⌑ Episode 5 ⌑

Vivian menatap penuh dengan lega dan rasa takutnya mulai menghilang secara perlahan.

"Sekarang keluarlah, sudah aman" lembut Justin. Namun Vivian masih diam ditempat.

"Ayo.. " Menjulurkan tangannya.

Perlahan namun pasti Vivian meraih tangan Justin, akhirnya setelah dibujuk Vivian keluar dari persembunyiannya.

"Kau terluka" melihat lengan Vivian yang terluka.

Vivian menggeleng pelan, Justin pun menggiring Vivian pergi keluar, namun langkah Vivian terhenti saat melihat ponsel tergeletak dilantai.

"Ada apa?" Justin ikut melihat arah Vivian menatap.

"Ponsel disana.. Merekam ku" Matanya langsung berkaca-kaca mengingat mereka yang lakukan terhadapnya.

Justin pun mengambilnya dan memberikan pada Vivian.

"Ayo, kau harus ikut dengan ku, rumah ini tidak aman untukmu" terang Justin.

"Tapi--" Vivian merasa tak yakin karena ini adalah satu-satunya peninggalan kedua orang tuanya, lalu Vivian melihat sekitaran rumahnya yang nampak mayat tergeletak bau anyir pun perlahan mulai menyengat, dari wajahnya yang enggan melihat.

"Percaya padaku.. Jangan melihat kebawah" Justin mengeluarkan dasi berwarna biru dongker nya lalu diikatkan agar Vivian tidak melihat hal mengerikan yang ia buat.

"Baiklah, aku akan ikut" ucap Vivian dengan mata tertutup, meski berat baginya untuk meninggalkan rumah nya. Dengan dituntun oleh Justin Vivian keluar melewati beberapa mayat yang tergeletak, namun Justin juga melihat darah yang mengalir membuat langkah nya terhenti karena darah itu menutupi jalan mereka.

Justin yang perhatian dengan itu pun menggendong Vivian ala bridal style agar kaki nya tidak kotor terkena darah.

Meski sepatu hitam Justin lah yang menginjak genangan darah tersebut, melainkan terus jalan keluar dengan menggendong Vivian.

Mobil pun melaju ke sebuah rumah ditengah hutan yang rimbun, Pikiran Vivian mulai traveling bagaimana dengan mayat-mayat dirumahnya?

"Orang-orang itu.. Hmm.. Mereka akan dikuburkan?" tanya Vivian ragu.

"Ku yakin kau pasti tidak ingin tahu bagaimana caraku menyingkirkan nya?" menatap tajam ke arah Vivian.

"Cara apa?" memberanikan diri.

Dirumah Vivian yang dengan beberapa mayat tergeletak, lalu orang suruhan Justin mengumpulkan mayat tersebut lalu dimasukkan dalam peti dalam keadaan bertumpuk satu peti bisa dua orang sampai tiga, meski ada hanya tertembak di kakinya dan masih keadaan hidup mereka dipaksa dimasukkan peti kematian tersebut.

Setelah itu mereka membersihkan kekacauan dirumah Vivian menghilangkan seluruh jejak yang ada, cipratan darah, bahkan keringat yang menetes hingga bau tak sedap.

Kemudian peti-peti tersebut dibawa oleh orang suruhan nya pergi ke sebuah rumah yaitu Chris.

Ke esokkannya Chris yang mendapati peti tersebut bingung, bertanya pada orang suruhannya apa dalamnya.

Lalu saat ingin membuka peti tersebut darah segar mengalir dari bawah peti tersebut.

Ada sebuah ukiran diatas peti yang bertuliskan.

"Il mio ultimo regalo per te Chris non mi cerca, o vuoi essere tu quello in quella cassa"

-J-

(Hadiah terakhirku untukmu Chris jangan mencariku, atau kau ingin menjadi yang didalam peti itu) -J-

Chris yang tahu siapa pengirim peti ini, raut wajahnya langsung berubah geram ia pun menyuruh membuka peti tersebut, seperti dugaannya didalamnya ada mayat tiga orang dengan lumuran darah.

"Justin!!!!!!!" amarahnya keluar mendapati anak buahnya yang mati sia-sia.

Cerita singkat Justin pada Vivian membuat Vivian langsung terdiam tengkuknya merinding secara tiba-tiba.

"Bukankah lebih mudah kau menguburnya? Kenapa harus dengan cara seperti itu?" ujar Vivian.

"Itulah caraku" singkatnya.

Lalu mereka sampai di sebuah mansion mewah, Vivian terkejut dengan megahnya mansion ini.

"Kau tinggal disini?" tanya Vivian.

"Untuk sementara" pungkasnya lalu masuk ke dalam diikuti Vivian.

Ruang utama yaitu terdapat sofa dan meja, itu tidak buruk seperti bagian luarnya, bagian dalamnya sangat bagus.

"Kemari" panggil Justin yang menyuruh Vivian masuk ke dalam kamar yang nuansanya hitam, bahkan lantainya berwarna hitam putih seperti papan catur.

Vivian menatap aneh ruangan tersebut semenjak ia tinggal sendiri, ia sudah jarang ke kota melihat rumah bagus atau mengunjungi tempat indah.

"Duduk lah" datar Justin yang membuka kotak pertolongan pertama.

Vivian menurut ikut duduk disofa, lalu tangan Justin mendekat, reflek Vivian langsung mundur.

"Apa yang kau lakukan?" tanya Vivian penuh curiga.

"Lenganmu terluka" pungkas Justin melihat lengan Vivian.

Vivian juga melihat lengannya yang nampak baju putihnya sudah terdapat darah merah.

Tanpa aba-aba Vivian membuka kancing kemejanya, dan memperlihatkan luka di lengannya, padahal terlihat jelas dua gundukan putih yang dibalut ßrå.

Justin melihat lukanya, nampak Vivian menahan perih di lengannya yang luka.

"Dia melakukan ini padamu?" tanya Justin yang sambil mengelap dengan alkohol membersihkan lukanya.

"Ssssss... Iya" desis Vivian.

"Waktu itu kau sudah menolongku, bahkan kau sekarang terpaksa meninggalkan rumahmu karena ku" ucap lembut Justin sambil sibuk membersihkan.

Vivian hanya melihat pria di depan nya ini, memang karena kedatangannya ia tak dapat tinggal dirumah nyamannya itu.

"Aku akan membelikan rumah untukmu, sebagai gantinya" pungkas Justin.

"Tidak, bersihkan saja mayatnya, dan ganti seluruh perabot rumahku, agar tidak ada lagi sisa kotoran dari mereka, itu yang kuinginkan" ujar Vivian permintaan yang sederhana membutuhkan uang banyak.

"Baiklah, aku akan lakukan sesuai permintaanmu" yakin Justin selesai membersihkan menutup luka di lengan Vivian.

Vivian melebarkan matanya, yang ia minta perabotan diganti, itu pasti mahal dan pria ini dengan senang hati mengiyakan permintaannya.

Dalam hati Vivian bertanya-tanya siapakah pria ini, gengster, atau preman? Buronan rentenir itu tidak mungkin toh dia akan membayarkan kerusakan rumahnya.

Apa dia pria yang harus ia jauhi sebelum terlambat, dan lebih baik menjaga batas, Vivian tidak tahu kalau hanya menolong orang ia bisa kehilangan rumahnya.

"Orang tadi, kenapa mereka mencarimu? Dan ingin membunuhmu?" tanya Vivian meski ragu hanya itu pertanyaan terbesit dipikirannya.

"Jika aku menjawab nya kau akan pergi?" tanya Justin pandangan tertuju mata Vivian.

"Entahlah, orang tadi juga yang membuat perutmu bocor" ujar Vivian maksudnya tertembak.

Justin yang mengerti pertanyaannya malah merapihkan peralatan kesehatan sambil tersenyum tipis.

"Cukup untuk pertanyaannya, istirahatlah malam ini disini, jangan khawatir disini aman" Justin berdiri enggan menjawab lebih baik ia menyuruh Vivian untuk istirahat.

...

Pagi nya sinar matahari yang masuk melewati celah jendela, raut wajah Vivian nampak tak begitu baik, ia merasakan nyeri di lengan yang luka.

Yang membuatnya terkejut melihat pria itu Justin yang sudah duduk di pinggiran kasur dekat ia berbaring.

"Selamat pagi" kikuk Vivian ia merasa canggung karena ia jarang bahkan hampir tidak pernah mengatakan itu pada orang lain, dia hidup bagaikan diisolasi.

"Hai" suara lembut Justin sambil tersenyum.

"Bangun dan sarapan sudah siap" senyum Justin lalu bangkit.

(Semalam)

Cleo datang membawa berkas dan memberikan pada Justin. ia langsung membukanya dan membaca nya dengan cermat.

"Vivian Park, dia dari panti asuhan? tapi dia bilang ibunya dokter bedah" cicit Justin.

"Iya, dia punya ibu seorang dokter, tapi terjadi kecelakaan dengan pria, hamil serta dia sangat sibuk jadi ia dititipkan dipanti asuhan" jelas Cleo.

"Dia hanya wanita desa rupanya" pungkas Justin.

"Iya, sudah lama ia tinggal disana" timpali lagi Cleo.

"Sudah kau kerjakan dirumah itu?" tanya Justin yang melempar dokumen tersebut di meja.

"Sedang dikerjakan" jelas Cleo, Justin hanya mengangguk paham.

Tidak mudah percaya itulah Justin sampai ia mencari biodata Vivian, dengan cara apapun.

Paginya🌞

Mereka sarapan namun Vivian mengunyah sebagian roti, karena tak nyaman berada di tengah-tengah serta mata bodyguard Justin terus tertuju pada nya, meski tidak memperhatikan gerak-geriknya hanya memastikan keamanan tapi tetap saja Vivian tidak nyaman.

"Aku punya penawaran untukmu" ucap Justin.

"Penawaran? Apa itu?" tanya Vivian.

"Aku sangat berterimakasih pada orang yang menyelamatkan ku, dan aku percaya itu adalah sebuah keberuntungan" ungkap Justin yang tangannya menjulur merapikan anak rambut Vivian.

"Jadi.. tinggallah bersamaku"

HUPHHH

Tak sengaja Vivian menyemburkan sedikit serpihan makanan dari mulutnya dan itu mengenai wajah Justin. bahkan ada beberapa yang menempel, Vivian yang kaget bagaimana pria mengajaknya tinggal bersama tanpa menikah.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!