⌑ Episode 6 ⌑

Takut Justin marah padanya karena telah menyemburkan makanan yang masih didalam mulutnya, dengan cepat ia mengambil serbet dan mengelap wajah Justin yang terkena.

"Maaf, aku hanya terkejut" tutuk Vivian sambil mengelap wajah Justin.

"Tak apa, itu bisa dipahami kalau terkejut" ujar Justin yang tersenyum dan diam karena Vivian sedang mengelap wajahnya.

"Tapi bagaimana yaa.. aku kalau menyukai seseorang aku sedikit terobsesi" terang Justin. Vivian yang mendengar itu sedikit takut.

"Pasti ada wanita yang mau sependapat denganmu" ngeles Vivian.

"Sudah kuduga.. kau akan sependapat denganku, tinggallah disini" senyum Justin yang mengambil gelas wine nya.

"Tunggu! aku tidak sependapat, aku ingin pulang" sanggah Vivian.

"Sayang nya.. aku tidak bisa melepaskanmu, kau dalam masalah sayang.. karena aku mulai menyukaimu" tutur Justin dengan senyumnya.

Wajah yang tadinya bersahabat tapi tidak dengan sifat nya yang arogan ingin semaunya sendiri.

"Tidak akan, aku punya kehidupanku sendiri, jangan paksa aku" geleng Vivian.

"Apa yang kau butuhkan, aku akan penuhi" terang Justin dengan santainya.

"Aku ingin pulang" ceplos Vivian berdiri dari kursi.

"Kau yakin? rumahmu yang itu? meski sudah dipernish? tetap saja itu adalah TKP" pungkas Justin dengan fakta.

"A-" gagap Vivian.

"Tempat kejadian, kalau kau lihat.. darah memercik segala arah, meski kau merubah dan membersihkan darah itu, tetap saja pasti ada yang terlewat" Pungkas Justin.

Sungguh Vivian tidak punya teman atau pun kerabat untuk dimintai tolong, bahkan panti asuhan dulunya sudah tutup.

"Baiklah, aku bisa urus itu" jawab Vivian ingin pergi.

TING

Justin memeriksa ponselnya.

"Oke, lihat ini" Menaruh ponselnya di atas meja.

Vivian yang ingin pergi pun berbalik, dan melihat isi ponsel Justin, ia terkejut yang ditunjukkan adalah rumahnya yang tengah dirombak secara habis-habisan lalu membakar beberapa fondasi kayu rumahnya.

"Kau membakar rumahku?" marah Vivian.

"Jika kau tadi menyetujui nya, kau tidak akan melihat tumpukan abu rumahmu" santai Justin.

"Ternyata aku salah kira, kau.. bédebàh gila" umpat Vivian yang marah matanya sudah memerah karena menahan air mata dan amarahnya.

"Aku akan pergi" lanjut Vivian yang beranjak dan berjalan keluar pintu.

Namun sampai didepan dua orang penjaga langsung memegang lengannya, ia tidak bisa kabur.

"Lepasin! Aishh" kesal Vivian saat tubuh kecil nya tak berdaya melawan pria bertubuh besar tersebut, lalu ia dipaksa duduk kembali didekat Justin.

"Yang kulakukan adalah untuk melindungi mu" terang Justin.

"Melindungi? hah!! kau pikir aku benda leluhur! aku tidak keberatan kau menghancurkan rumahku, aku hanya akan pergi dari sini" jawab Vivian dengan nada kesal nya.

"Oh.. berhenti lah melawan ku, aku akan dengan terpaksa mengurungmu" terang Justin.

"Tidak, kau tidak boleh melakukan itu padaku" geleng Vivian menekankan kata tersebut.

"Fine, You're here with me" singkat Justin.

Vivian terdiam ia mengulum bibirnya, menimang permintaan itu.

"Sampai kapan aku disini?" Tanya Vivian.

"Entahlah, mungkin disini kita.. dua bulan, lalu kita pergi ke italy" tutur Justin yang membuka berkas dalam tablet nya.

Vivian cukup lama berfikir ia takut apa keputusan nya adalah hal merugikan atau berbahaya baginya, apalagi mereka baru mengenal, bahkan dalam 24 jam ia sudah hampir mati terbunuh.

"Kau mengajakku untuk tinggal bersama, tanpa menikah, tanpa melihat masa depan, aku tidak bisa melalukan itu" pungkas Vivian baginya ingin memiliki hidup normal.

"Kau ingin menikah? baiklah. kita bisa menikah" lugas nya sambil angguk Justin.

"Tapi menikah bukanlah janji yang tertulis di kertas, menikah harus ada cinta dan kasih sayang, tapi kita tidak memiliki itu, dan tidak akan pernah terbentuk" ujar lagi Vivian menerangkan ia tidak ingin menikah dengan orang yang salah.

"Itu bisa dibuat, aku bisa membuatmu jatuh cinta padaku, dan membuatmu terkagum padaku. 1 bulan" percaya diri Justin.

"Kau pikir itu mudah? tidak seperti hanya membolak-balikan telapak tangan." balas Vivian yang menentang.

Justin menaruh tablet nya lalu menatap Vivian tangannya menggeret kursi yang diduduki Vivian agar mendekat.

DREETT

Vivian yang melebarkan matanya, tubuhnya reflek sedikit kebelakang.

"Suami idaman seperti apa yang kau inginkan? aku bisa mengikuti semua permintaanmu. Katakanlah" lembut Justin berbicara pada Vivian.

"Kalau begitu katakanlah" tutur Vivian.

"Hm?"

"Pertama, aku harus tahu dirimu" lanjut Vivian.

"Nama Justin, 1 Septe-"

"Bukan itu, kau orang seperti apa?" sela Vivian mata tertuju pada Justin.

"Kau yakin bisa mengatasi nya jika tahu" terang Justin.

"Lihat, menikah bukan jalan keluarnya, kau saja tidak bisa memberi tahu tentangmu" sewot Vivian.

"Aku buat menjadi seru, satu pertanyaan akan kujawab, tapi setiap tidak bisa menjawab akan membuka pakaiannya satu-satu, mau atau tidak" tutur Justin.

"Memang nya apa yang ingin kau tahu dariku?" tanya Vivian.

"Mulai, aku dulu" Justin beri peringatan.

"Kau.. kenapa masih tinggal di dalam hutan? padahal masih muda, kau bahkan bisa bekerja di perusahaan bagus?" tanya Justin yang matanya tertuju oleh Vivian.

"Rumah itu, milik ibuku, dia membelinya karena kesal dengan ayahku pastinya. Sewaktu kecil sebagian waktuku ku habiskan dipanti asuhan, ibuku mengunjungi ku hanya 2 kali dalam sebulan, setelah bertahun-tahun dia wafat aku diberi warisan rumah itu padaku. Dari awal aku bukanlah anak yang diinginkan oleh siapa pun, dan ayahku sudah wafat aku bahkan tidak punya sama sekali kenangan dengannya.. Jahat sekali.." pungkas Vivian.

"Giliranku, kau.. apa pekerjaanmu? bisnis? aku tahu kau bukan orang sembarangan, berurusan dengan pistol bukan lah hal biasa" lanjut Vivian.

Tanpa ingin menjawab Justin mencopot kancing kemejanya dan melepaskan nya begitu saja.

"Jangan! aishh" kesal Vivian karena Justin enggan menjawab.

Pundak lebar dan kulit putih itu nampak mulus, bahkan wangi maskulin itu tercium ke indra penciuman Vivian.

"Giliranku lagi" smrik Justin lalu menyentikkan jarinya pada pengawalnya. ia mendekat.

"Benda ini, seharusnya tidak pada tempatnya" Mengambil pistol dari pengawalnya lalu menaruhnya dimeja memberi tahu pada Vivian.

"Kutemukan pada rumahmu, jelaskan atau lepas bajumu" tutur Justin dengan smirk nya.

Vivian menunduk melihat ia hanya memakai kemeja putih kebesaran miliknya, ia pun melihat sekeliling banyak pengawal pria disana, sungguh keadaan yang menyudutkannya.

"Ini Curang! kau laki-laki lepas juga tidak masalah, tapi aku-- aku" protes Vivian.

"Benarkah, ini pun juga tak masalah bagimu" Justin mengambil pistol yang dimeja dan menarik bagian atas lalu mengarahkan nya ke kepala Vivian.

"Aku memiliki nya karena sudah punya surat izin, kau tidak memeriksanya itu ada kusimpan dalam laci rumahku!" ucap cepat Vivian.

"Hmm.. Surat izin, berarti kau tahu juga cara menggunakan benda ini" terang Justin.

"Tidak, Ti-- aku hanya melihat itu dalam film" geleng Vivian.

"Benarkah? kalau begitu kita akan lihat, bagaimana kemampuanmu untuk bisa menghindari secepat mungkin" tutur Justin lalu memberikan kode pada pengawalnya. dan dimengerti.

"Apa? Kau-" kening nya berkerut.

Lalu pengawalnya memegangi Vivian dan membawa nya diujung tembok.

"Aishh.. aku bukan rusa, kau ingin memburu!" kesal Vivian yang digiring.

"Rusa adalah hewan herbivora, dia akan suka apel ini" Justin menaruh apel diatas kepala Vivian, ia mundur dan ujung pistol langsung mengarahkan ke Vivian.

Pengawalnya langsung pergi membiarkan Vivian sendiri, jantung Vivian berdegub kencang.

"Jangan bergerak, kalau tidak ingin terluka" pungkas Justin.

"Dasar, dia sudah Gilà!" tatapan tajam Vivian pada Justin yang tak jauh darinya berdiri, sambil pistol masih mengarahnya.

Dengan bertelanjang dada Justin mengarahkan pistolnya ke arah Vivian berdiri.

"MI8, jenis ini bisa kau beli di Black market. Jika bergerak sedikit, pelurunya bisa melubangi kepalamu" peringat Justin yang membidik apel diatas kepala Vivian, sedangkan Vivian menahan nafasnya dan ia amat sangat takut.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!