⌑ Episode 9 ⌑

Reaksi Vivian yang terbata-bata membuat Justin menaikan sebelah alisnya, apa arti reaksinya.

"Ketahuan, kau tiba-tiba terbungkam" tutur Justin.

"Apa Aku terlihat seperti itu?" senang Vivian bahkan menutup mulutnya.

"Uuu.. keren, Angelina Jolly benarkan" jawabnya lagi.

"Aku itu sedang mencurigai mu" tutur Justin yang jengkel.

"Lantas? Aku harus apa? apa kau sekarang menjadi tuan sensitif?" balas Vivian.

"A-apa?"

"Aku tahu kau lupa, aku seorang penulis, aku mempunyai 6 buku tentang mafia, itu sangat membantu ku menjadi penulis, mau aku beri tahu judul bukunya?" tawar Vivian.

"Hahh..Tuan sensitif jangan panggil itu" Justin lupa kalau Vivian adalah penulis ia menghela nafasnya dan memijat pelipisnya.

"Kalau begitu aku permisi, Tuan.. " ledek Vivian ia mengulum bibirnya lalu pergi.

***

(Malamnya)

Vivian tertidur pulas diatas kasur, saat  berbalik ia melihat Justin yang sedang tertidur pulas juga disampingnya. terlalu malas untuk meributkan itu Vivian kembali tidur.

Sampai tengah malam.

DUUB

Lampu mansion tersebut seluruhnya mati,  Vivian belum menyadari masih tertidur. tak lama ia terbangun karena terasa sepi ia melihat kegelapan didepannya, ia melihat kesamping Justin tidak ada ditempatnya.

Vivian bangun dan mengambil sesuatu dari kolong tempat tidurnya, yaitu berupa Frying pan ia memegang erat gagang alat masak tersebut sambil berjalan ke arah pintu dengan perlahan.

Melihat knop pintu yang bergerak ingin terbuka, dengan cepat Vivian melangkah kebelakang pintu seraya frying pan didada nya, lalu benar pintu terbuka perlahan membuat Vivian menahan nafasnya. Sampai terbuka Vivian dengan berani menghadang dengan frying pan nya.

"Hiyaaakk"

Taaangg

Suara Frying pan seperti membentur sesuatu, namun tangan Vivian terhenti, ia mendongak dilihatlah itu Justin yang menahan pukulan fryingpan Vivian.

"Oh" pekik Vivian melihat Justin didepan nya dengan senter ponselnya.

"Sssstttt" desis Justin.

"Diam didalam" pungkas Justin memerintah nya. Vivian hanya mengangguk mengerti.

Vivian hanya bisa terdiam dengan kamar keadaan gelap, namun tanpa ia sadari ada siluet hitam dari arah belakang Vivian dan menempelkan ujung pistol dibagian belakang tubuh Vivian.

"Tanpa suara ikuti perintahku" suara bas asing terdengar telinga nya. Hanya mampu terdiam dan berjalan perlahan menuju pintu, padahal tangan nya masih memegang frying pan nya. Sampai diluar Vivian hanya patuh padahal melihat keluar sama saja gelapnya, kurasa memang ada yang menyusup mansion besar ini, cih! aman dari mananya? kini nyawa nya diujung tanduk.

Dari lorong ada cahaya ponsel semakin mendekat, setelah cahaya nya diarahkan sudut lain, terlihat itu Justin dibelakang nya juga ada seorang pria yang menodongkan pistol tidak dibawah seperti Vivian melainkan tepat dikepala Justin.

Baaakk

Pria tersebut melempar sebuah tas hitam kedepan membuat Vivian melirik Justin, bahkan Justin berdecih setelah tau maksud dari tas hitam tersebut.

"Penuhi" singkat pria dibelakang Justin.

"Atau aku akan melubangi perut wanitamu" ancam santai pria dibelakang Vivian.

"Wanitamu? ini salah paham.. aku hanya pembantu disini" sanggah Vivian untuk meyakinkan agar nyawanya selamat.

"Ingin menyelamatkan dirimu sendiri? dasar wanita" balas Justin.

"Diam, isi penuh cepat" gertak pria tersebut.

Justin pun melangkah menuju tempat bufet  mahalnya, lalu membuka laci terdapat sebuah brangkas ukuran sedang. ia pun membuka brangkas tersebut dengan memencet pin nya. terdapat banyak uang cash bentuk dollar serta emas batangan.

Justin pun menuruti memasukkan uang dan emas itu sampai tas hitam tersebut penuh.

"Itu sangat banyak" Vivian melirik isi berangkas tersebut dengan matanya.

'Kuyakin itu bukan hanya satu dari berangkas nya' batin Vivian.

Justin selesai memasukkan semua nya, brangkas nya pun menjadi kosong. Justin memundurkan langkah nya, namun tiba-tiba..

BRUUKK

Dari lorong sebelah seorang pria yang berpakaian seperti nya komplotan yang sama tergeletak dilantai. Itu cukup membuat perhatian yang lain terganti, saat tepat Justin memukul perut pria tersebut dengan sikunya dengan cepat merebut pistol ditangan pria yang menodongkan pistol ke arahnya.

Namun tak ingin kalah, pria tersebut merebut pistolnya kembali, membuat Justin kewalahan dengan cepat ia menyenggol sehingga pistol tersebut terpental, mereka berkelahi saling menghindar dan memukul. Vivian hanya melihat mereka berkelahi.

Sampai Cleo datang dengan pistol ditangannya.

Dooor

Pyaaarr

Satu tembakan mengenai guci mahal milik Justin, dan berhasil membuat keduanya menghentikan pertikaian, dan pria tersebut mengaku kalah.

Namun disaat seperti itu pria dibelakang Vivian mendekatkan pistol dikepala Vivian.

"Kenapa aku?" Pungkas Vivian.

"Ambil tasnya" perintah pria tersebut.

Vivian pun melangkah diikuti pria tersebut untuk mengambil tas nya, saat tas sudah ditangan pria tersebut ia mengintip sedikit tumpukan uang dalam tas tersebut.

Saat itu kesempatan datang, Vivian menggigit punggung tangan pria tersebut membuat pistolnya terjatuh, ia pun kesakitan disaat itu.

Paaaangg

Frying pan itu melayang mengenai kepala pria tersebut, seketika membuat pria tersebut tak sadarkan diri.

DUB

Seketika lampu kembali menyala, Vivian terkejut melihat pria yang tergeletak dilantai.

"Apa dia mati?" Cemas Vivian.

"Tidak" jawab Justin.

Pria yang menodongkan pistol ke arah Justin dikumpulkan tiga tersangka pembobolan rumah nya.

"Kalian sangat hebat, mengalahkan sistem rumahku, melumpuhkan keamanan ku" puji Justin.

Saat teman keduanya telah sadar mereka duduk menumpu lutut nya berbaris.

"Siapa yang mengirim kalian?" Tanya Justin yang duduk disofa single.

Mereka terdiam malah melirik tas penuh uang tersebut, Justin sudah mengira nya.

"Apa karena uang? Sehingga kalian merampok?" Tanya Justin lalu ia membuka tas hitam tersebut, dan mengambil dua gepok uang dan memberikannya pada pria tersebut.

"Nih.. Akan ku beri lebih, tapi bagaimana kalian bisa masuk?" Tanya Justin.

Vivian melihat nya nampak bingung, kenapa Justin tidak marah, malah menawari uang nya.

"Tentu saja dengan rencana sudah kami buat. Menyelinap dari belakang, dan menghack kamera CCTV, memadamkan listrik" terang salah satu nya.

"Kulihat kalian bukan orang sembarangan" tanya Justin yang menatap ketiga nya.

"Kami, mantan tentara, aku pernah ditempatkan pasukan khusus, dia mendapat peringkat satu meracik bahan peledak, dan dia sangat mahir dengan komputer" jelas nya.

Justin tersenyum miring firasatnya benar, mereka bukan orang sembarangan karena jelas mereka orang yang terlatih.

"Aku bisa memberikan kalian lebih dari ini, kalau kalian bekerja dengan ku. Bagaimana?" Tawar Justin yang menggiurkan.

"Oh.. Pencuri malah ditawarkan pekerjaan?" ucap pelan Vivian heran.

"Besok pagi datanglah, pakai jas dengan rapih" Justin memberikan tiga gepok uang untuk masing-masing mereka.

"Aku nantikan kerja sama kalian, sekarang pergilah" senyum Justin.

Mereka pun pergi dengan tiga gepok dollar, memang membuat Cleo juga sama nya tercengang terkadang ia juga tidak bisa membaca pikiran Justin.

"Anda serius?" tanya Cleo.

"Eoh.. Sangat langka menemukan nya, besok coba kau latih mereka, untuk menjadi penjaga" pungkas Justin lalu bangkit dari duduknya berjalan ke arah Vivian.

"Dari mana kau ambil itu?" tanya Justin terkekeh melihat Frying pan ditangan nya.

"Ini.. Sangat ekfektif.. Tapi aku sadar aku sangat ngantuk" tutur Vivian lalu ia menguap sambil berbalik berjalan ke arah kamar, Frying pan masih digenggaman nya.

***

Sejak kejadian semalam pagi telah datang dengan cepat, namun Vivian masih terlelap dalam tidur nya. Entah angin dingin pagi dari mana membuat Vivian mengeratkan selimutnya bahkan memeluk disampingnya, tak lain Justin yang sama nya juga tertidur pulas.

Tak lama ia terbangun nampak jelas wajah nya sangat cantik dan polos saat bangun tidur. Justin yang sudah memainkan ponselnya melihat Vivian yang baru bangun.

"Ya ampun.. Pria yang brangkas nya sangat penuh.. Sepertinya tidurmu semalam nyenyak rupanya" tutur Vivian yang mengikat rambutnya dengan jedai.

Lalu tangan Justin memegang paha bagian dalam Vivian dan meremas nya sedikit.

"Ikut aku" bangkit Justin mengajak Vivian.

Vivian yang mengkerut kan kening jengkel matanya melihat Justin.

"Apa itu? Apa maksud dari skinsip itu?" meski heran dan jengkel Vivian pun mengikuti Justin.

Justin berdiri didepan lemari besar, dan membuka nya terdapat beberapa coat lalu menekan bagian dalam lemari, dan terbuka lah sebuah pintu dari dalam lemari.

"Ini bukan Narnia, salju di balik lemari itu" celetuk Vivian.

"Kau akan tahu ketika masuk, aku menunjukkan ini hanya orang tertentu" ujar Justin.

'Akhirnya' batin Vivian dengan senang.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!