Vivian yang sedang menyusun puzzle dilantai dekat perapian, mainan yang ia temukan dikamar tersebut, tentu Justin bertanya-tanya.
"Kenapa? Aku temukan ini dikamar mu" jawab Vivian.
"Tidak penting itu, sekarang bersihkan dirimu" ucap Justin lalu membuka lemari pakaiannya dan menggeret koper nya, memasukkan pakaiannya membuat Vivian berdiri dan mendekat.
"Apa ini?" tanya Vivian.
"Jangan diam, bantulah" perintah Justin.
Vivian pun ikut membantu dengan gerak cepat, setelah selesai pun Justin menggandeng Vivian menuju mobil. Tanpa bertanya lagi Vivian masuk dalam mobil sampai mobil melaju meninggalkan Mansion mewah milik Justin.
Sampai Justin tenang baru Vivian berani bertanya.
"Sebenarnya ingin kemana?" tanya lagi Vivian.
Melihat ada mobil polisi didepan, terlihat Justin yang waspada.
"Tancap gas nya" perintah Justin dan dituruti oleh bodyguard nya.
Mobil langsung mengebut, membuat Vivian kaget langsung berpegangan tubuhnya berguncang karena mobil mengebut. dan langsung polisi mengejar nya.
"Jangan mengebut! polisi mengejar kita" ucap Vivian sambil ketakutan. namun tentu tidak digubris.
"Itu karena aku, haha, hindari jalan ramai" tawa Justin.
"Apa?"
"Karena kesepakatan" tutur Justin.
Mobil terus melaju hingga menerobos apapun, ban mobil belakang melewati tanggul membuat tubuh Vivian ikut terangkat kepala nya yang hampir mengenai langit mobil namun dengan tangan Justin yang diatas kepala Vivian untuk melindungi agar kepala Vivian tidak terbentur terlalu keras.
Sampai tidak ada jalan keluar membuat mobil terhenti, namun dari jauh terlihat sebuah truk melaju kencang.
Tinnn Tinn
Mata Vivian melebar karena truk semakin mendekat, supir truk membanting stir nya kesamping, dengan cepat Justin menundukkan kepala Vivian dalam pelukannya. Kejadian yang amat cepat bagian belakang mobil tak terhindarkan oleh truk.
Braakkk
Cwaaaassss
Mobil seketika remuk, kaca bagian belakang pecah, saat yang tepat menancapkan gasnya kembali.
Sampai polisi sudah jauh, mereka sampai dibandara segera mereka keluar, tidak melewati jalur penumpang melainkan langsung ke landasan terbang. dilandasan sudah ada pesawat pribadi.
"Kita pergi keluar negri?" pekik Vivian.
"Masuklah" ucap Justin tanpa menghiraukan pertanyaan Vivian.
Vivian duduk dan langsung memakai sabuk pengaman, tanpa menunggu lagi pintu pesawat ditutup, dan baling-baling pesawat sudah menyala. Vivian hanya duduk sambil gugup.
Hingga pesawat sudah diatas udara, Vivian bernafas lega lalu menoleh ke Justin.
"Coba jelaskan" tuntut Vivian.
"Apa?" tanya Justin.
"Apa kau sedang melarikan diri? Dan aku tanpa sadar terlibat?" pungkas Vivian.
"Kau bawa cincin nya rupanya" lihat Justin pada jemari manis Vivian bertengger indah cincin berlian.
"Terlalu banyak tempat jadi kupakai, Terus kau mengalihkan pembicaraan" bantah Vivian.
"Aku janji kau akan tetap aman jika berada disisiku, kita pergi ke Macau" terang Justin.
"Ma- Macau?" Ulang Vivian.
Justin hanya tersenyum lalu berdiri untuk berdiskusi dengan Cleo, sedangkan Vivian hanya tercengang karena Justin.
***
Ditempat lain seorang wanita dengan masker ia membuka maskernya, dan siap mengenakan sarung tangan putih untuk mengambil kalung berlian tersebut dan menyiapkan teropong kecil untuk mengecek keasliannya.
Mata nya menyipit dengan serius, lalu tak lama ia merubah wajahnya kesal.
TAK
Wanita itu melemparkan kalung tersebut.
"****" umpatnya kesal lalu membuka kesal pula sarung tangan putih tersebut.
"Ada apa?" Tanya seorang pria anak buahnya.
"Periksa saja kalungnya" jawab wanita itu.
Pria tersebut memeriksanya dan sadar, ia menoleh pada wanita disampingnya.
"Ini palsu" terang Pria tersebut.
"Dasar Jal*ng beraninya menipuku" kekesalan wanita tersebut, ingin keluar mobil tentu ingin menghampiri masuk dalam Mansion.
"Oh, baru saja aku dapat kabar, mereka sudah pergi" tutur pria tersebut.
"Kemana? Si*lan. Ros kau ingin main-main denganku" wanita tersebut tambah kesal.
"Tidak ada yang tahu, mungkin pesawatnya sudah berangkat, jika menerobos masuk tentu akan terjadi masalah" terang pria tersebut.
Wanita itu menghela nafasnya gusar, dia amat sangat kesal.
"Periksa ponsel yang terhubung" perintah wanita itu.
"Tidak ada sinyal, jelas dia sudah memusnahkan ponsel itu" jawab pria tersebut.
"Kalau begitu cari cara lain!! Meretas sistem keamanan BIN, atau apapun untuk menemukan wanita itu!!!" Meledak wanita tersebut.
Diruang privat room Mansion Justin dilemari kaca tersebut masih ada kalung Biru Safir dipajang apik.
Sedangkan di pesawat, Vivian mengambil gelas air putih lalu ia melihat keluar jendela yang terlihat awan putih, sudut bibir sebelah kanan tertarik keatas sedikit meski hanya beberapa detik.
"Aku bukan orang yang patuh, sayang sekali..seharusnya kau tidak membuangku" monolog Vivian sambil melihat keluar jendela pesawat.
Yang sebenarnya terjadi adalah, Vivian sudah merencanakan itu, membuat duplikat kalung berlian tersebut memang nampak asli, jadi Vivian tidak memberikan kalung yang asli.
***
Ditengah perjalanan Justin memutar film horor, dan Vivian menonton sambil kantuk-kantuk, akhirnya ia pun tak bertahan melawan kantuk, dengan balutan selimut Vivian mengeratkan pelukan ditangan Justin matanya terpejam.
Tangan Justin pun tidak lepas dari genggaman, bahkan karena kantuk Vivian, alih-alih menonton film horor melainkan memerhatikan Vivian yang tertidur pulas.
Tak ingin mengganggu, Justin mempause film tersebut membiarkan Vivian tertidur nyenyak.
Hampir 4 jam lamanya di pesawat, dan sampai di Macau, Vivian terlalu lelah untuk bertanya hal lain ia malah sibuk melihat sekelilingnya.
Mobil hitam melaju kecepatan sedang dijalan kota Macau.
Vivian hanya melihat keluar jendela, melihat keramaian negara tersebut. Sampai pada kanan kiri sudah nampak hutan dan tak jauh ada sebuah Mansion berdiri dengan lampu menerangi.
"Apa ini milik mu?" Tanya Vivian melihat Justin ingin masuk.
"Tentu saja" jawab Justin sambil masuk.
Vivian mengikuti, tak kaget didalam juga penuh kemewahan.
"Sudah pasti, pria ini suka sekali menghamburkan uang" cicit pelan Vivian lalu pergi ke kamar utama.
"Bagaimana kita menikah disini?" Tawar Justin.
"Tidak akan, aku mau menikah dinegara orang" tolak Vivian lalu duduk diatas kasur.
"Baiklah, tahan beberapa bulan, kita akan kembali kesana. Dan kau penasaran dengan Casino??" Tutur Justin.
"Casino, kita akan pergi kesana?" Tanya Vivian.
"Besok kita akan pergi kesana, kau tahu Casino terbesar di Asia ada di Macau" ungkap Justin.
"Ohh.. Keren, kenapa tiba-tiba kesana?" Tanya Vivian.
"Ada bisnis disana, jadi.." Jawab Justin yang juga duduk diatas kasur.
"Berapa uang yang kau siapkan untuk main nanti?" Tanya Justin.
"Uang? Dari mana uang nya? Ingat kau menyeretku kesini tanpa perlengkapan, setelah ingat aku masih marah perabotku rusak" keingat Vivian.
Justin hanya tersenyum, lalu memegang pundak Vivian dan mengajak nya tidur berhadapan, Vivian hanya diam memandang wajah Justin yang tampan.
"Apa biasanya mafia boleh setampan ini? Kupikir itu hanya novel buatan ku" Ucap pelan Vivian matanya terus tertuju pada Justin.
Begitu juga Justin yang hanya tersenyum mendengar celoteh itu dari Vivian
Berkat itu jantung Vivian berdegub tak beraturan, sadar Vivian langsung bangun semoga Justin tidak mendengar suara jantung nya. Tanpa kata Vivian berlari kecil menuju kamar mandi.
Vivian berdiri di belakang pintu kamar mandi sambil memegang dada sebelah kirinya.
'Haahhh.. Ada apa dengan jantungku? Bagaimana ini.. Aku tidak boleh menyukainya' batin Vivian yang nampak raut wajahnya khawatir.
Tok Tok
"Kau baik-baik saja?" Sahut khawatir Justin yang mengetuk pintu kamar mandi.
"Iyaa.. Aku ingin mandi" jawab Vivian dari dalam meski berteriak sedikit.
Bola matanya membesar ia terkesan lagi setelah melihat kamar mandi yang super luasnya, bahkan ada pemandangan pepohonan dari jendelanya.
"Luas nya membuatku terkesan" tutur Vivian menyalakan keran wastafel yang bahkan airnya bisa diatur hangat, atau dingin bisa juga setengah-setengah.
Vivian mencuci mukanya dengan air berusaha sadar dari semuanya. Ia menatap cermin didepannya.
"Aku dalam masalah, kurasa aku menyukai nya" ucap pelan Vivian didepan cermin.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments