Alvin menarik tubuh Aluna dari kursi kemudi. "Turun! Sekarang bukan saatnya bertingkah konyol!" teriak Alvin menyeret tubuh Aluna agar minggir, "turun atau aku tidak akan mengajakmu ke rumah sakit!"
Karena tidak ada pilihan lain akhirnya Aluna menurut. Sementara Helen sudah duduk manis di depan sebelah kemudi.
"Nona cantik, kursi ini diperuntukkan untuk nyonya Alvin. Pindah lah ke belakang atau aku akan menyeret Anda keluar." Aluna mempersilahkan Helen keluar.
Helen menatap sinis ke arah Aluna yang berani mengusirnya. Karena situasi sedang genting, Helen terpaksa pindah ke belakang dengan perasan dongkol kepada Aluna.
Jadi wanita ini sudah mulai berani menggeser tempatku! Bagaimana pun usahamu, Tetap saja Tuan Alvin akan memilihku. batin Helen.
Semua sudah dalam posisi masing-masing. Aluna sekarang tengah duduk di sebelah Alvin yang sudah menyalakan mesin dan mulai melajukan mobilnya.
"Rute yang paling cepat sedang mengalami kemacetan di depan. Sebaiknya aku harus mencari jalan lain agar menghindari kemacetan. Aku harus lebih cepat lagi sampai di rumah sakit karena jalan itu lebih jauh dibandingkan jalan utama," ucap Alvin pelan. Sebenarnya ia sedang berkata untuk dirinya sendiri namun Aluna telah mendengar semuanya.
"Kalau begitu laju kan dengan kecepatan tinggi agar kita lebih cepat sampai rumah sakit," jawab Aluna.
Helen bersama seorang perawat menemani Nenek Alma di belakang. Wanita itu tak menunjukkan empatinya sedikit pun terhadap Nenek Alma yang sudah mulai sekarat. Bahkan duduknya menjauhi Nenek Alma. Ia merasa risih menghadapi situasi seperti ini.
"Diamlah! Jangan banyak bicara aku sedang mengemudi! Perawat, tolong pegang nenek dengan erat aku akan melajukan mobil ini dengan kecepatan tinggi," seru Alvin yang sedang fokus mengemudi.
Alvin mengemudikan mobilnya dengan kecepatan 140 Km/jam. Kebetulan rute kedua yang dilaluinya sedikit sepi dari kendaraan, mobilnya bisa leluasa melaju ke jalan tanpa mengalami kemacetan.
"Tuan lebih cepat lagi! Kalau begini kita tidak akan cepat sampai." Aluna memberi saran.
Alvin yang sedang fokus menyetir mendengus kesal bisa-bisanya Luna secerewet itu dalam posisi genting seperti sekarang.
"Baiklah, aku akan menambah kecepatan lagi!" sahut Alvin menurut menambah kecepatan mobilnya menjadi 150 Km/jam. Itu sudah kecepatan tertinggi bagi seorang Alvin.
Aluna menoleh ke belakang melihat kondisi Nenek Alma yang semakin sekarat.
"Nenek bertahanlah!" ucap Aluna walaupun ia tak mengenal wanita itu. Melihat wanita tua yang sedang sekarang membuat jiwa sosial Aluna kembali muncul. Berkali-kali tangannya menyentuh tubuh wanita itu dari depan.
"Nona, napas nenek sudah mulai tidak beraturan!" jelas seorang perawat yang menemani Nenek Alma di belakang.
"Apa? Bertahanlah, Nek! sebentar lagi kita akan sampai di rumah sakit!" Aluna memberikan semangat hidup kepada Nenek Alma.
"Tuan, bisakah Anda lebih cepat lagi. Anda sangat lamban mengendarai mobil ini," seru Aluna kesal melihat cara mengemudi Alvin yang sangat lambat menurut pandangan ia yang seorang pembalap.
"Bisakah kamu diam, Hah! Kalau tidak tahu caranya mengemudi sebaiknya kamu diam atau kamu pindah ke belakang membantu perawat memberikan pertolongan pertama," sahut Alvin marah.
Helen yang di belakang ikut menimpali. "Tuan Muda benar, Nona. Kita sedang berada di jalan. Jangan sampai mengganggu konsentrasi Tuan Alvin yang sedang mengemudi. Bisa-bisa tidak hanya nyawa nenek yang melayang tetapi nyawa kita semua bisa dalam bahaya, mobil kita bisa celaka gara-gara Anda mengganggu konsentrasi."
"Nona, tolong jaga cara bicara Anda! Tidak akan terjadi apa-apa dengan nenek." Aluna bertambah kesal terlebih saat melihat cara Alvin mengendarai mobil.
"Tuan aku bisa mengendarai mobil ini lebih cepat dari Anda, percayalah padaku!" sahut Aluna meyakinkan.
Di depan lalu lintas sudah terlihat padat karena ada lampu merah yang memberhentikan para pengendara. Alvin memukul kemudi dengan kesal.
"Bagaimana aku bisa percaya kamu bisa mengendarai mobil ini, sementara surat ijin mengemudi saja kamu tidak memilikinya!" seru Alvin semakin kesal.
Aluna kembali meyakinkan Alvin agar percaya. "Benar, Tuan. Aku bisa mengemudikan mobil ini lebih cepat dari Anda. Apa Tuan tidak kasihan dengan nenek yang sedang sekarang. Ayolah berilah aku kesempatan mengemudikan mobil ini!" Gadis itu tidak tega dengan keadaan Nenek Alma yang semakin parah.
Alvin melihat iba ke arah neneknya, sebentar lagi lampu hijau akan menyala, Alvin yang tidak bisa berpikir jernih akhirnya menyetujui apa yang Aluna minta kepadanya.
"Apa kamu benar bisa mengemudikan mobil ini lebih cepat dari aku?" tanya Alvin menatap sinis Aluna.
Wanita itu tersenyum mengangguk. "Benar, Tuan. Aku sering melakukan balap liar. Aku pasti bisa lebih cepat dari tuan," sahut Aluna kembali meyakinkan.
Helen yang dari tadi di belakang tampak tidak setuju dengan keputusan Alvin. "Tuan Alvin! Apa Anda percaya dengan ucapan Nona Luna? Bahkan setiap keluar saja ia selalu didampingi sopir. Bagaimana mungkin nona Luna pernah menjadi seorang pembalap liar. Apa yang Anda maksud itu di dunia mimpi. Anda jangan gegabah, Nona. Karena ini membahayakan nyawa kita semua."
"Tentu aku bisa, kalau tidak percaya lihat saja! Tuan minggir lah karena lampu hijau bentar lagi akan menyala, kita harus cepat bertukar posisi," ujar Aluna.
Alvin lalu pindah dari kursi kemudi ke sebelahnya, Sementara sekarang Aluna sudah duduk di kursi kemudi. Alvin masih tidak percaya dengan kemampuan istrinya. Menurut Alvin, kalaupun Luna bisa mengemudi, pasti di bawah standar dirinya.
"Baiklah aku akan membiarkan kamu mengemudi sekarang. Tapi ada hukuman yang harus kamu Terima apabila melanggarnya," ucap Alvin yang duduk di sebelah Aluna.
"Kalau sampai terjadi apa-apa dengan nenek, Aku akan menyalahkan mu! Jantungmu akan jadi taruhannya. Tapi kalau kamu bisa melewatinya, Maka aku akan memberikan satu kartu bank milikku kepadamu, apa kamu mau? Peraturannya dimulai saat lampu sudah hijau,” kata Alvin.
Aluna mengangguk menerima tantangan Alvin. Wanita yang sangat menyukai tantangan itu berjabat tangan Alvin pertanda setuju. Sementara Helen yang duduk di belakang mulai ketakutan saat Aluna sudah duduk di posisi kemudi.
"Tuan, apa Anda yakin dia akan bisa mengendarai mobil?" tanya Helen tidak percaya.
"Kita lihat saja! Kalau dia tidak bisa mengendarai mobil aku akan dorong wanita berisik ini keluar dari dalam mobilku!" seru Alvin.
Sebelum lampu hijau nyala, Aluna sempat meregangkan tangannya agar tidak kaku saat mengemudi, Ia sudah siap mengemudikan mobil sekarang.
Lampu hijau sudah menyala, beberapa mobil di depannya mulai maju satu persatu, kini giliran mobilnya yang berjalan.
"Perawat tolong pegang erat nenek agar tidak terjatuh," teriak Aluna dengan lantang.
Mobil yang masih dalam mesin hidup mulai ia jalankan, karena masih di sekitar lampu merah, Mobil Aluna masih lambat.
Aluna mulai menaikkan kecepatan mobil itu menjadi 180 Km/jam. Alvin yang melihat itu mulai merasa takut dan menyesal memberikan ijin istrinya mengemudi.
"Aluna, apa kamu ingin membuat mati kami semua dengan kecepatan setinggi itu?"
Namun, belum sempat menjawab, mobil Aluna sudah melesat dengan sangat cepat.
"Lunaaaa!"
###
Jangan lupa tinggalkan like dan komentarnya.
Terima kasih.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 293 Episodes
Comments
DNK • SLOTH SINN
next
2022-07-03
1
momy ida
berasa naek rool koster kan lo semua🤣🤣🤣
2022-04-17
2
Reri Rofiana
bisa2 harus nenek nya yg mati duluan gara2 kaget luna naik mobil nya bak angin lalu wussss🤣
2022-03-31
4