...'Entah apa yang tengah takdir mainkan, yang pasti ada rasa senang sendiri jika kamu turut serta didalamnya.'...
...-Keevanzar Radityan Az-zzioi-...
...BSJ 11 : Memperbaiki...
...****...
"Makan ya, sayang. Biar cepet sembuh."
Pinta wanita berhijab syar'i tersebut.
"Nanti aja bun, belum laper."
Dalih lawan bicaranya yang masih yang tengah sibuk dengan keyboard di laptopnya.
"Kerjaanya di tunda dulu dek, sekarang makan dulu." Ujar sang bunda, kembali membujuk.
Gadis berhijab syar'i itu akhirnya mengalah.
Ia memang paling tidak bisa menolak permintaan bundanya. Dengan berat ia mengangguk, yang langsung di jawab senyuman sumringah dari sang bunda. Satu mangkok bubur ayam hangat, perlahan lahan mulai ia suapkan kedalam mulutnya. Mengisi lambung yang sejak kemarin kosong tanpa ada sesuap nasi pun yang masuk.
"Bunda juga sudah makan?"
Tanya gadis berhijab baby blue tersebut.
Menelisik gerak gerik sang bunda, yang terlihat tidak bisa dikatakan baik baik saja.
"Iya, nanti bunda makan."
Ujar wanita paruh baya tersebut.
"Tapi bunda harus makan. Biar-"
Ucapan gadis bermanik teduh itu terpotong oleh bunyi decitan pintu yang menarik perhatian mereka.
Diambang pintu, pria tinggi nan gagah itu berdiri. Dengan setelan kemeja biru navy dan celana bahan hitam rapihnya. Namun wajah tampan rupawanya, harus rela terhiasi oleh luka lebam dan luka gores di pelipis kirinya yang tertutup kasa.
"Abang?" Lirih sang bunda, ketika retina matanya menangkap sosok yang enam tahun ini ia rindukan.
Putra sulungnya, berdiri tegap di hadapanya dengan senyum yang tersungging dibibirnya yang terluka. Pria tampan itu berjalan mendekat, meletakkan bingkisan yang di bawanya di atas nakas. Sebelum meraih tangan wanita yang telah melahirkanya 28 tahun silam. Mengecupnya sayang dengan penuh penyesalan.
"Abang, pulang bunda." Lirihnya sambil mengecup punggung tangan sang bunda tak henti henti.
Wanita paruh baya itu mulai menitihkan air matanya. Melihat putranya dalam keadaan seperti ini, tentu bukanlah hal yang mengenakkan. Belum lagi rasa kecewa yang sempat di tuainya, namun apa boleh di kata.
Hati seorang ibu tetaplah sama, lemah ketika melihat buah hatinya tersakiti.
"Maafkan abang bun, abang tahu abang salah."
Lirih pria muda tersebut, sambil bersimpuh dihadapan sang bunda. Tangan kekarnya tak henti hentinya mengengam tangan mungil wanita yang telah mempertaruhkan nyawanya untuk melahirkan dirinya.
"Abang salah bun. Abang sudah buat semua orang kecewa." Lirih pria itu pelan. Iris hitam tajamnya perlahan meredup, rapuh serapuh perasaanya kini.
Melihat iris teduh sang adik bungsu yang selalu menatapnya penuh damba, kini iris itu menatapnya penuh luka. Menyiratkan banyak kekecewaan yang di lakukanya telah melukai hati si bungsu. Ia menyesal, telah memilih jalan ini. Apalagi telah mengorbankan keluarganya hanya demi seorang perempuan. Semalaman suntuk, ia merenungkan segalanya. Kesalahan demi kesalahan yang telah ia lakukan. Fakta fakta yang telah ia sembunyikan karena sikap pengecutnya. Ia salah besar selama ini.
Oleh karena itu sekarang saatnya ia memilih. Memilih keputusan yang akan merubah hidupnya kelak. Ia akan melepaskan seseorang, mengorbankan cintanya demi kebahagiaan keluarganya, demi menebus kekecewaan yang telah di tuainya. Ia akan mengakhiri jalinan kasihnya, dengan wanita yang amat di cintainya itu. Karena ia sadar, terlalu banyak halangan yang melintang di antara mereka.
Jika pun di pertahankan, ada yang harus rela berkorban. Mengorbankan keluarga dan kepercayaanya. Halangan terbesar dalam hubungan mereka adalah perbedaan keyakinan. Ia adalah seorang muslim, sedangkan sang kekasih non muslim. Jika memang di antara mereka ada yang rela berpindah kepercayaan, mereka juga harus rela di tentang keluarganya masing masing. Sedangkan bagi Anzar, ia sadar jika keluarga adalah segalanya. Jikapun Nata-sang kekasih bukan jodohnya tak apa, karena tuhan pasti masih mempersiapkan perempuan lain yang akan mendampinginya hingga akhir.
"Bunda, abang minta maaf. Abang salah."
Ujarnya lagi, sambil beralih menatap sang bunda yang sudah berderai air mata.
"Sstt, sudah bang. Ayo berdiri dulu."
Pinta wanita berģamis biru dongker tetsebut, sambil membantu putranya berdiri.
"Bunda."
"Sudah, bunda sudah maafin abang."
Tak dapat di pungkiri memang rasa kecewa yant menghampirinya kini, tetap tetaplah. Sebagai seorang muslim, sudah sepatutnya kita memaafkan sesama. Apalagi ini putra kita sendiri yang tengah meminta maaf.
"Bunda?" Tanya pria itu lagi.
"Bunda sudah maafkan. Karena setiap manusia itu tak luput dari yang namanya lupa dan dosa."
Ujar wanita berhijab syari tersebut lirih.
"Terimakasih bunda."
Tidak ada apapun yang harus Anzar lakukan saat ini, selain memeluk tubuh kurus sang bunda. Sejak kecil ia memang tahu betul, jika bundanya ini sangat baik hati.
Sedangkan Lunar-gadis yang masih berbaring di atas brankar itu menatap sendu kearah keduanya. Jikapun ia memiliki hati sebesar bundanya, pasti ia sudah memaafkan abangnya tersebut. Namun sayang, hatinya tak sebesar itu. Butuh perjuangan panjang untuk menaklukam hatinya yang sudah kecewa.
"Bunda, tentang khitbah itu-" Ujar Anzar menjeda,sambil melepaskan pelukanya.
"-Bagaimana?" Lanjutnya hati hati.
"Ayah dan bunda sudah setuju."
Ujar Arkia, sambil menarik napas dalam dalam.
"Perjodohan ini tidak akan dilanjutkan." Imbuh Arkia.
Deg
Pria tampan itu berdiri mematung, menatap sang bunda yang terlihat menunduk dalam diam. Ia yakin, jika keputusan ini diambil jika ia telah merusak kepercayaan sang bunda.
"Tapi bunda, abang-"
"Ini demi kebaikan kalian kedepannya." Sela wanita paruh baya tersebut.
"Ayah dan bunda pikir, dia terlalu baik untuk kamu."
Deg
Pria muda bermanik tajam itu seakan akan terpaku ditempat. Sebegitu besarkan kekecewaan yang di berikanya, sehingga orang tuanya kini meragukan dirinya.
"Bunda-"
"Dia itu perempuan baik-baik bang. Masalah karier dan harta dia sudah tidak ambil pusing. Cuma jodoh yang tepat yang belum ia miliki."
Lanjut Arkia.
"Bunda dan ayah pikir, karena dia itu gadis yang mandiri dan sederhana di balik kesuksesan kariernya, cocok bersanding dengan kamu. Kami harap abang bisa menjadi imam yang dapat menuntunya, mengayominya, dan menjadi pendamping hidup yang baik baginya. Dia itu terlahir sebagai perempuan istimewa." Tutur Arkia, begitu mendambanya ia kepada calon menantunya.
Tetapi sayang, sepertinya Allah belum mengkehendaki keinginanya dan sang suami untuk mejadikanya sebagai menantu.
"Ayah dan bunda berani mengkhitbah dia untuk menjadi calon istrimu, karena kami yakin dia jodoh terbaik untukmu. Walaupun pada akhirnya, kami ragu jika dia akan bahagia nantinya jika bersamamu."
Awalnya, Arkia dan sang suami berani mengutarakan niat baik mereka karena percaya sang putra adalah pria yang bertanggung jawab, dan akan menjadi imam yang baik bagi Aurra. Namun, kenyataan itu berbanding terbalik dengan realitanya. Jika di hati sang putra ada wanita lain, mereka ragu untuk melanjutkan perjodohan ini. Keraguan mereka bukan tanpa sebab, namun belajar dari kisah dimasalalu. Mereka tidak mau gadis sebaik itu harus tersakiti nantinya.
"Bunda, dengarkan abang dulu." Ujar pria muda itu kembali berujar.
"Bunda, abang minta maaf atas kesalahan dan kebodohan abang selama ini. Tapi bunda, abang sudah berubah pikiran. Abang tahu abang salah, oleh karena itu abang minta tolong beri abang satu kesempatan lagi untuk memperbaiki semua ini." Pintanya kepada sang bunda.
Anzar tidak bohong, ia akan berusaha memperbaiki semuanya dari awal. Walaupun semua itu belum tentu bisa berjalan sesuai dengan keiinginanya.
"Abang mohon bunda, abang akan melepaskan dia jika abang mengecewakan kalian lagi."
Arkia menatap sendu putra sulungnya. Manik hitam tajamnya sayu, namun memancarkan sejuta keyakinan di sana. Wanita paruh baya itu menghela napasnya berat, sebelum mengutarakan pendapatnya.
"Abang mohon bunda."
****
"Ada apa lagi mas?" Ujar suara lembut yang mengalun dari sekotak susu coklat tersebut. Ah bukan, maksudnya gadis yang tengah berdiri menjulurkan sekotak susu kotak rasa coklat kepadanya.
Pria tampan yang sedari tadi hanya duduk sambil memijit pelipisnya pelan itu mendongrak. Menatap gadis berhijab syar'i yang berdiri dihadapanya.
'Gadis ini lagi?' Gumamnya dalam hati.
Nyatanya yang maha kuasa kembali mendengarkan doanya. Mempertemukan gadis yang tempo hari menolongnya juga menarik perhatianya dalam satu kali pertemuan.
"Ini, silahkan diminum. Kata beberapa pakar gizi, makanan yang mengandung glukosa itu bisa memberi efek senang. Coklat juga mengandung endorfin, berfungsi untuk menurunkan tingkat stres dan rasa sakit." Ujarnya lembut, sambil meletakkan susu kotak tersebut.
"Ini, saya memaksa."
Lanjutnya, sambil menyèrahkan susu kotak tersebut di samping pria yang sudah dua kali di temuinya tanpa sengaja ini.
Tadinya, ia sedang menikmati waktu istirahatnya dengan berjalan santai di rest area di sekitaran Rumah sakit. Hingga manik tajamnya menemukan sosok yang familiar di matanya. Bahkan, kedua kakinya pun terasa refleks berjalan kearahnya.
"Ada apa mas?" Tanyanya tànpa melirik pria di sampingnya, tetapi ia yakin jika pria itu tengah menatapnya.
"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?"
Tanya Anzar, pria itu menatap gadis dihadapanya intens. Merasa jika suara dan wajah gadis disampingnya ini tidak familiar.
"Kemarin malam, kita bertemu di taman dan di Alfam*rt. Apa mas lupa?"
"Bukan, selain itu? Apa kita pernah bertemu sebelum itu?" Tanya Anzar penasaran, pasalnya tiap kali iris tajamnya tanpa sangka bersirobak dengan iris hazel gadis itu terasa ada yang familir disana.
"Tidak pernah" Ujar gadis itu datar, sambil memainkan saku snelii dokter yang di kenakannya.
"Benarkah? Rasanya kita pernah bertemu sebelum ini." Ujar Anzar, memang benar. Ia rasa sudah kenal cukup lama dengan gadis ini.
Manik hazelnya yang teduh itu selalu saja berhasil membuat dirinya di lingkupi rasa tenang.
"Tidak, cuma kemarin malam dan sekarang. Tapi entah nanti, cuma Allah yang tahu."
Ujar gadis tersebut, Anzar yakin senyumnya tersungging dibalik penutup hijabnya.
Saku snelli gadis itu bergetar. Ia merogoh benda pipih yang layarnya menyala dari dalam sana.
"Assalamualaikum. Iya, Hallo." Salamnya saat menerima panggilan yang masuk di handphonenya.
"..."
"Iya, saya akan segera datang."
"..."
"Waalaikumsalam." Ujarnya mengakhiri panggilan teleponya, sebelum beranjak dari duduknya.
"Saya duluan mas, ada yang sedang menunggu saya." Ucapnya lembut berpamitan, sambil menangkupkan kedua tanganya didada.
"Eh, itu siapa nama-"
"Assalamualaikum." Ujarnya menyela, sebelum berlalu meninggalkan Anzar yang masih termenung disana.
"...siapa namamu?!" Lanjut Anzar lirih.
Lain kali, iya lain kali jika mereka bertemu kembali ia akan pastikan jika ia mengetahuì nama gadis pemilik iris hazel tersebut.
"Aku ramal, kira akan bertemu lagi lain kali."
Ujar Anzar sambil terkekeh kecil. Ia menjadi ingat salah satu tokoh dalam flim layar lebar yang sempat viral beberapa waktu lalu, sehingga sekretarisnya sendiri sampai tergila gila oleh film tersebut.
Entahlah, intinya hadirnya gadis bermanik hazel itu mampu membuat pikiranya jernih. Sehingga ia bisa berpikir rasional untuk kedepanya, agàr langkah yang di ambilnya tidak salah lagi.
**
To Be Continue
Hohoo....yuk update lagi nihhj😄😄
maaf ya telat, soalnya sibuk ziarah sama bantu jaga kepoakan😅😅 Gimana buat part ini??
yookkk....dikomenn😅
Selamat menunaikan ibadah puasa juga ya bagi yang menjalankan🎉
sukabumi 22 April 2020
17.49
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 101 Episodes
Comments
Daden Yuliyanti
itulah jodoh thor..
2020-12-14
2
Arninyon
tetap semangat thor.. ganbate
2020-11-09
1
Lisa Sasmiati
tambah semangat ya thor
2020-08-23
2