سم الله الرحمن الرحيم
bismi-lāhi ar-raḥmāni ar-raḥīmi
"Dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang. Kita awali semua niat baik dihari ini."
**
Cerahnya mentari pagi hari ini, menyambut kesibukan seorang wanita yang tengah melepas kepergian putra sulungnya. Sang fajar yang sudah meninggi, membuatnya harus menerima kenyataan sedih dipagi hari ini. Setahun yang lalu ia juga merasakan rasa sèdih seperti ini, saat akan melepas kepergian putra sulungnya tersebut. Terlebih lagi, kini putranya itu akan benar benar pergi dalam kurun waktu yang cukup lama.
Ramainya bandara internasional Soekarno Hatta pagi ini, akan menjadi saksi bisu kepergian putra tampanya ini.
"Van'ar belum juga datang bun?" Tanya sang putra.
Wanita yang masih terlihat cantik walaupun sudah berkepala empat itu menggeleng. Putra keduanya memang tidak datang bersama mereka tadi. Van'ar-sang putra tadi izin untuk pergi kerumah sahabatnya terlebih dahulu. Pemuda itu bilang, ia ada jadwal presentasi dimata pelajaran Sejarah hari ini. Karena ia kemungkinan akan terlambat masuk, Van'ar berinisiatif memberikan makalah yang akan di presentasikan kepada sahabatnya, karna ia kebetulan bertugas meng-print out makalah hasil kerja kelompok mereka.
"Belum, mungkin sebentar lagi bang."
Sementara itu, seorang pemuda berseragam putih biru baru saja turun dari ojol pesanannya. Setelah membayar ojol pesananya, pemuda itu berlari tergesa gesa sambil melirik arloji hitam yang bertengger apik dipergelangan tangan kirinya.
Bruk
"Astagfirullahaladzim, maaf. Saya gak sengaja kak!" Ucapnya merasa tak enak kepada perempuan yang baru saja ia tabrak.
"Tidak apa apa."
Lirih suara lembut nan merdu yang dilontarkan dari perempuan berhijab syar'i pulus mengenakan penutup wajah tersebut.
"Sekali lagi saya minta maaf ya kak, saya buru buru jadi tidak hati hati." Ucap Van'ar sambil membantu menegakkan koper milik perempuan tersebut.
"Ra, kamu tidak apa apa?" Tanya pria baya yang menghampiri keduanya tersebut.
"Aurra tidak apa apa Di." Ucapnya lembut.
"Om Dimas?" Panggil Van'ar terkejut.
Sama halnya dengan Van'ar, pria baya yang di panggil namanya itu juga dibuat terkejut oleh panggilan pemuda rupawan dihadapanya ini. Manik hitam tajamnya terasa familiar, tapi siapa dia?
"Kamu-" Jeda Dimas sejenak, mencoba mengingat ingat kembali.
"Saya Keevan'ar om, putra kedua ayah Vano dan bunda Kia." Ucap Van'ar memperkenalkan diri.
Pria tampan berkacamata itu langsung tersenyum hangat, saat ingatanya kini berputar tepat pada tebakanya.
"Kamu.... sikembar?" Tanyanya ragu.
"Iya om, saya Keevan'ar abangnya Lunar."
Dimas kini ingat, pemuda ini yang dulunya bayi kembar yang sangat imut saat pertama kali ia menggendonya. Ketika itu Van'ar maupun Lunar masih bayi, dan kini mereka sudah tumbuh dewasa setelah 12 tahun berlalu. Terakhir ia bertemu dengan pemuda ini sekitar empat tahun lalu. Oleh karena itu, Dimas sempat tak mengenali pemuda gagah yang kini berdiri tegap dihadapanya.
"Kamu sudah besar ya, om sampai tidak mengenalimu!" Ujar Dimas, sambil memegang bahu pemuda dihadapanya.
"Kamu sekolah dimana sekarang van?"
"Saya sekolah di Golden Start Internasional Junior High School atau biasanya di sebut SMP GSI om."
"Wah, udah SMP ya. Lunar juga?"
"Iya om, kita satu sekolah." Ujar Van'ar ramah.
Ia memang hafal dengan Dimas, dikarenakan dulu saat rumah mereka masih di Bandung, Van'ar dan Lunar sering diajak main kerumah dokter baik ini. Namun saat Vano dan Kia memutuskan untuk pindah rumah ke Jakarta, mereka tidak pernah bertemu kembali. Van'ar juga sering mengajak orang tuanya main ke Bandung untuk bermain kerumah Dimas.
Spot paforit Van'ar adalah kolam ikan mujair milik Dimas di belakang rumahnya. Semenjak kecil, Van'ar selalu diajak memancing oleh Dimas. Oleh karena itu, Van'ar jadi akrab dengan Dimas karena kesamaan hobby mereka akan dunia memancing.
Van'ar juga tiba-tiba menjadi rindu akan putri Dimas yang dulu selalu berbaik hati menemaninya dan Lunar bermain. Seingatnya, putri Dimas itu seusia dengan abangnya-Anzar. Gadis mungil yang selalu menutup syar'i auratnya semenjak kecil. Jika diingat ingat, putri Dimas itu juga sangat akrab dengan bundanya. Bahkan ia juga memanggil bundanya dengan sebutan 'bunda' pula.
"Oh iya, om mau kemana?"
Tanya Van'ar, pasalnya mereka bertemu di bandara.
Jika tidak mau pergi kesuatu tempat, ia pasti akan menjemput seseorang. Karena begitu umumnya orang berpikiran tentang pergi ke bandara. Jika tidak pergi plus melepaskan, ya pasti menunggu kedatangan seseorang.
"Om mau mengarntar putri om."
Kata Dimas, sambil menatap Van'ar yang terlihat terkejut.
"Ini Aurra, putri om. Kamu ingatkan?"
Deg
Pemuda berusia 12 tahun itu menelan salivanya susah payah. Jadi perempuan yang ditabraknya tadi putri Dimas, gadis yang secara tidak langsung ia rindukan sejak dahulu. Sungguh kebetulan yang tak terduga.
"Ini kak Aurra?" Tanyanya pelan.
Bisa dilihat olehnya, gadis bercadar itu tengah tersenyum di balik kain penutupnya. Mata hazel indah yang teduh dengan sejuta pesonanya itu kini sudah menjelma menjadi gadis yang tentu cantik dimatanya. Tak ada yang banyak berubah, bahkan tinggi badan mereka kini hampir sama.
"Iya, Aurra mau meneruskan pendidikanya di luar negri Van." Katanya, sambil mengusap lembut ujung khimar sang putri.
Sama halnya dengan sang abang, ternyata gadis ini juga akan menuntut ilmunya diluar negri. Terbesit rasa tak iklas didadanya, baru saja mereka berjumpa semenjak bertahun tahun lamanya, kini ia akan berpisah lagi dengan gadis yang usianya lima tahun diatasnya ini.
Bunyi suara informasi pemberangkatan calon penumpang, mengembalikan kesadaran pemuda tampan tersebut. Ia ingat tujuan utamya berada disini, mengantar kepergian sang kakak.
"Om, kayaknya saya harus pergi. Bunda sama yang lain pasti udah nunggu."
"Iya, titip salam buat orangtuamu ya van."
Pemuda jangkung itu tersenyum.
"Iya om, buat kak Aurra hati hati dijalan. Semoga selamat sampai tujuan." Ungkapnya sambil tersenyum kecil.
Entah mengapa pagi ini ia menjadi Van'ar yang berbeda. Banyak tersenyum dan juga banyak berekspresi, hanya karena bertemu dua orang ini. Lebih tepatnya si pemilik mata hazel cantik itu.
"Terimakasih." Jawab siempunya Nama, sambil menganggukkan kepalanya.
"Kalau gitu Van'ar duluàn ya om."
Jedanya, sambil meraih punggung tangan Dimas untuk disalaminya.
"Asalamuaikum." Uluk salamnya.
"Waalaikumsalam."
Diantara kesedihan harus mengantarkan sang kakak pergi untuk beberapa tahun lamanya, ada kesenangan sendiri yang muncul di hati pemuda yang baru saja bertemu orang orang dari masa kecilnya itu. Siapa sangka, diantara ketertarikan yang ada, Van'ar tidak pernah melupakan ketertarikannya kepada gadis bermanik teduh tersebut.
Entah semenjak kapan, yang pasti Van'ar sekarang masih meyakini ia memiliki ketertarikan kepadanya. Entah karena masa cinta monyetnya di masa masa putih biru, atau ketertarikan yang akan bertahan hingga beranjak dewasa nanti. Entahlah, cuma Allah yang tahu akan semua itu.
Pesawat tujuan Jakarta-New york itu sudah lepas landas. Membawa dua orang buah hati dari dua keluarga, yang siap menyongsong masa depan diantara kerasnya hidup dinegri orang. Sulitnya barang berjuang di tanah orang, jauh dari rumah. Keduanya akan mengarungi kerasnya hidup, demi kehidupan yang layak mereka cecapi dari hasil kerja kerasnya saat ini.
\=\=\=\=Universitas Harvard candridge, massachusetts, Amerika Serikàt.\=\=\=\=
Pagi hari yang cerah, menyambut ribuan bakal calon mahasiswa didik baru di universitas yang popoler didunia pendidikan tersebut. Ribuan umat berbeda suku, agama, ras, warna kulit juga bahasa kini berkumpul dalam sebuah aula besar di universitas tersebut. Ini adalah hari pertama penyambutan bakal calon mahasiswa baru, sebelum nantinya memasuki masa ospek.
Di antara banyaknya manusia yang berlalu lalang,pemuda yang sudah setahun belakangan menge yam pendidikan diuniversitas tersebut, menagkap sebuah objek yang begitu mencolok dimatanya. Seorang gadis berhijab syar'i yang berdiri di arah jam 9 darinya. Mengobrol santai dengan seorang dosen dari universitasnya.
Ia tahu, dari penampilanya gadis itu bukan mahasiswa Hardvard se-tingkatanya atau pun kakak seniornya. Ah, mungkin calon mahasiswa baru pikirnya.
"Hey Keevan, sedang apa kamu disini?"
Sapa seorang gadis cantik yang mengalihkah pandanganya.
"Tidak ada." Jawabnya datar.
"Mr.Breakllien mencarimu. Katanya ada urusan penting." Ujar gadis berwajah khas orang Eropa tersebut.
"Hm."
"Kalau begitu, ayo pergi."
Ajak gadis bernama Laura tersebut, yang tak lain adalàh Asdos dari dosen yang memanggil pemuda tampan bermanik tajam tersebut.
Pemuda tampan itupun memilih berlalu, mengikuti teman satu angkatanya. Meninggalkan rasa penasaranya akan gadis berhijab syar'i yang berhasil menarik sebagian perhatianya.
***
Ruangan yang kini hening dan senyap akan suara bising itu, terlihat diisi oleh lebih dari 120 mahasiswa jurusan managemen bisnis.
Sorotan cahaya dari proyektor, menjadi satu satunya cahaya yang kini menerangi ruangan tersebut. Di atas podium, berdiri seorang dosen besar dari universitas kesehatan ternama dari Inggris. Beliau di undang sebagai tamu kehormatan sebagai motivator.
Dosen muda yang masih aktif mengajar di Universitas King's college London itu sengaja diundang karena kejeniusanya didunia managemen bisnis sekaligus kepandaianya di dunia medis. Seperti hidup di dua dunia, pria berusia awal 30-an tahun itu juga begitu terkenal akan kejeniusanya di dalam mengembangkan bisnis juga profesinya di dua jalur yang berbeda.
"Itu Asisten dosennya motivator kita hari ini ya?" Bisik seorang perempan asal New york tersebut.
"Iya, syar'i sekali cara berpakaianya."
Komentar perempuan lainya.
"Iya, aku dengar dia satu angkatan dengan kita."
"Iya, dengar dengar dia juga gadis jenius asal Indonesia. Dia pernah memenangkan tes lulus beasiswa berprestasi di universitas kita, tapi dia menolak tawaran itu."
"Oh iya, aku ingat. Gadis berçadar dari Asia itu yang menolak tiga universitas yang terkenal juga kan?"
"Iya. Dari sekian banyak universitas yang sudah ia ikuti tes beasiswa berprestasinya, cuma Universitas King's college London, di Inggris yang akhirnya dipilih."
"Benarkah? Berarti dia itu pintar sekali ya."
Pemuda tampan yang sedari tadi mencuri dengar pembicaraan tersebut menyerngitkan alisnya. Apa benar gadis bercadar itu berasal dari tanah air yang sama denganya?
Begitu besarkah pesonanya, sehingga bayak dari teman seangkatanya yang memperbicarakanya. Pemilik manik hazel jernih nan teduh yang menutup hampir seluruh permukaan wajahnya itu, membuat sebagian orang terkagum kagum akan rumor tentang kèjeniusanya, juga terpana akan pesona manik teduhnya yang memikat.
Mungkin Anzar juga termasuk golongan orang orang yang terpesona pada pandangan pertama pada gadis berhijan syar'i ini. Gadis yang merupakan salah satu mahasiswi di Universitas King's college London, Inggris itu nyatanya punya sejuta pesona yang sulit di tolak. Hanya karena melihat manik hazel teduhnya, tak lebih.
Namun bagi Anzar ketertarikan itu hanya murni ketertarikan biasa. Tanpa tahu benang takdir yang akan mengikat keduanya dibeberapa hari, minggu, bulan ataupun tahun ke depan.Karena tidak ada yang tahu, apa yang kita abaikan kini bisa jadi memiliki jalinan benang takdir yang kuat dengan kita di kemudian hari.
**
To Be Continue
Holla....readerss😄😄
I'am come back againnn😅😅
Gimana guys....ada yang mau kritik dan saran nih buat prologgg??
Maaf juga kalau masih banyak typo ya readers🙏🙏
Apa mau komen jejak aja gitu??
Cuslah....jangan lupa komen,dan bantu dukung yaa readess🤗🤗
Pokoknya Author ILY All readers😙😙
Bonus visual Van'ar pas 17 tahun
Sukabumi 11 April 2020
14.42
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 101 Episodes
Comments
Erni Fitriana
novel yg bikin nagih...nyesel aku tuh baru ketemu kamu🙏
2022-09-28
2
Erni Fitriana
cekidot thorrrr
2022-09-28
2
YuWie
masih agak2 bingung dg nama2nya
2022-06-21
1