..."Seperti setiap ayat suci al~qur'an yang terjaga akan keaslianya hingga akhir jaman. Aku harap, hubungan yang dibangun atas sunnah rasulullah ini, akan berjalan dengan semestinya dan sesuai ridhonya. Juga terjaga jalinanya hingga maut memisahkan."...
...-Aurra Putri Haidan-...
...BSJ 05 : Ķeputusan...
...**...
Kemuning jingga dikhatulistiwa, menyambut hilangya sang fajar diufuk timur.Meninggalkan sinar layung cantik yang menghiasi langit jagat raya sore ini. Dengan langkah ringan, dokter muda yang baru saja menginjakkan kakinya dipelataran rumah itu tersenyum kecil.
"Ini pak ongkosnya."
Ucapnya lembut, sambil menyerahkan uang lembaran lima puluh ribu tersebut.
"Oalah, sebentar ya nduk. Ini kembalianya."
Ucap bapak ojol yang berusia sekitaran 40 tahunan tersebut.
"Tidak usah pak. Ambil saja kembaliannya."
"Eh, kok gitu nduk?"
"Gak papa pak, anggap itu rezeki dari Allah buat bapak yang dititipkan kepada saya."
Ucapnya lembut.
"Aduh, kalau begitu matur nuwun ya ndok!"
Ujar ojol tersebut sumringah.
"Iya pak."
Gadis cantik berhijab syar'i tersebut tersenyum kecìl, sebelum melangkahkan kakinya menuju rumah milik orang tuanya.
"Assalamualaikum. Aurra pulang." Ucapnya memberi salam sebelum masuk.
Karena diruang keluarga kosong tidak ada siapa siapa, gadis itu kembali melanjutkan langkahnya menuju ruang makan. Disana ia menemukan Didi-nya dan sang bunda tengah menikmati kegiatan keduanya, mengupas buah apel.
"Mbak Aurra sudah pulang?"
Sapa pemuda tampan yang datang dari arah tangga.
Aurra tersenyum kecil, sebelum mengangguk. Menjawab pertanyaan sang adik-Kaisar Zega Redargard Al-haidan. Tetapi keluarga dan sahabat dekatnya sering memanggilnya dengan panggilan Zega atau Kai.
"Zega, kamu juga ada dirumah?"
Tanyanya kepada sang adik yang memiliki selisih 6 tahun dengan usianya.
"Iya. Pokoknya malam ini, Zega tidur di kamar mbak." Pintanya tak mau tahu.
Jangan salah paham, dengan permintaan pemuda tampan yang memiliki sepasang lesung pipi seperti ibunya ini. Zega ini memang seperti ini, suka tidur di kamar Aurra jika kakaknya itu ada dirumah. Bukan apa-apa, tetapi mereka semalaman suntuk pasti tidak akan tidur jika berada dalam satu kamar.
Aurra itu suka baca, sama halnya dengan Zega. Oleh karena itu Zega suka meminta tidur dikamar kakaknya, agar ia bisa leluasa membaca buku buku miĺik kakaknya yang tertata rapih didalam 4 lemari besar dikamarnya. Aurra itu suka hiking, iya. Manjat gunung, travelling membelah hutan, menyusuri pesisir pantai dan seluk beluknya. Itupun menurun pada Zega.
Oleh karena itu, jika Zega meminta tidur bersama, berarti pemuda itu akan mengajak kakaknya mencari spot yang cocok untuk mereka datangi saat libur tiba. Ya, keduanya sering kali mendaki dan hiking bersama sama. Memang, adik dan kakak ini bak pinang dibelah dua.
"Gak usah diturutin Rin, nanti kamu gak tidur semalaman."Sela sang bunda mengingatkan.
"Bunda." Protes sitampan-Zega.
"Lagian, mana ada mbakmu diajak cuma buat bicarain gunung, hutan sama lautan. Gak berfaedah Kai." Sahut sang bunda lagi.
"Gak. Pokoknya malam ini mbak tidùr sama aku titik." Ucapnya, sambil merangkul bahu sang kakak yang tingginya hanya sebahunya.
"Ya mbak?" Pinta sang adik memelas.
"Iya."
"Mantul, mbak memang patner sehati aku."
Ujar pemuda berusia 22 tahun tersebut, sambil mengeratkan rangkulanya.
"Itu sih maunya kamu, Kai." Ujar sang ibu.
"Bunda kenapa sih, sinis amat sama aku?"
Tanya Zega penasaran. Iya juga tahu jika ibunya itu melarang putra putrinya mendaki gunung terus menerus, takut hilang katanya.
"Habisnya, kamu bentar lagi wisuda loh. Kalau ada apa apa gimana?" Tutur sang bunda.
"Tenang aja bun, aku kan perginya sama dokter terbaik kedua selain Ayah." Sanggahnya, sambil melirik sang kakak.
"Tapi kan, bunda gak suka."
"Ih bunda, parnoan amat sih. Kan kita perginya rombongan bun." Si tama Zega berdalih.
"Tapi-"
"Udah, biarin aja bun. Zega sudah dewasa, bisa jaga dirinya sendiri." Ujar pria berkacamata yang sedari tadi duduk menonton percakapan istri dan putra putrinya tersebut.
"Tuh, Ayah aja ngijinin." Senang Zega.
"Pokoknya liburan ini. aku sama mbak mau
mendaki gunung Rinjani. Biar sweet, naik gunung duan gini. Biar temen temen aku yang suka sama mbak iri, Hehe." Celotehnya girang.
Kedua orang tua mereka tertawa kecil, Zega sang putra memang selalu seperti iti jika sudah menyangkut Aurra.
**
"Ra, bunda boleh masuk?"
Ketukan diiringi suara lembut sang bunda menghentikan aktivitas gadis yang tengah melipat alat shalatnya tersebut.
"Boleh bunda." Lirihnya, sambil mempersilahkan sang bunda masuk.
"Nanti habis makan malam, kamu turun kebawah sambil pakai ini ya?" Pinta sang bunda sambil menyerahkan sebuah kotak berwarna unggu.
"Ini apa bun?"
"Itu gamis pemberian temen bunda. Nanti mereka mau datang kesini buat makan malam bersama." Tutur Sayla-sang bunda.
Gadis cantik itu mengangguk, mungkin bundanya itu ingin iya menghargai pemberian temanya.
"Iya bun, nanti Aurra pakai."
Wanita paruh baya itu tersenyum hangat, sambil mengelus ujung khimar sang putri.
"Pasti putri bunda kelihatan cantik banget." Ujarnya.
Sepeninggalanya sang bunda, Aurra menatap sejenak kotak yang iya yakini berisi pakaian syar'i tersebut. Selesai menimang nimang, gadis itu memilih mengenakan pakaianya. Gamis berwarna peach yag terlihat sangat kontras dengan kulit putihnya. Yang dipadukan dengan hijab syar'i berwarna senada pula.
Ckllakk
"Mbak, udah ditunggu dibawa tuh."
Intruksi Zega yang menyembulkan kepalanya dari balik pintu.
"Wah, mbak cantik gini mau kemana nih?"
Godanya sambil terkekeh geli.
"Zega ih." Lirih siempunya panggilan sambil menunduk.
"Ya gak papa kali kelihatan cantik, biar camer-nya terpesona." Lanjut Zega.
Gadis itu mendongrak, menatap adiknya yang juga terlihat tampan dengan balutan baju batin berwarna coklat dengan bawahan jeans hitam. Camer kata Zega tadi, nyatanya mampu membuat Aurra bertanya tanya. Calon mertua bukan sih maksudnya?
"Maksud kamu apa?" Tanyanya menanti jawaban sang adik.
"Udah ah, gak baik buat orang nunggu."
Ujar Zega sambil menuntun sang kakak agar keluar dari kamarnya.
Di arah anak tangga, Aurra bisa mendengar sayup sayup percakapan di ruang tamu. Bukan satu atau dua orang sepertinya,tapi lebih dari itu.
"Nih, calon mantennya udah siap."
Celetuk Zega saat mereka tiba disana.
Hampir seluruh pasang mata menatap takjub kearah Aurra. Sedangkan si empunya, berdiri mematung dengan tatapan bertanya tanya 'ada apa ini?'.
"Sini sayang, duduk disamping bunda."
Panggil wanita paruh baya yang mengenakan gamis yang berwarna hijau toska tersebut.
Aurra tersenyum kecil dibalik cadarnya, sebelum menghampiri Arkia-wanita yang baru saja menyapanya tersebut. Gadis itu mengangguk, lalu berjalan kearahnya. Mendudukkan dirinya diantara Arkia dan juga Sayla.
"Baiklah, bismillah hirrohma nirrohim. Jadi begini, kedatangan kami sekeluarga kesini untuk bersilaturahmi, Dim." Ujar Vano-suami Arkia angkat bicara.
Aurra memang awalnya terkejut dengan kedatangan mereka, Aurra, Vano, juga Lunar.
Mereka datang bertiga tiba tiba seperti ini, tentu membuatnya terkejut dan bertanya tanya.
"Sekalian untuk mengutarakan niat baik kamu."
Ujar Vano, pria baya itu kembali berujar.
"Untuk mengkhitbah putrimu Aurra, untuk putra sulung kami."
Deg
Aurra mematung seketika, sejalan dengan hatinya yang terasa berhenti seketika.
Apa katanya barusan, mengkhitbahnya?
Kenapa tiba tiba begini, pikir Aurra.
"Kami sekeluarga berharap, agar kamu dan putrimu mau menerima khitbah dari putra kami Dim." Lanjut pria bermanik jelaga tersebut.
"Maaf jika kedatangan kami dirasa sangat tiba tiba, untuk saat ini putra kami juga belum bisa hadir secara langsung, karena masih ada urusan urgen diluar negri."
"Subhanallah. Itu adalah berita yang baik Va."
Jawab Dimas, pria berkacamata itu menatap tautan tangan putrinya sejenak. Ia tahu jika buah hatinya itu tengah gugup, namun cenderung kearah bingung.
"Tetapi, saya sebagai seorang ayah hanya bisa menyerahkan semua keputusan ini kepada Aurra. Karena bagaimanapun juga, dia yang akan menjalaninya."
Vano menoleh, menatap kearah gadis yang tengah menunduk dalam tersebut.
"Jadi bagaimana Aurra?"
Tanyanya kepada sosok yang dulu pernah hampir ia sakiti karena kesalahpahamanya.
"A-aurra..." Cicit gadis itu kecil.
Ia bingung sekarang. Ini terlalu tiba tiba baginya. Ia di khitbah oleh putra sulung keluarga besar Radityan, maksudnya Keevanzar Radityan Al-faruq. Pemuda yang bahkan wajahnya saja sudah ia lupa bagaimana bentuknya. Belum lagi, pemuda itu tidak ada saat ini. Apa apaan coba?
"Jangan ragu sayang, utarakan saja pendapat kamu." Lirih Arkia, sambil meraih jemari mungil Aurra.
"Aurra, Aurra..."
Gadis mendongrak sejenak. Menatap satu persatu wajah orang orang yang tengah menanti jawabanya.
'bismi-lāhi ar-raḥmāni ar-raḥīmi'
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
"Aurra, menerima khitbah ini."
Ucapnya penuh keyakinan dalam satu kali tarikan.
"Alhamdulillah." Ucap mereka serempat, sambil tersenyum bahagia.
Kia tersenyum kecil dari balik penutup wajahnya. Ia senang, melihat keluarganya terlhat sangat bahagia. Walaupun keputusan ini diambil secara tiba tiba, Aurra hanya bisa berdoa agar keputusanya ini dapat membawanya kedalam jalan yang benar.
'Semoga pilihan hambamu ini adalah keputusan yang paling benar ya-Rabb.'
**
To Be Continue
Oiii hallooo🤗🤗
Jumpa lagi dengan Aurra nih???
Gimana hayooo, setuju apa enggak??
cusss...komentarnya buat part ini. Biar makin semangat nulisnya😊😊
Ok, sampai jumpa lagi dipart berikutnya ya🖑🖑
Happy weekend😊😊
Sukabumi 18 April 2020
10.15
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 101 Episodes
Comments
Amelia_Ling
kok takut terulang lagi ya ,,,
2021-10-09
2
Arninyon
yang sabar ya abang van'ar...
2020-11-09
1
Ira Mulyani
Aurra sm van'ar ajah thor
2020-09-08
1