Mobil hitam berjejer tentu pemiliknya ada didalam, tak hanya itu Vivian juga melihat anjing hitam untuk berjaga, terlihat anjing mereka sudah seperti dilatih.
Justin mengajak nya untuk masuk, karena acara sangat privat, mereka tidak diizinkan membawa ponsel, Vivian dengan suka rela menaruh ponselnya begitu juga dengan Justin.
Aula pesta yang amat megah membuat Vivian terpana lagi, melihat sekeliling mereka memakai dress code berwarna hitam, di tengah aula terdapat dessert manis dan minuman serta alunan musik klasik.
Vivian berusaha untuk membaur melihat semua orang juga sedang asik mengobrol, Justin menyentuh pinggang Vivian dan menuntunnya, Vivian reflek langsung menoleh.
"Enjoy the party" bisik Justin.
Pesta berjalan lancar bahkan Vivian tersenyum saat diperkenalkan sebagai calon istri, meski membuatnya sedikit malu.
Tiba waktunya pintu ujung terbuka, semua orang memasuki sana satu persatu, ternyata didalam adalah sebuah theater cukup besar mungkin bisa menampung 100 orang atau lebih.
Vivian menaiki tangga menuju lantai bagian atas theater, bagian atas terdapat 5 balkon untuk yang lebih ingin menikmati dengan nyaman.
"Acara ingin dimulai.. Apa Chris belum terlihat?" Tanya Vivian jika mereka sudah bertemu, pasti Justin akan mengenalkan padanya, karena Vivian juga tidak tahu wajah nya seperti apa.
Mereka sudah duduk hanya dua kursi yang berada di balkon.
"Sepertinya dia tidak datang" ujar Justin.
Melihat panggung yang berada di bawah, jelas ini bukan untuk film.
"Apa nanti ada yang tampil dibawah?" Tanya Vivian.
"Apa kau suka Opera?" Tanya Justin yang melihat panggung yang akan dimulai.
"Opera? Itu.. Bernyanyi dengan suara indah itu?" Terang Vivian dan diangguk oleh Justin.
Vivian melihat lagi tamu yang duduk di kursi penonton bawah.
"Mereka semua.. Adalah Mafia?" Ucap pelan Vivian namun didengar oleh Justin.
"Yaa.. Mereka juga membawa keluarga nya, tapi mereka juga sama nya ikut terlibat" ucap Justin.
"Mereka terlihat seperti orang biasa" ungkap Vivian.
"Tentu saja, mereka juga manusia, tapi jangan buat seorang Mafia kesal, kalau kau tidak ingin hilang" peringat Justin.
Vivian mencoba mencerna kata-kata itu, sudah berapa kali ia juga sudah membuat Justin kesal, apa dia akan hilang memang gawat masa depan nya. Geleng Vivian.
"Jika polisi kesini.. Mereka akan dapat promosi" tutur Vivian.
Justin mendengus lalu tangannya mendekat ke pinggiran balkon.
"Polisi? Bahkan dari mereka ada yang bekerja sama dengan politisi, meski dipenjara mereka bisa dapat ruang VVIP" smirk Justin.
"Bukan penjara tapi hotel" perjelas Vivian.
Lampu mulai meredup, digantikan lampu yang menyorot ke tengah panggung.
"Sudah mulai, jangan bicara apapun, dan nikmati pertunjukan nya" peringatan Justin. Vivian hanya mengangguk patuh.
Opera pun dimulai dengan suara seriosa serta pakaian victoria era, Vivian juga terpana melihat nya, karena jarang melihat ini ditempat lain. Penyanyi tersebut menggunakan berbahasa Jerman yang Vivian tidak mengerti namun ia dapat menikmati nya. Sedangkan Justin yang tahu ia sangat menikmati opera tersebut.
Banyak pertanyaan dikepala Vivian mengenai opera, namun Justin menyuruhnya untuk diam. Ditengah pentas Vivian mulai suntuk bahkan ia berkali-kali ketahuan menguap oleh Justin meski malu Vivian hanya tersenyum.
"Bosan?" Bisik Justin ditelinga Vivian.
Justin yang memancingnya, Vivian pun mendekat ke arah telinga Justin.
"Iya, Boleh ku bertanya?" Balas bisik Vivian ditelinga Justin. Hanya anggukan sebagai jawaban.
"Aktris opera apa mereka tahu kalau semua penonton nya Mafia?" Bisik Vivian namun ia mengeja kalimat terakhir.
"Perjanjian tutup mulut, cukup 1 pertanyaan" bisik Justin yang memberi tahu untuk diam.
Angguk Vivian lalu ia mengalihkan pandangannya, tanpa sengaja di sebrang balkon Vivian melihat seseorang yang familiar, cukup lama ia berkontak mata untuk mengingat, setelah melihat tato di leher.
'Pria di Casino' ucap Vivian dalam hati ketika mengingat nya.
Baru ingin memberi tahu Justin, tapi terhenti karena Justin tidak ingin diganggu, mata Vivian melihat lagi disebrang balkon tempat pria itu berdiri namun sudah tidak ada ditempatnya.
"Dimana dia" ucap pelan Vivian.
Tepat saat itu Opera telah selesai, mereka bertepuk tangan meriah bahkan sampai berdiri dan para pemain juga membungkuk untuk berterima kasih.
Disaat semua berdiri untuk meninggalkan area theater begitu juga dengan Justin, saat berjalan Justin disapa oleh rekan bisnis nya dan mereka berbincang, sedangkan Cleo juga sama nya sedang berbincang dengan teman nya.
Vivian hanya mengikuti dari belakang, mereka terlihat asik bahkan tertawa kecil.
Namun disaat semua teralihkan, tiba-tiba dari belakang Vivian ada yang membekap mulut dengan sapu tangan, aksinya sangat pas sehingga tidak ada yang melihat, sampai tubuh Vivian langsung tidak sadarkan diri, dan pria tersebut menggeret tubuh Vivian kebelakang.
Justin yang belum sadar saat dia sudah keluar dari ruang teater ia menoleh dan Vivian tidak ada didekatnya.
Matanya pun mencari, namun nihil, Justin kembali ke dalam dan tidak ada siapapun, orang-orang sudah keluar.
"Vivian tidak ikut dengan mu?" Tanya Justin.
"Bukannya bersamamu dari tadi?" Balik Tanya Cleo.
"Mungkin di toilet?" Tebak Cleo.
"Didalam theater tidak ada toilet, kalau mau kau harus keluar, aku baru sadar setelah di pintu keluar, dan aku tidak melihat Vivian keluar" jelas Justin yang berpikir.
"Ada satu lagi pintu keluar. Pintu pemain theater" Cleo melihat panggung yang sudah tertutup tirai.
"Biar ku periksa" Justin langsung menuju ke belakang panggung khusus pemain theater. Namun ternyata sama, Justin tidak melihat Vivian melainkan hanya pemain yang sedang merapihkan peralatan selepas acara.
Justin celingak-celinguk barangkali melihat Vivian, ia menghela nafas masih belum melihat Vivian, saat ingin masuk Justin melihat sesuatu di lantai dua balkon, disana terdapat tas kecil yang menghadap kearah pintu keluar, seperti sengaja untuk menunjukkan.
Justin segera masuk kedalam, sesampainya tidak ada Vivian memang hanya tas kecil miliknya.
Tas merek Gucci yang hanya seukuran telapak tangan, Justin membukanya terdapat ponsel lipat, yakin ini bukan milik Vivian.
Cleo yang datang melihat Justin.
"Kau menemukan tasnya?" Cicit Cleo.
Saat di buka ponselnya ada pesan masuk.
'Pemilik tas wanita ini, tetap aman.. Asal kau siapkan uang nya'
"Vivian diculik" tebak Justin.
Cleo cukup terperangah.
"Acara ini saja keamanan nya sungguh ketat, bagaimana bisa?" Tutur Cleo.
"Untuk menyelamatkan nya aku butuh uang tunai, kita siapkan itu dulu" titah Justin ingin pergi.
"Tunggu sebentar" Cleo menghentikan Justin.
"Tidak ada waktu" bantah Justin.
Cleo mengambil ponsel nya, ia menaruh yang palsu di konter acara dan membuka sesuatu didalammya.
"Vivian tidak bisa kau percaya" ujar Cleo.
"Apa maksudmu?" Justin hampir marah.
"Baru saja, aku dapat informasi dari Korea, Vivian pernah bertemu dengan mereka" Cleo memberikan ponselnya.
"Ini.." Wajah Justin sungguh menahan marahnya.
Sebuah Foto Vivian dengan latar hutan disana ada Vera dan Victor mereka seperti sudah kenal.
"Ada urusan apa mereka bertemu dengannya?" Tanya Justin.
"Masih diseliki" jawab Cleo.
"Anda ingin masih menyelamatkannya? Dia tidak bisa dipercaya lagi, bahkan Vera dan Victor tidak menghadiri acara ini, bagaimana mereka benar-benar menipumu?" Cleo bicara pait nya.
Justin mendongak, isi kepalanya sungguh berisik, karena overthinking mulai menyerangnya. Setelah melihat Foto tersebut.
"Kita harus menyelamatkan nya.. Untuk bisa bertanya padanya, dengan itu dia tidak akan bisa melawan ku lagi" tutur Justin dan menyerah kan ponsel untuk segera menyiapkan yang diminta.
Ditempat lain matanya ditutup kain, tangan dan kaki diikat ke kursi membuat gerakan terbatas.
Mulut pun dilakban agar tidak berisik, Vivian mencoba mengendus dimana ini, hanya bisa mengandalkan indra penciumannya. Seingatnya ia sedang berjalan setelah sadar ia telah diculik.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments