Hari sudah menjelang magrib ketika Guntur yang membonceng Kunto tiba di rumah Guntur. Mamah Katmila langsung keluar dan berdiri didepan pintu pada saat mendengar suara gerbang dibuka.
"Habis darimana aja Gun, mamah cemas nggak biasanya kamu pulang sore gini." ucap Mamah Karmila ketika Guntur dan Kunto berjalan sampai diteras rumah.
"Maaf mah, darurat. Nganter Kunto ibunya sakit mendadak," jawab Guntur.
"Iya tante, maafin saya ya jadinya Guntur pulang telat." sela Kunto.
"Sakit apa ibu kamu Kun?" tanya mamah Karmila turut cemas.
Kunto dan Guntur saling berpandangan, keduanya bingung mesti jawab apa. Tapi untungnya Kunto berinisiatif menjawab memecah kebuntuan.
"Nggak tau tan, tiba-tiba saja emak nggak sadarkan diri." Jawab Kunto rasional.
Diceritakan penyebabnya pun pasti akan menjadi panjang lebar ditanya macam-macam. Ya memang begitulah rata-rata kaum emak-emak, suka sekali dengan kepo, hehehehe...
"Ya sudah sana pada makan dulu, mamah masak sayur sop tuh." ujar mamah Karmila.
"Wah kebetulan tan, perutnya minta diisi nih," seloroh Kunto.
"Ah, dasar lu. Bukannya tadi sebelum pulang kita makan dulu di rumah kamu?" ujar Guntur.
"Hehehehe... laper lagi," celetuk Kunto memegangi perutnya yang memang buncit.
Mamah Karmila hanya senyum-senyum saja melihat tingkah Kunto dan Guntur. Kehadiran Kuno di rumahnya membuat suasana rumah menjadi ramai oleh tingkah kocaknya dan Mamah Karmila pun sangat senang dengan adanya Kunto tinggal di rumahnya. Sebelumnya Guntur sudah menceritakan tentang kondisi Kunto hingga ia mengajaknya tinggal di rumahnya.
......................
Selepas waktu Isya, Guntur sudah duduk di meja belajarnya. Diatas meja, sebuah buku usang kembali dipelototinya dengan kusyu sampai-sampai kedatangan Kunto di kamarnya pun tidak diketahuinya. Kunto langsung menyalakan televisi tetapi bukan untuk menonton tauangannya melainkan untuk bermain game.
Guntur benar-benar tidak mengetahuinya kalau di kamarnya ada Kunto. Ia terus fokus membaca lembaran-lembaran buku yang kertasnya sudah menguning dimakan waktu. Bahkan seringkali ia mengulangi lagi bacaan pada lembaran-lembaran sebelumnya.
"Aduh!" Tiba-tiba Guntur menepak jidatnya.
Rupanya dia teringat akan rencana menemui bapak penjual buku itu yang tidak sempat karena harus ke mengantar Kunto pulang ke Sumedang.
"Apa sih?!" Tanya Kunto yang terkaget-kaget saat Guntur memgaduh.
Gubraakkk!
Guntur jatuh terjengkang diatas kursi tak kalah kagetnya mendengar suara Kunto tiba-tiba muncul di kamarnya. Dia merasa sebelumnya tidak ada orang lain didalam kamarnya. Kunto spontan tergelak melihat Guntur terjengkang bersama kursinya.
"Hakhakhakhak..."
"Sialan lu Kun, ngagetin aja!" Sungut Guntur.
"Ngagetin gimana? Aku dari tadi main game aja," ujar Kunto.
"Lah, kapan lu masuknya?!" Guntur garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Baca apa sih, sekusyu itu sampai-sampai aku masuk nggak tau,: ujar Kunto.
"Masa?" Guntur benar-benar merasa linglung dibuatnya.
"Bodooo!" Sahut Kunto.
"Baca apa sih Gun?" tanya Kunto penasaran.
"Ini buku yang beli kemarin di tukang loak itu," jawab Guntur.
"Sekusyu itu?!" timpal Kunto.
"O, iya Gun sewaktu di rumahku kok lu bisa nyembuhin emak sama bisa tau kalau emak terkena gangguan mahluk gaib," pertanyaan itu yang sejak diperjalanan menuju ke Bandung ditahan-tahannya.
Ia penasaran dengan Guntur yang bisa mengetahui sekaligus bisa menyembuhkan emaknya. Selama ini Kunto mengenal Guntur tidak pernah sekalipun ngobrolin yang menyinggung hal-hal berbau supranatural atau hal-hal gaib. Guntur lebih sering membicarakan mata kuliah daripada membicarakan hal-hal gaib.
"Ya nggak tau Kun, tiba-tiba saja dengan sendirinya tanganku seperti ada yang menggerakkan membuka kain lalu menempelkan jempol. Aku juga heran Kun," terang Guntur.
"Masa sih Gun?!" sergah Kunto kian penasaran.
"He-eh, beneran Kun. Nih makanya aku lagi baca buku tentang dunia gaib karena ada sesuatu hal yang ingin aku ketahui," ucap Guntur.
Kunto hanya melongo mendengar penjelasan Guntur. Ingatannya tiba-tiba tertuju pada saat berjalan dilorong kampus melewati David cs yang biasanya dirinya kena palak tetapi saat bersama Guntur justru David dan kawan-kawannya malah tertunduk tidak lagi nyalang liar seperti melihat mangsa.
Sesaat suasana hening. Kunto tidak lagi bertanya dengan keanehan Guntur, ia kembali fokus dengan game-nya. Begitu pula dengan Guntur sudah kembali kusyu memahami isi buku.
Guntur membuka lembaran berikutnya, seketika keningnya mengerut. Matanya menajamkan pandangannya pada tulisan dengan bab berjudul 'MATA BATIN' ia mencoba memahami isinya dengan seksama.
"Mata batin atau dalam bahasa umumnya indera keenam itu suatu kemampuan pada manusia yang dapat melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat secara kasat mata. Seseorang yang mata batinnya terbuka, dia dapat melihat hal gaib disekutarnya bahkan dia dapat melihat masa depan."
Guntur semakin tertarik setelah membaca itu, ia ingin sekali dapat melihat hal-hal gaib. Obsesinya tidak lain hanya ingin mengetahui mahluk apa yang ada di rumahnya selama ini yang seringkali muncul secara tiba-tiba.
Guntur tidak ingat pasti malam apa pada saat itu. Ketika hendak tertidur dan sampai terlelap, tiba-tiba ia merasakan ada yang duduk di pinggir ranjangnya. Guntur perlahan-lahan membuka matanya sedikit dengan perasaan takut.
"Hah!"
Seketika Guntur mendekap mulutnya sendiri rapat-rapat hingga suaranya tidak sampai keluar. Ia melihat sosok hitam sedang duduk dipinggir ranjang menghadapnya. Namun karena hanya sedikit saja membuka matanya, Guntur pun tidak dapat melihat wajah mahluk itu, ia melihat hanya sebatas dadanya saja.
Mahluk itu sangat sering sekali muncul dan duduk dibibir ranjang saat dirinya tidur. Mahluk itu seperti mengawasi dirinya. Apakah mahluk itu yang selalu membantu melindunginya selama ini? Pertanyaan itu yang hingga kini belum juga terjawab.
"Jika seseorang sudah terbuka mata batinnya, dia akan melihat dunia tanpa sekat atau penghalang yang membuatnya melihat ragam penampakan yang asing dan menakutkan."
"Tapi bagaimana caranya ya," ucap Guntur dalam hati.
Guntur membuka beberapa lembaran berikutnya mencari-cari tulisan cara membuka mata batin, namun tidak ditemukan.
"Bapak penjual buku loak. Ya, bapak itu bisa melihatku memiliki tanda lahir, kalau yang tersembunyi dibalik baju saja bisa tau apalagi yang gaib." kata Guntur dalam hati.
Wajah Guntur langsung sumringah seperti sudah menemukan jalan untuk belajar membuka mata batin. Dirinya sangat bertekad benar-benar ingin bisa melihat dunia gaib.
"Kun, besok menemui bapak penjual buku loak itu," kata Guntur pada Kunto.
Tetapi setelah ditunggu-tunggu Kunto tidak kunjung menyahutinya. Guntur pun mengulanginya lagi tanpa memalingkan wajahnya dari buku itu. Matanya masih fokus membaca.
"Kun, besok ke buku loak itu lagi ya." kaya Guntur tetapi Kunto tidak juga menanggapinya.
"Kun..!" seru Guntur wajahnya masih menghadap buku. Meski sudah dengan suara meninggi tetapi Kunto tidak juga menyahut.
"Kuntooooo...!" kali ini Guntur teriak sambil menengok ke tempat dimana Kunto main game.
"Astagfirullah!"
Guntur terkejut bukan main, ternyata Kunto sudah tidak ada di tempatnya. Guntur tidak menyadari pada saat ketika Kunto pamitan untuk tidur karena sudah mengantuk sejam yang lalu.
Guntur spontan melihat jam digital diatas meja belajarnya, "ohw" ucap Guntur singkat. Angkanya menampilkan 24.10 AM.
÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷
🔴 Terima kasih sudah mengikuti jangan lupa tinggalkan jejal yaaaa....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 186 Episodes
Comments
fifid dwi ariani
trus ceria
2023-04-10
0
Andbie
jam 24.10 AM.. masa seh.. biasanya setelah jam 23.59 jam selanjutnya tuh jam 00.00.. mungkin beda sama jam ku yaa..🤔
2022-09-14
1
Eros Hariyadi
Napak tilas... Thor 💪👍👍
2022-08-02
1