⌑ Episode 8 ⌑

Tak berhenti disitu, Cleo sudah berada di menara, yang terhubung oleh Justin. dengan teropong Cleo untuk melihat mereka.

"Dia dimana?" tanya Justin lewat earphones.

"Bukan bukan disitu, lurus, lalu belok kiri" ucap Cleo ia juga harus melihat jalur labirin dan melihat kabur nya Vivian.

Vivian berhenti berlari, dan merunduk sembari memegang lutut nya sambil terengah-engah.

Cleo tidak melihat Vivian. karena ia merunduk.

"Oh. dia kemana? hilang" ucap Cleo.

"Apa? aishh.. dia sudah keluar bukan? kau sudah jaga pintu keluarnya?" jawab Justin.

"Dari tempat kau berdiri dari sana tidak jauh, coba jalan lagi" jawab Cleo yang terus melihat ke labirin. Justin pun menurut ia jalan lagi mencari jalan keluar dari labirin.

"Oh.. dia disana.. jangan kesana. itu jalan buntu.. arah sebaliknya" setelah melihat lagi Vivian dalam teropong nya, ia juga mengarahkan jalan pada Justin.

"Hadang dari depan, iya belok situ, lari dengan cepat dan belok kanan, cepat dia dekat situ" ucap Cleo.

Justin pun segera berlari yang dikatakan Cleo, sedangkan Vivian yang terengah-engah bahkan jalannya sudah tidak lurus dan berharap keluar dari sini.

Saat ingin belok, bersamaan dengan Justin dari arah depannya, mereka bertemu.

"Aaaakkk!!" terkejut bukan main Vivian bahkan memegang dadanya sambil mundur.

Begitu juga dengan Justin yang sama nya terengah, ia melepas earphones ditelinganya.

"Kau itu. suka bermain-main, mau lihat bagaimana aku akan menghukum mu" ucap Justin yang ingin memarahi Vivian.

"Uhuukkk.. uhuukkk.. aku paham kau marah, uhuukkk.. untuk sekarang keluar dari sini, aku.. tidak kuat seperti nya kakiku patah, paru-paruku seperti ingin meledak.. hhh" lenguh Vivian yang sungguh tak kuat berlari lagi sampai terbatuk-batuk.

Itu salah nya sendiri karena berlari, bahkan berniat kabur pikir Justin.

"Kemari.. gendong aku, aku tidak kuat berjalan lagi" paksa Vivian bahkan memegang pundak Justin, yang dimintai bahkan hanya terperangah, karena Vivian ingin naik ke punggungnya.

"Aku kan sedang memarahimu" protes Justin namun ia pun menggendong Vivian dipunggung nya.

"Marahi aku sambil berjalan keluar, ayo" ucap Vivian dengan santainya ia memeluk leher Justin dan menaruh dagu nya dipundak lebar Justin.

Tak menolak sambil berjalan Justin terus menggendong Vivian. bahkan melewati labirin.

"Aku sudah pikirkan" ucap Vivian yang digendong Justin.

"Apa?"

"Matahari sudah hampir terbenam, kita terus memutari labirin" tutur Vivian.

Justin mendengus menahan tawa.

"Tidak, percaya padaku" jawabnya.

"Benarkah?. tapi tidak buruk, sudah lama aku tidak berlari apalagi dikejar" tutur Vivian.

"Kau sangat aneh" jawab Justin yang membenarkan tubuh Vivian digendongnya.

Tak lama mereka melihat labirin jalan keluar, Justin langsung menurunkan Vivian.

"Siapa yang bertanggung jawab mengurus nya? bawa kemari" ujar Justin dengan nada ditekankan tanda ia marah.

Vivian yang mendengar nya langsung khawatir dengan pria itu. lalu dipanggillah dia yang sudah menunduk.

"Kau harus fokus! kau kehilangan berarti kau tidak mampu" cecar Justin baru ingin menghantam wajah pengawalnya itu dengan cepat Vivian menghentikannya.

"Berhenti" sahut Vivian yang memegang lengan Justin.

Justin menoleh karena Vivian menghentikannya.

"Dia anak buahku, itu keputusanku akan menghukumnya" terang Justin.

"Ya aku tahu, tapi aku yang salah, aku yang melarikan diri, jangan marah, kita masuk ke dalam, sebentar lagi matahari akan terbenam" pinta Vivian untuk membujuk Justin.

"Kau yang salah" ulang Justin mengingat kan.

"Iya, ayo masuk" tuntun Vivian pada Justin.

Tak menolaknya mereka pun masuk dalam rumah, bahkan Justin sudah lupa tergantikan oleh Vivian yang membujuknya. melihat sofa Vivian langsung berhambur untuk duduk merasakan kakinya perih.

"Hahh.. lelahnya" lenguh Vivian yang bersender disofa.

Justin mendekat lalu berjongkok didepan Vivian, tangannya menarik kaki Vivian.

"Aakk" pekik kecil Vivian merasakan kakinya.

"Tanganku memang terlalu kasar" ucap Justin lalu membuka sepatu heels yang dikenakan Vivian, tadinya warna putih sekarang tercampur warna merah karena lukanya.

"Aku tidak pikir panjang memberikanmu sepatu seperti ini" lanjut Justin.

Vivian mengkerut kan keningnya diam, sambil berpikir, lalu Justin mengambil botol whiskey masih baru dipenyimpanan nya.

Dan menuangkan nya pada gelas kaca, warna pekat whisky sangat cantik dalam gelas kaca.

Justin mendekati Vivian dengan botol whiskey nya, dan berjongkok.

"Yaa.. aku tidak terlalu pandai memakai sepa--- apa yang kau lakukan!" pekik Vivian kakinya disiram dengan whiskey.

"Aaakk!! kau gila!!! sangat perih!!" pekik Vivian ketika air whiskey menyapu luka di kaki nya. bahkan ia memukul lengan Justin, dan meremas pundaknya.

"Harus disterilkan" singkat Justin yang tetap diam saat Vivian memukul bahkan meremas pundaknya.

"Betadin kan ada!" suara Vivian sungguh tinggi bahkan terdengar gema dalam mansion.

"Ahh aku ingat. kau mencoba menghukumku? ini balas dendam?" menahan perih di kedua kakinya yang luka terasa berdenyut nyeri.

"EEIII.. Balas dendam seperti ini tidak ada apa-apa nya, diamlah" balas Justin yang mengelap perlahan luka di kaki Vivian dengan handuk, setelahnya ia memakai betadin dan menutupnya dengan plester.

Setelah itu Vivian mengambil botol whiskey tersebut, terlihat tahun pembuatan 1834, membuatnya terperangah sekaligus tak percaya.

"1834?? kau sungguh tidak waras, whisky semahal ini, untuk mensterilkan kaki?" terperangah Vivian.

Justin hanya diam sambil menarik sudut bibirnya tangannya mengambil beberapa es batu dalam sisa whiskey tadi dalam gelas dan menyeruputnya.

"Hmm.. memang rasanya yang kuat" ucap Justin yang duduk disebrang sofa.

Vivian mendengus ujung botol, wangi yang kuat yang ia tahu ini pasti asli bahkan melihat bekas segel nya.

"Menyebalkan kau pamer" sadar Vivian menaruh botol tersebut dimeja.

"Tadi.. kau mencoba untuk kabur dari sini?" tanya Justin.

"Aku? tidak kok" Vivian menggidikkan bahunya.

"Aku melihatnya begitu" balas Justin.

"Tidak, lupakan itu, Aku sudah kupikir kan, kau orang seperti apa" terang Vivian.

"Seperti apa?" tanya Justin yang menyeruput whiskey nya.

Bangkit Vivian lalu seperti berpikir.

"Biar ku analisis, banyak bodyguard, kekayan melimpah, tidak takut berbuat kriminal, apalagi dengan pistol, dan kau menyangkal kalau kau bukan gangster atau preman" tutur Vivian.

Lalu ia duduk disamping Justin yang ingin berbicara dengan pelan.

"Kau.. seorang Mafia kan?" ucap Vivian dengan pelan.

Justin nampak tidak terkejut bahkan ia masih santai meminum whiskey.

"Benar, tidak kukira kau pandai menerka" angguk Justin.

"Wuaaahh.. sungguh? kau seorang Mafia? tidak kupercaya, didepan mataku ini adalah mafia.. hahah" kagum Vivian bahkan bertepuk tangan yang membuat Justin 100℅ bingung, biasanya orang akan takut, atau akan menjauh ketika sudah tau.

"Kau tidak takut? aku sangat menyeramkan ketika marah" terang Justin.

"Kenapa aku harus takut? kita sama-sama manusia, oh iya..apa kau punya kasino? katakan padaku" ujar Vivian malah bertanya hal lain.

"Kau ingin kesana?" tawar Justin.

"Sungguh? kau pernah bermain?" tanya lagi Vivian.

"Iya, terkadang aku harus bertemu dengan customer mereka mengajakku main" tutur Justin.

"Seperti apa suasana nya? kulihat didrama sangat ramai, dan yang main tidak bisa berhenti judi" tanya lagi Vivian.

"Tapi kau akan aman ketika menjadi bandar, dan kaya. Kau pernah main?" tanya Justin.

"Tidak, aku tidak paham dengan judi, karena jika aku bergabung resiko nya sangat tinggi" geleng Vivian.

"Bertanya begitu buat apa? tidak bisa memainkannya" geleng Justin.

"Sudah jelas, judi tidak baik, sekalinya kau masuk ke dalamnya susah akan berhenti kau bisa kehilangan harta mu, bahkan nyawa" jelas Vivian.

Vivian bangkit dari duduk nya, ingin segera membersihkan tubuhnya kotor karena keringatnya.

"Aku harus mandi" ucap Vivian.

"Tapi.. bagaimana kau bisa tahu? segala tentang mafia? apa kau mata-mata?" tebak Justin lalu bangkit dan berjalan kearah Vivian dan berhenti didepan nya.

DENG

"Ma..Mata-mata?" gagap Vivian.

Terpopuler

Comments

Rika Rikardo

Rika Rikardo

keren lanjutt

2023-09-16

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!