...'Banyak halangan rintang yang terbentang, namun rasanya aku tidak ingin menyerah begitu saja. Tapi, aku ingin berkata secara lantang bahwa aku siap mengadapi tantangan itu semua demi dirimu.'...
...-Keevan'ar Radityan Az-zzioi-...
...BSJ 15 : ☞Aye Aye Kapten☜...
...****...
Senja di ibu kota mulai memanggil, ketika sinar pertama tuk hari ini terbit. Dari ufuk timur sang surya hadir, mulai meninggi sesuai porosnya. Di sekitaran tenda posko bantuan, para relawan yang terdiri dari tenaga medis, mahasiswa, warga sipil dan pihak keamanan berkumpul. Sebelum kembali berjibaku dengan sisa sisa kekacauan yang masih tersisa, mereka kini berkumpul. Duduk lesehan sambil membentuk lingkaran, saling berhadapan diantara perbedaan warna dan bahasa tak jadi persoalan.
Sesiuk nasi putih dengan lauk sayur cah kangkung dan potongan telur dadar atau ada juga olahan sagu dan ikan masak kuah kuning yang menjadi menu sarapan istimewa di tengan perkumpulan mereka saat ini.Tawa dan canda mengiringi, hingga mereka beralih menyambut kedatangan satu tim tentara khusus. Mereka datang dari dalam hutan belantara, lengkap dengan berbagai atribut kamuflase mereka. Kedatangan mereka langsung di sambut sorak sorai gembira, beberapa teman teman sejawatnya ikut menyambut sambil bèrtos ria.
Aurra-gadis yang kini memakai pakaian syar'i yang tentu membuatnya mencolok diantara mereka. Menatap kearah segerombolan tentara yang baru saja ikut bergabung. Sebagian dari merekà langsung masuk ke posko kesehatan, sebagianya lagi masuk ke tenda yang memang diperuntukan untuk mereka.
Tim relawan dari rumah sakit tempat Aurra mengabdi, mengirimkan 10 orang tenaga medis jumlahnya. Terdiri dari 5 pria dan 5 wanita. Oleh karena itu, Aurra sendiri kini membantu mak mak disana memasak dan menyiapkan makanan.
"Dek, kau kasihkan ini pada abang abang tentara itu boleh?" Ujar salah satu wanita yang memang penduduk asli tempat mereka berada kini.
"Boleh" Ujar Aurra lembut.
Wanita berkulit gelap itu tersenyum, sebelum membiarkan nampan berisi makanan yang di bawanya berpindah tangan.
"Kau baik sekali nak" Ujarnya dengan suara khas masyarakat Indonesia timur.
Gadis itu tersenyum di balik penutup hijabnya sebelum berlalu membagikan sarapan kembali.
"Bang, kau tak tahu berita news pagi ini!"
Ujar salah seorang tentara, yang tengah duduk sambil membuka rompi yang di kenakanya tersebut.
"Apaan memangya?" Penasaran pria yang dipanggil tadi.
"Doni bilang, ada dokter cantik yang jadi relawan disini. Beta juga sudah lihat tadi!"
Ujarnya bangga, sambil membuka seragam TNI AD nya yang tinggal menyiksakan kaos berwarna hijau army berlengan pendek pas body.
"Relawan?"
"Iya bang, dari Jakarta katanya." Lanjut prajurit bernama Thomas Sigala Roberto tersebut.
"Dia cantik dan baik bang, cocoklah dengan engkau." Lanjutnya sambil menggoda pria yang di sebutnya abang tersebut.
"Ngawur kamu. Saya kan sudah punya istri di kampung." Ujar si lawan bicara-yang bernama Danial Ananta Regaswari tersebut.
"Hehe, lupa aku bang." Kekeh pria berkulit gelap yang lebih sering disapa Beta tersebut.
"Memang ceweknya kumaha atuh wajahnya?"
Celetuk pria lainya penasaran.
"Beuh, kalau kata Beta dia itu cantik luar biasa. Berhijab dan pakai penutup wajah."
Ujar Beta antusias.
Inilah mereka, di balik perangai tegas dan datar sebagai prajurit abdi negara, mereka juga memiliki sisi kemanusiaan lain seperti manusia pada umumnya. Contohnya ya, bergurau atau saling menggoda satu sama lain.
"Pakai cadar kitu?" Tanya pemuda yang sering dipanggil Ayan tersebut. Padahal nama aslinya Yandra Pangestu.
