Tubuh basah terkena hujan dengan berlumur darah, sebelum tubuh nya jatuh mengenai aspal basah satu peluru bersarang di bahunya.
DOORR..
SHUKKK
Tembakan tersebut membuat nya terhuyung kebelakang dan jatuh ke aspal.
Mereka pria berjas hitam langsung menghampiri Justin yang tergeletak dan melemparnya ke dalam jurang 10 meter.
Tubuh Justin berguling-guling kesana kemari, merasakan ngilu sekujur tubuhnya karena luka oleh ranting pohon yang mengkoyak kulitnya, bahkan batu sebesar kelapa dilewatinya karena tak bisa berhenti.
Pelipis nya juga berdarah sampai ia berhenti berguling, namun ia hampir tak sadarkan diri. Kalau seperti ini akan ditemukan mayat tak dikenali.
Setelah geng berjas tersebut memastikan Justin sudah hampir cidera fatal mereka pun pergi, dan melanjutkan jalannya dengan mobilnya.
Justin seketika tak sadarkan diri, bau amis darah menyengat dari tubuh nya, kemeja putih yang ia kenalan warnanya telah berubah merah.
Ditempat lain dijam yang sama yaitu rumah Vivian, hujan mengguyur mulai terasa dingin ia membuat teh sambil menutupi tubuhnya dengan selimut tebal diruang santai.
Tepat saat sunyi malam tersebut kupingnya mendengar suara tembakan yang terdengar jauh.
"Barusan yang kudengar, pistol. Aa.. Pasti ada yang berbu-- tidak malam ini hujan, hewan pasti semua mencari tempat teduh, tapi kalau yang diburunya bukan hewan lain lagi cerita, mereka memburu manusia" monolog Vivian yang mengeratkan selimutnya.
Menolehkan kepalanya keluar jendela yang dilihatnya hanya hitam gelap disertai suara hujan.
*
*
(Pagi🌄)
Matahari perlahan menyingsing, sinarnya masuk ke sela-sela rumah Vivian, ia terbangun karena kicauan burung dan seperti rutinitas lainnya ia merenggangkan tubuhnya yang kaku sambil menghirup udara pagi.
"Pagi yang indah.." monolog nya melihat pemandangan hijau didepan matanya.
Pagi ini Vivian mulai aktivitas nya, dengan membawa baki rotan yang tenteng menuju hutan.
"Aku ingin roti diatasnya telur ceplok dan madu.. Hmm.. Apa disini ada buah??" Vivian terus mencari buah disekitaran hutan.
Vivian mengambil beberapa buah persik yang ia masukkan dalam baki rotan nya.
Sampai kakinya tiba di sebuah sungai geumsan yaitu sungai berbatu air nya sangat jernih.
"Aku ingin makan udang" melihat aliran sungai.
"Tidak ada apa-apa" cemberut nya.
Sambil mencuci beberapa buah yang ia dapatkan, Vivian mencuci tangannya namun saat itu ada yang aneh dengan aliran sungai yang melewati tangannya.
Berwarna merah darah, melewati tangannya sangat kental, matanya hanya melihat darah tersebut.
"Darah Rusa kah.." pikir Vivian.
Ia pun bangkit dan berjalan ke hulu sungai dibalik bebatuan besar matanya melihat seorang pria yang sedang terluka darah nya mengalir itulah yang darah Vivian lihat.
Pria itu sekarat, dengan luka di perut, dan pundak wajahnya pucat, keadaannya memprihatinkan.
Vivian yang baik pun memopoh tubuh pria asing tersebut ke rumah nya, dan meletakkannya disofa miliknya.
Melihat seksama apa yang terjadi dengan pria asing ini, Vivian memeriksa denyut nadinya.
"Dia hampir mati" monolog nya lalu meletakkan kembali tangan pria tersebut.
SREEEKKK..
Vivian merobek kemeja pria sekarat ini, dan terlihat darah yang terus mengalir dari perutnya yang terluka.
"Dia kehilangan banyak darah" gawat Vivian.
Vivian mengambil semua yang dibutuhkan, anestesi, alat jahit, kain kasa, serta betadine untuk lukanya.
Dengan telaten Vivian mengobatinya menyiramnya dengan antibiotik untuk membersihkan lukanya, menyuntik anestesi.
"Aku harus membedah nya supaya tahu letak peluru nya menembus" dengan terpaksa Vivian menyayat kulit dan menjepit beberapa daging agar terlihat peluru nya.
KLAK
Satu peluru dari perut nya sudah terangkat, masih ada satu lagi.
Setelah selesai mengeluarkan peluru tersebut, Vivian menjahit luka nya, bahkan ia memperban dengan hati-hati.
Tak lupa Vivian memberikan cairan infus, dan pereda rasa sakit.
2 jam kemudian Vivian memegang dahi pria tersebut, merasakan demam ditubuhnya.
