Membaca dengan serius, padahal didepannya sudah ada makan siangnya, Justin hanya memperhatikan Vivian yang sedang membaca.
"Mau Wine?" Tawar Justin yang sudah makan lebih dulu.
"Tidak, aku mau teh" jawab Vivian masih serius membaca.
Justin menyuruh koki membuatkan teh untuk nya. Cleo pun samanya sedang makan.
"Tapi tadi.. Di Casino.. Bukankah ada yang aneh?" Ungkap Cleo.
"Apa maksudmu?" Tanya Justin.
Meski tidak melihat wajah mereka, kuping Vivian 100% mendengar kan pembicaraan mereka.
"Anak buahnya.. Kenapa mereka bertengkar? Yang satu mati, yang satu ditangkap. Aku tidak paham, mereka satu organisasi" terang Cleo.
"Benar juga, mungkin ada seseorang yang menyamarkan begitu" curiga Justin juga.
"Benarkan, kau juga merasakannya? Hahh.. Sudah kupikir-pikir kurasa memang ada yang membuat mereka seperti itu" celetuk Cleo.
"Tidak ada yang tahu, mungkin memang mereka berdua memiliki dendam pribadi" ucap Justin sambil mengunyah.
"Hm.. Dia tidak mungkin mengirim anak buahnya kemari tanpa alasan" pikir lagi Cleo.
"Entahlah.. Pokoknya aku tidak suka lagi bekerja dengannya, sekarang dia berubah" ungkap Justin.
"Jadi.. Kau menemukan Giselle?" Lanjut Justin, dia wanita yang mengkhianati nya.
"Belum, aku tidak menemukan dia, kemana dia pergi melarikan diri, bahkan ujung hidung pun tidak terlihat" Cleo menghela nafasnya ia merasa frustasi juga mencari seseorang.
"Kau boleh berhenti sekarang" tutur Justin.
"Ye? Kenapa Bos? Jangan kecewa kita pasti akan menemukannya" ucap Cleo yang positif.
"Berhenti mencari nya, urus lah dirimu, dan berkencan lah dengan wanita jangan sia-sia kan waktumu" pungkas Justin.
Vivian menoleh ke Justin, ia mencoba membaca raut wajah nya.
"Kenapa sikap anda lembut? Apa karena anda sedang berkencan? Dan akan menikah?" Ucap Cleo yang melirik Vivian juga.
"Apa benar begitu? Lantas kau bagaimana orangnya?" Tanya penuh harap Vivian.
"Jangan tanya.. Bos pernah mengikuti pelatihan militer di Amerika, yang terpenting dia menyelamatkan ku, dan mengajakku berbisnis dengannya" terang Cleo.
"Pantas saja, kau sangat pandai menembak, dan membongkar senjata, sudah kuduga.. Ternyata kau ahli nya" tutur Vivian memujinya.
"Biasanya orang akan bertanya apa aku pernah menembak orang atau membunuh" terdengar dingin intonasi nada Justin.
"Apa aku harus bertanya itu??" Tanya polos Vivian.
"Yaaahh.. Kau sungguh unik" terang Cleo pada Vivian.
"Bagiku tak masalah, kupikir itu bukan masalahku, yang untuk bertanggung jawab adalah kau. Asalkan kita bisa berkomunikasi yang baik, itu cukup" terang Vivian.
"Meski kau bisa terbunuh oleh nya" timpali Cleo.
"Kau ini" senggol Justin.
"Mati itu takdir, bertemu dengannya pun juga takdir, aku suka berpikir yang sederhana, dan tidak membuatku pusing" senyum Vivian lalu melihat awan dari jendela pesawat.
"Ohh.. Lihat lah.. Awan nya sangat cantik bukan?" Seru Vivian melihat awan yang cantik karena sinar matahari.
"Dia terlihat sudah tidak waras, seperti nya kau pantas bersama nya" ucap pelan Cleo yang bangkit selesai makannya.
Justin hanya mendelik melihat Cleo lalu melihat Vivian.
"Apa kau merasakan itu kini? Apa aku sukses membuatmu jatuh hati?" Justin mengingatkan.
Vivian menoleh dengan horor, ia baru ingat itu.
"Aku? Auhh.. Tidak mungkin.." Tutur Vivian memegang kupingnya.
"Hmm.. Benarkah" tahu Justin bahwa Vivian berbohong.
Bagi Justin tak perlu mengatakan nya, ia sudah cukup membuktikan itu lewat gerak-geriknya.
Saking lama nya di pesawat, Vivian pun terlelap dalam tidur dibangkunnya, ia bosan tentu saja selama 5 jam ia masih dalam pesawat, Justin pun memberikan selimut.
***
Pesawat telah landing, hal yang sama hanya mengikuti Justin kemana ia pergi, saat diperjalanan entah Vivian merasa senang, bahkan ia terus memegang tangan Justin meski pandangannya keluar jendela.
"Aku tidak akan pergi kemana-mana, kenapa kau terus menggenggam tanganku?" Gubris Justin melihat Vivian yang dihadiahi tatapan matanya.
"Kau tidak suka? Baiklah" kecut Vivian ingin melepas genggaman tangannya.
"Kenapa aku tidak suka, aku sih sangat suka" tutur Justin malah makin mengeratkan tangannya.
"Yasudah diam saja" cicit Vivian dengan mesem-mesem.
"Maaf, sebenarnya aku tidak berencana untuk ke sini, tapi kau tahu, anak buah Chris ada di Casino, bahkan menempelkan GPS tanpa sepengetahuan ku" tutur Justin.
"Apa karena kau membunuh anak buahnya?" Enteng Vivian bertanya.
"Bisa jadi" angguk Justin.
"Dia orangnya sangat pendendam" jawab Vivian.
...
Sesampai nya di sebuah Mansion yang menurut Vivian sangat horor karena bangunan era victoria, terlebih lorong gelap dan tinggi.
"Jujur lah, kapan terakhir kali kau membersihkan bangunan ini?" Tanya Vivian.
"Entah.. Aku akan menyuruh orang datang untuk membersihkan, karena hampir gelap, kita bersihkan secukupnya saja" titah Justin.
Vivian hanya mengikuti dan mulai bersih-bersih di area kamar, setelah berjam-jam membersihkan lumayan untuk malam ini.
"Untuk makan malam.. Tempat makan yang enak" usul Justin.
"Tidak tidak, aku tidak kuat mau kemana lagi, pesan antar saja" letih Vivian duduk disofa.
"Benar, disini ada.." Angguk Cleo yang sama nya juga malas untuk pergi ke luar, sambil mengeluarkan ponselnya.
Mereka pun hanya makan malam seadanya, namun bukan menu makan malam yang penting, melainkan suasana kebersamaan mereka yang tidak pernah Vivian rasakan.
"Bagusnya.. Entah sudah berapa lama aku tidak makan bersama orang lain" celetuk Vivian sambil mengambil sepotong pizza.
Justin menoleh dan menatapnya.
"Kemarin bukannya kita juga makan bersama" tutur Justin.
"Maksudku.. Suasana nya sehabis kita bersih-bersih, makan bersama.. Ya pokoknya begitu" tutur Vivian.
"Tapi aku ingin bertanya.. Kenapa aku tidak bisa menemukan sekolahmu?" Celetuk Cleo.
"Tentu saja tidak ada.. Aku tidak sekolah di Korea. Kejadiannya saat aku berumur 14 tahun, aku diculik" jujur Vivian.
"Diculik?" Ulang Justin yang agak terkejut.
"Saat itu umurku masih sangat muda, hanya anak-anak, yang kutau ada seorang pria, memberikanku permen setelah sadar, aku tidak lagi di Korea" terang Vivian dengan nada sendu.
"Tenyata dia ayahku, aku ingat ketika ibuku memberitahu wajah ayah kandungku, ibu bilang dia sudah meninggal, tapi tidak" lanjut nya sedangkan mereka berdua sama-sama terperangah dengan cerita tersebut.
"Tega sekali mereka" timpali Cleo.
"Setelah itu, aku hidup dirumahnya meski ada istri sah dengan dua saudara tiri, aku tidak pernah akur dengan mereka, penuh kejutan bukan? Bahkan aku juga sekolah disana, tapi aku pernah bilang kalau aku pernah keluar dari sekolah, aku dirundung karna memiliki wajah asia. Ayahku marah dan menamparku, setelah nya aku dikirim sekolah ke Amerika dengan pengawasan super ketat darinya" terang Vivian jelas ia sedikit membenci ayahnya.
'Tepatnya dikirim sekolah militer' lanjut Vivian dalam hati.
"Lalu bagaimana bisa kau dikorea lagi?" Tanya Cleo.
"Setelah selesai sekolah, aku pulang mengetahui ayah sudah meninggal, disitu aku merasa sedikit lega entahlah, karena pengawasan darinya sudah tidak ada lagi. Jelas aku tidak akan diterima oleh keluarga tersebut, aku kembali ke Korea, tapi terlambat ibu ku juga sudah tidak ada" sedih Vivian.
"Yang menyakitkan, ibuku menerima surat dari ayahku, ternyata ibuku tahu jika aku diambil oleh ayahku. 'Aku akan mengurus Vivi dengan baik, daripada kau, Aku bisa menyanggupi semua finansial nya, Terima lah uang nya' singkat tapi mencakup semuanya, ibuku menerima uang dari ayahku, dan membeli rumah di hutan, yang diwariskan untukku" terang Vivian yang kini ia tidak berbohong.
"Jadi.. Aku sama sekali tidak punya uang, apalagi setelah kau membakar rumahku, Satu-satunya peninggalan nya ada disana. Lalu Aku akan meminta pertanggung jawaban darimu" lanjut Vivian yang mengadu nasib.
"Kenapa aku?" Bingung Justin.
"Aku sungguh tidak punya apa-apa lagi, hanya nyawa ku yang berharga, sekarang hidupku milikmu" ucap Vivian dengan terus terang.
"Kalau itu maumu.. Aku akan tanggung jawab semua itu, Aku bisa mengatasi nya" jawab lembut Justin dengan matanya terus tertuju ke Vivian.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments