"Gun, kok bisa sampai terpental begitu? Lu punya apa sih?!" Seru Kunto kesisi kanan telinga Guntur yang tertutup helm.
"Apa Kun?!" teriak Guntur menoleh kesamping.
"Lu punya apa sih gerombolan David cs pada terpental!" seru Kunto dari boncengannya mengulang.
"Ohh, nggak tau Kun nanti aku ceritain deh!" seru Guntur.
Sepeda motor sport merah itu terus melaju di jalan Ir. H. Juanda meliuk-liuk menyalip diantara mobil-mobil angkot dan mobil pribadi yang berjalan lambat karena arus lalu lintas padat.
Tidak berapa lama Guntur dan Kunto sampai ditempat yang dituju, "Alhamdulillah buka," ucap Guntur.
Diatas trotoar depan makanan cepat saji yang masih satu gedung dengan Mall nampak orang-orang ramai mengerubungi lapak lemprakkan buku loak milik pak Suro. Meskpun ada beberapa lapak yang juga menjual buku bekas namun buku-buku yang dijual pak Suro berbeda dengan yang lainnya. Buku-buku bekas yang dipajang pak Suro kebanyakan unik-unik dan langka bahkan ada buku-buku terbitan tahun 70-an.
Setelah memarkirkan sepeda motornya, Guntur dan Kunto hanya berdiri dibelakang melihat orang-orang yang berjongkok sedang memilih-milih buku atau juga hanya sekedar membacanya di tempat. Sekeliling lemprakkan pak Suro tidak ada celah kosong, pemandangan itu sangat kontras dengan lapak-lapak serupa yang berjejer bersebelahan dengan jarak 2 meteran satu sama lain.
"Gun ceritain dong, kejadian di parkiran kampus itu." kata Kunto yang masih penasaran.
"Gimana jawabnya ya, Kun. Sebetulnya aku juga nggak tau Kun apa yang sebenarnya terjadi, aku bahkan nggak melihat bagaimana mereka pada terpental karena aku hanya berusaha melindungi kepala sambil terpejam. Ya ngeri juga sih aku melihat pada saat mereka melayangkan pukulan-pukulannya." terang Guntur.
"Masa sih Gun?" Kunto masih kurang percaya dengan yang Guntur rasakan.
"Beneran Kun, ini juga yang sedang aku cari tau. Lu melihatnya kan pada saat kawanan David itu terpental?" ujar Guntur.
"Justru itu saya nanya kamu punya apa sampai bisa terpelanting begitu. Iya saya melihat dengan jelas Gun, kamu hanya mengangkat kedua tanganmu melindungi kepala tetapi pada saat itu tiba-tiba mereka yang menyerang kamu langsung terpelanting, seperti dibanting gitu," terang Kunto takjub.
Setelah mendengar penuturan Kunto, Guntur semakin yakin ada mahluk gaib yang melindunginya. Karena itu pula dirinya kian bersemangat untuk mencari tahu siapa sosok mahluk itu. Didalam pikirannya, dengan memiliki kemampuan melihat dengan mata batin semuanya akan dapat terungkap.
"Guun, Kunto.."
Obrolan keduanya terhenti setelah mendengar suara seseorang memanggilnya. Guntur dan Kunto menoleh bersamaan, dilihatnya pak Suro mengangkat tangannya memberi kode untuk mendekat disebelahnya.
Beberapa orang menengok kebelakang penasaran dengan orang yang barusan dipanggil oleh penjual buku bekas itu dan sebagian besar lagi mereka cuek ke buku yang sedang dibacanya.
Diposisi tempat pak Suro duduk bersila diatas terpal biru memang terlihat masih cukup senggang setelah buku-buku yang menumpuk disebelahnya dipindahkan ke tengah. Guntur dan Kunto melangkah ke tempat pak Suro dari arah belakang yang dibatasi dengan kotak-kotak kardus.
Dua orang gadis melirik sekilas ketika Guntur mengambil posisi duduk disebelah pak Suro dan Kunto duduk disebelah kirinya. Dua gadis berpakaian seperti karyawan itu nampak saling berbisik-bisik sambil sesekali melirik Guntur. Dan Guntur menyadari kalau ada yang memperhatikannya.
"Mbak nyari buku apa?" tanya Guntur iseng-iseng menggoda.
Dua gadis itu terlihat tertegun menatap wajah ganteng Guntur hingga membuat wajah keduanya bersemu merah. Tingkahnya menjadi kikuk setelah ditanya Guntur.
"E, a, anu mas nyari buku resep jaman dulu," jawab salah seorang gadis berhijab biru.
"Resep apa tuh, resep cantik atau resep mencari jodoh?" goda Guntur.
Gadis itu baru sadar kalau jawabannya tidak lengkap, pipinya makin bersemu merah, "Resep masakan jaman dulu mas, hehehe..." ucap gadis itu sambil pura-pura membongkar-bongkar tumpukkan buku.
"O, resep masakan, hehehe..." timpal Guntur sambil mengedarkan pandangannya ikut mencari-cari.
Awalnya Guntur tidak sungguh-sungguh membantu pak Suro untuk melayani pembelinya, namun karena gadis itu Guntur jadi serius ikut melayaninya.
"Pak, ada buku resep masakan jaman dulu nggak?" Tanya Guntur pada pak Suro.
"Masakan, masakan, sebentar ada tapi lupa dimana ditaruhnya ya," kata Pak Suro.
"Oh, itu Gun di tumpukkan buku itu," Pak Suro menunjuk tumpukkan buku diujung kanan Guntur.
"Buku Jawa itu pak?" tanya Guntur memastikan.
"Iya, kayaknya ada ditumpukkan itu," kata Pak Suro.
Guntur pun langsung membongkar-bongkar tumpukkan buku dengan sedikit mencondongkan badannya untuk dapat mencapai posisi tumpukkan buku itu.
Wajah tampannya kian dekat dengan posisi dimana dua gadis itu berjongkok membuat kedua gadis berwajah cantik berkulit putih itu semakin terpesona dengan Guntur.
"Ehemmm!"
Kunto rupanya sedari tadi memperhatikan tindak tanduk dua gadis yang sedang dilayani Guntur itu. Dan sebagai sesama laki-laki ia juga tahu kalau Guntur sedang melancarkan aksi menggoda.
Guntur mendengar deheman Kunto akan tetapi pura-pura tidak mendengarnya. Ia acuhkan teguran Kunto dengan fokus mengaduk-aduk tumpukkan buku.
"Nah, ini dia!" Seru Guntur mengangkat sebuah buku dengan sampul warna coklat bertuliskan "RESEP JAWA WARISAN LELUHUR".
Guntur mengulurkan buku tersebut kepada gadis berhijab biru sambil tersenyum menatap wajah cantiknya.
"Sebentar aku liat-liat dulu ya mas," ucap gadis itu menerima buku.
"Mas cariin aku buku novel yang bagus dong," sela gadis satunya yang tidak memakai jilbab.
"Novel apa nih, percintaan, petulangan atau horor? balas Guntur.
"Ssttt.. Sssttt..!"
Guntur spontan menoleh kearah Kunto, Kunto langsung memberikan kode dengan telunjuknya diarahkan ketempatnya sambil mengedipkan-ngedipkan matanya.
"Oh, kalau novel disebelah sana tuh mbak sama teman saya," kata Guntur menunjuk tempat Kunto yang duduk disebelah kiri pak Suro.
"Sini, sini mbak..." seru Kunto.
Gadis berambut pirang sebahu itu menoleh menatap Kunto sebentar lalu beranjak dari tempatnya melangkah mendekat kesebelah Kunto. Secaŕa kebetulan satu pengunjung yang berada disebelah Kunto beranjak pergi tanpa membeli buku.
"Sini, sini mbak. Mau novel yang gimana?" Kata Kunto bergaya seorang marketing-marketing kartu kredit.
Melihat tingkah laku Kunto, Guntur hanya mesem-mesem saja. Lalu kembali fokus kepada gadis berhijab biru didepannya.
"Bagaimana mbak, jadi ambil buku itu?" tanya Guntur.
"Ah, ada yang kurang nih mas," kata gadis berhijab itu.
"Apa tuh mbak? Ada yang sobek ya?" tanya Guntur.
"Bukan, bukan... nggak ada nomor telpon masnya," ucap gadis itu berbisik lalu tersenyum merajuk.
"Oh, gampang nanti saya tulis di buku itu ya tapi jadi kan beli buku ini mbak?" tanya Guntur lagi dengan senyum menawannya.
"Iya, jadi mas. Saya beli buku ini, berapa?" ujar gadis itu.
"Pak berapa buku itu?" bisik Guntur pada pak Suro.
"Yang itu dua puluh lima ribu aja," balas pak Suro.
"Dua puluh lima mbak," kata Guntur menyampaikan pada gadis berhijab itu.
Gadis itu mengulurkan buku dengan menaruh uang pas diatasnya buku yang dibelinya kepada Guntur untuk dibungkus. Saat Guntur hendak menerimanya, gadis berhijab itu menarik bukunya kembali seraya berkata, "Jangan lupa nomor telponnya." Lalu memebrikannya kembali.
Guntur pura-pura sibuk membungkuskan buku itu dengan koran padahal ia sedang membuka lembar pertama untuk menuliskan nomor telpon lengkap dengan namanya seperti yang diminta gadis itu. Lalu memberikan buku yang sudah dibungkus dan dimasukkan pada kantong kresek putih kepada gadis itu.
"Makasih ya, mas." ucap gadis berhijab biru itu dengan melempar senyum manisnya.
"Yun, udah belum?" kata gadis berhijab itu pada temannya sambil berdiri.
"Udah Bil, yuk.." sahut gadis berambut pirang sebahu.
Kemudian kedua gadis cantik itu pergi meninggalkan lapak buku loak. Guntur menatap kepergian dua gadis itu hingga menghikang dari pandangannya terhalang oleh orang-orang yang lalu lalang.
"Waduh, aku nggak nanya namanya," gumamnya dalam hati.
Guntur dan Kunto bersamaan memberikan uang dari buku-buku yang laku pada pak Suro. Pengunjung yang datang ke lapak buku loak pak Suro semakin bertambah rapat semenjak Guntur duduk bersama pak Suro. Dan sepertinya banyak buku-buku yang laris terjual.
"Wah, wah hari ini banyak sekali yang membeli Gun, Kun. Ini pasti berkat adanya kalian," kata pak Suro.
"Ah, pak Suro bisa aja. Ya mungkin rezeki hari ini lagi banyak pak," ujar Guntur.
"O iya pak, Adi kemana? Kok dari tadi saya nggak lihat," sambung Guntur.
"Kalau tengah hari gini biasanya pindah ke lampu merah yang disebelah situ Gun," ujar pak Suro.
"Pak berapa buku yang ini?" sela pembeli.
Pak Suro sejenak melihat dan menimbang-nimbang buku dengan tulisan pada samlulnya "SEJARAH" untuk memberikan harganya.
"Dua puluh ribu aja mas," kata pak Suro sembari membungkuskannya lalu memberikannya pada pembeli.
"Kamu ada perlu apa datang kemari Gun?" tanya pak Suro sambil menerima uang dari pembeli tadi.
"Begini pak, saya semalam sudah mencoba ritualnya itu tapi nggak sampai lama. Ada satu jam-an mah, tiba-tiba kepala saya pusing pak sampai-sampai saya tertidur ditempat." terang Guntur setengah berbisik.
"Jangan dipaksakan jika kepalamu terasa pusing dan berat. Berhentilah lalu dilanjutkan besok malamnya lagi. Lakukan itu setiap malam sampai pada saatnya kamu melihat cahaya terang." Kata pak Suro pelan.
"Jadi ritual saya semalam tidak gagal ya pak?" tanya Guntur sumringah.
"Ya nggak lah, yang namanya gagal itu tidak pernah melakukannya lagi hehehehe..." ucap pak Suro menenangkan.
......................
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 186 Episodes
Comments
fifid dwi ariani
trus ceria
2023-04-10
0
Ganuwa Gunawan
kaga kuat tor mandi nya...
dinginnnnnnnnnn..
2022-05-18
1
LANANG MBELING
apa lagi yang tidak perñah melakukannnya bukan gagal lagi tapi pemalas iya kan bang soim???
2022-01-08
2