"Sudah kuduga pasti dia akan demam" ujar nya dan segera menyuntikkan penurun demam pada selang infus nya.
Hingga malam tiba namun pria ini belum juga bangun, dan Vivian selalu mengecek nya agar tahu jika obat nya benar-benar bekerja atau tidak.
2 hari telah berlalu namun pria ini belum juga membuka matanya, Vivian pun selalu melakukan rutinitas paginya, hari ini dia pergi ke mart pada jam 5 pagi, untuk mendapat daging segar, karena jalur hutan tidak semudah jalanan kota.
Jam 7 pagi, matanya terbuka saat mendengar kicauan burung, melihat langit-langit yang terasa asing baginya.
Justin mendudukan dirinya perlahan karena merasakan denyutan dibagian yang sakit.
"Aaggh.. Aku dimana??" mengernyit saat melihat keadaan rumah yang kosong. Melihat infus annya telah habis ia mencopot sendiri.
Berdiri melihat beberapa bingkai foto diatas perapian yang dipajang, seorang wanita asia yang berambut pirang. Itulah yang dipikiran Justin.
"Apa dia yang menyelamatkan ku?" gumam nya melihat foto tersebut.
Justin melihat keluar jendela terlihat disana adalah pepohonan yang rindang, sadar ia masih dihutan, merasa curiga bagaimana bisa dihutan ada sebuah rumah.
Dengan terpogoh-pogoh Justin mengambil pisau dapur yang diletakkan pemiliknya.
Tak lama di luar Vivian sampai ditangannya ada daging kambing mentah untuk dibuatnya makanan yang enak.
Saat masuk Vivian melihat pria itu sudah bangun dan ia berdiri dekat meja makan.
"Siapa kamu?" tanya nya.
"Bukankah seharusnya aku bertanya itu? Aku yang menyelamatkanmu" santai Vivian yang menaruh daging tersebut untuk siap diolah.
Vivian menaruh jaketnya dan siap mengolah dagingnya, namun ia sadar dengan pisaunya tidak ada ditempatnya.
"Katakan" menoleh menunggu jawaban dari pria itu.
Pria itu terdiam menyembunyikan pisau dapur itu dibalik tubuhnya.
"Kau tidak memiliki nama?" tanya lagi Vivian.
"Baiklah lupakan nama, toh kita tidak akan bertemu lagi" ucap Vivian yang menatap pria didepannya.
"Atau kau akan menusukku dengan pisau di belakang mu? Ingatlah aku sudah bersusah payah menyelamatkanmu" santai Vivian mendekati pria tersebut.
Justin merasa wanita ini adalah baik-baik yang menyelamatkan dirinya, akhirnya ia menurunkan tangannya dan memberikan pisau tersebut pada pemiliknya.
"Aku Vivian, aku sudah lama tinggal disini" ungkapnya sambil mengambil pisau, lalu ia memotong daging nya.
"Apa yang terjadi padaku?" tanya nya.
"Kau tidak ingat? Bagaimana kau bisa berakhir tertembak?" tanya Vivian.
"Bukan itu, kau menemukanku?" ujar nya.
"Aku menemukanmu dekat batu di sungai geumsan" jelas Vivian ia kembali mengolah daging kambing itu.
"Kau seorang dokter?" tanya nya.
Vivian menghentikan gerakkan nya menoleh.
"Kenapa aku harus mengatakan nya padamu?" tak ingin menjawab.
"Kau tampak terampil dengan pisau" terangnya.
Vivian hanya diam dan melanjutkan masakannya.
15 menit kemudian sup kimchi ditambah daging kambing, dan beberapa lauk disajikan dimeja.
"Makanlah, aku membeli daging kambing yang mahal untukmu" ucap Vivian yang menyuap sesendok nasi, biasanya ia sarapan roti kali ini tidak papa.
"Kenapa kau sangat baik padaku?" tanya nya.
"Bukan untuk mu, tapi untukku" singkatnya.
Justin masih belum puas dengan pernyataan tersebut.
"Jika kau mati dekat dengan rumahku, itu akan sangat merepotkan karena polisi akan mencurigai ku, dan mengintrogasi disekitaran rumah" jelas Vivian yang saat itu pernah mengalami nya.
Justin mengulum bibirnya mengerti dan mulai memakan sarapannya.
"Kau pasti lapar, sudah tiga hari kau tidak bangun, tidur terus" pungkas Vivian.
"Makanlah daging nya, kemarin itu kau banyak kehilangan darah" Vivian menaruh daging kambing diatas nasi milik pria itu.
Justin pun hanya menurut dan memakan daging tersebut.
"Apa kau gengster, atau semacamnya?" ceplos Vivian membuat tenggorokan Justin mengering seketika.
'Apa dia tahu sesuatu?' Batin Justin yang menatap wanita didepannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments