...'Rahasiakan pinanganmu, dan umumkan pernikahanmu.'...
...-HR.Thabrani-...
...BSJ 06 : Ada yang Pecah, tapi Bukan Kaca...
...****...
Semilir angin pagi, menyambut gadis berhijab syar'i tersebut. Dengan langkah ringan, ia menjawab setiap sapaan yang di lontarkan oleh teman teman sejawatnya kepada dirinya. Di balik penutup hijabnya, ada senandung kecil yang di lantunkanya di sepanjang jalan.
Sudah seminggu berlalu, semenjak khitbah tiba tiba tersebut. Aurra, gadis cantik itu sudah menerima segalanya dengan lapang dada. Lagi pula, keputusan itu mutlak diambil oleh dirinya sendiri. Tanpa ada campur tangan siapapun. Apapun konsekuensinya nanti, ia akan menghadapinya dengan ikhlas.
"Selamat pagi Dokter Aurra?" Sapa seorang dokter seusianya.
"Pagi Dokter Alana." Ucapnya lembut mejawab sapaan wanita cantik yang berprofesi sebagai dokter anak tersebut.
"Pagi pagi begini sudah kelihatan senang sekali. Ada apa ini?" Tanyanya penasara, sambil tersenyum penuh makna.
"Tidak ada apa apa dokter Alana." Ujarnya dengan nada bicara lembut khas miliknya.
"Benarkah? Jadi siapa gerangan lelaki beruntung yang sudah menyematkan cincin berlian itu dijari manismu, Dokter Aurra."
Godanya, sambil tersenyum puas.
Alana dan Aurra ini memang dulu sempat bersekolah disekolah yang sama. Tepatnya di saat keduanya SMA. Namun keduanya berpisah saat memasuki perguruan tinggi. Aurra melanjutkan kuliahnya di King's college London, Inggris. Sedangkan Alana tetap melanjutkan bangku kuliahnya didalam negri, tepatnya di UNAIR atau Universitas Airlangga. Kemudian atas kehendak Allah, keduanya di pertemukan kembali disalah satu rumah sakit swasta terbesar di Jakarta, yaitu tempat mereka mengabdi kini.
Aurra tersenyum kecil, sebelum menjawab pertanyaan sang sahabat semasa SMA nya.
Ia menjadi teringat sebuah hadist Rasulullah SAW yang berbunyi 'Rahasiakan pinanganmu, dan umumkan pernikahanmu.'(HR.Thabrani).
Aurra memang meminta orang tuanya tidak terlalu menyebar luaskan masalah khitbah malam itu. Aurra sendiri memang tidak terlalu suka mengumbar hal hal yang menurutnya pribadi. Oleh karena itu, hingga kini yang megetahui tentang dirinya sudah di khitbah hanyalah keluarganya, juga keluarga Radityan tentunya.
Namun tidak menutupi, jika teman teman sejawat Aurra banyak yang menanyakan makna cincin berlian yang sudah tersemat dijari manisnya tersebut. Tidak jarang, diantara mereka menganggap Aurra sudah menikah secara sembunyi sembunyi.
"Dokter Aurra!" Panggil salah seorang perawat yang datang menghampirinya.
"Iya, ada apa suster Santi?"
"Ada pasien korban kecelakaan beruntun menunggu penangan di UGD. Dokter Andre sedang bertugas dilantai 3, jadi kami kekurangan tenaga medis." Ucap wanita berpakaian khas perawat tersebut.
"Baik, saya akan segera kesana."
Ucap Aurra, sebelum berbalik kearah Alana.
"Saya duluan Dokter Alana."
"Iya, jangan lupa undanganya jika ada kabar baik Dokter Aurra." Timpal Alana.
"Insaallah, nanti jika sudah ada." Ucap Aurra sebelum berlalu.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Gadis cantik berhijab syar'i itu berlalu. Dengan langkah cepat dan tergesa gesa ia memasuki ruangan dengan pintu bercat hijau tersebut. Bau anyir darah segar yang bercampur dengan cairan antiseptik menyambut kedatanganya dengan segera. Rintihan kesakitan dari para calon pasinya, langsung membuat hatinya pilu. Dengan segera ia mendekat kearah salah satu pasien yang tengah menunggu penanganan.
Kaki sebelah kirinya hancur, Aurra yakin jika dia adalah pengendara dari salah satu kendaraan yang terlibat kecelakaan beruntun tersebut. Di lengan kananya terdapat luka gores, Aurra pikir itu pasti luka karena pecahan kaca mobil, jika di lihat dari jenis lukanya. Sebagian tubuh korban yang berjenis laki laki itu juga membiru dan memar, mungkin karena terkena benturan keras dengan benda tumpul atau dashboard mobil.
"Suster Santi, segera siapkan ruang operasi. Kita akan melakukan operasi sekarang."
Perintahnya yang langsung diangguki oleh suster bernama Santi tersebut.
Ini dunia kerja Aurra, berjibaku dengan simbahan darah, bau Anyir darah, anti septic, ruang operasi, peraĺatan bedah,adalah salah satu unsur pendukung dalam dunia kerjanya. Bagi Aurra bertarung dengan maut adalah keharusan. Walaupun takdir hidup seseorang itu ada ditangan-Nya, namun ingatlah. Ada ihktiar sebelum tawakal. Artinya, ada berusaha sebelum berserah diri kepada yang maha kuasa.
Terkadang waktu memang tidak dapat kompromi. Telat seperkian detik saja, bisa bisa nyawa taruhanya. Inilah resiko seorang Dokter yang bawa di pundaknya. Memberikan pertolongan pertama, menyelamatkan, memberikan penanganan lànjutan, juga mengayomi masyarakat agar menghindari beberapa hal penting agar dapat menjaga kesehatan diri sendiri, dan lingkungan sekitarnya. Profesi mulia yang membutuhkan banyak keberanian, wawasan luas, skill dan kemampuan yang mumpuni tentunya.
Tinnnnnnnnn
Tinnnnnnnnn
Bunyi mesin pendeteksi detak jantung tersebut nyaring. Sejalan dengan matinya detiksi sitem kehidupan disana. 6 orang berpakaian khusus menangani pasien operasi tersebut, menghembuskan napas lelah. Ada juga yang berdiri tanpa ekspresi yang tak terbaca.
"Pasien Bernama Supranto, usia 34 tahun. Salah satu korban kecelakaan beruntun. Waktu meninggal dunia, pukul 08.59 menit waktu Indonesia barat."
'Innalillahi wainnaillahi roji'un.' Lirih gadis berpakaian sterin tersebut, tanpa sadar menitihkan air matanya kala iris hazelnya menangkap pasien yang baru saja ditanganinya meninggal dunia.
Mereka, termasuk dirinya sudah berusaha sekuat tenaga. Berjibaku dengan waktu juga malaikat maut yang selalu menjadi momok mengerikan bagi setiap pasien diakhir hayatnya. Mereka gagal, bukan karena lalai atau melakukan kesalahan fatal yang tidak dapat ditolelir. Mereka kehilangan salah satu nyawa pasienya dengan luka berat di kaki, patah tulang leher, juga benturan keras yang mengakibatkan pembuluh darah pecah dibagian otak. Mereka sudah berusaha sekuat tenaga, namun apalah daya. Semua mahluk adalah milik-Nya, dan tentu akan kembali kepada-Nya atas kehendak-Nya pula.
'Innalillahi wainnaillahi roji'un, semoga dia diterima di sisimu ya-Rabb.' Lirihnya kecil, sambil berlalu meninggalkan ruang operasi, karena masih banyak nyawa yang menunggu di tangani olehnya.
****
"SIAP, GRAK."
"ISTIRAHAT DI TEMPAT GRAK." Komando suara lantang pemimpin upacara Apel hari ini.
Di hadapanya, berbaris seluruh anggota kesatuan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD) regu kesatuan khusus. Dengan seragam Pakaian Dinas Lapangan (PDL) berwarna hijau army dengan loreng loreng khas yang berfungsi untuk mempermudah berkamuflasi menyatu dengan alam Indonesia yang cenderung berwarna tersebut.
"Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarakatuh." Ucap tentara tersebut uluk salam, dalam posisi siapnya.
"Waalaikumsalam Warohmatullahi Wabarakatu**h."
Jawab serempak prajurit prajurit dihadapanya, sambil berujap dalam posisi siap, kemudian kembali keposisi istirahat di tempat.
Semuanya berbaris rapih dibawah teriknya mentari di sore hari. Menatap lurus kearah pemimpin upacara mereka yang tengah membicarakan pidatonya di depan sana.
Setelah pemimpin mereka menutup pidatonya, mereka serempat menyimpan tangan di samping pelipis, membentuk sudut pada sikunya. Memberikan tanda penghormatan kepada pemimpin upacara yang henda kembali ketempat.
"SIAP GRAK. TANPA PENGHORMATAN, BALIK KANAN BUBAR BARISAN, JALAN."
Titah suara tegas yang menggema di setiap penjuru tempat tetsebut.
Prajurit prajurit muda di hadapanya, mengubah posisonya menjadi siap. Kemudian melakukan gerakan baik kanan secara serempak dan bersamaan. Dan membubarkan barisan kesatuan mereka.
"Kamu kenapa Van, dari tadi senyum senyum terus?" Tanya salah seorang prajurit berseragam TNI AD tersebut.
"Iya, kau tuh lagi dapet durian runtuh kah?"
Timpal salah seorang lagi.
"Lagi senang kali, bisa cuti. Bisa jalan sama bebeb." Goda yang lainya, sambil tersenyum menggoda.
"Bener Van?"
"Tidak." Jawabnya datar.
"Hadeh, lempeng amatlah kau. Nama ada cewek yang suka sama kau nantinya." Celetuk pria berdarah minang tersebut.
"Saya pulang duluan, kalau kalian masih mau mengobrol." Ujarnya datar, sambil menghormat sejenak kearah teman teman sejawatnya sebelum berlalu setelah hormatnya di jawab oleh teman temanya.
Senandung kecil tercipta dibibir penuhnya, selama ia menunggu di halte bus.
Ia senang, entah mengapa hatinya terasa seringan ini hanya karena menggumamkan namanya. Senyumnya, ataupun sekedar mengingat suara lembutnya. Ah, Van'ar jadi semangat 45 untuk segera bertandang ketempat gadis itu berada.
'Astagfirullah, kuatkanlah hambamu ini dari pesona luar biasa yang dimiliki oleh salah satu mehlukmu tersebut.' Lirihnya kecil membatin.
Satu minggu setelah menjalankan dinas, dan di tempatkan dirumah dinas tentara AD. Akhirnya, pemuda tampan ini bisa kembali kerumah keluarga besarnya. Juga kembali mengunjungi pujaan hati yang selalu memenuhi rongga dadanya.
Di sinilah ia berada, di salah satu rumah sakit Swasta terbesar di Jakarta. Niat hati kecilnya ingin menengok sang pujaan hati terlebih dahulu, sebelum kembali kerumahnya. Dengan pakaian Dinas lengkapnya, pemuda tampan berkulit putih di banding teman teman sejawatnya itu diam sejenak. Keraguan menghampirinya, saat ingin bertanya tentang gadis yang hendak ditemuinya.
"Kamu sudah dengar belum?"
"Dengar apa?"
"Ah iya, saya dengar dokter Aurra sudah di pinang loh?"
"Benarkah?"
"Iya. Kamu lihatkan, ada cincin yang tersemat di jari manisnya."
"Tapi, ada yang berasumsi jika dokter Aurra itu sudah menikah."
"Iya juga sih. Soalnya dia itu sudah cantik, baik, pintar, solehah lagi. Subhanallah deh pokoknya."
"Ih, kok kita jadi gibahin dokter Aurra sih? Kan gak baik."
"Ini bukan ghibah, cuma lagi menyebarkan info penting."
"Adeh, sama aja kali."
Sepeninggalanya tiga suster yang niatnya ingin di tanya olehnya, pemuda itu berdiri kaku di tempatnya. Apakah benar adanya berita itu? Apakah ia sudah terlambat?
Belum sempat ia mengutarakan isi hatinya, apakah secepat itu Allah menjauhkan cintanya. Di dalam kemelut bingung dan penuh tanya itu, manik tajamnya menatap kearah barat. Segerombolan perempuan bersnelli dokter berjalan dari arah sana. Mengobrol sambil tertawa riang disepanjang jalanya.
Iris hitamnya menangkap sosok yang dicari. Berjalan menunduk diantara mereka. Walaupun begitu, Van'ar bisa melihat senyum mengembang di balik penutup jilbabnya, saat perempuan perempuan itu melontarkan pertanyaan kepadanya.
"Jadi benar ya, Dokter Aurra sudah dipinang?"
Sayup sayup Van'ar dapat menangkap pembicaraan mereka. Namun entah apa yang menjadi jawaban gadis itu, yang ia lihat mereka semakin gencar menggodanya. Apakah benar adanya berita tersebut? Iya sudah terlambatkah? Benarkah itu?
Dengan langkah gontai, pemuda tampan itu meninggalkan area rumah sakit. Membawa kepingan hati yang terasa mulai terlepas dari tempatnya. Hatinya bimbang, mencintai dalam diam gadis yang usianya 5 tahun di atasnya memang membawa resiko tersendiri baginya. Namun, sebesar apapun perbedaan usianya,bukankah itu tidak terlalu penting. Yang terpenting itu, pria yang siap menikahinya matang, dalam artian sudah mantap bisa menjadi imam yang dapat menuntun dan mengayomi calon istrinya kelak.
"Abang kenapa sih? Lunar perhatiin dari tadi kok ngelamun terus." Tanya sang kembaran, yang kini tengah menghentikan sejenak kegiatanya mengetik di atas keyboard laptopnya.
"Hm, enggak kok."
"Abang ada masalah di markas?" Tanya gadis berhijab cream tersebut.
"Tidak."
"Kok ngelamun terus?"
Lunar yakin, jika ada yang tidak beres dengan kembaranya ini. Karena mereka terlahir kembar, yang memiliki ikatan kuat akan apa yang tengah di rasakan oleh kembaranya.
"Kamu tahu mbak Aurra sudah di pinang?" Tanya Van'ar to the point.
Gadis cantik bermanik teduh itu terkesiap.
Ada apa ini, kenapa tiba tiba abangnya menanyakan tentang Aurra.
"Iya, tahu." Jawabnya jujur, sambil meneliti perubahan wajah sang kakak kembaran. Masih datar sih, tapi bisa ia lihat ada kecemasan disana.
"Emang ada apa bang?" Tanyanya penasaran.
"Kamu tahu siapa yang meminangnya?"
'Adeh, ditanya kok malik nanya sih?' Batin Lunar.
"Ya tentu tahu. Orang mbak Aurra itu calon istrinya bang Anzar." Ujapnya jujur dan to the point.
"Dia kan calon kakak ipar kita. Minggu kemarin ayah, bunda sama Lunar yang pergi meng-khitbah mbak Aurra buat bang Anzar." Ucapnya denga senyum yang mengembang.
Entah mengapa, jika mengingat gadis itu akan menjadi kakak iparnya, membuat Lunar sangat senang.
Deg
Berbading tebalik dengan ekspresi pria di sampingnya yang sudah tidak bisa terbaca. Muram di tengah-tengah keterkejutanya.
Kalian dengar, ada yang pecah tapi bukan kaca.
Calon kakak ipar, tidak salah dengarkan Van'ar? Gadis yang berhasil memberikan ketertarikan begitu besar kepadanya, akan menjadi calon kakak iparnya. Sungguh suprise yang sangat mengejutkan. Apa kabar hati kecil Van'ar, baik kah engkau di dalam sana?
Pria tampan berpakaian casual itu melenggang pergi, tanpa meninggalkan sepatah katapun. Meninggalkan kerutan bertingkat di kening adik kembaranya.
"Bang Van'ar kenapa? Aneh deh." Gumamnya kecil melihat perilaku sang kakak.
****
Jika ada yang bertanya, bagaimana rasanya mendengar gadis yang di cintaimu dalam diam selama bertahun tahun dipinang orang lain, tanyalah kepada Van'ar. Iya tahu rasanya sekarang, antara tertusuk belati yang menghunus dalam di hatinya. Atau rasa hancur yang membuat hatinya hancur sehancur hancurnya, tanpa adakan sisa yang bermakna.
Jika pria yang mengkhitbah pujaanya itu orang lain, dirinya pasti tidak akan merasa sehancur ini. Ini, pria itu kakaknya sendiri. Keluarganya sendiri, namun tidak ada yag memberitahunya. Apa mereka tidak pernah menghargai perasaanya?
Dengan frustasi, pemuda tampan itu mengacak surai hitam miliknya. Keluarganya memang tidak sepenuhnya bersalah, karena selama ini Van'ar menmang menyembunyikan dengan apik rasa ketertarikanya kepada Aurra.
Tetapi, bagimana lagi. Nasi sudah menjadi bubur. Walaupun ada istilah picik sebelum janur kuning melengkung, tikung menikung masih dapat berlangsung. Lagi pula Van'ar tidak sepicik itu, sehancur apapun hatinya kini ataupun nanti. Ia akan mencoba ikhlas, melepas apa yang memang bukan di takdirkan menjadi miliknya. Ia meyakini itu. Karena cinta itu bukan paksaan, tapi kebahagiaanya. Oleh karena itu, demi cintanya ia rela melepaskan Aurra, selama gadis itu bahagia bersama abangya kelak.
'Cinta tidak selama harus memiliki bukan?
Jika memang takdirmu bersama kakakku, aku ikhlas lilla hitaala. Raihlah kebahagiaanya, karena sebahagian rasa sayangku ini adalah untuk melihatmu bahagia walaupun bukan bersamaku.'
**
To Be Continue
Hoolllaa guysss🖑🖑
Selamat pagi😄🤗
Gimana kabarnya readers? sehat sehat kan??
Gimana nihbpendapatnya buat part ini🤗🤗
Kuy ah,dikomen yaaa🤗 Jangan lupa bantu vote juga ya😙
Ok, sampai jumpa dipart selanjutnya ya😄😄
Sukabumi 19 April 2020
08.27
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 101 Episodes
Comments
Daden Yuliyanti
kacian thor..yg suka adiknya knapa d jodohin samz kk nya
2020-12-14
2
Dhechy Chelvi Piliyank
aku nangis dari awal😭😭
2020-11-26
1
Septy Cweet
kasihan.....sabar y bang
2020-10-11
3