Aluna memandangi ruangan di sekelilingnya. Ruangan itu lebih mirip seperti istana bagi Aluna. Baru sekarang ia menginjakkan kaki di ruangan semegah ini.
Aluna kembali mengingat lagi kapan terakhir kalinya ia sebelum berada di ruangan ini.
Bukankah terakhir aku sedang berada di Arena balap mobil liar? Kenapa tiba-tiba aku berada disini? Siapa yang membawaku kesini? Batin Aluna.
Banyak pertanyaan di benak Aluna, Di depannya masih berdiri gadis yang mukanya mirip sekali dengan Ara, adiknya.
"Ara, Apa kamu sudah sembuh?" tanya Aluna sambil terus memandangi wajah Helen di depannya.
"Siapa Ara? Beraninya kamu memanggilku dengan nama itu!" ketus Helen marah.
"Ara!" ucap Aluna sambil memegang lengan Helen. "Aku yakin kamu Ara, siapa yang membawa kita kesini?"
"Sudah gila rupanya kamu, lepaskan! Jangan sentuh aku! Aku bukan Ara." Helen mencoba menarik lengannya.
Terjadi tarik menarik antara Aluna dan Helen. "Aku kakakmu, Ara! Apa kamu mengalami amnesia?" Aluna mencoba meyakinkan Helen.
"Sudah aku bilang. Aku bukan Ara!"
Helen yang mencoba menarik tangannya akhirnya terjatuh karena Aluna mendadak melepas lengannya.
Suaranya sangat berbeda, mungkin benar dia bukan Ara, batin Aluna.
"Maaf sepertinya aku salah orang! Karena wajahmu sangat mirip dengan Ara, adikku!"
"Aduh!" seru Helen kesakitan karena tubuhnya terjatuh dilantai.
Tiba-tiba dari luar seorang pria masuk ke kamar. Dengan tatapan dingin, pria itu berjalan ke arah mereka.
"Apa yang sedang kalian lakukan?" Seorang pria mengagetkan mereka berdua.
"Tuan Alvin!" sahut Helen sambil mengelus lengannya.
Helen langsung berjalan mendekati Alvin, pria tampan yang sedang berdiri di hadapan mereka berdua.
Aluna yang masih kebingungan memandangi Helen dan Alvin secara bergantian. Dalam benak Aluna, pria di depannya sangat tampan bagaikan seorang pangeran. Wajah dan tubuhnya mendekati nilai sempurna untuk seorang laki-laki. Baru kali ini dia melihat pria setampan itu dalam hidupnya.
Aluna menatap takjub sosok pria yang berdiri di hadapannya.
Tampan sekali, gumam Aluna.
"Kau! Setelah membuat kekacauan kemarin! Sekarang kamu berani berulah lagi!" Hardik pria tampan itu kepada Aluna.
Bukannya takut, Aluna malah terus menatap matanya. Sementara Helen masih berada di sebelah Alvin.
"Lihat istri Anda, Tuan! Sudah jam segini dia baru bangun dari tidurnya. Sepertinya tadi malam Nona Luna telah melewatkan malam yang panas bersama Devan." Adu Helen kepada Alvin.
Alvin menatap marah Aluna yang sedang berdiri memandangnya.
Dengan sangat emosi Alvin memegang kasar dagu Aluna. "Wanita murahan! Beraninya kamu mengkhianati ku! Kamu kira kamu adalah wanita istimewa untukku, Hah!"
Aluna tidak mengerti apa maksud dari ucapan pria di depannya. Aluna masih terus memandang takjub pria itu walaupun sekarang dagunya sedang dicengkeram kasar oleh tangan Alvin.
Sangat tampan! Batin Aluna.
Alvin balik menatap Aluna.
Kenapa cara dia menatapku tidak seperti biasanya? batin Alvin di dalam hati.
"Tanda tangani surat perceraian kita, aku tidak sudi wanita murahan sepertimu masih menjadi istriku!" ketus Alvin.
Alvin lalu memberikan kertas di tangan kirinya ke tangan Aluna. "Tanda tangani sekarang aku akan memberimu uang senilai 113 miliar sebagai kompensasi perceraian kita," ucapnya sambil menatap tajam Aluna.
Sudah dua kali ini Alvin menyuruh Luna agar mau bercerai dengannya. Surat cerai pertama tidak berhasil ditandatanganinya dengan alasan karena Luna masih mencintainya.
Pernikahan mereka didasari karena perjodohan keluarga mereka berdua. Luna seorang gadis lugu pemalu dan tidak berani membantah suaminya, selalu tunduk setiap Alvin memarahinya. Luna yang mudah menangis selalu menuruti perkataan Alvin dengan alasan dia masih mencintai Alvin, walaupun Alvin sampai sekarang belum pernah mengatakan cinta kepadanya sekali pun.
"Apa? se-seratus ti-tiga belas miliar?"
Jumlah yang sangat besar bagi Aluna. Jangankan memegang uang sebesar itu, mengatakannya saja membuatnya gugup menyebutkan nilainya.
"Yah! Aku tidak suka dengan wanita yang sudah pernah tidur dengan laki-laki lain. Sekarang tanda tangani surat perceraian kita. Aku akan berikan 113 miliar untukmu!" ketus Alvin lagi.
Aluna kembali melihat kertas di tangannya dengan sangat takjub. Pria di depannya akan memberinya uang senilai 113 miliar dengan percuma.
"Benarkah kamu akan memberiku uang senilai 113 Miliar kepadaku?" tanya Aluna lagi masih tidak percaya.
Alvin tersenyum tipis menanggapi wanita di depannya.
"Nona Aluna, Tuan Alvin sudah mengatakannya tadi. Kenapa Anda lama sekali menandatanganinya?" Helen langsung memberikan bolpoin ke tangan Aluna.
Glek.
Aluna menelan ludahnya beberapa kali. Dia lalu menampar pipinya berulang kali meyakinkan kalau yang sedang dialaminya adalah nyata.
"Au!" teriak Aluna.
Ternyata sekarang adalah nyata, gumam Aluna.
"Baiklah, Tuan. Aku akan segera menandatangani surat ini. Di sebelah mana aku harus menandatanganinya?"
Aluna begitu takjub. Dengan memiliki uang sebanyak itu, dia bisa membayar biaya pengobatan adiknya di rumah sakit yang sudah menunggak.
Helen menunjuk di mana Aluna harus menandatangani berkas perceraiannya. Sedangkan Alvin masih yakin kalau wanita di depannya tidak akan menandatangani surat itu.
Aku yakin kamu keberatan lepas dariku, batin Alvin tersenyum tipis.
Dia yakin Aluna tidak akan tergiur dengan uang sebanyak itu mengingat ia adalah pewaris ketiga keluarga Hadinata yang memiliki kekayaan lebih dari satu triliun.
Nyatanya, dengan terburu-buru Aluna langsung menandatangani kertas itu. Ia begitu kegirangan.
"Keputusan Anda sangat tepat, Nona. Dengan Anda bercerai dengan Tuan Muda. Anda bisa leluasa berhubungan dengan Devan." Sindir Helen.
Perkataan Helen membuat Alvin berubah pikiran ketika mendengar nama "Devan" di telinganya.
"Apa? Jadi karena dia kamu mau bercerai dariku?" ketus Alvin marah.
Alvin masih tidak percaya, semudah itu Aluna menerima perceraiannya. Dia sangat tersinggung kenapa wanita itu begitu kegirangan sekarang.
"Kenapa kamu begitu senang bercerai denganku? Apa karena lelaki itu, Hah!" teriak Alvin keras.
Padahal Alvin menginginkan Aluna kembali memohon kepadanya agar tak di cerai olehnya.
"Tu-tuan, bukannya Anda menyuruhku menandatangani surat ini? Kenapa Anda malah memarahiku?" sahut Aluna bingung. Baru saja ia merasa senang mendadak kebingungan kembali.
Kertas yang berada di tangan Helen diambil paksa Alvin. Ia lalu menyobek kertas itu menjadi beberapa bagian.
Bret ... Bret.
"Aku tidak akan menceraikan mu kalau alasan lepas dariku karena Devan!"
Alvin membuang kertas itu didepan muka Aluna yang semakin kebingungan.
"Tuan? Aku tidak peduli Anda siapa! Sekarang mana uang yang kamu janjikan? Aku harus segera kembali menemui adikku yang sedang berada di rumah sakit," teriak Aluna menarik baju Alvin.
Alvin menatap tajam atas tindakan Aluna kepadanya.
"Sepertinya Nona Aluna terlalu banyak minum bersama Devan sehingga bicaranya ngelantur, Tuan!" Helen memanasi Alvin.
"Apa Anda benar yakin tidak ingin bercerai darinya?" tanya Helen lagi. Wanita itu merasa tidak senang dengan keputusan Alvin yang berubah.
Setiap mendengar nama Devan, Otak Alvin mendadak mendidih. "Berhentilah menyebut nama itu di depanku!"
Alvin mendekati Aluna yang masih terbengong.
"Mulai sekarang aku akan melarangmu keluar dari kamar ini! Aku tidak akan memberimu ijin keluar menemui siapa pun! Rasakan pembalasanku wanita murahan!" ketus Alvin mendorong tubuh Aluna ke kasur.
Bug.
Tubuh Aluna terhempas ke kasur. Tak ada perlakuan halus pun diterima Aluna saat itu. Wanita itu masih bingung dengan apa yang ia alami sekarang.
"Kunci dia di dalam kamar ini. Jangan biarkan dia keluar tanpa ijin ku!" ketus Alvin sambil berjalan keluar kamar diikuti Helen, Sekretaris pribadinya.
Brak.
Alvin menutup kamar lalu menguncinya.
"Berani-beraninya kamu mendorongku ke kasur," teriak Aluna berlari menuju pintu yang barusan tertutup.
Krek ... krek.
Berulang kali ia mencoba membuka pintu itu namun tetap tak bisa ia buka.
Tok ... tok... tok.
"Sebenarnya siapa kamu? Kenapa kamu mengunciku di dalam? Buka pintunya?" teriak Aluna keras.
###
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 293 Episodes
Comments
Marini W
kirain wanita kuat GX taunya bego lemot bgt
2024-12-05
0
Nanik Lestari
lemot bener
2023-04-07
0
Nanik Lestari
lemot
2023-04-07
0