Justin melepaskan pelukannya lalu melihat wajah Vivian, dan mengamatinya.
"Tetap saja, kau tidak boleh membiarkan tubuhmu tidak diobati" tutur Justin.
"Baiklah, nanti ku obati" ucap Vivian yang melirik ke kiri jelas ia berbohong.
"Kalau begitu kemari" ajak Justin ia menaruh gelas wine dimeja dan menyuruh Vivian duduk diatas kasur.
"Mau apa?" Curiga Vivian.
"Kemari sebentar" perintah Justin dan dituruti Vivian yang duduk diatas kasur dan membelakangi Justin.
Jemari Justin berada dipundaknya, Vivian melebarkan matanya, mau apa dia sampai melakukan skinsip ini.
"Mau apa sih?" Cerewet Vivian.
Justin hanya diam dan memegang pundak sebelah kanan Vivian dengan kedua tangannya.
"Lihat ke arah pintu" perintah Justin, tanpa curiga Vivian langsung melihat ke arah pintu.
KREEKKK..
"AAKKKK!!" Teriak Vivian.
KREEK..
"AAKK.. KAU--" Vivian teriak kesakitan setelah Justin membenarkan tulang yang bergeser.
"Bagaimana? Lebih baik?" Tanya Justin. Ia menyadari pundak Vivian setelah memeluknya.
"Sangat sakit! Waahh.. Kupikir pundakku patah" tutur Vivian memang dari tadi ia merasa pundaknya sangat sakit ketika ia mengangkat tangannya.
"Kau pandai menahannya, biasanya orang akan langsung lemas" terang Justin yang dengan santai bangkit dan mengambil gelas wine lagi.
"Ah.. Benarkah? Lantas apa aku harus beruntung? Ini karena pintu kamar mandi, tak ada yang menolongku, kau sibuk dengan nya" tutur Vivian ia memelankan suara diakhir kalimat.
"Maka dari itu kau ingin menembak ku? Atau Chris?" Tanya Justin.
"Aku melerai pertikaian kalian, tidak ada pilihan" ngeless Vivian.
Justin hanya mengangguk lalu menyesap wine nya, dan melihat ke arah jendela.
"Bagaimana dengan kontrak nya? Bukankah seharusnya ada kontrak?" Tanya Vivian.
"Kenapa butuh?" Tanya balik Justin.
"5 juta tidak lah sedikit, aku bisa saja kabur dan tidak membayarnya" pungkas Vivian.
"Jadi kau butuh kontrak?" Perbaiki Justin.
"Iya" angguk Vivian.
Justin duduk di pinggiran kasur dan menatap Vivian.
"Baiklah dengar ya... Dalam kontrak, ada 3 yang tidak boleh kau lupa. Pertama berjanji kau selalu disamping ku. Kedua Jangan sampai kau terluka. Ketiga. Aku mencintaimu" ucap Justin menyebutkan isi kontrak itu namun kalimat terakhir membuat jantung Vivian berdegub tak karuan.
"Kenapa isi kontraknya begitu?" Gugup Vivian dengan wajah bertanya-tanya.
"Aku yang punya kuasa dan kau peminjam, ingat yang tadi ku sebutkan? Coba katakan lagi" tagih Justin.
"Hm. Pertama Aku berjanji akan selalu disampingmu. Kedua Kau juga jangan sampai terluka. Ketiga Aku juga mencintaimu" jelas Vivian yang terlihat dari sorot matanya ia mengatakan ketulusan.
"Bagus" senyum Justin.
"Tetap saja, lebih baik pakai kertas, aku butuh stempel, atau tanda tangan? Aku tidak bawa stempel jadi tanda tangan saja ya" tutur Vivian.
"Stempel?" Cicit Justin lalu menyesap wine nya dan menaruhnya.
Lalu tanpa aba-aba Justin menarik pipi Vivian dan menempelkan bibirnya sembari menutup matanya. Vivian melebarkan matanya namun setelahnya ia menutup matanya perlahan, hanya kecupan lembut membasahi bibir.
Justin memundurkan wajahnya, lalu tersenyum kecil dan mengambil gelas wine nya lagi.
"Sudah kan? Stempel" santai Justin dan menyesap lagi wine nya.
"Stempel ku masih belum" tutur Vivian.
"Hm?" Dehem Justin melihat ke Vivian.
Vivian langsung naik dipangkuan Justin dan mecúmbû dengan lembut, meski Justin kaget dan kewalahan ia menaruh gelas wine ke meja samping kasur.
Ciúmàn Vivian lama kelamaan menuntut, hingga menimbulkan decakan, seisi ruang dengan lihai Justin mengikuti alur yang dibuat Vivian bahkan ia meremas pelan pinggang ramping Vivian.
Dengan tiba-tiba Vivian melepaskan cúmbûan itu lalu wajahnya nampak menyesal.
"Maaf.. Aku terlalu kasar.. Bibirmu kan sedang terluka" ucap Vivian mengusap lembut bibir Justin.
"Kalau kau menyesal, lakukan sekali lagi" pintar Justin dengan senyum.
"Kau tidak keberatan?" Senyum Vivian.
"Hm" angguk Justin.
CUP
Vivian hanya sekilas mengecúp lalu memeluk Justin dengan senyum bahagianya.
...
Angin malam berhembus, keadaan kamar telah gelap hanya sinar bulan yang menerangi kamar, dikala Vivian sudah terlelap dalam tidurnya tidak dengan Justin yang terjaga matanya melihat kearah Vivian yang terpejam.
Teringat perkataan Cleo diruang kerjanya, wajah mereka berdua nampak serius.
*Flashback On
"Kita tidak bisa mempercayai nya lagi. Sudah ku pastikan, ternyata Vivian pernah tinggal bersama dengan keluarga Vera dan Victor tepatnya di italy" terang Cleo.
"Situasi macam apa ini" meski sulit Justin berpikir haruskah ia bertanya pada yang bersangkutan, dan mengetes sejauh mana Vivian berbohong padanya.
"Italy.. Dan Amerika dia pernah tinggal disana" jelas Justin.
"Benar, sudah dipastikan dia benar-benar sekolah di Amerika.. Tapi.. Sekolah.. Militer" unjuk Cleo yang baru dapat informasi lewat ponsel nya lalu memberikan pada Justin. Justin yang enggan percaya namun informasi itu sudah di depan matanya.
"Dia benar-benar menipu kita" lanjut Cleo yang marah.
"Lalu.. Semua itu apakah aktingnya, bahkan dengan pistol sekalipun?" Justin tidak ingin percaya sebelum perkataan itu dari Vivian bisakah dia percaya lagi.
*Flashback Off
Justin yang duduk di pinggiran sofa berjalan ke arah kasur sebelah Vivian, lalu dibelakang tubuhnya terdapat sebuah pistol.
Justin duduk di pinggiran kasur dekat tubuh Vivian, lalu mengarahkan pistol nya pada Vivian yang sedang terlelap.
'Aku harus membunuh nya kan.. Sebelum kau bertindak lebih jauh.. Dan lebih sakit hati lagi' batin Justin bergejolak. Meski tubuhnya memerintah kan mengarahkan pistol kearah Vivian namun hatinya bertolak belakang.
Tangannya bergetar menahan gejolak marah, dan sakit hati, tepat disitu Vivian sedang bergerak dalam tidurnya.
Sampai Vivian terbangun dan sudah melihat Justin hanya duduk menatap jendela dengan tatapan kosong, dan menyembunyikan pistol dibawah tempat tidur.
Vivian yang melihat Justin terjaga ia ikut bangun lalu mengucek matanya.
"Kenapa tidak tidur? Insomnia??" Tanya Vivian.
"Tidak, kau tidurlah.. Apa aku membangunkan mu? Maaf" senyum Justin.
"Mau Jalan-jalan?" Tawar Vivian.
"Selarut ini?" Tutur Justin.
"Hem" angguk Vivian.
Pada akhirnya mereka berjalan santai dihalaman rumah yang luas, Justin merangkul perut langsing Vivian.
Namun langsung Vivian genggam tangan Justin sambil berjalan santai, tidak jauh 2 meter dua pengawal selalu mengikuti meski hanya dihalaman rumah.
"Segar nya.. Gimana?" Tanya pendapat Vivian pada Justin.
"Hm.. Angin nya juga sejuk" angguk Justin mereka berjalan beriringan.
Angin yang sepoi-sepoi memperlihatkan bulan penuh malam itu, langit bahkan sangat cantik.
"Kau tidak bisa tidur.. Sepertinya karenaku dan Chris juga" ucap Vivian nada menyesal.
"Benar, kau wanita yang membuatku pusing" terang Justin.
Vivian hanya mendengus kecil lalu melihat bangku taman.
"Kita duduk disini sebentar" ajak Vivian Justin hanya mengikuti.
Sambil menikmati angin malam, Vivian mendongak, tangannya sembari menggenggam tangan Justin yang kekar.
"Chris.. Mengatakan padaku.. Kematian ibuku.. Bukanlah kecelakaan biasa.. Dia memberikanku buktinya juga, saat itu aku.. Masih muda.. Tidak bisa apa-apa untuk memberontak" cerita Vivian tiba-tiba.
Vivian menoleh ke Justin, tangannya tak lepas dari genggaman nya.
"Sebenarnya.. Keluargaku sangat hancur, aku lahir tanpa ayah, karena ibuku tanpa sadar telah hamil, saat itu ibuku sedang menjadi dokter magang, ibuku melahirkanku masih sangat muda takut karirnya meredup karena melahirkan anak, aku terpaksa diurus dipanti asuhan, kadang ibuku juga mengunjungi ku" lanjut Vivian.
"Ayahmu menculik mu?" Tanya Justin.
"Iya saat itu.. Aku benar-benar terpisah dari ibuku" terang Vivian.
"Ayahku.. Sangat keterlaluan.. Membiarkan wanita yang dihamilinya mengurus sendiri saat perutnya membesar, saat lahir mengambil nya seperti merampas permen, sangat mudah" nunduk Vivian.
'Aku melihatnya.. Dia tidak berbohong. Haruskah ku tanya diwaktu yang tepat ini?' Batin Justin yang melihat Vivian dari samping.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments