⌑ Episode 15 ⌑

Setelah pengakuan Vivian tentang hidupnya, mereka tertidur disofa dan dilantai berbagi ruang. Meski hanya dialas karpet dan selimut mereka tertidur nyenyak. Vivian yang berada disofa sendiri pun nyenyak dalam tidurnya.

Sampai matahari telah muncul suara alarm ponsel Vivian berdering kencang hingga membuat gema di mansion.

"Aishh.. Matikan" lenguh Cleo yang menutup telinga dengan bantal.

Vivian yang terbangun dan meraba bagian bawah karena ponselnya dibawah, namun karena kurang seimbang tubuhnya berguling kebawah.

"Agh.." Lenguh nya pelan karena tubuhnya jatuh dan mendekat ke arah Justin yang masih terlelap.

Jemari Vivian langsung mematikan alarm tersebut tanpa melihat, melainkan matanya tertuju ke Justin yang terlelap.

"Aku masih tidak percaya kalau kau seorang mafia, bagaimana dia bisa menjadi pria imut, bad boy dan sexy secara bersamaan" ucap pelan Vivian lalu matanya tertuju pada bibir Justin tanpa sadar ia mengulum bibirnya.

Geleng Vivian yang hendak bangkit namun tangan kekar Justin sigap menahan pinggang ramping Vivian dan mendekatkan ke arahnya. Sempat tersentak Vivian tersenyum ternyata Justin mendengarkan perkataannya.

"Kupikir kau tidur" tegur Vivian.

Justin melihat Vivian didepannya sambil mengeratkan pelukan dipinggang Vivian.

"Ku peringatkan kau, beraninya menggodaku saat aku tertidur" ucap Justin dengan suara seraknya khas bangun tidur.

"Lantas.. Kau akan menghukum ku? Aku menantikannya" goda Vivian yang ingin mendekat.

"Tapi.. Aku lapar.. Hari ini kita sarapan apa?" Tanya dengan polos Vivian.

Justin hampir tertawa lepas, ia hanya mendengus menahan tawa.

"Apa hanya itu yang dipikiranmu?" Tutur Justin yang masih senyum.

"Itu sifat asli manusia" bangkit Vivian lalu melipat selimut yang ia gunakan.

Namun bukannya ikut bangkit Justin malah mengeratkan selimutnya kembali, Vivian membiarkan itu dan berjalan ke dapur. Terbengong melihat isi kulkas yang kosong hanya ada botol air kemasan, Vivian mengambilnya dan menuangkan ke gelas, air pun menenggaknya hingga tandas.

Ia mulai melihat-lihat laci bagian atas terdapat tepung, dan matanya berbinar ketika melihat 2 kilo beras, langsung diambilnya. Saat sedang mencari Vivian juga menemukan telur ayam, bahkan bumbu juga ada.

"Tidak ada sayur, semalam makan pizza yang berminyak" lenguh Vivian yang tidak menemukan sayur satu pun.

Kepalanya menoleh ke arah jendela, ia pun berjalan menuju kesana, mata nya menyipit setelah melihat terdapat rumah kaca.

Sudah 10 menit berlalu, Justin pun terbangun dan menyenggol Cleo.

"Bangunlah.. Kenapa pekerja belum datang?" Tanya Justin dengan suara seraknya sambil menggaruk kepalanya.

"Uh? Ini minggu.. Arkk.. Libur" Cleo ikut bangun dengan wajah kantuk.

"Kemana Vivian? Bangunlah! Ku bilang awasi dia iya atau tidak??" bangun Justin segera mencari keberadaan Vivian.

Kesana kemari mereka berdua mencari Vivian, namun masih nihil.

"Heii.. Kemarilah" panggil Cleo yang langsung disamperin oleh Justin.

"Disana.. Sedang mencabuti rumput" unjuk Cleo.

Justin langsung kesana, Cleo hanya menggeleng dan lanjut tidur disofa.

Justin yang berjalan yang lumayan jauh pun akhirnya sampai dekat Vivian.

"Apa yang kau lakukan??" Sahut Justin.

"Oh.. Kau sudah bangun?" Jawab Vivian yang selesai mencabuti beberapa rumput panjang.

"Sebentar" tak lupa Vivian menaruh kembali alat yang tadi ia gunakan ke tempat semula.

"Ayo.." Ajak Vivian dengan nampan berisi beberapa sayur segar.

"Kita bisa belanja ke supermarket, kenapa kau lakukan itu?" Tutur Justin dengan malas berjalan.

"Ini sangat segar, baru dipanen, kenapa melakukan ini, ini adalah cara untuk bertahan hidup" jawab Vivian

Hampir satu jam Vivian bergelut didapur, karena sudah jam 8 pagi mengetahui belum ada tanda-tanda adanya pekerja disini.

"Sarapan sudah siap.. Kemarilah.." Seru Vivian.

Vivian menyediakan makanan sehat, yaitu Kare Rice🍛 telur mata sapi🍳 tidak ketinggalan adalah salad🥗

"Makanlah.. Sudah lama tidak melihatnya, dilaci ada bumbu kemasan Kare, aku tidak tau akan enak atau tidak" tutur Vivian yang ikut mencoba masakannya.

Mereka pun akhirnya mencoba masakan nya.

"Kentang dan wortel" cicit Cleo.

