..."Benarkah, pesona seorang gadis bercadar dapat membuyarkan lamunan pria berbaret sekalipun."...
...BSJ 02 : Pria Berbaret...
...****...
Hijaunya rerumputan yang di tanam di sekitaran taman terlihat menyengarkan pagi ini. Sejuknya semilir angin pagi juga menambah nyaman suasana istirahat pagi ini. Diantara cantiknya bunga mawar yang tengah bermekaran, ada sebuah objek yang lebih menarik dari bunga bunga cantik itu.
"Bunganya cantik ya?"
"Subhanallah, iya oma." Ujar suara lembut dokter muda yang kini tengah mendorong kursi roda tersebut.
Di antara cantiknya mawar merah yang bermekaran, dirinya adalah objek yang paling nyata pesonanya. Gadis cantik bergamis tosca syar'i lengkap dengan kerudung berwarna senada juga cadar yang menutupi sebagian wajahnya. Belum lagi snelli dokter yang merangkapi pakaian muslimahnya.
"Tapi kamu lebih cantik." Ucap wanita paruh baya yang kini berada tengah duduk dikursi roda.
"Oma bisa saja." Ucapnya tersipu kecil.
Silvia--wanita paruh baya itu tersenyum kecil. Gadis baik hati yang tengah merawatnya sepenuh hati ini, siapa sangka terlahir dari rahim wanita yang sempat singgah dan bertahan cukup lama dihati sang putra.
Silvia Radityan--mama Vano, ingat?
Mertua Arkia yang tentunya nenek dari Anzar, Van'ar dan juga Lunar. Wanita itu memang harus di opname dirumah sakit beberapa hari, karena sakit yang di deritaya. Selama itu pula, dokter muda ini selalu merawat wanita yang dipanggilnya dengan sebutan 'oma' ini dengan sepenuh hati.
"Oma harap, suatu saat nanti kamu bisa menemukan jodoh yang terbaik untuk gadis baik seperti kamu." Ucapnya, sambil tersenyum kearah dokter bernama tage Dr.Aurra Putri Haidan, S.Ked tersebut.
"Amiin, insaallah kalau Allah menghendaki. Karena segala sesuatu itu miliknya, juga atas kehendak-Nya."
Inilah yang Silvia sukai dari gadis muda ini. Ketenanganya, kesantunannya juga tutur kata lembutnya. Ia selalu berdoa, jika keluarga Radityan memiliki menantu seperti sosok Arkia lebih dari satu, macam Aurra tepatnya.
"Ya sudah oma, sekarang waktunya oma kembali keruangan oma." Lirih gadis tersebut.
Wanita paruh baya itu menghembuskan napasnya gusar. Sebenarnya ia sudah bosan di rawat inap dirumah sakit ini. Jika saja bukan karena perintah Ibra--sang suami, ia pasti sudah pulang kerumah sejak dua hari lalu.
"Ya sudah, ayo.Temani oma."
Pemilik manik hazel teduh itu tersenyum, lalu mengangguk meng-iyakan.
**
Dr. Aurra Putri Haidan, S.Ked name tage yang tertera di depan pintu ruangan yang di dominasi cap putih dengan bau khas aroma lavender yang menguar kuat tersebut. Mengalihkan aroma menyengat dari bau khas obat obatan yang biasanya menjadi momok menyebalkan bagi seseorang ketika berada di rumah sakit.
Di ruangan tersebut, seorang pria bertubuh tinggi tegap tengah duduk diatas ranjang pasien, sambil memegang lenganya yang terlihat terluka. Gigi giginya bergemeletuk, bukanya menahan sakit. Namun menahan segala kekesalanya akan misinya yang gagal kali ini.
Pria berseragam hijau loreng milik TNI AD itu, terlihat berkali kali melirik jam tangan yang melingkat dipergelangan kirinya. Ia sudah menunggu lebih dari 5 menit di ruangan ini, namun rasanya teràsa setahun. Seorang prajurit terbiasa disiplin, memagang teguh ketepatan waktu. Oleh karena itu, menunggu merupakan hal yang paling dibencinya.
Pria berseragam lengap, dengan baret yang masih melekat apik di kepalanya, memantapkan niatnya kali ini. Dimenit keenam, jika dokter bedah umum pemilik ruangan ini tak kunjung datang, maka ia akan pergi keruangan dokter lain. Tetapi, belum sempat ia meraih handle pintu, pintu sudah terbuka dari luar.
"Eh, anda mau kemana?"
'Datang juga!' Batin pria gagah tersebut.
"Maaf sudah membuat anda menunggu."
Ucap dokter muda tersebut, sambil berlalu menuju meja kerjanya.
Mengambil beberapa obat juga peralatan medisnya. Seorang suster tadi sudah memberitahunya jika ada seorang pasien dengan luka dilengan kananya.
"Silahkan duduk, saya akan segera mengobati luka anda." Ucap si pemilik ruangan ramah.
Pemuda berseragam dinas itu mengangguk, setidaknya pimpinanya tidak akan menunggu terlalu lama jika ia juga tidak terlalu lama mendapatkan penanganan.
Dengan cekatan, tangan mungil berbalut sarung tangan steril itu membersihkan luka gores yang cukup dalam di lengan kiri pemuda tersebut. Karena lukanya cukup dalam, Aurra memberikan delapan jahitan disana. Tidak ada sepatah katapun yang lolos saat proses penanganan tersebut. Manik hitam kelam pemuda itu menyorot kearah lain, mematut kekecewaan saat misi yang dilaksanakanya gagal meraih keberhasilan.
"Lukanya sudah di perban, pendarahanya juga sudah berhenti. Nanti anda bisa menganti perbanya empat jam sekali, atau jika lukanya kambali terkena air atau sehabis mandi."
Ucap Aurra sambil membenahi peralatanya.
Pemuda diam diam mengangguk mengiyakan. Ia juga sudah mengenakan seragam dinasnya yang tadi sempat ia buka sebagian, tepatnya bagian lengan kirinya untuk memudahkan lukanya ditangani. Kecanggungan memang sempat menghampiri keduanya, namun tetap saja utamanya Aurra sebagai seorang tenaga medis harus bersifat profesional.
"Baiklah, ini untuk resep obat yang harus anda tebus di apotik. Ada beberapa jenis cairan pembersih luka juga. Juga obat pengurang rasa sakit."
Suara lembut itu kembali mengalun, walaupun
tatapanya tak beralih sedikitpun dari catatan yang tengah ditulisnya.
'Allahuakbar Allaaaahuakbar'
Bunyi kumandang adzan dzuhur yang berasal dari mushola rumah sakit, menggema dengan begitu merdunya. Pemuda tampan itu menggumamkan hamdalah, sebelum berlalu hendak meraih gagang pintu.
"Anda mau kemana, ini resep obat yang harus anda tebus tertinggal!" Lerai Aurra, saat melihat pasienya tersebut nyelonong pergi begitu saja.
"Seruan Allah memanggil saya. Nanti saya kembali lagi untuk mengambil resep obat itu."
Ucapnya datar sambil berlalu.
'Subhanallah.' Gumam Aurra pelan. Ternyata masih ada juga pemuda yang langsung menjawab seruan tuhanya ketika tiba waktunya. Dan itu baru saja ia temukan kepada pasienya yang merupakan pemuda tampan berbaret tersebut.
**
"Assalamuaĺaikum warohmatullah."
"Assalamuaĺaikum warohmatullahi wabarakatuh." Ucap pemuda gagah tersebut, mengakhiri shalatnya.
Setelah memanjatkan doanya kepada sang ilahi, pemuda tampan itu mengucapkan kalimat 'Amiin' untuk mengakhiri doanya.
Bagaimanapun juga, di tengan profesinya sebagai abdi negara, ia juga memiliki kewajiban sebagai seorang manusia yang beragama.
Sambil mengusap pelan rambutnya yang berpotongan rapi sesuai standar tentara, pemuda itu melepaskan peci hitam yang tadi menggantikan baret miliknya. Sadar akan banyaknya pasang mata yang tengah menatapnya, pria itu menolehkan kepalanya kesekitarnya. Ada sekitar 4 orang tua disana, menatapnya penuh decak kagum kepadanya. Ia hanya membalasnya dengan senyum tipis kepada bapak bapak paruh baya tersebut.
Keluar dari area mushola, pemuda yang tengah mengenakan sepatu ceko khas tentaranya itu kembali terdiam sejenak. Tatapan orang orang di sekitarnya kembali membuatnya risih. Dari sebelah kirinya ada 2 orang wanita muda bersnelii dokter juga tiga orang perawat yang baru saja melintas disana.
"Ganteng ya?"
"Iya. Sudah abdi negara, taat beragama pula."
Komentar dua orang diantaranya sambil tersipu sipu.
Pria berbaret itu menggeleng, lalu bergegas pergi setelah mengenakan sepatunya. Berniat untuk mengambil resep obat yang harus ia tebus tadi, pria itu berpikir sejenak. Ngomong ngomong siapa nama dokter yang menanganinya tadi? Pikirnya mulai bingung. Mungkin karena saking fokusnya ia kepada perasaan menyesal akibat misinya yang gagal, sampai sampai ia lupa dengan nama dokter yang pastinya tadi terpangpang jelas didepan pintu ruanganya.
'Astahfriullahaladzim.' Istigfarnya, saat ia menyadari akibat dari kelalaianya.
Pemida itupun memilih bertanya kepada suster bagian resepsionis yang tadi menunjukkan ruangan dokter yang menanganinya.
Pemuda tampan bermanik elang itu memincingkan matanya sejenak. Berulang kali ia meneguk salivanya susah payah, apakah benar nama yang baru di sebutkanya itu nama dokter muda yang tadi menanganinya.
"Boleh diulang suster?"
"Tadi yang menangani anda Dokter Aurra Putri Haidan, S.Ked. Ruanganya di dekat poli bedah syaraf, sebelan kanan mushola rumah sakit ini."
Sungguh, Van'ar-nama prajurit gagah ini. Manik elangnya mengerjap nerjap beberapa kali. Ia memang tak salah dengar, doktet muda yang tadi menanganinya adalah Aurra-nya. Kakak cantik yang sedari dulu telah memberikan ketertarikan sendiri baginya sejak kecil.
Dengan langkah lebar, pria itu beranjak menuju ruangan yang tadi sempat ia datangi. Ia berhenti sejenak di depan ruangan berpintu dengan cat putih, berteluskan nama yang terpangpang jelas disana. Dengan hembusan napas pelan, pemuda tampan itu mencoba senselaraskan detak jantungnya yang mulai menggila.
"Assalamualaikum warohmatullahi wabarakatuh." Akhiri salam siempunya ruangan seiring dengan terbukanya pintu ruanganya.
Pemuda berbaret itu mematung sejenak, iris gelapnya menatap lurus kedepan. Menatan seorang dokter muda dengan balutan mukena berwarna putih dengan aksen bunga rajut, tangah menhadap kiblat. Keduanya tanganya terpatut di hadapan dada, terlihat khusu dengan lantunan doa yang dipanjatkanya.
Van'ar menatapnya tak berkedip. Benar, dia-gadis yang di temuinya 12 tahun terakhir. Cinta pertamanya dimasa putih biru. Cinta yang sempat ia pikir ketertarikan bela namun nyatanya tak se-semu faktanya.
Selesai dengan panjatan doanya, siempunya ruangan yang menyadari kehadiran sosok lain disana. Mata teduhnya beralih, menatap pria yang kini bersiri mematung diambang pintu. Senyum kecilnya mengembang di balik cadarnya, ia ngat pria itu. Pria berbaret yang tadi sempat ditanganinya.
"Kak Aurra."
Deg
Gadis bermanil hazel teduh itu mendongrak, menatap siempnya suara yang baru saja memanggilnya menggunakan embel embel 'kakak' tersebut.
"Maaf-"
"Ini aku, Van'ar."
Deg
**
To Be Continue
Holla readers🖑🖑
Gimana, buat part ini?
Ada yang mau komen??
Cus ditunggu komenya yaa🤗🤗
Jangan lupa bantu vote juga ya readers😄😄
Ok, sampai jumpa dipart berikutnya
Sukabumi 13 April 2020
09.45
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 101 Episodes
Comments
Leni
Thor Aurora a SM van,'ar aja y plis
2021-06-23
2
Afseen
suka thor cocok sama2 taat agamanya😍😍😍
2021-04-14
1
Bunda Ikhsan
suka bgt novelmu
2021-03-09
1