerakan cepat Nenek Alma yang diantar beberapa pelayan sudah sampai depan mobil dan memasukkannya ke dalam mobil bersama seorang perawat di belakang.
"Apa yang akan kamu lakukan di depan kemudi?" k
Alvin sangat marah ketika melihat Aluna yang sudah duduk di kursi kemudi.
###
Jangan lupa tinggalkan like dan komentarnya.
Terima kasih.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 293 Episodes
Comments
Nanik Lestari
Naif Oon apa bodoh, inginnya cepet keluar, tidak coba memahami karakternya dan kehidupan sikaraketer dinovel
2023-04-07
1
DNK • SLOTH SINN
next thor
2022-07-03
1
anime.wibu 😘
semangat nulisnya kak 💞
2022-03-17
1