...'Mengagumi adalah cara diriku untuk memandangmu. Menjadikanmu objek tak tergantikan, yang terus membuat pusat rotasi berada pada pesonamu.'...
...-Keevanzar Radityan Al-faruq-...
...BSJ 10 : Gadis Bercadar...
...****...
Mengagumi adalah rasa yang tak dapat di imbangi. Tak dapat di jabarkan dengan kata, maupun perumpama. Dirinya memikat bak dewi, penuh pesona yang menghanyutkan duniawi. Dirinya adalah malaikat di balik penutup syar'i. Teduh manik tenangnya menghanyutkan, dengan kedalaman tatapan yang tak terukurkan. Mengangumi baginya adalah rasa yang indah,mengingat jika cintanya telah terikat. Ini bukan soal rasa untuk memiliki yang hakiki. Ini soal rasa mengaguni yang tak tak dapat dipungkiri.
Dengan cara yang indah, tuhan memberinya lukisan takdir. Mempertemukan dua insan yang tanpa sadar menarik perhatian salah satunya. Tak pernah sadar, jika benang takdir telah mengikat, membuat keduanya terjerat lebih dalam dan erat. Inilah kisahnya, kekuatan takdir ikut andil di dalamnya. Membawa banyak lika-liku di dalamnya.
Langit gelap yang malam itu terlihat amat pekat. Tanpa hadirnya bulan, atau bintang yang ikut menyetai. Hanya sejumlah awan yang mengantung di atas sana, mengantarkan udara dingin sekaligus malam ini. Waktu sudah menunjukan pukul 20.20 menit lewat. Ketika gadis cantik berhijab syar'i itu menggoes sepeda miliknya. Melewati jalanan yang cukup sepi malam ini. Setelah menyelesaikan jadwal fiket dan rutinitasnya, gadis itu kini memilih kembali kerumah singgahnya. Tempatnya tinggal, jika ia terlalu lelah untuk pulang kerumah orang tuanya.
Hingga tanpa di duga, dua orang pria menghadangnya di tengah jalan. Menganggunya tepat di jalanan sepi, di dekat taman Reflesia yang malam ini juga terlihat sepi. Setenang mungkin, ia menghadapi kedua preman di hadapanya ini. Ia tidak takut, karena sudah sepatutnya sebagai seorang muslim ia hanya takut kepada tuhanya.
"Maaf bang, saya mau lewat."
Cicit gadis berpenutup wajah syar'i tersebut.
Tanpa mereka sadari, ada seorang pria yang tengah duduk sambil menghisap rokok di bangku taman. Menatap mereka acuh, lagi pula ia tidak ada hubunganya dengan mereka.
"Mau kemana sih dek, buru buru amat?"
Goda salah satu diantara kedua preman tersebut.
"Iya. Sini aja dulu, main bentar sama abang."
Lanjut yang satunya lagi, sambil bergerak hendak menarik lengan gadis di hadapanya. Tetapi gadis tersebut sudah terlebih dahulu menghindar.
"Jangan macam macam ya bang?" Ujar gadis bermanik hazel tersebut.
Ia bukanya takut akan gertakan kedua preman tersebut. Karena ya, dia punya kemampuan untuk menangani gertakan keduanya.
"Halah, jangan sok jual mahal neng. Zaman sekarang, banyak tuh cewek alim yang nyatanya munafik." Ujar preman tersebut sambil tertawa.
"Astagfirullah haladzim." Istigfar gadis tersebut.
"Udah, sini dulu lah." Ujar preman berambut ikal tersebut, sambil meraih pergelangan tangan gadis dihadapanya.
"Gak usah macem macem ya bang."
Ronta gadis tersebut. Ia meronta, karena salah satu preman itu sudah lancang mengenggam pergelangan tanganya.
"Sini aja, kita senang senang dulu."
"Iya, kita main dulu neng. Itung itung-"
Bugh
Belum sempat pria itu menyelesaikan ucapanya, sebuah bogeman telak sudah mengenai rahanya. Membuat sudut bibir pecah seketika.
"Sial*n, berani lo sama ge!" Murka preman tersebut.
Bugh
Lagi, pukulan telak itu mampir dirahang si preman. Pria yang tadi sudah beranjak, berniat untuk membantu karena rasa empatinya sebagai bentuk kemanusiaan, malah dibuat tercengang seketika. Dalam radius beberapa meter ia mematung, menatap ke arah si pelaku hantaman telak tersebut.
"Abang jangan macam macam. Saya gak suka cowok yang beraninya sama cewek, karena di anggap lemah." Ujarnya memperingati dengan nada suara tak kenal takutnya.
Ya, pelaku penghantaman tersebut adalah gadis bercadar. Gadis yang mereka ganggu tadi. Inilah akibatnya, saat meremehkan mahluk pendiam tanpa tahu jadi dirinya. 'Lindeuk, lindeuk japati' kata orang sunda mah. Seperti tidak bisa apa apa di balik kesantunanya, padahal memiliki ketangkasan yang sulit di taklukan.
"Sialan, berani lo nimpuk temen gue."
Ujar preman satunya lagi, saat melihat temanya sudah terkapar di atas aspal, tak sadarkan diri.
"Sini lo cewek sint*ng."
Murkanya, sambil mengarahkan bogemannya ke arah lawan bicaranya.
Bugh
Bugh
Dengan sikap tenang tapi tegas nan tangkas. Gadis itu mengelak pukulan lawannya, membalikkanya dengan mudah dengan pukulan di beberapa bagian tubuh yang ia ketahui ampuh. Ia mengammbil posisi perut kiri, juga totokan di urat sekitar leher. Hasilnya, pria lawan duelnya itu kini tak berkutik di tengah ringisanya.
Gadis cantik itu beristgfar, ia memang tidak seharusnya menyakiti orang lain. Tapi apa boleh buat, keadaan genting ini juga membuatnya harus mengambil tindakan tegas. Kedua preman itu sepertinya salah menganggu seorang gadis yang mereka anggap lemah. Siapa sangka, dibalik balutan syar'i nya yang membuatnya cenderung lebih terlihat lemah lembut, tersimpan kemampuan luar biasa. Pemegang sabuk hitam tingkat dua di cabang olahraga silat putri ini, memang bukan main skill-nya.
Belum lagi selain hobby hiking, mendaki gunung dan aktivitas ekstrim lainya, ia juga menguasai beberapa cabang olahraga beladiri lainya seperti muaithai, karate dan boxing bahkan panahan.
Subhanallah bukan, hobbynya ini sudah terlihat sejak kecil. Mengingat kakek dari ibu sambungnya-Sayla memiliki sebuah perguruan silat. Jadilah semenjak kecil dia mengikuti pelatihan disana. Terlahir sebagai gadis bermasalah pada organ jantung bawaan, tidak pernah menghambat dirinya dalam meraih cita cita. Baginya kelainan itu adalah acuan agar dirinya menjadi pribadi yang lebih baik, di balik kondisi kesehatannya yang buruk.
Awalnya sang ayah melarang putri kecilnya ini mengambil kegiatan berat seperti bela diri, mengingat kondisinya masih lemah dan terkadang labil. Namun seiring dengan berjalanya waktu, tubuh mungil yang dulunya rapuh itu mulai terbiasa dengan akivitas berat yang di lakukanya. Bahkan, sejak duduk di bangku sekolah dasar ia sering mendapatkan mendali emas jika mengikuti perlombaan beladiri, tepatnya silat kategori putri. Walaupun ya, terkadang sang ayah dan ibu sambungya harus rela putrinya itu akan drop di hari berikutnya.
"Maaf ya bang, habisnya abang gangguin saya tadi." Lirihnya pelan, sambil berjongkok didepan lawanya.
"A-ampun neng, kita kapok." Ringis pria yang terhir ia lawan.
Gadis itu menghela napas, sambil merogoh saku gamis yang dikenakanya.
"Ini bang, buat beli obat."
Ujarnya, sambil menyerahkan dua lembar uang pecahan seratus ribu.
"Eh, t-api neng-"
"Udah bang, terima aja. Sekalian sebagai tanda permintaan maaf saya." Ujarnya lembut.
Ia ikhlas memang memberikanya. Karena niat awalnya tidak ingin menyelesaikan semuanya dengan kekerasan.
"T-terimakasih neng."
Ujar preman tersebut, sambil berlalu membawa tubuh sahabatnya yang masih tak sadarkan diri.
Kedua preman itu sudah pergi. Dengan langkah pelan, gadis itu menghampiri sepedanya yang sedari tadi teronggok di samping jalan. Menaikinya, sebelum melajukanya kembali. Sadar akan kehadiran orang lain selain dirinya, gadis bermanik hazel itu menoleh. Menatap pria gagah walaupun ada luka lebam di sekujur wajahnya, yang tengah berdiri mematung beberapa meter darinya. Ia menghela napas kecil, pasti pria itu melihatnya sedari tadi. Pikirnya.
"Mari, mas."
Ujarnya ramah, sambil membunyikan lonceng di sepedanya. Sebelum berlalu, dengan goesan kecil di pedal sepeda miliknya. Meninggalkan pria yang masih mematung disana.
"Angel?!"
Gumam pria tampan itu tanpa sadar, setelah objek di hadapanya telah berlalu. Hilang di tikungan depan, tertutup oleh rimbunya pepohonan.
Entah mengapa, bibir kissable-nya spontan menggumamkan kata 'angel'. Mungkin karena saking terpukauanya oleh skill gadis yang sempat ia ragukan keberanianya tadi. Bahkan, ia juga hendak menolongnya tadi. Tetapi hasilnya, ia malah yang diberikan suprise.
Amazing pokoknya, melihat kepalan tangan mungil berbalut sarung tangan pink itu menghantamkan bogeman telak kearah pria yang bertubuh jauh lebih besar darinya. Bukan saja menarik perhatian dari balik kemahiranya, ternyata gadis itu juga berhati mulia. Tanpa sadar, sudut bibirnya terangkat. Membentuk sebuah senyuman tipis, dari kekaguman yang baru saja menyelimuti hati kecilnya.
Ah, dia harap bisa bertemu dengan gadis bercadar itu lagi. Jika Allah mengkehendaki tentunya.
****
"Yang mana ini?"
Dumel seorang pria tampan tersebut. Menatap penuh kebingungan kearah jejeran botol yang ia yakini antiseptic tersebut.
"Yang hijau atau yang biru?"
Bingungnya, sambil membandingkan dua botol kecil pembersih luka tersebut.
Niat awalnya dia ingin membiarkan luka luka yang bersarang di wajah rupawanya ini, namun ia mengurungkan niatnya. Akhirnya ia berhenti di Alfam*rt terdekat, untuk membeli beberapa cairan pembersih luka, kasa steril, dan juga kapas. Walaupun ia sendiri tidak hapal bentuk dari benda benda tersebut. Jika saja ia meminta bantuan kasir, ia pasti tidak akan mematung kebingungan seperti ini. Tapi sayang, ego menggunungnya mengalahkan niatnya.
"Bukan yang itu mas, yang botolnya hijau aja. Yang biru itu kadar alkoholnya tinggi."
Ujar suara lembut dari arah sampingnya menyela.
"Eh, mas yang tadi ya?" Cicit gadis berhijab syar'i tersebut kecil dari balik cadarnya.
Dia menatap pria di hadapanya kini terkejut, begitu juga dengan pria di hadapanya yang juga terlihat terkejut. Pria rupawan itu berdehem kecil, mengurai keterkejutan di antara wajah tampanya.
"Hm."
"Mau beli antiseptic mas?"
Tanyanya, melihat raut kebingungan di wajah rupawan yang penuh luka lebam tersebut.
"Masnya kenapa, bisa terluka begitu?"
Tanyanya lirih, sambil menatap jajaran rak berisi antiseptic dan beberapa cairan lainya.
"Berkelahi?" Tebaknya, karena si empunya tak kunjung menjawab.
"Hm."
Mendengar jawaban itu, gadis berhijab syar'i itu mengangguk. Kemudian meninggalkan pria yang masih berdiri di hadapanya itu, menuju meja kasih.
"Totalnya jadi 285 ribu dek." Ujar si mbak kasir ramah, padahal gadis di hadapanya itu bisa menebak jika usia mereka sebaya. Hanya saja Aurra yang tubuhnya mungil dan berwajah baby face serta bermanik hazel, selalu bisa mengelabuhi orang lain, tanpa sadar.
"Terimakasih, sampai jumpa lagi dek."
Ujar si mbak kasih tadi.
Sedangkan pria rupawan tadi untuk kesekian kalinya di buat termenung, karena belanjaanya di bayarkan sekalian oleh gadis tadi.
"Hey."
Panggilnya, sambil menyusul gadis di hadapanya yang tengah membuka pintu keluar.
"Biar lukanya saya obati mas, saya seorang dokter. Sudah kewajiban saya merawat seorang pasien." Ujarnya lembut, kembali membuat pria itu kagum akan suprise yang diberikanya.
"Itu rumah saya."
Tunjuknya kepada rumah kecil di sebrang jalan. Rumah singgah miliknya tepatnya.
"Biar saya obati sekalian sama luka lebamnya. Kalau di biarkan, besok bisa menjadi lebam."
Tuturnya, sambil menempelkan kompres berisi es batu.
Pria dihadapanya itu sedikit meringis. Di bawah pohon mangga, yang kala itu tengah berbunga. Tepat di depan rumah singgah si dokter berhijab syar'i tersebut, untuk kedua kalinya seorang Keevanzar Radityan Khutbie-di buat kagum dalam satu waktu bersamaan.
Dengan cekatan dan perlakuan lembutnya, gadis itu menolongnya. Mengobati luka robek di pelipisnya. Entah siapa dia, namanya pun Anzar lupa tanyakan hingga ia pamit undur diri dari sana. Yang ia yakini, menatap sejenak saja manik hazel teduh itu rasanya menenangkan. Seakan familiar dengan manik hazel cantiknya.
Setidaknya, ia sempat mengagumi gadis bercadar itu dalam satu kali pertemuan. Entahlah, mungkin nanti ada pertemuan berikut berikutnya lagi.
****
To Be Continue
Selamat sore readers😄😄
Hayoo.... Aku update lagi🤗🤗
Lagi happy buat update ini, jadinya ya semangat 45. Hayoo.... gimana buat part ini?
Ada yang mau komen?
Cusss, jangan lupa vote dan like ya😄😄
Sukabumi 22 April 2020
17.35
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 101 Episodes
Comments
Elya Abelya
Jika takdir bisa di ubah seenggaknya Van'ar sama Aurra aja;)
Bukannya apa laki² macam Anzar itu gak cocok banget buat Aurra
2020-09-16
5
Aishwarya Ray
Kasian van'ar.... 😢
2020-09-07
3
rosi
azzar bakal nyesel
2020-07-15
3