..."Namanya niat yang baik tidak boleh ditunda tunda pelaksanaannya."...
...BSJ 03 : Keluarga Radityan...
...**...
"Kak Aurra."
Deg
Gadis bermanil hazel teduh itu mendongrak, menatap si empunya suara yang baru saja memanggilnya menggunakan embel embel 'kakak' tersebut.
"Maaf-"
"Ini aku, Van'ar."
Deg
***
Semilir angin ditaman dekat rumah sakit siang ini, terasa begitu sejuk. Rimbunya pepohonan yang berdiri kokoh disana, menambah asri pemandangan taman ini walaupun berada di tegah kota. Langkah kaki gadis berhijab syar'i tersebut terhenti sejenak. Tanganya refleks membantu bocah kecil yang jatuh tak jauh darinya.
"Makacih kak" Ucap bocah lelaki yang kira kira berusia 5 tahun tersebut.
"Iya sama sama. Lain kali hati hati ya."
Semua pemandangan itu tak luput tentunya dari manik tajam pemuda dibelakangnya. Mereka memang berjalan jalan sejenak ketaman ini, sambil mengisi waktu istirahat dzuhur.
"Kakak gak papa?"
Tanya pemuda tersebut, terasa akward memang.
Sekilas, tubuh tinggi tegap miliknya terasa aneh memanggil perempuan di hadapanya yang tingginya hanya sebahunya. Walaupun notabenenya mereka terpaut usia yang cukup jauh, lima tahun.
"Aurra gak papa. Hmm, kamu gak usah panggil kakak. Rasanya jadi aneh." Komentar gadis berhijab syar'i tersebut, sambil menunduk.
"Ya sudah, aku panggil Aurra saja boleh?"
"Boleh."
Setelah mengetahui jika pemuda dihadapanya ini adalah Keevan'ar Radityan Azzioi-putra kedua dari Vano dan Kia. Aurra baru ingat, jika dulu mereka sering bermain bersama saat masih sama sama tinggal di kota kembang, Bandung.
"Jadi, Aurra sekarang sudah jadi dokter?"
Tanya Van'ar memecahkan keheningan diantara mereka.
Sebenarnya akward saja, berbicara seperti ini. Mungkin karena keduanya juga sudah sama sama dewasa.
"Iya. Aku jadi dokter bedah umum."
"Kayak om Dimas?"
Tanya Van'ar mencoba meminimalisir rasa penasaranya yang hampir membludak ini.
Kemana perginya Van'ar yang datar ini, kenapa berganti dengan Van'ar yang banyak tanya.
"Iya, tapi Didi sekarang lebih fokus megang spesialis jantung." Tuturnya.
Keduanya kini mulai terbiasa mengobrol dengan topik topik ringan. Seputar pekerjaan keduanya hingga pendidikan keduanya. Setidaknya, mengobrol dengan Aurra bisa mengurangi sedikit rasa bersalah yang tadi menumpuk amat banyak di hatinya karena kegagalan misinya.
Setidaknya pula, rasa rindu yang bertahun tahun yang sudah menumpuk itu pun, kini menguap entah kemana.
**
Gadis cantik berhijab syar'i itu menatap takjub bangunan megah dihadapanya. Hunian bergaya modern yang lebih pantas di sebut mansion dari pada hunian tempat tinggal. Setelah habis jam praktiknya tadi, gadis cantik itu ikut mengantarkan omanya pulang kerumahnya.
Silvia-ibunda Vano, memang malam ini bisa pulang kembali kekediamanya. Wanita paruh baya itu juga sengaja, ingin mengajak dokter muda yang selalu merawatnya ini ikut mengantarnya pulang.
Wanita paruh baya itu berharap besar, semoga yang diatas mau menakdirkan gadis baik hati ini agar bergabung kedalam keluarganya-Keluarga Radityan maksudnya.
"Assalamualaikum. Oma pulang."
Salam wanita paruh baya yang duduk dikursi roda yang di dorong oleh suaminya tersebut.
"Waalaikumsalam, mamah sudah pulang?"
Tanya sang putra disana-Vano.
"Alhamdulillah." Lanjutnya sambil mengecup punggung tangan sang bunda.
Kepulangan Silvia ini tentu di sambut haru oleh putra sulung, menantunya juga cucu perempuanya. Sedangkan putri sulungnya-Vanya tinggal bersama suami dan anaknya di Ohio. Belum lagi, putra sulung Vano dan Arkia yang kini juga absen hadir di karenakan ia sedang berada diluar negri.
"Oma, Lunar kangen."
Panggil gadis cantik berhijab cream tersebut, sambil menghambur kedalam pelukan neneknya.
"Aduhh, oma juga kangen sama cucu oma yang cantik ini." Jawab Silvia, sambil mengusap pucuk hijab sang cucu.
Kehangatan keluarga besar itu juga tak luput dari manik hazel Aurra. Gadis cantik itu menarik sudut bibirnya, membentuk senyuman manis dibalik cadarnya. Dirinya kini berdiri di belakang kursi roda yang di dorong oleh Ibra.
"Itu, siapa oma?"
Tanya Lunar, menatap penuh tanya kepada sosok cantik di belakangnya.
"Ah iya, itu Dokter Aurra. Putrinya Dokter Dimas."
Siempunya nama tersenyum kecil, ketika dirinya di perkenalkan. Kemudian tatapanya beralih kepada wanita baya yang sering dipanggil 'bunda' olehnya dulu.
"Aurra..." Lirih wanita yang malam ini mengenakan hijab berwarna dark blue tersebut.
"Kyakk.... mbak Aurrra."
Teriak Lunar histeris, sambil menghambur memeluk tubuh gadis cantik tersebut.
"Lunar kangen bangeeet." Ucapnya sambil memeluk Aurra erat.
"Mbak kemana aja? Setiap Aurra ke Bandung, mbak gak ada?" Lanjutnya, sambil merenggangkan pelukanya.
"Mbak kulian di London, sambil magang juga di salah satu rumah sakit disana." Jawab lirih gadis bersuara lembut tersebut.
"Pantesan. Sini, sini, duduk. Mbak hutang banyak cerita sama Lunar." Ucap sicantik nan enerjik--Lunar.
Aurra mengangguk, sebelum ikut duduk ia terlebih dahulu menatap ke arah wanita yang amat dirindukanya tersebut.
"Kemari sayang." Panggilnya lembut.
Aurra dengan senang hati mengangguk, menghampiri wanita yang sudah ia anggap sebagai bundanya sendiri. Terlepas dari ibu sambungnya-Sayla, Wanita ini juga punya peranan sama dalam hidupnya.
"Bun-da." Lirihnya tak kuasa menahan air matanya, saat tubuhnya di peluk oleh wanita tersebut.
"Aurra.... Aurra, rindu bunda." Lirihnya kecil.
Arkia-wanita itu paham betul dengan ucapan gadis cantik dalam rengkuhanya ini. Sejak lahir, Aurra memang tidak diberi kesempatan melihat ibunya-Aurrin. Hidup gadis ini sungguh dipenuhi dengan halang rintang, namun Kia yakin jika Aurra gadis yang kuat sehingga Allah memberinya cobaan sebegitu banyaknya.
"Bunda juga rindu." Kata dirinya, sambil mengecup pucuk khimar Aurra.
Bagi Kia, Aurra adalah putrinya terlepas dari kisah masalalu antara dia dan orang tuanya. Kia menyayangi Aurra seperti menyayangi ketiga anaknya. Malah, Kia berharap nantinya ada benang takdir yang dapat mewujudkan keinginanya tersebut. Kia berharap, sangat malahan.
Kedatangan Aurra kedalam Keluarga besar Radityan di sambut dengan hangatnya. Mereka kembali berbincang bincang, menanyakan berbagai hal kepada gadis cantik tersebut.
Deru motor KLX yang cukup keras, membuat mereka berhenti bercakap sejenak. Di susul suara derap langkah kencang dari suara sepatu ceko-sepatu boot hitam khas tentara. Seorang pemuda tampan berlari, menyusuri teras depan rumah keluarga besar Radityan, sambil melepaskan topi loreng kebanggaanya. Senyumnya terpatri di bibir, menambah kadar ketampananya.
"Assalamualaikum." Uluk salam siempunya suara bass berat tersebut.
"Waalaikumsalam." Jawab mereka serempak.
"Abangggg."
Teriak sang adik menggema, menyambut kedatangan pemuda berseragam TNI AD tersebut.
"Lunar kangeenn." Lanjut gadis cantik tersebut, menyerbu tubuh kembaranya. Memeluknya erat, seakan akan pemuda itu akan hilang jika ia melepaskan pelukanya.
"Hallo tuan putri, apa kabar?"
Sapa pemuda bersuara bas berat tersebut.
Membuat beberapa orang yang melihatnya tersenyum kecil.
"Lunar kangen tau, kenapa abang gak pulang pulang." Ujar gadis cantik tersebut mulai terisak.
"Sstt, gak boleh nangis. Aisyahnya abang nanti gak cantik lagi."
Bukanya hilang pamor tegasnya seorang prajurit yang melekat padanya, pria ini malah terlihat sangat sweeth sekarang. 'Aisyahnya Abang' adalah panggilan yang selalu ia sematkan kepada kembaranya tersebut.
"Ish, abang mah."
Pemuda tampan itu mengurai pelukanya, menuntun sang adik agar ikut bergabung bersama keluarga besaranya.
"Oma, abang pulang."
Ujarnya, sambil bersimpuh di depan wanita paruh baya yang menjadi salah satu alasan kepulanganya.
Pletak
"Aww, sakit oma." Ringis pemuda tampan tersebut.
"Akhirnya, cucu oma yang nakal ini pulang juga."
Ucap Silvia, sambil mengusap bekas jitakanya.
Tak dapat dipungliri, jika wanita paruh baya itu teramat rindu kepada cucunya yang satu ini. Sejak kecil ia sudah di didik oleh sang suami-Ibra, agar menjadi pemuda yang tangguh agar siap mengabdikan dirinya kepada negara. Namun, sebagai konsekuensinya mereka harus kehilangan pemuda ini dalam kurun waktu yang cukup lama, selama ia berada dalam tempat pelatihan ataupun sekedar mutasi keluar kota.
"Oma sudah sembuh?" Tanyanya lembut, sambil mengenggap tangan wanita paruh baya tersebut.
"Sudah dong. Oma langsung sembuh, kalau dengar cucu tampan oma ini pulang."
Lanjutnya sambil tersenyum.
Pemuda tampan itu tersenyum, sebelum mengecup punggung tangan sang nenek. Kemudian beralih kepada kedua orang tuanya, yanga teramat ia rindukan.
"Abang udah besar ya."
Lirih wanita baya tersebut, saat mendekap tubuh tegap sang putra.
"No, bunda di larang menangis."
Intruksi Van'ar-ya, Kevan'ar Radityan Az-zzioi. Sambil mengusap air mata yang membasahi pipi sang bunda.
"Abang sudah pulang, jadi bunda gak boleh sedih." Lanjutnya.
Semua keharuan itu tentu tak luput dari manik jernih Aurra. Kehangat dan keharmonisan keluarga besar ini sungguh mengetuk hati kecilnya, sampai sampai tanpa sadar sebutir air mata berhasil luruh dari kelopak matanya.
Semua itu juga tak luput dari manik jelaga milik Van'ar. Melihat ada sosok lain selain keluarganya di sana, dia tidak terkejut. Karena lambat laun, gadis itu juga pasti akan menjadi bagian dari keluarga radityan.
"Mbak cantik tidak boleh menangis, nanti banyak yang sedih." Lirihnya, tanpa sadar yang langsung dihadiahi tatapan berbeda beda dari setiap anggota keluarganya. Diantaranya ada yang tersenyum penuh arti, juga waspada.
**
Sementara itu di lain tempat, di belahan bumi lainya. Di atas benua yang berbeda di penjuru bumi sana. Seorang pria tampan berpakaian formal kantoran, menatap dengan ekspresi yang tak bisa di jabarkan kepada layar smartphone pintarnya. Dimana ada sebuah potret keluarga bahagia, namun tanpa hadirnya putra sulungnya. Ya, Lunar-sang adik baru saja mengirimkan fhoto tersebut.
Disana ada kakek neneknya, ayah dan ibunya, adik kembarnya, juga seorang wanita berhijab syar'i yang membelakangi kamera, tengah berdiri disamping Van'ar adiknya. Potret keluarga bahagia, yang lagi lagi harus ia lewatkan karena keegoisanya sendiri.
"Dear, ayo sarapan dulu. Sarapanya sudah siap."
Panggil suara lembut yang membuyarkan lamunanya.
Jika di Indonesia sekarang sudah pukul 20.41 malam, lain lagi dengan New York yang kini baru pukul 07.41 pagi.
Dengan langkah gontai, pria tampan itu menyimpan smartphone pintarnya diatas meja. Entah sampai kapan, dirinya akan menjauh dari keluarga yang ia rindukan tersebut. Ini salahnya, memang. Karena keegoisanya, saat ini ia belum bisa memilih. Karena ia belum bisa mengambil keputusan terbaik diantara hubungan asmaranya, juga keluarganya.
"Dear, kamu melamun?" Sapa suara lembut dari wanitanya tersebut. "Ada apa?"
"Tidak ada, aku cuma sedikit pening."
Kilah pria tampan tersebut berdalih.
Untuk saat ini ia belum bisa memilih. Antara melepaskan atau mempertahankan.Karena perbedaan keyakinan menghaĺagi keduanya, namun ada cinta yang amat besar membutakanya. Itulah cintanya, membutakan dirinya dengan keegoisan .
**
To Be Continue
Hayooo, gimana guys😄😄
Cus cus cusss, komentar yooo🤗🤗
Jangan lupa bantu dukunganya yaa😙😙
Sukabumi 16 April 2020
11.00
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 101 Episodes
Comments
Amira Dayana Natasya
anak ny sama bapak sama aj.egois
2021-05-22
3
Neyla Zalfa
bahasanya bagus kak,haluuus banget gk keburu2 tp juga gak bertele2...awal baca sinopsisnya,langsung penasaran....
2020-12-02
3
Neyla Zalfa
bahasanya bagus kak,haluuus banget gk keburu2 tp juga gak bertele2...awal baca sinopsisnya,langsung penasaran....
2020-12-02
3