Vivian yang tak ingin memikirkan Justin lebih lama dalam pikirannya karena ia tidak akan melakukan seperti itu, ia pun bergegas merendam diri nya atau mengguyur tubuhnya diair.
Suara gemericik air shower membasahi tubuh Vivian, tanpa tahu ada siluet yang berdiri memperhatikannya dipintu bilik shower.
"Astaga" jengkel Vivian melihat siapa itu.
Justin yang hanya memakai handuk membiarkan tubuhnya terekspos, yang membuat Vivian tambah jengkel karena mata jahil Justin memperhatikan tubuh polosnya dari atas sampai bawah.
"Apa kau lihat" pekik Vivian yang langsung ingin berbalik.
Namun Justin menahan pergelangan tangan Vivian dan masuk dalam bilik shower tersebut. Dan mengunci tubuh Vivian dipojok bilik.
"Bagaimana kau bisa masuk? Seingatku aku mengunci nya" pungkas Vivian.
"Ini rumahku, aku punya kekuasaan disini" jawab Justin diakhir kalimat ia membisikkan ditelinga Vivian.
"Jangan seperti itu" sanggah Vivian menolehkan kepalanya.
"Kau takut tidak bisa mengatasinya?" Goda Justin dengan bisikkan nya, lalu ia menurunkan kepalanya ke pundak polos Vivian dan mengecup kecil dipundaknya.
Rasa berdesir diperut Vivian merasakan kecupan ringan dipundaknya. Kecupan itu naik ke atas hingga ke belakang telinganya. Sungguh Vivian menahan mati-matian gejolak dari tubuhnya.
"****" umpat Vivian lalu ia mendorong sedikit tubuh Justin dan menarik tengkuknya, menempatkan bibir mereka saling menyatu.
Justin yang senang dengan tingkah Vivian ia mengelus pinggang ramping dengan tangan bertato nya. Tangannya mengelus b*k*ng Vivian dengan lembut tidak kasar.
Sampai mereka melepaskan p*ng*tan bibir, jarak mereka sangat dekat bahkan deru nafas nya menerpa pipi. Namun tak sampai disitu Justin menggendong tubuh Vivian di perut yang tanpa ada jarak lagi. Sungguh mereka dipenenuhi gair*h.
***
(Paginya)🌤🌅
Perlahan cahaya matahari telah bersinar mengisi pagi cerah nya, dibalik selimut Vivian mengerjapkan matanya, ia sungguh belum terbiasa di tempat asing dalam waktu cepat begitu saja.
Sebuah tangan kekar bertato melingkari perut rata nya, Vivian menoleh ke pemilik tangan tersebut yang masih terlelap dalam tidur nya.
Justin yang terlelap dengan tanpa bajunya, Vivian pun baru sadar ia tidak memakai pakaiannya.
"Hahhh" hanya lenguhan dari bibir Vivian dipagi hari betapa merutuki kebodohannya.
Mungkin ini bisa jadi taktik nya dalam merayu pria, namun kali ini berbeda karena ia juga menyukai pria yang sedang tidur terlelap disamping nya.
"Morning" sapa Justin masih dalam memejamkan matanya.
Vivian hanya mengeratkan selimut nya, Justin pun terbangun dan menatap Vivian dari samping.
"Kenapa menatapku begitu?" Tanya Vivian yang mengulum bibirnya.
"Tidak, hanya saja kau terlihat cantik" Justin memandang wajah polos Vivian tangannya sambil menopang kepalanya.
"Baru sadar" jawab Vivian.
Justin tangannya terulur untuk merapihkan anak rambut Vivian, dan mengecup sekilas bibir mungil nya.
"Kau semakin berani tanpa izin melakukan itu" peringat menggemaskan Vivian.
"Kenapa? Kau boleh menyentuh ku dimana pun" terang Justin.
Vivian mendengus kecil ia bangkit dan wajahnya berada diatas Justin memperlihatkan punggungnya terekspos dan rambut ikal nya menjuntai ke bawah.
Bibir Vivian mendaratkan dengan sempurna di bibir Justin.
CUP
Meski hanya sekilas membuat Justin tersenyum senang, karena sentuhan lembut dari Vivian.
Dengan bathrobe couple yang sedang dimabuk asmara itu memulai sarapannya yang sudah disediakan. Melihat banyak makanan membuat nafsu makan Vivian bertambah.
Terlebih ini dimacau tentu ada bebek peking, tak lupa demi menjaga kesehatannya Justin memesan salad untuk nya dan daging berprotein.
Justin yang langsung melahap makanan nya dengan nikmat.
"Habis ini dandan lah yang cantik, tidak jangan terlalu cantik, ingat itu" geleng Justin yang sekarang melarangnya dandan terlalu cantik.
"Sekarang kau mengaturku?" Bantah Vivian sambil mengunyah makanan nya.
