...'Ada banyak unsur rasa di hati, namun yang paling dominan rasa cinta disana. Jikapun sekedar niatan meredam rasanya, akan sulit jika tidak dibarengi dengan tindakan yang tepat.'...
...-Keevan'ar Radityan Az-zzioi-...
...BSJ 18 : Rasa yang hadir...
...****...
Dua hari sudah berlalu, pasca hari dimana ia fitting baju pernikahan sendiri. Kini pria tampan yang hari ini mengenakan kemeja baby blue yang dipakukan dengan jas dan bawahan celana hitam itu tengah sibuk dengan tumpukan berkas dihadapanya. Kacamata baca bertengger apik diatas hidung mancungnya. Inilah dirinya-rupa tampan bak titisan dewa zeus, dengan sejuta pesona juga keahlian yang mumpuni. Karier yang melejit didunia bisnis, memiliki kekasih cantik jelita yang melengkapi kehidupanya-ah ralat, sekarang sudah bukan kekasihnya lagi.
Pria tampan itu menghentikan sejenak goresan tinta hitamnya diatas kertas itu.
Pikiranya melayang, kearah semalam saat mantan kekasihnya itu kembali menghubunginya. Bohong rasanya jika ia tidak bahagia, namun tetap saja ini berat baginya. Belum lagi dalam hitungan beberapa hari kedepan ia akan segera melepaskan status lajangnya. Ah, sungguh pelik kisah asmaranya ini.
Derrt
Derrt
Getaran di smartphone miliknya, membuat pria tampan itu teralihkan. Membuka kunci layarnya, kemudian membuka pop up pesan singkat dari aplikasi whastapp tersebut.
+6167XXXXXXXX
Dear, please. Temui aku jika memang kamu benar benar masih mencintaiku.
Bunyi pesan singkat dengan sebuah fhoto tempat yang sangat ia hapal. Di fhoto itu juga ada tanggal '22 September 2kxx' tanggal jadian mereka, yang nyatanya juga bertepatan dengan tanggal pernikahanya.
"Arrggg."
Geramnya frustasi, sambil membantingkan tumpukan tumpukan kertas yang ada di meja kerjanya. Sungguh, ia tidak pernah sefrustasi ini sebelumnya.
"Aku mencintaimu Nata, really love you so much."
****
"You are strong grils, and I fround of you Aurra."
Sepanjang perjalanan menuju posko, gadis cantik itu tak bisa berhenti menyunggingkan senyuman bahagia di balik penutup wajahnya. Hari ini benar benar hari yang luar biasa baginya. Bagaikan ada letupan letupan kebahagian yang membuncah didadadanya.
"Hati hati, disini licin Ra!" Ujar suara bass berat dihadapanya mengintrupsi untuk kesekian kalinya.
Aurra-gadis cantik benar benar merasa beruntung bisa mengenal pria tangguh di hadapanya. Bukan saja rupanya yang menawan, tetapi juga kharismanya sebagai seorang pria dewasa yang tak dapat di ragukan. Memiliki teman dan calon adik ipar seperti dia membuat Aurra senang rasanya. Ia juga belum tahu apa nanti ia akan mudah merasakan keyamanan ini dengan calon suaminya yang juga kakak teman lelakinya ini. Entahlah, karena sampai saat ini juga mereka belum pernah bertemu.
"Sampai di posko, kamu cepat bersih bersih ya Ra. Ini khimar kamu kotor kena darah."
"Iya van, aku langsung bersih bersih nanti."
Ujar Aurra kecil sambil menunduk, karena ia tahu jika menatap lelaki yang bukan mahromnya bisa menimbulkan zinah mata.
Tadi tanpa bisa ditolak, ia pun sempat jatuh dalam gelapnya dosa yang menghanyutkan. Tanpa sadar, ia membiarkan pria yang bukan mahromnya menyentuhnya. Maafkan Aurra ya Allah, batinnya.
"Good grils!" Ujar pria dihadapanya sambil menyentuh pucuk khimar yang di kenakan Aurra.
Sesampainya mereka di posko tempat mereka menetap. Kedatangan keduanya di sambut tepuk tangan riuh dari teman teman sejawat mereka. Van'ar dan Aurra yang tidak mengerti dengan keadaan ini hanya bisa diam mematung. Sampai seorang perwira angkatan darat yang Van'ar ketahui bertugas di pusat menghampirinya. Menyentuh pundaknya sambil tersenyum dan mengucapkan beberapa kalimat. Van'ar menaikkan tanganya sejajar membentuk sudut dengan pelipis, memberi hormat kepada petingginya.
Sedangkan Aurra salah satu teman donternya yang juga ketua tim mereka memberinya ucapan selamat, di iringi pelukan hangan dari 4 perawat yang ikut menjadi relawan bersamanya. Mereka bangga memiliki dokter dengan jiwa besar seperti Aurra. Rencananya tim medis akan kembali sore ini. Sudah tiga hari dua malam mereka disini, dan tugas yang menjadi misi mereka pun sudah terealisasikan. Jadi kini sudah waktunya mereka kembali ke ibu kota.
Sebelum pulang mereka mengadakan acara masak masak dan makan bersama dengan warga sipil sekitar. Ketika acara tengah berlangsung, kedatangan tiga orang pria dengan tas gunung tinggi yang mereka bawa di pundak, memngalihkan perhatian mereka. Pria tinggi bermata coklat yang paling tampan di antara ketiganyalah yang paling mencolok. Apalagi saat iris coklatnya menemukan sosok yang memang ia cari.
"Ra!"
Panggilnya antusias, sambil merengkuh tubuh mungil gadis yang tengah berdiri tersebut.
"Wah, akhirnya ketemu juga." Ujarnya senang.
"Kamu ngapain disini?"
Tanya Aurra penuh selidik, sambil melonggarkan pelukan mereka.
"Mendaki!" Jawabnya santai sambil menoleh kearah dua temanya yang sedang melambaikan tangan kearah dia dan Aurra.
"Harusnya aku yang tanya Ra, ngapain calon manten ada disini? Bukanya dirumah."
Ujarnya menelisik.
Aurra tersenyum kecil, adiknya ini memang ada ada saja. "Kamu tahu, rasa kemanusiaan yang membawaku kesini." Ujarnya sambil terkekeh pelan.
"Dasar ya, kalau kamu ilang diculik Yeti Asia gimana? Kasian dong calon suami kamu."
Pletak
"Aww, sakit dong Ra."
Ringis pemuda tampan tersebut, sambil mengusap dahinya yang kena sentil jemari Aurra.
"Bibirnya Astagfirullah haladzim, ucapan itu gak boleh asal loh, Allah gak suka."
"Hehehe, iya mbak maaf."
Aurra tersenyum kecil, lalu mengajak adik dan dua sahabatnya itu untuk duduk sejenak.
Ya, dia adalah Kaisar Zega Redargard Al-haidan. Adik Aurra yang datang mampir karena pria muda itu juga baru saja pergi mendaki gunung Dafonsoro yang ada di jayapura.
Itu loh, gunung yang dikenal dengan nama gunung Dobonsolo atau gunung Cyclpos adalah gunung yang terletak di kabupaten Jayapura, Papua Barat. Jaraknya kurang lebih 30 Km dari kota Jayapura kearah Barat.
Awalnya Zega ingin mengajak sang kakak mendaki gunung Rinjani, namun berhubung kakaknya itu akan menikah dalam waktu dekat ia jadi mengurungkan niatnya. Hingga tawaran mendaki ia dapatkan dari pertemuanya dengan teman teman kuliahnya yang mencitai hobby yang sama denganya. Jadilah mereka berangkat ke Jayapura, untuk menjajal mendaki salah satu ikon tanah papua tersebut.
Interaksi keduanya tak luput dari manik tajam milik pria sangar di ujung kulon posko. Menatap selidik dan penuh tanya kepada pria muda yang baru saja memeluk temanya tersebut.
"Itu pendaki dari mana? Kok bisa sampai sini?"
"Iya. Kok datang datang peluk peluk Dokter Aurra atuh?"
"Hmm, suaminya kali."
"Iya. Beta juga pikir begitu."
Van'ar tak mau tinggal diam sebagai penonton. Ia lebih memilih langsung mengambil langkah untuk mendekati mereka.
"Ra, tangan kamu kenapa? Ini luka loh?"
Samar samar ia bisa mendengar suara kekhawatiran dari radius lima meter dari tempat mereka duduk.
"Ini cuma tergores sedikit, nanti juga sembuh."
"Dasar ngeyel, nanti kalau infeksi gimana?"
Tanya sambil mengusap luka Aurra.
"Ada keperluan apa anda bertiga di posko ini?".
Tanya suara bass berat yang mengalihkan pandangan ketiganya tersebut.
Tatapan mereka beralih, terlebih Zega yang merasa ditatap tajam oleh pria berseragam TNI tersebut.
"Kami sedang mampir sebentar, kami juga sudah izin untuk bergabung." Jawab Zega santai, tanpa melepaskan tautan tanganya dengan pergelangan Aurra yang terbalut lengan gamisnya.
"Izin?"
"Iya. Ada apa pak tentara, apa ada masalah dengan kedatangan kami?" Tanya salah satu teman Zega.
"Bukan dengan kalian, tapi dengan tuan ini."
Tunjuk Van'ar.
"Saya? Ada masalah apa dengan saya?"
Tanya Zega berdiri dari duduknya.
"Salah anda duduk bendua dengan yang bukan muhrim anda, melakukan kontak fisik yang membuat orang lain berpikir yang tidak tidak. Itu kesalahan anda."
Zega mendelik, ada apa dengan pria berseragam tentara satu ini.
"Whatt? Hanya karena itu?" Tanyanya.
Aurra yang melihat itu ingin segera melerai, namun tertahan oleh isyarat Zega.
'Biarin, biar aku yang handle Ra.'
"Memaangnya kenapa tuan tentara, bukanya ini bukan jobdesk anda?" Pancing Zega, sepertinya pembicaraan ini menarik.
"Ini memang bukan jobdesk saya secara langsung. Namun menjaga dan mengayomi masyarakat sipil adalah tugas seorang tentara. Saya hanya ingin menjaga harga diri Dokter Aurra dan nama baiknya. Warga sipil disini kebanyakan beragama non muslim, mereka akan salah paham menganggap interaksi seorang wanita muslimah dengan pria yang jelas bukan muhrimnya. Jika mereka berpikir dari sudut pandang itu, nanti dokter Aurra akan di ragukan nama baiknya. Mereka akan berpikir yang aneh aneh jika interaksi dianra kalian tidak dibatasi. Daripada memicu pertanyaan nantinya, jadilah saya mengingatkan."
Glek
Zega tersenyum diakhir kalimat si tentara ganteng tersebut. Memang benar adanya, perkataan dirinya. Di lihat dari banyaknya warga sipil yang kini memperhatikanya.
"Baiklah tuan tentara, perkenalkan" Ujar Zega sambil mengulurkan tanganya.
"Saya Kaisar Zega Redargard Al-haidan, putra bungsu dari Dokter Dimas Barack Al-haidan dan Saylandra Khumaira Netra. Sekaligus adik tersayang Dokter Aurra putri Haidan yang cantik ini." Tuturnya sambil tersenyum jenaka, ia tahu jika tentara dihadapanya ini pasti amat terkejut.
Van'ar tersenyum kecil, ketika mendengar nama pria muda dihadapanya. Ia menjabat uluran tangan Zega lalu berucap.
"Kenalkan, saya Keevan'ar Radityan Az-zzioi putra kedua dari pasangan Keevano Radityan Khutbie dan Arkia Shalfira Mubaraq. Adik dari Keevanzar Radityan Al-faruq." Tutur Van'ar santai.
Zega membulatkan matanya, mendengar nama tentara yang tadi sempat ia jaili.
"Bang Evan?" Panggilnya antusias.
Van'ar tersenyum kecil, saat nama panggilan kecilny terucap dari pria muda dihadapainya.
"Hai Kai?" Jawabnya.
"Whattt, aku kangen banget bangg!"
Antusias Zega sambil memeluk bahu tegak Van'ar.
"Kemana aja bang? Kok gak pernah main ke Bandung lagi?" Tanya Zega memberondong Van'ar dengan banyak pertanyaan.
Van'ar tadi sempat tidak mengenali sahabat kecilnya yang suka mèngajaknya bermain layangan tersebut. Pasalnya dulu mereka masih kanak kanak, kini mereka sudah beranjak dewasa.
"Sibuk di militer. Kamu gimana, lawyer hm?"
Van'ar ingat, sejak dahulu Zega itu bercìta cita menjadi seorang Lawyer terkenal.
"On the way, bang." Ujar Zega.
Aurra awalnya memang terkejut dengan interksi keduanya, tetapi nyatanya sejak kecil Zega itu memang sangat dekat dengan Van'ar seingatnya.
"Jadi ceritanya tadi ngebelain calon ipar nih?"
Goda Zega, saat keduanya kembali duduk.
Van'ar tersenyum miris mendengar kata 'calon ipar' tersebut. Tetapi memang benar itu kenyataanya.
"Abang sekarang tinggi banget ya, jadi minder deh." Kekeh Zega kecil, pasalnya tingginya saja hanya sedahi Van'ar, apalagi tinggi Aurra yang hanya sebahu Van'ar.
"Masuk militer itu berat ya bang, capek engak bang? Gak bisa punya pacar juga ya?" Tanya Zega bertubi tubi.
"Kalau nanya itu satu satu!" Lerai Aurra.
"Iya iya mbak, hehe."
"Berat sih iya, capek sih tentu. Tapi, semua itu terbayar jika bertemu dengan senak saudara dan keluarga. Kita, bangga jadi tentara. Berada di garda paling depan menjaga keamanan negara, kami lebih baik pulang mati dari pada misi gagal. Beratnya tanggung jawab yang kami emban sudah di jiwaì, capek juga tidak akan terasa nantinya." Tutur Van'ar menjawab pertanyaan Zega.
Zega tersenyum kecil, sedari dulu sosok pria di hadapanya ini idolanya. Bukan saja parasnya yang banyak di gilai wanita, juga sikap penuh wibawanya, ketegasanya, ketaatan dalam beribadahnya, patutnya banyak yang Zega idolakan sejak dahulu dari Van'ar.
"Congratulation bang, ini memang jalan hidup abang. Apapun itu pilihan abang, Kai selalu bangga sama abang." Ungkapnya tulus.
Van'ar tersrnyum kecil, hari ini wajah datarnya itu terasa banyak tersenyum dan berekspresi.
"Kamu juga, kejar cita cita kamu untuk menjadi Lawyer yang hebat Kai."
"Pasti bang, Kai harap abang bisa datang di acara wisuda Kai bulan depan." Ujarnya.
Van'ar belum sempat menjawab, jangankan wisuda Zega, kehadiranya di pernikahan kakaknya pun ia tidak bisa janji datang.
"Kenapa bang?" Tanya Zega melihat raut wajah Van'ar yang ragu ragu menjawab.
"Insaallah, nanti abang usahakan."
"Siap Kapten, akan hamba tunggu."
Ujar Zega dengan nada humor dan mengangkat tanganya membentuk hormat.
Ketiganya tersenyum kadang sesekali tertawa. Akhirnya, takdir kembali mempersatukan mereka setelah berpisah bertahun tahun lamanya. Bahkan dulu, jauh sebelum mereka beranjak dewasa Zega pernah berharap besar pada tuhan, agar sosok pria di sampingnya inilah yang akan menjadi calon imam sang kakak. Jika pun itu di iyakan oleh Allah, Zega akan sangat bahagia nantinya. Namun bukan berarti ia tidak senang jika kakaknya menikah dengan pria lain. Karena bagaimanapun itu sudah menjadi takdir-Nya kelak.
****
To Be continue
Hallo guyss, update lagi nih😊😊
Hayoo gimana buat par ini??
Jangan lupa vote, like dan komentar ya, biar aku semakin semangat nulisnya😙😙
Maaf juga kalau masih banyak typo🙏🙏
Sukabumi 30 April 2020
12.34
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 101 Episodes
Comments
Leni
Aurora van'ar
2021-06-23
2
Putri
aamiin ya Zega
2020-12-04
1
Siti Hajar NurSarianti Lage
Ngeri juga thor Zega mendaki gunung trus sekitaran lagi ada oengekaran ter*r*s gitu 🤔
2020-09-05
3