"Iya begitu maksud Beta. Cantik, namanya sesuai wajah dia. Walaupun dia punya hijab menutup hampir seluruh wajahnya, menyisakan tulang hidung dan kedua matanya. Tapi Beta yakin dia cantik sangat."
"Memang namanya siapa?" Tanya Danial.
"Cantik gitu, makanya di panggil cantik."
Lanjutnya.
"Bukanlah bang, tapi namanya itu Ra.... Ra.... Rara gitu deh bang. Beta juga lupa."
"Rara? Namanya Rara. Berarti auranya-"
"Nah itu bang namanya, Beta ingat sekarang!"
Sela Beta antusias.
"Siapa? Rara?" Bingung Danial.
"Bukan Au-auu apa tadi? Beta lupa?"
"Oh, namanya Aurra?"
"Nah itu bang, namanya Dokter Aurra."
Lanjut Beta meyakinkan, ia ingat jika orang orang di sana sering memanggil dokter itu dengan nama Aurra.
"Iya bang, dokter Aurra yang dari tadi Beta ingin kenalkan sama kau." Ujarnya sambil mengangguk kecil.
'Aurra?'
Tanpa mereka sadari, obrolan mereka itu tak luput dari pendengaran si kapten. Pria yang terlihat tengah duduk itu mengerutkan keningnya saat mencoba menelaah topik pembicaraan teman temanya saat ini. Pria tersebut di panggil Kapten karena acak kali menjadi leader, karena jiwa leadership yang dimiliknya tinggi.
'Dokter? Aurra? Jakarta?'
Bingungnya, apa benar itu nama yang sama dengan orang yang di kenalnya.
Apa mungkin gadis itu memang ada disini? Tapi tunggu dulu. Mustahil rasanya jika seorang calon pengantin berada di tempat berbahaya seperti tempat ini. Apalagi pernikahanya sudah terhitung sudah memasuki H-10 mènuju hari pucaknya. Ah, pria itu menggelengkan kepalanya kuat. Terlalu mustahil rasanya, hingga suara lembut melantun menganggu gendang telinganya.
"Assalamualaikum, maaf menganggu."
"Waalaikum salam. Tak ada dokter, tak menganggu." Ujar seorang pria mewakili.
Beta langsung senyum sumringah, menyambut datangnya dokter cantik yang baru saja ia bicarakan.
"Silahkan dokter Aurra, masuk saja." Ujarnya mempersilahkan.
"Ini, mamak Rout bilang sarapan ini utuk mas mas sekalian." Ujar sipemilik manik hazel tersebut, sambil menyerahkan nampan berisi nasi bungkus yang tadi dibawanya untuk di bagi bagi.
"Wah, sarapan ya?"
"Iya, silahkan dibagikan ke teman temanya mas." Ujarnya lembut,sambil menyodorkan bungkusan nasi tersebut.
"Jika ada yang terluka atau membutuh obat obatan, bisa langsung datang ke posko kesehatan. Nanti saya dan teman teman relawan lainya akan langsung membantu menangani bersama tim medis disini."
Lanjutnya, yang langsung di angguki oleh beberapa pria berseragam loreng tersebut.
Lain dengan pria berkaos hitam berlengan pendek, pas badan yang memperlihatkan tubuh atasnya yang terhiasi oleh otot bisep. Matanya tak lepas menatap sosok mungil yang tengah sibuk membagi bagikan nasi bungkus, tanpa beralih padanya. Ia berasa semua ini mimpi, tidak mungkin gadis itu ada disini. Tidak mungkin! Hingga suara familir yang lembut itu kembali mengalun indah di gendang telinganya. Membuat manik tajamnya bersirobak tanpa sengaja dengan manik hazel dihadapanya.
"Van'ar?"
Ini bukan halusinasi atau mimpi lagi, tetapi ini nyata. Tak peduli dengan tatapan penuh keterkejutan dari para kawan kawanya, atau siulan menggoda dari mereka. Pria itu langsung berdiri, meraih pergelangan tangan mungil yang tertutup lengan panjang gamis yang di kenanganya.
"Wah, Beta terkejut sangat!"
Lirih Beta sambil menepuk bahu Danial.
"Kamu kalah cepat sama si kapten." Ujar Danial sambil menyuapkan sesuap nasi kedalam mulutnya dengan syahdu.
"Iya, Beta tertinggal satu langkah."
"Sudahlah ini makan."
"Ini biar kamu kenyang atuh."
"Aye aye kapten!"
****
Keheningan melingkupi keduanya kini. Aurra sibuk sendiri menebak nebak, kenapa pria ini diam saja sedari tadi. Sedangkan pria di sampingnya terlihat tengah sibuk dengan berbagai pertanyaan yang hinggap di kepalanya. Kenapa gadis ini bisa ada disini?
Kenapa mereka harus bertemu ditempat ini?
Kenapa juga relawan tim medis itu harus dia?
Ah, Van'ar bingun sendiri dengan pertanyaan pertanyaan itu.
"Kamu kenapa narik aku kesini?" Tanya Aurra memecahkan keheningan.
"Van'ar?"
Panggilnya, karena siempunya tidak merespon perkataanya.
"Van'ar?!"
Panggilnya lagi, yang langsung berhasil membuyarkan lamunan pria muda di sampingnya.
"Van'ar, kamu baik baik saja kan?" Tanyanya cemas saat pria muda itu tak lagi merespon.
"Van'ar?"
"Ah-iya. Saya tidak apa apa mbak!" Ujarnya datar khas miliknya.
'Mbak?' Bingung Aurra dalam hati, bukanya mereka sudah setuju untuk memanggil dengan nama saja, tanpa embel embel apapun.
"Mbak kenapa ada disini?" Tanya Van'ar to the point.
"Saya?" Tujuk Aurra kepada dirinya sendiri. Pria gagah nan rupawan itu mengangguk.
"Saya di sini sebagai relawan. Atasan saya bilang, kehadiran saya sangat dibutuhkan disini." Ujarnya sambil menatap ilalang yang tumbuh subur di hadapan mereka.
"Rasa kemanusiaan itu adalah rasa mendasar yang memunculkan empati dan simpati seorang dokter ketika melihat seseorang terluka. Oleh karena itu saya ada disini."
"Sejak di bangku sekolah dasar, saya sudah menyukai dengan dunia kesehatan. Dari Sekolah Dasar pula, saya sudah mengikuti organisasi Palang Merah. Dari sanalah saya belajar mendalami 7 sifat Gerakan palang merah dan Bulan sabit merah internasional. Salah satunya
Humanity atau kemanusiaan." Ujarnya.
Humanity (Kemanusiaan) perhimpunan nasional berdasarkan keinginan untuk memberikan pertolongan tanpa membeda bedakan korban. Selain itu juga seorang tenaga medis selalu menjunjung tinggi nilai nilai kemanusian. Menerapkan empati dan simpati tanpa membeda bedakan pasien berdasarkan suku, ras, agama, ataupun bahasa.
"Jadi itu adalah alasan saya. Setiap ada lowongan untuk menjadi relawan tenaga medis, saya pasti mengajukan diri." Ujarnya sambil mengembangkan senyuman manisnya dibalik cadarnya.
Sebenarnya ia merasa akward dengan percakapan mereka kali ini yang cenderung kaku dan formal.
"Tapi, pernikahan mbak dan bang Anzar-"
Ujar Van'ar ragu melanjutkan ucapanya.
"Oh, nama kakakmu itu-Anzar?"
Tanya Aurra penasaran.
'Masa calon suami sendiri tidak tahu namanya?'
Batin Van'ar terkejut.
"Iya. Keevanzar Radityan Al-faruq. Itu nama abang-sekaligus calon suami mbak."
Ujarnya datar, walaupun ada gemercik tak nyaman di hatinya.
"Keevanzar Radityan Al-faruq. Saya jadi penasaran sama dia?" Cicitnya kecil, sambil melamunkan rupa sang calon suami.
Pria muda itu termenung, manik hitam tajamnya langsung menoleh .Apa jangan jangan?
"Mbak, belum pernah lihat calon suami mbak?"
**
To Be Continue
Selamat pagi readers🤗🤗
Pagi pagi yang lagi shaum gini masih semangat kan??
Nah hayoo, jadi gimana menurut kalian untuk part ini??
Jangan lupa vote, like dan komentar yang banyak yaaa😊😊
Biar aku semangat nulisnya😙😙
Sukabumi 27 April 2020
07.33
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 101 Episodes
Comments
chybie abi moetziy
❤❤❤❤❤
2020-11-27
2
👑☘ɴͪᴏͦᴠᷤɪͭᴛͤᴀᷝ💣
mhn maaf, tor... narasiNa bnyk malah ada bbrpa yg diulang jd bkin krg greget. satu episode jd berasa sangat sedikit. tp ide ceritaNa ok. trmksih y..
2020-08-23
3
Afrilho
ralat aurra dan vanar
2020-05-10
7