Tidak seperti malam pertama ketika melakukan ritual membuka mata batin yang diharuskan mandi terlebih dahulu salah satu syarat pensucian diri. Suasana hening dan gelap menyelimuti ritual membuka mata batin Guntur dimalam kedua ini. Selepas jam 12 malam Guntur sudah mematikan lampu kamarnya dan duduk bersila diatas sajadah bersiap melakukannya lagi.
Mula-mula Guntur melakukan pernafasan dada. Dengan pernafasan ini akan menghasilkan ketenangan sehingga akan membantu menajamkan daya fokus. Dengan mata terbuka ia menghirup udara dalam-dalam melalui hidung lalu ditahan sejenak didada beberapa detik, kemudian perlahan-lahan dihembuskannya melalui mulut. Darah yang dipompa oleh jantung membuat darahnya mengalir teratur disekujur tubuhnya menciptakan ketenangan dalam hati dan pikirannya. Hal itu ia lakukan berulangkali hingga tujuh kali lamanya.
Setelah mencapai titik ketenangan, lalu dilanjutkan ke tahap kedua yakni pernafasan perut. Guntur merubah posisi kedua tangannya yang sebelumnya terbuka berganti dengan mengepaklannya. Kedua tangan yang terkepal diletakkan diatas kedua ujung lututnya dengan posisi kepalannya menghadap kebawah.
Seiring tarikan nafas pertamanya Guntur memejamkan matanya rapat-rapat. Dihirupnya udara dalam-dalam lalu ditahannya, kali ini udara ditahan didalam perut sembari ditekan kuat-kuat membuat otot perut mengencang sehingga menimbulkan kontraksi yang sangat hebat pada bagian leher hingga kepala.
Beberapa detik kemudian dihembuskannya perlahan-lahan melalui mulutnya. Guntur terus melakukannya berulang-ulang, hawa hangat pelan-pelan menjalari sekujur tubuhnya, keringatnya mulai bercucuran terutama pada bagian kepala dan tengkuknya.
Gulungan-gulungan tabir hitam kembali muncul berputar-putar seperti spiral ditengah-tengah antara kedua alisnya. Kali ini Guntur sudah lebih kuat dan lebih tenang ketika tabir hitam itu muncul. Dia terus saja bernafas dengan teknik pernafasan perutnya.
Guntur melihat tabir hitam yang berputar membentuk lorong itu lama-lama mengerucut lalu membentuk setitik cahaya putih. Tiba-tiba satu hembusan angin berdesir menerpa tubuhnya. Guntur seketika terperanjat kaget, ia merasakan hembusan angin itu benar-benar nyata dan bukan terjadi dialam bawah sadarnya.
"Wuuuussssshhh..."
Belum reda rasa terkejutnya, mendadak terdengar suara sember dan besar menggema didalam kamarnya.
"Anakku, apakah kamu sungguh-sungguh ingin melihatku?"
Seketika konsenstrasi Guntur buyar saking kagetnya. Ia membuka matanya lalu mengedarkan pandangannya mencari-cari sosok pemilik suara itu.
"Si, si... siap..pa an..da?!" Tanya Guntur bergetar.
"Aku adalah bapakmu" ucap suara itu.
"Bapakku? Yang benar saja. Bapakku papah Aryo, anda bukan manusia, pergiiii!" sergah Guntur.
Guntur celingukkan kesana kemari mencari sumber suara itu namun tidak juga menemukannya. Hanya kegelapan yang ada disekitarnya sejauh mata memandang.
"Kamu anakku..." kata suara itu.
"Tidak! Tidak! Jangan ganggu aku..!" teriak Guntur menutup telinganya.
"Aku yang telah menjagamu sejak bayi" suara itu kembali menggema seantero kamar.
"Pergiii... pergiiii...!" teriak Guntur.
Hatinya campur aduk tidakkatuan, ada rasa tidak percaya, ada terkejut karena suara itu mengaku telah menjaganya dan yang paling membuat Guntur tidak bisa menerima adalah suara itu mengaku bapaknya.
"Kamu anakku..." suara sember itu kembali terdengar.
Kali ini membuat Guntur sangat kesal karena selalu mengatakkan kalau dirinya anaknya. Hatinya berkecamuk gundah, sosok itu selalu mangatakan kalau dirinya anaknya. Pikirannya jadi kacau menimbulkan pertanyaan besar kalau dirinya manusia atau bukan, begitu pikir Guntur.
"Aaaaaaakkkhh! Tidaaaaaak...! Tidaaaaak...!" Teriak Guntur sekeras-kerasnya.
Guntur masih tetap pada keyakinannya tidak bisa menerima kalau mahluk tak kasat mata itu mengaku sebagai bapaknya. Dirinya terlahir sebagai manusia tulen mempunyai papah dan mamah, lantas hingga usianya menginjak 20 tahun tiba-tiba ada mahluk yang mengaku bapaknya. Mahluk dari alam gaib pula.
Tok...
Tok...
Tok...
Tok...
"Guuuuun... Gunturr!"
Guntur tersentak dari angan-angannya saat pintu kamarnya tiba-tiba diketuk disusul suara teriakkan mamah Karmila memanggil-manggilnya. Guntur terkesiap tertegun beberapa saat lalu kesadarannya kembali menguasainya dan bergegas bangkit dari duduk bersilanya berlari kearah pintu untuk membukanya.
"Mamah..." ucap Guntur menubruk mamah Karmila.
"Kamu kenapa Gun?" Tanya mamah Karmila keheranan.
"Anu mah, ada suara yang mengaku dirinya bapak Guntur mah," jawab Guntur.
"Mengaku bapakmu Gun?!" tanya mamah Karmila memastikan tidak salah dengar.
"I, iya mah. Dia bilang kalau Guntur itu anaknya," ucap Guntur sambil melepas pelukannya.
Wajah mamah Karmila seketika berubah pucat, tubuhnya langsung gemetar tertegun mendengar penjelasan anaknya. Rasa takut tiba-tiba menjalar disekujur tubuhnya, bibirnya bergetar hendak mengatakan sesuatu.
"Sssu..suudah, su..dah.. jangan hiraukan suara itu," ucap mamah Karmila gemetar.
Braaaakkkk!
Usai mamah Karmila berkata itu tiba-tiba terdengar suara dari dalam kamar Guntur seperti suara meja yang dipukul dengan keras. Sontak wajah mamah Karmila terperangah langsung pucat ketakutan, dia merasa ucapannya telah membuat mahluk itu marah.
"Maafkan aku..." ucap mamah Karmila dalam hati.
Mamah Karmila diam terpaku mencoba melihat keadaan didalam kamar Guntur. Tetapi hanya suasana gelap yang dilihatnya.
"Kenapa kamarmu gelap Gun, nggak biasanya kamu tidur lampunya dimatikan." ujar mamah Karmila menyembunyikan kecemasannya.
Guntur hanya diam tidak bisa menjawab dengan mengatakan yang sebenarnya kalau dirinya sedang belajar membuka mata batin kepada mamahnya.
Buru-buru tangan Guntur bergerak meraba-raba meraih stop kontak yang berada didekat pintu kamar ditempatnya berdiri. Pandangan mata Guntur dan mamah Karmila langsung diedarkan kesetiap sudut kamar. Guntur melihat dibawah meja belajar beberapa lembar kertas HVS sudah jatuh berserakkan dilantai.
Didalam hati Mamah Karmila menangis merasa bersalah yang teramat sangat telah membuat mahluk gaib itu marah. Hatinya terenyuh namun sangat sulit untuk diungkapkan apalagi diceritakannya kepada Guntur. Kegundahan hatinya mengalir dikedua matanya hingga membuatnya berkaca-kaca, tetapi mamah Karmila berusaha menyembunyikannya dari perhatian Guntur.
"Ya sudah, mamah kembali tidur ya Gun." ucap mamah Karmila langsung balik badan karena bulir-bulir air matanya tidak bisa dibendung lagi bergegas keluar dari kamar Guntur.
"Iya mah." Sahut Guntur sambil membereskan kertas-kertas yang berserakan tanpa menoleh ke mamah Karmila.
......................
Diatas kasur, mamah Karmila tengkurep menangis tersedu-sedu wajahnya ditutup bantal agar tidak keluar suara tangisnya. Didalam hatinya muncul rasa bersalah yang teramat besar kepada dua mahluk yang berbeda alam, pada Guntur dan pada mahluk tak kasat mata.
"Maafkan mamah Gun..." gumamnya lirih tertahan dalam dekapan bantal.
Hingga anaknya sebesar itu Karmila masih tetap menyompan rahasia besar rapat-rapat dihatinya. Dirinya sudah berjanji tidak akan pernah menceritakannya pada siapapun tentang Guntur dan juga tentang mahluk gaib itu.
"Maafkan aku tidak bermaksud membuatmu marah. Aku hanya tidak ingin anakku tau, dia pasti akan terluka dan aku takut Guntur akan meninggalkanku." ucap Karmila lirih masih tertutup bantal.
Tiba-tiba lampu di kamar Karmila padam lalu nyala lagi, padam lagi dan nyala lagi hingga tiga kali. Karmila langsung terlonjak dari tengkurapnya lalu duduk dibibir kasur. Matanya diedarkan keseluruh ruang kamarnya.
Tetapi sosok yang dicarinya tidak ditemukannya. Hanya gorden jendelanya yang terlihat bergoyang-goyang seperti habis tersentuh.
......................
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 186 Episodes
Comments
fifid dwi ariani
trus sabar
2023-04-10
1
Suherni 123
ternyata Karmila....
2022-10-28
0
ig : @uzryanty
berarti karmila juga suka sm mahluk itu..
idiiihhh ngeri
2022-04-19
2