"Aku tidak ingin pria lain memandangmu dengan tatapan mereka" tutur Justin.
Bahkan Cleo yang mendengarnya cukup terperangah karena Justin yang mengatakan itu, sungguh Vivian sangat malu.
"Jangan berlebihan, lihat dia saja sampai kaget" tutur Vivian menunjuk Cleo. Justin hanya mendengus kecil.
***
Hentakan hilss terdengar, sepatu nan mahal serta baju yang kemerlip, dari kepala sampai kaki Vivian memakai barang brended.
Tubuh kurusnya malam ini nampak elegan dan menawan, padahal ingin berkunjung ke Casino. Vivian mengapit tangan Justin sambil berjalan beriringan.
Matanya tidak diam melihat kegiatan dalam Casino, padahal ini masih pagi tapi disini sudah ramai, tentu ini 24 jam sungguh ini tidak bagus.
Para pemain akan menghabiskan uang mereka disini, bersenang-senang jika dapat jackpot, bola kecil yang selalu menggelinding ke dalam warna, dadu, poker dan setiap meja selalu ada bandar.
"Ini hebat bukan? Aku juga bandar disini, ayo" ucap Justin melihat sekilas sekeliling.
Mereka jalan ke sebuah tempat VIP yaitu disediakan khusus untuk mereka yang ingin terprivat.
Saat berjalan tanpa sengaja Vivian melihat seorang pria yang melihatnya dari kejauhan, bahkan mereka nampak melakukan kontak mata. Untung nya Justin tidak melihat karena ia sedang berbicara dengan rekan bisnisnya.
Tiba diruangan mereka membicarakan sesuatu dengan bahasa Italia, tentu Vivian tidak ingin ikut menimbrung, melainkan pikirannya kepada pria tadi.
'Apa yaa? Pria tadi.. Setahuku itu mereka.. Tidak bisa.. Aku harus melihat nya sendiri' batin Vivian yang bangkit dari duduknya, membuat Justin menoleh.
"Ada apa? Kau mau main?" Tawar Justin.
"Tidak, toilet, aku butuh" jawab Vivian dengan senyum.
"Biarkan mereka mengikutimu" tutur Justin.
"Tidak usah, toiletnya deket kok, jangan khawatir.. Aku tidak akan melarikan diri, aku akan tahu dimana kau berada dan menghampiri mu" ucap Vivian sambil mesem-mesem lalu pergi keluar.
Sampai pintu tertutup, Justin mendecih pelan namun ia suka dengan kata-kata itu.
"Ikuti dia, awasi saja dari kejauhan, biarkan dia berkeliling" perintah Justin pada anak buahnya dan segera dipatuhi oleh salah satu anak buahnya.
Diluar Vivian mengamati mereka yang sedang bermain, dalam bahasa china maupun Inggris.
"Kau tidak percaya padaku yaa" monolog Vivian ia sudah sadar ada anak buah Justin yang mengawasinya dari kejauhan, ia pun berpura-pura melihat orang lain berjudi mempertaruhkan uang mereka.
Namun..sadar bukan hanya anak buah Justin yang memperhatikan nya, seorang pria yang tadi Vivian lihat, jelas nampak tidak asing tato dipunggung tangan nya yaitu naga.
Saat Vivian balik melihatnya pria tersebut jelas mengalihkan pandangan nya.
"Aku benar" monolog Vivian yang pergi berjalan ke toilet dengan santainya.
Setelah beberapa menit menyelesaikan urusannya ditoilet, Vivian melihat pria itu yang berdiri ditengah lorong, seperti sudah menantikannya.
"If you're looking for Justin, he's not here" ucap Vivian.
"Bos ku berpesan aku harus membawamu" ucap pria tersebut.
"Haahh.. Ini bukan hari yang tepat, lihat.. Aku sudah bersusah payah untuk berpenampilan seperti ini" pungkas Vivian.
Namun tiba-tiba pria tersebut mengeluarkan pistol dengan peredam yang langsung diarahkan pada Vivian.
"Kau akan aman ketika menuruti perkataanku" ujar pria tersebut.
"Cih" Vivian mendecih mendengar nya, ia bahkan tidak bergetar takut ketika pistol mengarah ke arahnya.
"Tarik pelatuknya, kau bisa jadi incaran interpol, tidak buruk" ejek Vivian dengan wajah senyum mengejek.
"Kau bisa hidup terus bersembunyi selamanya" lanjut Vivian dengan senyumnya.
"Jika kau bertemu dengan Bos, kau akan tahu" tutur pria tersebut.
"Aku tidak berpikir akan bertemu dengannya. Dan jangan lagi ganggu Justin, sampaikan pada Chris" pungkas Vivian ingin lanjut jalan namun ia masih dihadang.
"Sampaikan sendiri, pada Bosku" pungkas Pria tersebut, yang dibicarakan mereka adalah Chris rival Justin, Vivian ternyata mengenal nya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments