Telunjuk Justin baru ingin menarik pelatuknya, dengan secepat kilat Vivian memejamkan matanya dengan erat dan menahan nafasnya, Justin menurunkan pistolnya lalu mendekat sampai sangat dekat dengan wajah Vivian, tangannya pun bersender ke tembok samping Vivian.
Saat itu Vivian merasakan hembusan angin dari atas kepalanya, seperti nafas, seketika ia membuka matanya yang ia lihat kulit mulus dada bidang Justin.
"Hhhahh.. hhhah" engah Vivian karena menahan nafasnya.
Justin mendekatkan wajahnya ke Vivian sangat senang melihatnya dari dekat.
"Kau sungguh- hhh" Vivian ingin sekali mengumpat didepan wajah Justin.
"Pistolnya bisa digunakan dengan baik atau buruk tergantung si penarik pelatuk nya" terang Justin yang hampir berbisik ditelinga Vivian.
"Benar, setelah kuingat aku tidak punya peluru hanya pistol kosong yang tidak berguna" jawab Vivian.
Justin tersenyum sembari menjauhkan wajahnya dan tangannya mengambil apel diatas kepala Vivian.
"Sayang nya peluru nya tidak ada, selongsong nya bahkan bersih, selain untuk melindungi diri" Justin melepaskan rangkaian pistol tersebut menjadi beberapa bagian.
"Kau merusaknya! Aku membelinya untuk melindungi diri dari penyusup" kesal Vivian melihat pistol menjadi beberapa bagian.
Justin hanya tersenyum dan menggigit apel merah ditangannya, setelah mendapatkan jawaban yang ia mau, dan Vivian telah menjawab lebih dari satu pertanyaan.
"Kemari" Justin menarik tangan Vivian untuk mengikutinya, ia berada dibalkon melihat betapa luasnya halaman Mansion tersebut.
"Aku punya rumah luasnya hampir sama yang kau lihat, Seoul, Amerika, Italy, Jerman, Rio. kekayaan ku lebih 100 miliar USD, Pabrik Wine, Kebun anggur, pulau privat pun ada" pamer Justin.
"100 miliar USD? memangnya dia Bill Gates. Sungguh tak bisa ku percaya, aku bahkan harus pergi ke hutan untuk mencari kayu bakar agar tidak kedinginan, terkadang pemanas ruangan tidak berfungsi saat musim dingin, tapi kekayaanmu bisa membeli 10 apartemen" ucap Vivian yang tak percaya karena halaman yang didepan matanya sangat luas.
"Sebagian harta adalah warisan dari ayah ku. Kenapa? kau menginginkannya? ahh seharusnya kupamerkan hartaku bukan hanya sekedar omongan atau paksaan kalau kau langsung tertarik" pungkas Justin yang tersenyum miring.
"Tapi.. Sia-sia tidak ada gunanya, harta banyak, karena saat kau mati kau tidak akan membawa semuanya" ceplos Vivian.
"Tetapi bukan tidak berguna juga, namun bisa memanjakan mu" Justin menunjukkan dibelakang Vivian terdapat sebuah kotak hadiah.
"Kenakan itu, kau akan menjadi Nyonya rumah ini. Aku yakin kau pantas memakai nya, aku tunggu" ucap Justin lalu berjalan menuju kamar sambil mengambil jubah kimono panjang dan memakainya.
"Aku harus pakai?" tanya Vivian agak ragu.
"Lalu kau akan memakai kemeja yang terkena noda itu terus?" unjuk Justin melihat kemeja Vivian terkena noda darahnya sendiri di lengan nya.
"Aaa.. iyaa.. baiklah" Vivian pun setuju ia memasuki kamar mandi untuk mengganti pakaiannya.
Setelah beberapa menit ia keluar dari kamar mandi, nampak dress panjang sebetis dengan model floral, dan terdapat belahan dipaha nya.
Balutan itu nampak membentuk tubuhnya yang langsing, namun disana tidak ada Justin dikamar. Vivian pun mengambil kotak satunya dan membukanya terlihat sepasang sepatu heels putih.
"Ini terlihat mahal, aku tidak terlalu pandai mengenakan ini, kenapa dia tidak memberikanku sepatu biasa" protes Vivian sambil melihat sepatu putih itu. Namun ia memakai nya juga.
Karena tidak melihat Justin dikamar, Vivian keluar melihat hanya beberapa pengawal disana. Saat pergi mencari Vivian melihat Justin sedang berjalan ke suatu tempat bersama beberapa pengawalnya. Disitu saja Vivian sudah berspekulasi yang tidak-tidak. tanpa pikir panjang Vivian mengikuti Justin baru di tengah jalan pria tegap menghadang jalannya.
"Tidak boleh, Anda tidak boleh berkeliling kesana" larang pria tersebut.
"Kenapa? minggir" tutur Vivian.
"Tidak bisa, aku bertugas untuk mengawal anda, jika melanggar tanpa sesuai arahan bos, anda bisa dalam masalah, begitu juga aku" tegas pria tersebut.
"Aaahh.. baiklah kita kembali" kecewa Vivian.
Baru ingin berbalik arah Vivian pun berlari arah sebaliknya yaitu tempat Justin mengarah. orang suruhan Justin pun berlari mengikuti Vivian.
Saat berlari kaki Vivian hampir terkilir membuatnya kaget ia langsung menghentikan lari nya, karena jalan yang tidak rata, apalagi Heels yang ia kenakan.
"Aakkk.. kakiku" meringis Vivian.
"Apa terkilir?" tanya pria tersebut sambil melihat kaki Vivian.
"Iya, rasanya seperti patah, sangat sakit, kembali lah ambil sepatu yang lebih nyaman aku akan tunggu disini" suruh Vivian ia terpincang-pincang menunggu dibawah pohon.
"Baiklah, tunggu lah disini" angguk pria tersebut tanpa curiga.
Setelah pria tersebut berlari kecil dan berbelok, Vivian berlanjut jalan biasa tidak lagi terpincang-pincang, oke itu hanya pengalihan, ia mulai mendekati arah Justin tadi lewat.
"Oh.. tempat apa itu ya??" lihat Vivian seperti sebuah bangunan gudang panjang kebelakang.
"Apa salah lewat? aku ragu dia tidak ada disini" ucapnya sambil celinguk kedalam. Vivian masuk kedalam memang seperti gudang. Dirasa sepertinya tidak ada Justin, Vivian ingin keluar namun samar-samar ia mendengar suara dari dalam. rupanya gudang hanya bagian depan didalam masih ada ruangan lebar lagi. Suara itu terdengar seseorang memukul kasur dengan serta suara aneh.
Vivian masuk ia mengintip, ternyata banyak pengawal nya berjaga mengitari sebuah ring tinju, disanalah Justin sedang menggunakan samsak tinju yang dipertontonkan oleh semua pengawalnya.
Pikir Vivian ini tempat olahraga ia pun keluar dari persembunyiannya, pengawal yang lain pun belum sadar jika Vivian ada disana.
Namun Vivian mendengar suara aneh dari tengah ring tinju tersebut.
"Hahh!!!! Sudah seperti ini heohh.. kau tidak ingin mengatakan sebenarnya??" ucap Justin sambil terus lakukan tinju pada samsak, tak lupa ia memakai sarung tinju.
"Aaaa.." Suara ringisan terdengar, Justin makin membabi buta untuk menunjukkan skill tinjunya.
Vivian berpikir, entah tidak ingin pikiran itu menjadi kenyataan.
"Dalam nya tidak mungkin manusia kan" ucap pelan Vivian namun terdengar satu pengawal.
Disitu Justin meninju terlalu keras hingga samsak jatuh dan kebetulan terdapat kaki diujung samsak yang mencuat.
"Manusia" Vivian melebarkan matanya.
Salah satu pengawal memberitahu Justin, ia pun menoleh ke arah Vivian berdiri. Namun ekspresi Justin biasa saja malahan dengan keringat bercucur melewati pelipis serta dari dada bidang sampai ke perut sixpack nya. Membuka sarung tinju menggunakan giginya sembari matanya terus tertuju oleh Vivian ia juga ingin tahu bagaimana reaksi Vivian melihatnya seperti ini.
"Apa itu orang?" tanya Vivian.
"Aku punya alasan melakukan nya" terang Justin.
"Tentu saja semua orang punya alasan kenapa melakukan nya" balas Vivian.
"Alasan yang tidak kusukai" jawab tepat Justin yang tidak suka bertele-tele.
"Ku kira kau bukan orang yang--" Vivian tidak bisa menyelesaikan bicara nya lalu ia berbalik dan berjalan cepat untuk pergi dari sana.
Justin melempar sarung tinju pada orang bawahannya.
"Apa lagi?! tangkap!!" perintah Justin suara nya meninggi lalu keluar dari ring, dan semua orang suruhannya pergi keluar.
Vivian komat-kamit sembari berlari sekuat tenaganya, dalam fikirannya kini ia harus kabur, atau lebih baik bersembunyi tidak akan tertangkap.
"Aku harus keluar dari sini" langsung bersembunyi disemak-semak samping gedung. Para anak buah Justin justru kebingungan kenapa Vivian sudah menghilang berlari sangat cepat. akhirnya mereka dibagi beberapa kelompok untuk mencarinya.
Setelah dirasa aman Vivian pun menongolkan kepalanya melihat situasi, ia pun keluar dari persembunyian nya dan sedikit berlari.
"Aku sadar..orang ini, apa yang kupikirkan adalah yang paling cocok untuknya" ucap Vivian sambil terus berlari tak perduli kakinya terluka. sampai ada satu orang suruhan yang melihat Vivian.
Tanpa pikir panjang Vivian berlari memasuki area labirin, Justin yang di belakang datang.
"Dimana dia?" tanya Justin.
"Dia memasuki labirin" ucap Cleo yang dapat info dari bawahannya.
"Kau naik ke menara, aku akan masuk" Justin memakai earphones untuk tetap tersambung oleh Cleo yang akan mengamati dari menara.
Didalam Vivian terus menggumamkan kata ia harus keluar, padahal ia mulai panik karena tinggi tumbuhan labirin lebih tinggi darinya, bahkan terlihat sama semua. bahkan ia mendapati jalan buntu, bahkan terkecoh.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments