⌑ Episode 18 ⌑

Chris melihat Vivian sungguh terperangah, bukannya takut malah memikirkan cara pandang yang berbeda.

"Jika terus begini, apa ada cara? Apa kau punya obat?" Pinta Vivian.

"Kau meminta dengan alasan aneh, diamlah" kesal Chris.

"Aku bisa gila, Aku terus memikirkannya" Vivian mendengus sambil memeluk bantal.

"Lupakan obat, ku yakin kau pasti suka. Bagaimana ibumu meninggal?" Tanya Chris.

"Itu.. Kecelakaan lalu lintas, didepan rumah sakit" terang Vivian.

Chris mengeluarkan foto dari amplop, lalu memberikannya pada Vivian, foto pertama didepan rumah sakit ibunya bekerja.

"Itu tempat kejadian, tapi.. Sebelum hari kejadian, ibumu bertemu dengan wanita ini" ujung Chris difoto berikutnya.

"Wanita ini" kaget Vivian. Pasalnya wanita di foto adalah ibu tirinya, ibu nya bertemu dengan ibu tirinya.

"Lihat disini.. Foto kejadian, SUV putih jendelanya.. Wanita ini kan" unjuk Chris, ibu tirinya ada didalam foto saat kejadian.

"Apa-apaan wanita ini?" Bingung Vivian.

"Lihat tanggal foto nya" suruh Chris.

"Ini. Sepuluh tahun lalu,saat itu aku.. Sekolah" kaget kedua kalinya, ia mencium ada yang tidak beres.

"Foto berikutnya.. Saat pemakaman, ini dari CCTV, pria ini datang" unjuk lagi Chris.

"Dulu tangan kanan ayahku, artinya.. Ayahku tahu, tapi kenapa tidak mengatakan apapun padaku" mata Vivian mulai berair melihat foto-foto ini.

"Aku mencarinya karena ayahmu penuh rahasia, jadi Aku melakukan ini karena dulu pekerjaan ku, soal truk yang menabrak, sopirnya hanya 3 bulan di penjara, dia sudah lama bebas" terang lagi Chris.

Tambah Vivian marah, namun ia tetap tenang berpikir.

"Sekarang wanita itu ada dimana?" Tanya Chris.

"Italy, rumah mewah, menua sendiri" jawab Vivian ia menahan kekesalannya dengan senyum namun dengan paksaan.

"Tapi.. Kenapa kau memberitahu hal ini padaku? Kau berharap aku akan balas dendam?" Tanya Vivian.

"Membuatmu makin menderita, dan Justin belum tahu ini, informasi telah lama ku sembunyikan" terang Chris.

"Bagaimana kau bisa dapat warisan dari ibumu?" Tanya Chris.

"Saat aku datang ke Korea, tiba-tiba pengacara menemuiku, katanya dia sudah lama menungguku, begitulah aku mendapatkan warisan" terang Vivian.

"Lama menunggu? Pasti ayahmu bertemu dengan pengacara itu, dia mungkin tahu ibumu meninggalkan warisan untukmu" tebak Chris.

"Bisa jadi, tapi.. Rumah itu.. Sudah tidak ada Justin yang memusnahkannya" sedih Vivian.

"Apa maksudmu? Dua hari yang lalu aku baru dari sana, rumahnya masih berdiri disana" ucap Chris.

"Eh? Justin yang mengatakannya.. Rumahku sudah tidak ada" jelas Vivian.

"Aku sehabis dari sana, disana Aku kehilangan banyak anak buahku, rumah itu masih kokoh, Justin yang mengatakan nya padamu?" Terang Chris.

Vivian mulai gelisah, apa iya Justin membohongi nya, itu bisa dilakukan karena dia bisa melakukannya.

"Kau masih percaya dengannya?" Chris mengeluarkan ponsel nya dan memberi tahu pada Vivian.

Jelas Vivian melihat rumah itu dalam foto masih tetap sama, sebenarnya apa yang terjadi, Justin telah membohongi nya.

"Mungkin.. Dia sebenarnya sudah tahu siapa dirimu, tapi dia tidak memberitahu padamu" terang Chris.

"Benarkah begitu??" Kepercayaan Vivian mulai memudar.

"Lantas bagaimana dengan perlakuan baiknya padaku? Apa itu juga bohong" ucap pelan Vivian ia banyak berfikir.

Di tempat pesawat Justin sedang berpikir sambil melihat foto yang didapatkan oleh Cleo.

Justin membandingkan wajah Vivian diantara dua foto.

"Lihatlah.. Foto pertama wajah Vivian nampak terkejut lihat kerutan didahinya dan matanya" unjuk Justin pada Cleo.

"Tapi kita belum tahu, kenapa mereka menemui Vivian" terang Cleo.

"Benar, tapi.. Kenapa Chris meminta untuk bertemu di Korea, apa dia punya maksud?" Angguk Justin yang hanya bisa terus berpikir apa yang direncanakan Chris.

...

Setelah lamanya Vivian sampai di Korea, ia berada di sebuah hotel mewah sedang menunggu, bahkan pikiran Vivian terus bertanya-tanya meski berada dilift.

"Kau banyak memikirkan nya" ejek Chris.

"Bagaimana memulai kesepakatan di rumah ku, aku penasaran dan meminta penjelasan darinya" usul Vivian sambil menyender ke Lift.

"Entahlah.. Akan kupikirkan" Chris menimang usul Vivian.

"Kenapa? Disana kau bisa langsung dapat uang dari Justin, dan mengikuti Vera aku sudah bilang aku tidak butuh apapun dari keluarga mereka" pungkas Vivian.

Chris mendapat notif diponselnya ia sudah menemukan Vera dan Victor, bahkan menyuruh orang memantau kegiatan mereka.

Hari esoknya Vivian serta Chris berada distasiun kereta bawah tanah, sama pada lainnya sedang menunggu kereta.

Disebrang rel kereta disana ada Justin yang memakai kacamata hitam serta koran ditangannya, dan disana juga ada beberapa anteknya.

Chris yang sudah mengetahuinya ia pun pergi ke toilet, meminta mengosongkan seluruh toiletnya.

Setelah dipastikan kosong ia masuk  namun Vivian juga ditarik untuk masuk. Dan orang nya menjaga agar toilet tidak dimasukin sembarang orang.

"Kau yang kebelet, kenapa aku ikut masuk? Menjijikan" sebal Vivian.

"Diamlah.. Sebelum mulutmu kubungkam dengan plastik" pungkas Chris yang dengan santai buang air kecil membelakangi Vivian.

Vivian menutup mata lalu berjalan ke bilik toilet, ia kesal membanting pintu dan menguncinya, dan duduk diatas bidet.

"Manusia satu itu.. Kenapa harus kemari? Tempat ramai ini.. Aku tidak bisa menebaknya" monolog Vivian berbicara ditoilet.

Diluar pintu terbuka terlihatlah Justin yang datang, bahkan Chris baru selesai dengan urusan kantung kemih nya.

"Kau terlihat baik" sapa Chris yang sedang mencuci tangan.

"Kau terlihat santai" sapa balik Justin dingin.

Justin mendekat.

"Tapi.. Biarkan aku pukul kau sekali" semakin dekat dengan Chris dan melayangkan tinjunya.

BUGHH

Tubuh Chris terhuyung ke belakang, dan sudut bibirnya tergores membuat berdarah.

Tak Terima Chris membalas memukul wajah Justin, mereka pun saling memukul, tak perduli meski ditoilet umum sekalipun.

PYAAARRR

Sampai terdengar suara pecahan, Justin melempar tubuh Chris hingga membuat kaca pecah.

Hal itu membuat Vivian yang didalam toilet terkejut, baru sadar Justin sudah disini dan mereka bertengkar dengan sengit.

Saat ingin keluar dari toilet, namun ternyata Vivian terkunci pintunya macet tidak bisa dibuka.

"Bukalah.. Ke kunci" seru Vivian dari dalam kamar mandi.

Namun sayang nya tidak digubris oleh kedua orang yang sedang bertengkar dengan sengit.

Tak perduli tubuhnya yang telah terluka, Chris mencekik Justin hingga ketembok.

"Aghh" lenguh Justin menahan cekikkan dari Chris.

"Bagaimana perasaan mu? Apa sekarang kau memiliki kelemahan?" Ledek Chris dengan senyum mengerikan karena darah dari sudut bibirnya.

Dengan tenaganya Justin melepas cengkraman tangan Chris di leher nya.

BUGHH

Dan memukul bagian wajahnya hingga ia terjatuh.

"Setidaknya aku tidak berperilaku seperti pengkhianat.. Uhukkk" jawab Justin dengan nafas terengah dan batuk.

Didalam toilet Vivian berusaha keluar dengan memanjat namun terlalu tinggi pintunya bahkan hanya ada celah sempit, akhirnya ia mendorong pintu dengan tubuhnya.

BUG.. BUG.. BUG

Suara gebrakan pintu yang diabaikan oleh dua orang yang sedang bertengkar.

Chris berdiri dan menatap Justin didepannya.

"Aku punya dua cara" ujar Chris yang mengeluarkan pistol dari saku belakang dan mengarahkan ke Justin.

Justin menghela nafasnya lelah, ia membenarkan jasnya.

"Jangan coba..ini Korea.. Pistol dilarang.. Kau itu tidak pernah belajar" balas Justin.

"Kau yang kalah" ucap Chris.

Lalu Justin merebut pistol dengan memintirkan tangan Chris. Membuat pistol jatuh ke lantai, dan Justin menendangnya ke depan toilet.

Itu membuat kesal Chris, yang memukul kaki Justin membuatnya kesakitan.

BUG.. BRAAAKK

"Arkk" pekik Vivian ia terjatuh diatas pintu yang ia dobrak, samar-samar matanya melihat siluet orang bertengkar.

"Kepalaku" rintih Vivian yang masih berbaring diatas pintu.

Sedangkan Chris dan Justin tidak memperdulikan itu sama sekali, mereka terus memukul, menghindar, dan bertahan.

Sampai Vivian bangkit melihat mereka merusak fasilitas umum sangat parah, wastafel rusak, kaca pecah, pajangan yang didinding juga ikut rusak.

"Berhenti" sahut Vivian agar mereka berhenti, namun tidak ada hasil, mereka sama sekali tidak perduli.

"Ishh" hampir kesal Vivian lalu melihat pistol tergeletak dibawah. Ia langsung mengambil nya dan memeriksa ada peluru nya atau tidak ternyata penuh.

Chris membanting tubuh Justin ke lantai, lalu Justin bertahan dari membabi buta pukulan Chris.

Sedangkan Vivian mengarahkan pistol ke mereka berdua, pistol dengan peredam, siapa kah yang menjadi pilihan peluru yang dilontarkan.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!