Justin mengulum bibirnya sebelum menjawab, sedangkan Vivian sambil makan menunggu jawaban.
"Kenapa kau berpikir begitu?" tanya pelan Justin.
"Hanya menebak, luka karena tembak bukan orang biasa, bukan begitu?" santai Vivian ia sudah sering melihat pemburu yang terluka karena hewan yang diburu, atau terluka karena jatuh.
Ini pertama kalinya menemukan dengan luka tembak tak hanya sekali tembakan bahkan dua dan ajaibnya dia masih selamat.
Justin lagi-lagi tak bisa mengatakan siapa dirinya, ia tak ingin wanita penolongnya takut karenanya.
"Kau tidak takut tinggal disini?" tanya Justin.
"Manusia lebih menakutkan dari hewan buas disini" singkatnya lalu makan lagi bahkan Vivian memuji masakannya karena daging yang empuk.
"Kau benar" pelan Justin yang ikut makan.
Selesai makan Justin berkeliling rumah tersebut melihat banyak sekali buku, tentang kedokteran, matematika, hukum, bahkan mitos sekalipun semua ada.
"Kau suka membaca buku?" tanya Justin melihat begitu banyak macam buku.
"Aku punya banyak waktu luang, untuk membaca dan menulis" ucap Vivian menaruh kue Madeleine yang baru matang dari oven.
"Kau penulis rupanya" cicit Justin.
"Jadi beginilah kau bisa mengobati ku?" tanya lagi Justin.
"Ibuku seorang dokter bedah, sewaktu umurku 6 tahun ibuku mengajariku meski hanya teori, begitu dia tidak ada aku hanya membaca dari buku" terang Vivian.
Justin merasa sedih merasakan kedua orang tuanya wanita ini tidak ada.
"Maaf aku tidak tahu--" merasa bersalah.
"Tak apa, aku sudah sering mendengarnya" senyum sekilas.
"Kau tidak bersekolah?" tanya tiba-tiba Justin yang sedikit menyinggung.
"Aa.. Hanya saja tidak ada foto kelulusan mu. Tidak perlu kau jawab" ungkap Justin yang merasa tak enak.
Vivian menoleh ke arah pria ini, dan melihat foto yang dipajang.
"Tentu saja sekolah tapi saat aku SMA aku dirundung, aku memutuskan keluar tapi.. Komite sekolahan mengetahui nya aku dipanggil kembali untuk bersekolah, dan teman yang merundungku pindah sekolah" jelas Vivian sambil memakan cemilan dan membaca buku.
"Saat kelulusan, aku tidak datang" singkat tidak ingin bercerita lanjut.
"Itu keberuntungan yang emas" pungkas Justin.
"Namaku.. Justin Jung" lanjut lagi.
"Kau dari luar negeri?" tanya Vivian.
"Hm.. Italia" ucap nya.
"Lalu namamu Vivian? Apa artinya?" tanya Justin.
"Entahlah.. Ibuku yang menamai ku begitu" ucap Vivian.
Justin hanya mengangguk, ia menoleh ke jendela sekilas hanya terlihat pepohonan biasa, namun jika dilihat baik-baik jauhnya 70 meter dari rumah tersebut ada 3 penembak jitu disana yang berbaur dengan pepohonan.
Justin melebarkan matanya, berusaha tenang.
"Ada apa?" Vivian mengikuti tatapan Justin.
Namun ia tak melihat apapun, hanya pohon biasa.
"Merunduk" ucap pelan Justin.
"Eh? Apa maksudmu?" bingung Vivian.
Saat peluru dilontarkan dari jauh.
"Sekarang!!!" teriak Justin yang ikut berjongkok melindungi tubuhnya.
Diikuti Vivian berlindung dibalik pantry dapur nya sambil menutup kedua telinganya.
Dan benar hujan peluru datang bertubi-tubi.
SHUNGG..
SHUNGG..
Karena peluru tersebut, keadaan rumah berantakan, saat peluru menembus kasur dan bantal isinya keluar, begitu saat mengenai buku, buku tersebut menjadi rusak karena bolong, piring yang dipajang juga kena sasaran pecah dan tak beraturan.
PYAAARRR
"Siàl! Dia pakai peredam" pekik Justin yang bersembunyi dari peluru.
"Apa??!!" tanya Vivian sambil teriak.
"Pe re dam!" jawab Justin sedikit berteriak karena brisik akibat peluru terus ditembakkan.
Karena Justin kemari dia telah membuat Vivian menjadi sasaran juga.
Vivian melihat perut Justin yang mengeluarkan darah, karena ia banyak bergerak, pasien luka tembak tidak boleh banyak aktifitas selama seminggu karena jahitan nya belum benar-benar kering.
"Darah.." lirihnya.
"Eisshh" Justin menggerakkan giginya sambil memegang perutnya.
Tanpa mereka ketahui penembak jitu tersebut semakin mendekat ke rumah tersebut, saat ia menghentikan tembakan mereka berjalan.
"Mereka berhenti" cicit Vivian.
"Ssshhh" Justin menyuruhnya diam ia merasakan mereka perlahan kemari.
Penembak jitu tersebut memang sedang mendekat, namun tiba-tiba..
CAAB
Satu penembak jitu tumbang karena tertembak dibagian dada nya. Dua penembak jitu lainnya merasa bingung dari mana asal peluru tersebut.
Didalam Justin juga bingung mendengar mereka kenapa saling menembak, ia pun memberanikan diri mengintip jendela.
CAAAB
CAB
Dua tembakan berhasil melumpuhkan penembak jitu tersebut, Justin melihatnya mereka tumbang dan darah pun sudah berserakan disana.
Tak lama ada pria berjas hitam terlihat menyingkirkan penembak jitu tersebut.
Tok Tok
Seseorang mengetuk pintu, membuat Vivian dan Justin terdiam mematung.
"Ini aku" ujar pria dibalik pintu tersebut.
Justin pun membuka pintunya ternyata dia adalah anak buah nya, yang berada di Korea.
"Maafkan kami--" ucap pria itu baru setengah namun Justin memberikan tatapan seperti tidak ingin membicarakan itu.
"Masuklah" ucap Justin.
Vivian lebih terkejut lagi saat keadaan rumahnya sangat berantakan, seperti ada angin topan melanda disini.
Buku nya nampak rusak karena peluru tersebut. Vivian melihat buku kesayangan nya.
"Buku ku" sedih nya.
"Kami sudah membereskan nya, disini sungguh tidak aman, kami akan membawa anda ke tempat yang lebih aman" usul pria berkas tersebut.
"Dimana?" tanya Justin.
Vivian sibuk dengan keadaan rumahnya karena sangat berantakan dan langsung membenarkan barang yang berjatuhan.
Justin merasa khawatir jika meninggalkan wanita ini, takutnya mereka akan mengubah sasaran dan ikut menjadi masalah.
"Aku minta maaf dengan keadaan rumahmu" sesal Justin yang ikut memungut beberapa pecahan piring.
"Siapa orang-orang tadi? Kenapa mereka menembaki rumahku?" tanya Vivian menatap Justin.
"Sekali lagi aku sungguh minta maaf" enggan menjawab.
"Kita harus cepat ke tempat yang aman" ujar pria berjas.
"Apa kau ingin ikut denganku?" tawar Justin.
"Tidak, ini rumahku, aku akan tetap disini" tolak Vivian.
Vivian tidak ingin pergi karena ini adalah salah satu peninggalan kedua orang tuanya untuknya.
"Kita pergi.. Bos" ajak pria berjas tersebut.
Justin berpikir lama, ia merasa akan tidak nyaman karena meninggalkan rumah dalam keadaan berantakan, karena ini sebab dirinya lah diselamatkan oleh wanita ini.
"Disini.. Bantu dia membenarkan rumahnya" pinta Justin.
"Tidak ada waktu Bos" ujar nya.
"Pergilah, sepertinya temanmu sangat tidak sabaran" ucap Vivian sambil membenarkan perabot nya.
"Kalau begitu beritahu aku jika kau akan baik-baik saja" pungkas Justin.
"Aku punya telfon" singkatnya memberikan nomor nya.
"Baiklah.. Vi.. Terima kasih" ucap Justin dengan tulus.
Vivian menatap pria ini.
"Aku akan menelfonmu" ungkap nya.
Vivian hanya mengangguk, lalu Justin meminta dompet pria berjas tersebut memang temannya.
"Ini aku tinggalkan beberapa dollar untukmu" ucap Justin.
"Untuk memperbaiki keadaan rumahmu, atau membeli sesuatu, aku tahu kau pasti membutuhkannya" lanjut Justin.
Vivian hanya mengangguk kemudian Justin pun pergi dari rumah pondok milik Vivian tersebut.
***
Karena kaca pecah Vivian melapisi dengan bubble wrap untuk menahan dinginnya, dan membuang barang yang sudah tak berbentuk.
"Ternyata banyak barang yang harus dibuang" ucapnya menggeret sampah keluar rumah ditaruh nya dekat kayu bakar.
Vivian melihat bunga yang hampir hancur, melihat nampak menyedihkan.
TOK TOK
Suara ketokkan pintu terdengar.
(Di tempat lain)
Yaitu sebuah rumah mewah yang penjagaan yang super ketat.
"Anda baik-baik saja?" tanya Cleo pria berjas tadi.
"Hm.. Bagaimana mereka bisa menemukanku?" Justin berpikir keras.
"Lalu mereka akan tahu jika anda masih hidup" pungkas Cleo.
Justin nampak khawatir terlihat dari raut wajahnya.
"Ada apa?" tanya Cleo.
"Aku hanya khawatir, bagaimana jika mereka akan mengincar Vivian??" pungkas Justin.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments
zi<💥
up
2022-01-03
2