"Di kebun banyak, sayangnya tidak ada ayam atau daging untuk bisa dicampurkan, tapi lumayan lah" pungkas Vivian.

"Aku melihatmu dengan tanaman sudah seperti hal akrab" tutur Cleo.

"Apa maksudmu? Dia hanya menyukai tanaman" Justin membenarkan kalimat Cleo.

Mereka terdiam sebentar menyelesaikan makan mereka.

***

Mereka berjalan-jalan sekitar jalan Las Vegas, Justin bahkan mengajak Vivian ke toko Celine, Dior, Gucci, Chanel, Prada, Louis Vuitton, Hermes semua barang brended namun sering kali Vivian menolak untuk membeli banyak, karena pasti dia akan repot ketika membawa ke mana-mana.

"Sekarang berhenti membeli yang tidak penting" omel Vivian.

"Mau es krim?" Tawar Justin.

Tanpa menawarkan lagi langsung diangguk oleh Vivian, dia tidak bisa menolak dessert manis ini.

"Tunggu.. Aku butuh ini" tunjuk Vivian yaitu toko pakaian dalam.

Cleo yang tau itu, langsung minggir dari sana, meninggalkan Justin.

"Ini terlalu" pikir Justin.

Terlalu lama Vivian menarik pergelangan tangan Justin untuk masuk.

Didalam Vivian sibuk memilih, sedangkan Justin hanya gelisah karena setiap ia menoleh untuk mengalihkan pandangan nya tetap bertemu yang berenda dan berwarna terang itu.

"Cepat pilih, beli 10 setel dengan warna yang sama dan ukuran" titah Justin.

"Aku tidak terlihat ganti?" Geleng Vivian sibuk memilih.

"Ini bagaimana? Tidak terlalu mencolok tapi lembut" tutur Vivian dengan membandingkan dua jenis yang berbeda.

"Ya bagus dua-dua nya bungkuslah" perintah Justin.

Tak lama mereka keluar dari toko, meski Justin hampir stress didalam, dan Vivian menenteng dua paper bag.

Lalu setelah jalan lagi mata Vivian langsung berbinar ketika melihat perpustakaan terbesar, tanpa pikir panjang Vivian menarik pergelangan Justin untuk ikut mengantri masuk ke dalam perpustakaan.

Sampai didalam Vivian sungguh terpesona dengan banyaknya buku dirak tinggi dan besar, buku yang warna-warni banyak disini.

Justin dan Cleo berdiri bersebelahan.

"Dia sangat aneh, tadi kau mengajaknya ke toko barang mahal, ekspresi nya tidak seperti itu, dia lebih senang kemari" tutur Cleo sambil memasukkan tangan nya ke saku.

"Iya nih, seharusnya kubawa dia kesini dari tadi" jawab Justin yang posisi nya sama seperti Cleo.

Bahkan Vivian sudah pergi jauh untuk memilih buku yang ia suka, dan ingin dikoleksi. Justin yang hanya bisa terdiam sembari mengawasi Vivian ia mengeluarkan ponselnya dan memotret Vivian diam-diam.

"Bukan kah dia sekolah di sini? Pasti dia pernah kesini" tutur Cleo.

"Dia diawasi ketat oleh ayah nya" jawab Justin dan memasukkan ponselnya ke dalam saku jas nya.

Setelah beberapa menit kemudian, Vivian menumpuk beberapa buku untuk nya.

"Huuhh.. Kupikir Aku akan membaca nya sedikit" ucap Vivian dengan senyum.

"Dikit katamu?" Cicit Justin melihat tumpukan buku setinggi 30 centi.

Tak marah Justin lah yang membayar semua itu, karena rasa senangnya bahkan Vivian menggandeng tangan Justin dengan senyum.

...

Malam hari, Vivian tengah memakai lipstik nya ditambah balutan dress yang pas body ia nampak menawan. Malam ini Justin mengajak nya kesuatu tempat ia hanya disuruh berdandan.

Justin dengan Cleo mereka memakai dasi, yang pasti jarang mereka memakai itu.

"Apa ada acara penting? Sampai memakai dasi?" Tanya Vivian sedang memasukkan ponsel ke tas mini nya.

"Acara berkumpul sesama organisasi, kau akan tau sampai sana" pungkas Justin.

"Sesama Mafia?" Tebak Vivian.

"Benar" jawab Justin.

"Kalau begitu.. Bisa jadi Chris juga datang?" Tutur Vivian.

"Iya.. Kau akan aman ketika kau tetap disampingku" pungkas Justin yang selesai dengan pakaian serta jam rolex sudah apik ditangan nya.

Namun ada yang membuatnya gelisah Vivian masih belum tau wajah Chris bagaimana aslinya, yang pasti dia akan tetap aman, karena ia tidak terlalu terkenal di kalangan mafia, apalagi anak selingkuhan pasti tidak akan menyadari dirinya bahkan mengenalinya.

"Ayo" ajak Justin disaat Vivian melamun.

Meski membuatnya gugup, Vivian mencoba tetap tenang agar tidak terlalu mencolok.

Tiba di sebuah Mansion mewah dan besar, bahkan lebih besar dari Justin punya, mereka harus mengantri saat untuk turun dari mobil pribadi.

Sepatu hills yang pertama menginjakkan kaki ditempat megah tersebut, Mata Vivian terkagum dengan Mansion yang hanya ia bayangkan sekarang tepat didepan matanya. Sungguh orang kaya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!