Vivian masuk dalam lemari tersebut, dibalik lemari tersebut terdapat sebuah ruangan pribadi dan ada sebuah rak minuman mahal yang disusun rapih serta lampu-lampu kecil membuat nampak cantik.
Namun bukan itu perhatian Vivian tapi sebuah lemari kaca di dalamnya terdapat sebuah kalung berlian batu berwarna sangat biru.
'Ketemu' batin Vivian menjerit.
"Kau akan minum ini semua?" tanya Vivian yang menunjuk rak botol mahal tersebut.
"Koleksi ku, ini sangat mahal dan barang paling kusuka. Dari 35-59 ada. Bahkan tahun ayahku masih menjalankan pabrik wine" pamer nya dengan mengambil salah satu botol wine nya.
"Tapi.. Ini apa? Kotak nya sangat unik" unjuk Vivian pada lemari kaca besar tersebut, menunjuk benda persis samping kalung diamond.
"Oh, itu.. Kau ingin lihat?" tawar Justin dengan sendiri nya.
Ia pun berjalan mendekati lemari kaca tersebut lalu memindai sidik jari pada pengunci, dan terbuka ia pun menggeser pintu kaca tersebut dan membuka kotak tersebut, ternyata di dalamnya terdapat sebuah sisir nampak tua.
"Sisir?" celetuk Vivian melihat dekat sisir tersebut.
"Buat apa kau mengoleksi nya? Padahal tidak akan kau pakai?" tanya Vivian.
"Ini peninggalan ayahku, satu lemari ini adalah punya ayah ku" jawab Justin.
"Aaa.. Jelas dilihat ini style Victoria era" tutur Vivian.
"Benar, aku juga tidak tahu, dari mana koleksi berasal, aku hanya bertugas menyimpan nya saja" ungkap Justin.
'Kau tidak tahu apapun' batin Vivian.
"Jadi kau ingin menunjukkan kamar ini, padaku?" tanya Vivian.
"Bukan hanya itu, ini" Justin menyodorkan sebuah kotak.
Vivian langsung membuka tanpa bertanya, ia langsung terdiam melihat isi nya.
"Cincin" tutur Vivian.
"Iya, kau akan pakai itu dihari pernikahan kita" perintah Justin.
"Bukan permintaan, apalagi melamar ini perintah? Kau yakin sekali aku akan menikahimu" pungkas Vivian.
"Benar, bukan permintaan tapi perintah, ayo" jawab Justin malah mengajak nya keluar sambil melihat layar ponsel nya.
Vivian hanya diam tak percaya sambil membawa kotak tersebut.
"Aku akan pergi sebentar, diamlah dirumah, jangan berkeliling sendiri" pesan Justin pada Vivian lalu pergi ke kamar mandi.
Vivian hanya diam lalu melihat cincin berlian itu, memang dia seenak jidatnya ingin memiliki sesuatu.
Raut wajah Vivian berubah serius sambil berjalan ke dapur meski ditatap oleh penjaga disekeliling rumah, ia tetap santai dengan membuka kulkas.
Ia mengambil buah strowberry, melon, dan jeruk untuk dijadikan jus, ia memotong dengan pisau sangat terampil terpotong cepat lalu memasukannya ke dalam penghancur buah, saat digunakan suara blender memenuhi dapur.
Saat hampir jadi, Vivian mengambil sebuah gelas kaca namun ia mengelap keseluruhan gelas dengan kain, sehingga nampak bersih dari tangannya.
Dengan perlahan ia memasukkan jus tersebut hingga penuh, pas datanglah Justin dengan senyum merekah melihat Vivian.
Lalu dengan santai serta senyuman Vivian menyodorkan jus tersebut dengan didorong bagian alas bawahnya. Tak lupa ia memegang satu gelas miliknya.
"Jus" ucap Vivian yang meminum jus miliknya.
Selesai minum Justin menaruh kembali gelas tersebut dimeja, Vivian mengambil permen yang ia keluarkan dari kulkas.
"Kau jadi pergi kemana?" tanya Vivian sambil memakan permen tersebut yaitu permen karet.
"Aku tak lama, hanya bisnis sebentar" bangkit Justin.
"Aku tidak boleh ikut?" tanya Vivian.
"Hmm..tidak..itu bisnis rahasiaku, sampai nanti" larang Justin ia pun langsung pergi.
Vivian pun langsung ke lantai atas dengan kaki telanjangnya, melihat kepergian Justin dengan mobilnya.
Tatapan serius Vivian lalu ia mengambil permen karet di mulutnya dan menempelkan nya di pilar mansion tersebut, tentu tidak ada yang melihatnya, lalu ia memasang kamera kecil yang seukuran kelingking yang menempel di permen karet.
Setelah sudah pasti terpasang dan terhubung dengan ponselnya, ia pun langsung bergegas menuruni tangga.
Tatapan penjaga membuat Vivian memperlambat jalannya dan kembali ke dapur, ia mengambil gelas bekas Justin dan berbalik ke westafel.
Vivian menyalakan keran air westafel membiarkan air mengalir, ia mengambil sebuah silikon yang telah ia siapkan dan melihat bagian jempol di gelas tersebut.
Ia mengambil sempel sidik jari Justin, setelah apa yang ia dapat Vivian menyembunyikan nya dibagian dada dress nya.
Setelah selesai dengan natural ia pergi ke kamar, tanpa dicurigai.
Menutup pintu dengan perlahan ia pun berjalan menuju lemari tadi, Vivian pun menggeser nya dan masuk kembali ke ruang rahasia tersebut.
Vivian sudah pastikan tidak ada kamera disini menscaning menggunakan ponsel nya.
Ia berjalan ke arah lemari kaca tersebut, dan mengeluarkan sempel sidik jari yang sudah menjadi silikon tersebut.
Diluar penjaga mulai curiga kenapa tidak ada suara sama sekali, penjaga tersebut menguping didepan pintu, namun hening.
Kembali ke Vivian ia pun dengan santai mengakses kode sidik jari, dan pintu lemari kaca tersebut terbuka.
Penjaga diluar mulai curiga, ia pun ingin membuka pintu, namun ternyata tidak bisa dibuka.
Panik karena di kamar tidak ada kamera pengintai, penjaga terus mencoba membuka.
Vivian didalam mendengar, sampai mereka berhasil membuka nya. Kedua penjaga melihat Vivian sedang membaca sambil berdiri dengan earphones di kupingnya.
"Ada apa?" santai Vivian bahkan satu tangannya kebelakang.
"Kenapa anda mengunci pintu kamarnya?" tanya penjaga.
"Ahh.. Maaf.. Hanya kebiasaan, dulu rumahku dihutan, maaf" ucap Vivian.
"Ya.. Baiklah" ucap penjaga tersebut.
"Iya" senyum Vivian mulus padahal dibelakang tubuhnya ia sedang memegang kalung diamond safir blue itu.
Penjaga tidak curiga dan menutup kembali kamar nya.
BUK
Vivian menutup bukunya dan menaruh nya dikasur, ia meraba kolong bagian atas kasur, setelah apa yang didapat ia menariknya keluar, yaitu sebuah ponsel jadul. Vivian memasukkan kalung mahal tersebut di plastik klip.
Memencet tombol tersebut, matanya melirik ponsel yang terhubung kamera yang tadi ia pasang belum ada tanda-tanda Justin.
"Sudah saya dapatkan" ucap Vivian dengan serius yang berbicara dengan ponsel jadul tersebut.
"Turun kebawah dihalaman belakang" sahut dari ponsel tersebut.
Vivian memakai earphones kecil di telinganya dan menutupnya dengan helaian rambut.
Ia menyembunyikan kalung tersebut dibagian paha nya yang tertutup rok.
Setelah selesai ia berjalan keluar rumah dan berjalan ke halaman belakang, tapi siapa sangka, penjaga Justin ternyata mengikutinya.
"Tidak bisa begini, penjaga Justin terus mengikutiku" ucap pelan Vivian sambil pura-pura membaca buku dihalaman belakang.
"Plan B" ucap dari penyuara telinganya.
"Tadi kau lihat pembantu wanita? Dia akan ambil" lanjut nya.
Vivian ingat ada pembantu saat ia turun dari tangga, tepat sehabis dari kamar nya, bahkan Vivian melewati pembantu tersebut.
"Baiklah, aku akan ke dapur" jawab Vivian ia pun berbalik.
Melihat penjaga tepat dibelakangnya, meski tersentak sedikit Vivian merubah raut wajahnya cepat.
"Ada apa?" tanya Vivian.
"Silahkan kembali, Bos sudah dekat dari sini" tutur penjaga tersebut.
"Apa? Dia sudah mau pulang?" pekik Vivian yang langsung berjalan ke dalam mansion.
Sampai didapur Vivian mengambil sebotol air, ia langsung menenggaknya hampir habis, lalu membuang nya ke tong sampah. Vivian melirik pembantu yang datang sedang membersihkan guci besar.
Disaat tidak ada yang memperhatikan, mereka bertukar kontak mata hanya sedetik.
Tak ingin ada yang curiga Vivian mengambil satu buah pisang dan mengupasnya namun ia membuang satu helai kulit tersebut.
Ia pun melihat ponselnya, mobil Justin sudah ada digerbang, pembantu tersebut membungkus sampah dan membawanya.
Vivian memiringkan kepalanya sedikit.
"Wanita itu sudah membawa nya" bisik Vivian.
Lalu ia teringat dengan barang yang belum ia bereskan, padahal Justin sudah turun dari mobil.
Vivian pun masuk ke kamar dan mengambil barangnya dikolong tempat tidur lalu ia membakarnya di perapian yang sedang membakar kayu bakar.
"Aku bagaimana? Cari cara agar aku keluar dari sini" tanya Vivian pada seseorang di earphone nya.
Diluar pembantu tersebut mengambil buntelan dari tempat sampah dan membawa nya keluar, dan memberikannya pada seorang wanita wajahnya ditutup masker.
"Aku sudah menerimanya, diam disana dan tetap awasi Justin" perintahnya pada Vivian.
Dikamar, Vivian yang merasa tak adil sempat kesal.
"Aku tidak mau, aku sudah terlalu lama memakai nama ini" protes Vivian.
Diluar Justin menanyakan Vivian, setelah mendapat jawaban Justin menuju kamar.
Didalam Vivian masih berdebat.
"Memangnya apa lagi yang harus ku awasi, misi ku selesai disini" kesal Vivian namun penyuara panggilan telah terputus. Dengan menahan kekesalannya ia melempar penyuara telinga tersebut ke api.
Cek lek
Justin datang yang melebarkan matanya melihat Vivian.
"Apa yang kau lakukan?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments